
Happy reading 😍📖
Siang itu,bapak Haryadi dan ibunda Elmiza mengajak puteri dan menantu mereka untuk makan siang di warung makan Abimanyu.Di warung itu,ada lima orang pelayan yang siap membantu,dan dua orang koki yang siaga di dapur.Lokasinya yang berada di antara perumahan warga dan juga wilayah perkantoran membuat warung milik bapak Yadi laris manis.
Bapak Haryadi dan ibu Elmiza sengaja menyediakan menu makanan laut segar dan hangat yang sangat digemari oleh masyarakat sekitar hingga warung mereka tidak pernah sepi pengunjung.Selain itu,ada menu-menu khas daerah yang tidak bisa ia lepas begitu saja,demi menarik minat pelanggan,seperti sate kikil,bebek dan ayam betutu,sambal matah dan juga rujak pindang khas Bali.
"Ayo,silahkan dicicipi nak,"suara ibu Iza menawarkan beberapa hidangan menu segar di atas meja.Bapak Haryadi dan Danang yang sedari tadi sedang bercengkerama ria menyambut sapaan ibu Iza dengan penuh semangat.
"Ah,ya.Terima kasih bu."balas Danang santun.
"Ayo nak,silahkan.Jangan sungkan-sungkan.Kalau bapak dulu seumuran kamu,pertama kali menikah selalu dikerjain sama bapak mertua.Kakeknya Hilya dulu orang hebat di kampung ini.Setiap omongannya wajib dituruti.Bapak sampai disuruh berjalan kaki sambil mencangklong dua keranjang sayuran dari ujung kebun ke rumah sejauh lima ratus meter dari jalan utama."
Mendengarnya,Danang cengar-cengir,
'Lalu apa hubungannya dengan makan siang saat ini ya?'batinnya tersenyum geli.
"Ya,hanya untuk mendapatkan makan siang bersamanya saja,begitu nak."lanjutnya seakan mendengar ungkapan batin Danang.Membuat pemuda itu nyaris tersedak.
uhuk uhuk uhukkk
"Eh,hati-hati nak."
Hilya yang kebetulan lewat sigap mencapai gelas di depan Danang dan menyodorkan kepada suaminya.Ada senyum tertahan di wajah sang isteri,membuat pemuda itu jadi tersipu sendiri.
"Ayo,diminum dulu."ucapnya pelan.
"Jangan suka lewat di depanku kalau aku lagi makan,bikin batuk saja."bisik Danang menekan setelah mendapat kans.
Saat itu ayah mertuanya sedang membalas sapaan dari beberapa pengunjung yang datang.
"Apa hubungannya,diriku dengan batukmu?"balas Hilya seraya beranjak pergi.
"Ck!"
Danang memberengut rada canggung,memandangi punggung Hilya yang menjauh.Hanya decakan kecil yang bisa mewakili perasaannya saat itu.
Mereka menikmati makan siang di sela guyonan.Usai makan siang,kedua pria beda fase itu kembali meneruskan cerita mereka yang sempat tertunda.
Bapak Haryadi menceritakan banyak pengalaman ketika ia mulai merintis usahanya.Berawal dari bantuan seorang sahabat baik yang mau memodalinya membuka usaha gerai kecil khusus menjual satu jenis makanan khas daerah kota Kecil.
"Dulu,sewaktu Helmy masih bayi,bapak jualan sate lilit di gerai kuliner.Modalnya belum seberapa nak.Hasil pinjaman dari sahabat satu SMP bapak dulu."
"Oh ya,seberapa besar minat para penikmat jajanan sate lilit saat itu,dan bagaimana cara bapak mengembalikan uang pinjaman sahabat bapak tersebut?"
"Ya,dulu itu penjajanya masih terbilang langka.Jadi berapapun porsi yang bapak siapkan,selalu ludes."
"Soal pinjaman,bapak kembalikan dengan cara mencicil sebulan sekali tanpa bunga nak.Dasar, sahabat bapak itu orang baik maka,ketika hari-hari di mana bapak menemui kendala,dia tidak memaksa untuk wajib bayar."jelasnya mengenang.
Danang manggut-manggut.
"Jam berapa bapak mulai buka gerainya?"
"Dari jam lima sore sampai jam tujuh malam.Kalau pesanan lagi banyak,maka molor sampai jam delapan,mentok-mentok setengah sembilanlah."
"Terus,kapan bapak mulai merintis usaha barunya ini?"
"Itu,sejak Hilya berumur tiga tahun.Sebelumnya,bapak sempat sakit keras hingga bapak kesulitan bekerja.Tapi alhamdulillah,ada pertolongan Allah.Bapak bisa sembuh dari sakit itu,dan bertekad memulai bisnis baru,dengan uang modal yang ada.Tidak cukup,bapak pinjam lagi ke bank.Di situlah sulitnya saat berhadapan langsung dengan deb kolektor."Jawab sang bapak menerawang,
"Dikejar-kejar sama mereka nak,hingga suatu saat orang itu...,_"ucapannya terpotong.Sang bapak tampak berpikir keras.
"Kenapa dengan orang itu?"
"Orang itu memperkenalkan dirinya sebagai sahabat Hilya.Ia menitipkan sejumlah besar uang lewat deb kolektor untuk membayar semua hutang bapak di bank.Entahlah,bahkan sampai sekarang bapak masih mencari-cari keberdaannya,tapi belum ketemu juga."lanjutnya dengan penuh penyesalan.
"Oh ya,sahabat Hilya....,sebaik itu orangnya,bapak?"ujar Danang terbelalak.
Bapak Haryadi mengangguk pelan.
"Bapak masih ingat wajah orang itu?"
Bapak Haryadi menggeleng,
"Tidak,baik bapak maupun ibu,tidak pernah bertemu dengannya.Kami bahkan kebingungan saat deb kolektor itu bilang kalau dia memperkenalkan dirinya sebagai sahabat puteri bapak."
Danang mengeryitkan kening,
"Berarti cuma Hilya yang tahu orangnya?"
"Ya,tapi bagaimana mungkin anak sekecil Hilya,baru berusia empat tahun bisa mengingat semuanya dengan jelas."
"Hilya sampai mendapatkan sepeda baru dari orang itu.Waktu ditanya sama ibu,Hilya menjelaskan kalau sang penyelamat itu menamai dirinya sebagai 'ayah penyayang'."
'Menarik.'gumam Danang sembari terus menyimak.
"Bundaaaa...."teriak bocah kelas pendengar membahana seisi warung makan Abimanyu.
"Juna sayang,jangan lari-lari nak.Nanti jatuh."pekik ibu Iza melayangkan jurus peringatan yang sudah menjadi langganan paten.
"Maa_aaf nek nek...,hhahahha.."seru Juna sembari berlari kepelukan sang bunda,menenggelamkan wajahnya ke perut langsing gadis itu.Hilya menyambutnya dengan penuh kasih dan sayang.Mencium bocah itu berkali-kali dan membawanya ke dalam gendongan.Pemandangan yang tidak luput dari tatapan datar sang suami.
"Juna sayang,sudah makan belum?"
"Sudah bunda,sama nenek Ulfa tadi,di rumah."
"Mau bunda kasih lagi?"
Juna menggelengkan kepala sembari memandang pria dewasa di depannya.Keduanya saling beradu dengan tatapan menegang.Hilya menyadarinya.Sigap ia menurunkan bocah tersebut dari gendongan sembari berbisik,
"Sana cium tangan kakek dan om Danang."
Dengan langkah berat Juna menurutinya.Menyalami sang kakek lalu beralih ke Danang.
"Siang om."Juna menyapa.
"Siang juga,Juna."
"Emm...,cucu kakek sudah akrab,sama om Danang ya."usik sang kakek tersenyum kecil.
Juna dan Danang sama-sama menanggapinya dengan dengan sebuah senyuman yang susah diartikan.
"Kasian dia nak,kecil-kecil ayahnya sudah meninggal."terang bapak Yadi setelah Juna bergerak menjauh.
Danang semakin penasaran mendengar sepotong kalimat penjelasan dari sang mertua.Otaknya mulai mencerna sesuatu yang mungkin benar menurutnya.Juna anak yatim,berarti Hilya janda yang ditinggal mati oleh suaminya.Berarti kelop sudah.Dirinya juga ditinggal mati oleh calon isteri,lalu dipertemukan dengan Hilya,sang janda beranak satu.Bukankah itu satu paket yang komplet.
"Ck!"decaknya samar.
"Sudah lama meninggalnya,bapak?"tanyanya hati-hati.Pemuda itu mencoba menahan gejolak di dada.Meyembunyikan rasa penasaran yang kian menggebu.
Bapak Yadi mengangguk pelan,ada raut sedih di gurat wajahnya yang mulai menua,
"Sejak Juna berusia empat bulan di kandungan ibunya.Pihak keluarga menentang keras kehadiran anak itu....,sedangkan anak bayi mana punya dosa kan,"ucapannya terpotong,
"ya sudah....,biar bapak saja yang ambil alih tugas mereka."lanjutnya nelangsa.
Danang menangkap kesedihan,bercampur rasa dendam membakar yang tergambar di wajah pria paruh baya itu.Lalu apa yang membuat pihak keluarga menentang keras kehadiran anak itu,satu hal yang menjadi pertanyaan di benak pemuda yang sudah tidak bisa membendung rasa ingin tahunya.
•••••
Bersambung...
🤗🤗🤗