I Need You

I Need You
Jalani Kehidupan Baru



Happy reading 📖😍


Danang masih mematung...., satu hal yang Danang ketahui adalah tentang persahabatan Lian dengan sang adik Dania Puteri Setiawan. Kedua gadis yang terpaut dua tahun perbedaan usia ini terkesan sangat akrab. Meskipun sang adik Dania juga adalah sahabat terbaik yang dimiliki Lian namun mengenai dunia gelapnya ia tidak pernah ungkapkan kepada gadis kecil yang menjadi sahabat kecilnya itu. Hanya sekretaris Salsalah yang menjadi teman curhat soal sisi gelapnya selama ini. Itu terbukti lewat penggalan curahan hatinya di dalam diari tersebut.


Lalu apa yang menjadi kesalahan utama di dalam hubungan ini? Lian, Danang ataukah memang perjodohannya itu sendiri? Di mana keduanya sama-sama memiliki masa lalu mencintai seseorang yang mereka anggap istimewa namun takdir malah berbalik tidak bisa menyatukan mereka.


Danang dan Lian sama-sama pecinta yang putus asa. Akan tetapi Danang sebagai seorang pria, ia berusaha kuat dan tidak pernah memilih dunia malam sebagai jalan untuk melampiaskan kekecewaannya.


Sedangkan mendiang Lian, dia adalah seorang gadis rapuh yang terlanjur memilih dunia gelap sebagai pelampiasan rasa jenuh dan bosannya. Menyembunyikan segenap luka hatinya kepada dunia dan ingin membuktikan bahwa ia gadis yang kuat dan tahan lasak dalam menghadapi kejamnya kehidupan yang ia lakoni.


Pura-pura kuat dan menerima takdir padahal sesungguhnya di hatinya tidak bisa melupakan seseorang yang sangat berarti bagi hidupnya.


Di sinilah letak perbedaan di antara dirinya dengan Lian. Danang mencintai Karin namun menerima dengan ikhlas ketika Karin menolaknya. Dan ketika ia mulai jatuh cinta dengan Lian tiba-tiba gadis itu menunjukkan satu kebenaran yang tidak pernah diduga olehnya sama sekali.


Sedangkan hubungan keduanya hanya berlandaskan perjodohan kedua orangtua mereka.


Lalu salahkah jika Danang mengambil kesimpulan jika semua wanita sama saja dan terlalu kejam terhadap pria seperti dirinya? Yang datang dan memberi harapan di saat mereka sedang terpuruk lalu menjauh dan melupakannya setelah mendapatkan apa yang mereka kejar?


'Hhhh..., sungguh sifat yang kejam! Sudah seharusnya untuk tidak menggubris wanita di dalam hidup ini,' gumamnya sinis.


Lantas melempar asal amplop yang digenggamnya tersebut ke sembarang tempat.


Hari berganti, musim berlalu. Danang menjalani hidupnya dalam kekakuan yang tercipta dari pengalaman pahit masa lalunya. Danang berubah menjadi pria dingin yang membenci wanita sebagai kodrat yang lembut. Ia memutuskan untuk menutup diri dari para wanita yang ingin menjadi bagian dari hidupnya.


Kaca mata hitam itu selalu saja bertengger manis di hidung bangir miliknya, sengaja menyamarkan pandangan ke sekeliling agar tidak terlalu memose tampang dan postur wanita. Ketika berjalan, pandangannya selelu lurus ke depan. Jangankan menoleh, melirik saja tidak pernah ia lakukan. Senyum yang dahulunya selalu mengembang di bibir seksinya, kini memudar di balik wajah kakunya yang kian acuh tak acuh.


'Apa yang bisa kudapatkan dari makhluk lemah ini selain dari rasa kecewa dan sakit hati? Luka itu, derita itu, semua yang kurasa berawal dari 'dia' wanita.' Danang.


Satu Tahun berlalu...


Pusat Kuliner Pantai Kenangan.


Dia gadis cantik tipikal Asia nan manja sedang melewati batas lapak khas kuliner langganannya. Usai beraktivitas yoga di kelas yoga T gadis ini selalu mampir di lapak favoritnya di taman kuliner khas Adhytama Star Hotel.


Siapa yang tidak mengenal gadis ini. Puteri semata wayang pemilik Ahytama Star Group. Pemilik taman kuliner tempat para penjaja kuliner ini mengadu nasib.


"Selamat pagi paman, apa ada menu baru pagi ini?" ucap gadis itu basa-basi, seraya melemparkan senyum terindahnya.


Gadis ini dikenal ramah oleh para penjaja kuliner yang menjadi tempat favoritnya.


"Silahkan pilih nona, roti gandum selai cokelat, salad buah dan sayur, roti panggang isi telur, jus buah, atau sup ayam istimewa," jawab paman Jimi salah satu pemilik lapak favorit, "Semuanya istimewa buat nona Dania." lanjutnya tertawa kecil.


"Wah! Ramai kunjungan pagi ini paman,"ucap Dania seraya melirik ke arah meja favoritnya yang sudah terisi oleh seorang pria mancanegara di sana. Tatapannya seakan tidak rela membagi tempat tersebut kepada orang lain.


Sudah masuk ke tiga kali dalam minggu ini tempat favoritnya ditempati oleh orang yang sama. Dania merasa sangat perlu mempertanyakan hal tersebut karena menyangkut zona kesenangannya yang diganggu.


"Ya, nona...., maafkanlah. Dia pengunjung baru di sini," balas paman Jimi yang mengerti akan maksud dari lirikan Dania.


Dania mengangguk, "Baiklah paman. Cukup untuk satu minggu ini. Di minggu-minggu selanjutnya katakan kepadanya kalau tempat itu milikku sejak lama," ujarnya tersenyum lega. Lentik jemarinya refleks memijit ujung hidung bangirnya yang terasa gatal.


"Baik non Dania, perintah segera dilaksanakan!" balas paman Jimi sembari mengatur jemari tanda hormat kepada gadis manja yang setiap keinginannya selalu saja terpenuhi.


Dania tertawa kecil melihat tingkah paman penjaja kuliner tersebut sembari menikmati secubit roti gandum isi telur di mulutnya ditemani segelas yougurt buah di atas mejanya.


Pagi yang indah..


Dia gadis cantik bertubuh langsing dan berambut panjang sedang berada di kelas yoga T yang masih dalam wilayah kekuasaan Adhytama Star Hotel. Ia sedang mengikuti arahan dari instruktur yoga. Hingga di menit ke sembilan puluh berlalu manakala aktivitas kebugaran berakhir, gadis yang tidak lain adalah Dania Puteri Setiawan memilih untuk berjalan kaki menelusuri bibir jalan.


Irisnya tiada henti menyisir pemandangan tebing yang sangat indah. Hitung-hitung menikmati suasana jalan pagi yang sungguh menakjubkan. Senyum manis alami kian mengembang dari bibir seksi yang turut menenangkan jiwa bagi setiap mata yang memandang. Sesekali jemari lentiknya membuat gerakan menyisir rambut panjangnya yang tersapu oleh sentuhan angin sepoi.


Mau berteman ataupun tidak bersama teman, Dania tetaplah Dania yang konsisten dengan segala aktivitas kesenangannya.


Pagi itu seperti biasanya Dania memilih mampir sejenak di pusat kuliner pinggir jalan yang ia lalui setiap minggunya. Sebut saja taman kuliner.


Anehnya di tiga minggu belakangan ini manakala ia mampir di tempat yang menjadi langganannya selalu saja sudah ditempati oleh seorang pria mancanegara yang sama.


Ya, turis yang sama, pria yang sama. Padahal si paman penjaja kuliner pemilik lapak sudah berjanji untuk memberikan peringatan khusus kepadanya namun pemuda tanggung itu tetap saja dengan acuhnya menempati tempat tersebut tanpa merasa bersalah sedikitpun.


"Maafkan paman nona Dania, paman sudah mengingatkannya berkali-kali tapi dia menolak untuk pindah tempat," ucap sang penjaja yang tidak berhasil menepati janjinya.


Begitulah alasan yang diutarakan oleh paman Jimi ketika Dania menyambanginya minggu lalu.


"Maafkan paman nak, ini di luar dari hak paman karena ternyata pemuda itu sebenarnya_"


"Paman, ini menyangkut zona privasi yang diganggu. Biar aku sendiri yang menyelesaikannya sekarang," potong Dania cepat seraya berlalu mendekati pria tersebut.


Sejenak gadis itu melangkah sembari membawa sepotong roti gandum isi telur dan segelas yogurt buah di atas nampan.


"Excuse me sir," ucapnya dalam dialek bahasa Inggris, "Tuan telah mengambil tempatku untuk beberapa lama. Silahkan bergeser dari sini. Aku ingin duduk," ujar Dania berkelanjutan, tegas.


Pria yang sedang mengutak-atik benda berbentuk persegi panjang di tangannya itu seketika mendongak pelan seraya mengangkat salah satu alisnya. Menatap intens wajah gadis itu lalu sesaat kemudian terlihat ia tersenyum badut.


"Hhh.. Carilah tempat lain. Di sana banyak yang kosong," balasnya santai dengan dialek yang serupa yaitu bahasa Inggris, seraya menunjukkan meja lain tanpa ikut menoleh alias tetap fokus ke arah ponsel miliknya.


"Tuan, anda telah mengganggu privasi orang lain. Ini wilayahku, dan tidak ada yang berani melawanku selama ini. Cepat menggeserlah!Atau aku akan memanggil satpam untuk mengusirmu," seru Dania mulai tersulut emosi.


"Satpam? Anda memanggil satpam? Apa hak satpam mengusir pengunjung sepertiku? Hey!Ini kota D milik siapapun bebas! Bahkan aku juga berhak untuk memiliki sesuatu di sini termasuk tempat duduk ini!" balasnya ketus.


"Hey! Anda hanya pengunjung di sini. Bukan pemilik. Aku akan melaporkan tindakanmu kepada pemiliknya sebagai tindakan kejahatan!" serang Dania jengkel.


"Anda mengancamku nona? Laporkan saja. Aku tidak takut. Karena pemilik hotel telah menyerahkan wewenang besar kepadaku untuk mengelola hotel ini," ungkapnya kesal,


"Sekarang pergilah atau aku yang akan memanggil satpam untuk mengusirmu dari sini," lanjutnya sembari menatap tajam ke gadis yang melotot tidak percaya.


Gadis itu menghentakkan kaki tanda tidak terima dengan perlakuan pemuda asing itu.


'Dasar orang sombong! Baru diberi wewenang saja sudah angkuh, lalu bagaimana jika nanti benar-benar jadi pemilik?' gerutunya masih didengar oleh pemuda tersebut membuat pemuda itu seketika mencebik kesal seraya membuang pandangan.


'Ck!' Namun tidak didengar oleh Dania.


Gadis itu menjauh namun masih saja uring-uringan,


"Berani sekali dia menantang seorang Dania. Aku Dania Puteri Setiawan tidak ada yang bisa melawanku di wilayah ini. Kenapa pria gila ini malah mengancam diriku, aku akan membuat perhitungan dengannya." gumamnya masih tetap terdengar oleh pemuda tersebut yang tidak lain adalah Haidar sepupu Diego yang ditugaskan Karin untuk menjadi pengelola Adhytama Star Hotel yang baru.


'Hhh...., dasar gadis manja sok dewasa. Belum tahu dia siapa diriku,' gumam Haidar geram dengan wajah memerah tidak mau kalah.


•••••


Bersambung...


Teman-teman sekalian,


Terima kasih atas dukungan setia dari teman-teman semuanya. Jika ada yang tidak berkenan di hati bisa tinggalkan komentar yang membangun boleh ya..


Jangan lupa like rate dan vote juga favoritkan jika berkenan biar bisa ikuti kelanjutan cerita amburadul ini.🙏 😍


Salam lanjut dan saling dukung 🤗