I Need You

I Need You
Seperti Bintang



Hilya yang masih mematung,hanya bisa menatap lekat dari jauh wajah maskulin yang semakin hari makin dirinduinya,namun tungkainya terasa begitu enggan untuk beranjak dari tempatnya berdiri.


"Sayang,aku menunggumu."Danang masih bertahan dengan ekpresi yang sedikit memelas.


Bibi Nunung memberikan sebuah isyarat dengan mendaratkan colekan ke pinggang isteri majikannya tersebut,seakan sedang memberi pertanda kepadanya agar jangan kecewakan hati suaminya.


"Emm....,baiklah."Hilya bergumam dan nyaris tidak kedengaran.


Melangkah mendekati sang suami yang sudah terlanjur kekeh dan tidak ingin dibantah.Melenggang masuk ke dalam dekapan hangat diikuti dengan ciuman dan kecupan yang beruntun ke wajah,kening dan juga pucuk kepalanya.


"Ehmmm...."Bibi Nunung sengaja berdehem memberi tanda bahwa dirinya juga ada di sana,agar sang majikan tidak lepas kendali.Akan tetapi Danang yang memang kharakternya suka terang-terangan di depan sang bibi yang sudah seperti orangtua kandung baginya,tidak menghiraukan bahasa isyarat sang bibi.


Danang melancarkan aksinya di hadapan bibi Nunung tanpa sungkan.Sang bibi yang sudah paham dengan kharakter majikannya,kini malah ikut tersenyum bahagia menatap pasangan yang cintanya baru mulai menguntum.


"Sepertinya aku harus membiasakanmu untuk menyambutku dengan cara yang kukehendaki,"ucapnya bergema seisi ruangan,'Aku sangat menantikan cintaku lekas terbalas olehmu.Karena hanya kau yang bisa mengobati luka hati yang pernah tertoreh ini.'lanjutnya membatin.


Hilya tersenyum,"Terima kasih karena kau pulang di saat yang tepat,dan makan malam sudah siap."Memboyong tubuh sang suami ke arah meja makan,di mana semua hidangan sudah tertata rapi di sana.Danang memasrahkan tubuhnya menuruti pergerakan sang isteri.


"Aku akan makan kalau kau yang menyuapiku."


"Oke,baiklah....,akan kusuapi."Memindahkan nasi dan lauk kesukaan Danang ke dalam piring.


"Eumm....,ini enak."Danang melayangkan pujian setelah mencicipi paket komplet yang telah disuapi oleh tangan mungil sang isteri ke dalam mulutnya.


"Gantian,aku yang suapkanmu."Danang mengambil kendali setelah memastikan sang isteri telah duduk disampingnya.


"Ayo,bi....,kita makan bersama."


"Ah,tidak untuk kali ini nona."Bibi Nunung sengaja menolak agar Danang dan Hilya lebih banyak memiliki kesempatan berdua,"Biarkan bibi menyelesaikan pekerjaan yang tersisa,lalu menyusul."lanjutnya sembari mengambil langkah santainya meninggalkan mereka di meja makan.


Sebuah senyum kecil mengembang di bibir Danang sesaat setelah ia dan bibi Nunung saling pandang dan si bibi memberikan isyarat halus kepadanya.Tujuannya untuk memberi kesan makan malam berdua kepada anak majikannya itu.


"Tapi bi,...."


"Sudah,biarkan saja.Bibi belum lapar,ia akan cari makan sendiri kalau memang sudah lapar."


"Emph....,baiklah."


Yang benarnya,bibi Nunung tengah menuju ke kamar sekedar untuk mengistirahatkan badannya,dan hanya Danang yang memahami dengan baik perihal penolakan halus yang diberikan oleh sang bibi.


Sedangkan Hilya termasuk orang yang telah dikibuli oleh wanita paruh baya itu,dan juga suaminya yang ikut bersekongkol dengan pura-pura tidak mengerti.Dan Hilya terlanjur percaya bahwa sang bibi masih punya sebagian pekerjaan yang belum beres.


Alhasil,Danang dan Hilya menyelesaikan makan malam berdua disertai dengan bumbu rayuan dari sang suami membuat perasaan si isteri menjadi semakin berbunga-bunga.


Lalu keduanya memutuskan untuk pindah ke balkon untuk menikmati udara malam dengan kerlap kerlip lampu kota yang begitu terang menyatu dengan cahaya bintang di langit,menambah kesan romantis bagi kedua anak muda yang kini tengah berpelukan mesra.


"Aku mencintaimu."


Entah ke berapa kalinya ucapan itu meluncur mulus begitu saja dari mulut si pemuda yang mendambakan rasa yang sama dari si pemudi.


Renggukan wangi bunga yang berasal dari ceruk leher sang isteri menguar menjalar di indera penciuman,mengalir merasuki jiwa maskulinnya yang kian membakar.


Hilya menyambut pelukan sang suami dengan tangkupan erat di bagian punggung kekarnya.Pikirannya berkelana kepada masa awal-awal pernikahan mereka.Di mana Danang kerap memperlakukannya dengan kasar dan melemparkan hinaan yang menjatuhkan harga dirinya.


"Dengar....,dan rasakan....,jantungku ini berdetak untukmu."Lagi-lagi ucapan itu keluar begitu saja dari mulut sang suami sembari meniup embusan angin birahi yang menggelitik ke telinga,turun ke pelipis dan berlanjut ke ceruk lehernya.Nyaris membuatnya melebur ke dalam lautan asmara yang menghanyutkan.


Kini sejak beberapa hari yang lalu pemuda itu tiba-tiba saja berubah drastis dan memperlakukannya dengan sangat lembut hingga berani menyentuh privasinya yang selama ini ia tolak begitu saja.


"Aku merasakannya,"desahnya pelan,"Tapi,...."Ingatannya tiba-tiba melayang kepada ucapan bibi Nunung tentang calon isteri sang suami di masa lalu,membuat ucapan itu terputus.


Danang melepas pelukannya lalu menanggkup punggung wanitanya,"Tapi apa,sayang?"


"Tuluskah itu terucap dari hati,jika rentangan peristiwa masa lalu saja masih mengganjal?"Hilya melayangkan pertanyaan yang direspon secara ambigu oleh Danang.


"Apa kau bilang?"Danang merasa jika Hilya tidak bisa memaafkan dirinya akibat perbuatan yang menyakiti hatinya di masa lalu.


Danang melepas punggungnya dari tangkupan tangan kekarnya.Pemuda itu serta-merta membuang pandangan ke sisi lain sembari mendengus berat,"Oh,jadi menurutmu aku masih mencintai siapa....,Vania,atau Karin?"Datar suara itu menggelegar.


Hilya menggeleng pelan,"Aku tidak berpikir demikian,"ucapnya nyaris tidak kedengaran, sembari menahan jantungnya yang terlanjur memompa begitu kencang.


Hilya menarik napas yang sempat tercekat di tenggorokan.Baru saja ia berpikir bahwa Danang menyadari kalau dirinya mengetahui masa lalu Danang soal calon isterinya yang bernama Lian,padahal orangnya saja tidak pernah mau menceritakan hal tersebut kepadanya.


Jika sudah begitu,bisa-bisa dirinya dinilai mencampuri urusan orang lain atau semacam kepo oleh sang pria yang menurutnya,memiliki mulut berbisa dan tidak bisa dikontrol,pada saat sedang marah besar.


"Aku hanya sedang menarik kesimpulan dari sikapmu yang tiba-tiba berubah beberapa hari ini."lanjutnya dalam detak napas satu dua.


Danang tampak tertegun dan kembali menatap wajah sendu yang kini tengah mendongak menatap menyelidik sorot elangnya,dan berusaha bertahan di posisinya meski sebenarnya ia sangat takut dan sungkan untuk melakukannya....,begitu dekat....,dan Danang menyadari semua itu,bahwa kini isterinya sedang gugup.


Di bawah pantulan cahaya rembulan yang berpendar,Hilya memberanikan diri menantang mata elang suaminya yang tengah menyorot tajam,"Jika pada awalnya kau amat tidak acuh kepadaku,lalu sekarang kau begitu peduli terhadapku,maka ada kemungkinan sesuatu telah membuatmu terluka di masa lalu,dan masih belum kau selesaikan dengan baik."


Danang melempar senyum miring sembari merogohkan jemari ke dalam kedua saku celananya.Membiarkan Hilya tetap menyandarkan kepala ke dadanya yang bidang tanpa pegangan.


Hilya mengikuti edaran pandangan suaminya.Kini tatapan itu menerawang jauh ke batas cakrawala,"Seperti bintang di atas sana....,tetaplah bintang yang membuat langit tampak indah di malam hari bagai lukisan yang memancar kilau emas,maka begitu pula cinta yang memberi warna pada setiap manusia,bagai lukisan hidup yang berjalan di atas detik hari yang dilewatinya....,dan....,"


"dan....,jika cinta begitu mudah menghadirkan luka di hati dua insan,lalu mengapa ia begitu sulit memberi penawar pada luka tersebut agar kedua hati itu bisa saling menerima dan selalu memenuhi antara satu sama lainnya."


Hening....


"Masih belum bisa memaafkanku?"


Hilya tampak mendongak sejenak lalu kemudian refleks mendekap erat tubuh maskulin yang jemari tangannya masih kekeh di dalam saku celananya.Danang menangkap sorot mata yang berkaca-kaca sebelum akhirnya sang gadis memilih menyudahinya lebih dulu.


"Maafkan aku,sayang."Danang mendesah parau,menangkup wajah yang sudah mulai tertunduk lalu membawanya pada titik saling beradu.Satu gerakan kecil kembali membuat ******* pada bibir mungil sang isteri,menyisakan bunyi decapan yang membangkitkan ghairah mencekam ke seluruh atmosfer wilayah balkon.


"Jika demikian,maka coba katakan,seperti apa aku di matamu saat ini,"pintanya seakan tengah menuntut perhatian yang lebih dari suaminya.


Danang tersenyum samar,"Seperti bintang yang selalu memberi penerangan di kala gelap,seperti itulah dirimu kala ini."Tangannya merangkul pinggang sang isteri,"Kau memberiku penerangan manakala hati ini mulai dilanda kegelapan."lanjutnya menghirup dalam-dalam aroma wanitanya melalui ceruk leher yang jenjang,menciumnya lalu naik memagut bibir ranumnya berkali-kali membuat si isteri ikut merasakan sensasi gelinjang yang hebat.


"Gombaall."Hilya mencibir.


Danang menggeleng,"Aku hanya menjawab sesuai pertanyaanmu,"ucapnya sembari terkekeh geli,"Bukan gombal ini."


Hilya lagi-lagi berdecit miring,namun kali ini Danang tak bergeming,malah mempererat rangkulannya.


Hilya hadir di dalam kehidupan Danang laksana cahaya bintang yang berkilau di tengah gelapnya malam.Memberi rasa baru yang belum pernah ia rasakan di masa lalunya.


"Kau seperti cahaya bagiku,"kata Danang pada Hilya.


Itu benar adanya,karena dirinya sendiri tidak pernah mengetahui seperti apa cinta itu bekerja semenjak hatinya sudah mulai tertutup di kala Vania dengan sengaja membuat masa remajanya menjadi kelam.


Bertahun-tahun lamanya,Danang pasrah menjalani garis hidupnya tanpa berharap lebih darinya....,mengharapkan kesempurnaan dari cinta itu sendiri.


Kemurnian seorang gadis....,baginya hanyalah sebuah bonus yang jika diberikan oleh Tuhan,maka ia akan menerimanya dengan rasa syukur kepada nikmatNya,namun jika tidak mendapatkannya juga tidak menjadi masalah baginya.


Yang terpenting baginya ialah ia menjalani hidup bersama seseorang dan seseorangpun menerima dirinya dengan tulus,itu saja sudah cukup tanpa harus bicara soal cinta sejati.


Sebuah pilihan hidup yang naif bukan?....,tidak bisa dinafikan lagi,hingga ia begitu pasrah manakala Vania lebih memilih Dimas lalu Karin memilih Diego,dan Lian yang juga hatinya sudah terjebak kepada Diego hingga hidupnya serta-merta dikorbankan ke atasnya kemudian memilih pergi meninggalkan dirinya begitu saja.


Lalu kini,hadirnya Hilya berhasil membuat dirinya bertekuk lutut dan hatinya memohon agar cintanya dibalas oleh sang gadis yang kini mulai dituntun ke dalam batas privasinya,meski masih dalam tahap membatin dan belum bisa ia tunjukkan secara terang-terangan kepada wanitanya,'Aku mohon,cintai aku.'


.....


Bersambung....


Teman-teman sekalian....,jumpa lagi dalam karya garing ini....Terima kasih sudah like dan komen..Ini waktunya disempat-sempatkan saja dan alhamdulillah dapat satu bab lagi.salam berkarya dan saling dukung.


🤗🤗🤗