I Need You

I Need You
Kejutan



Happy reading 📖😍


Hilya terlihat sibuk memandu beberapa pengunjung pameran di galeri seni Jafie Group yang akan berlangsung selama tiga hari itu.Joshua memboyong tema 'All the living creatures of nature in its beauty.' untuk pameran karya seni perdananya.


Beberapa pengunjung yang berminat akan tema tentang'semua makhluk hidup dan keindahannya',terlihat melemparkan beberapa pertanyaan mengenai lukisan seni yang dipajang tersebut.


Maka Hilya dan Nuha yang mendapat keistimewaan dari Joshua,dengan tulus ikhlas membantu menjelaskan kepada para penikmat pameran tersebut.Joshua sengaja membawakan tema tersebut karena ingin menuangkan pesan moral lewat lukisannya.


Menurutnya makhluk hidup dan keindahan merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan,maka mencintai makhluk hidup sama halnya mencintai keindahan begitu juga sebaliknya mencintai keindahan serupa hal mencintai makhluk hidup.Keduanya saling bersinergi dalam satu paparan nyata yang disebut 'seni hidup'.Seni itu hidup, hidup itu seni.


Meskipun Hilya dan Nuha tidak mengambil jurusan yang sama dengan Joshua,akan tetapi keduanya memiliki pemahaman yang cukup baik tentang seni rupa.Apalagi seni lukis hasil karya sahabat mereka itu.


Joshua selalu mengajak Nuha dan Hilya mengunjungi studio seninya di apartemen milik ayahnya.Joshua tidak segan-segan memberikan penjelasan akan makna dan tujuan dari setiap lukisan terbaru miliknya, Hal ini yang membuat kedua gadis ini begitu antusias jika diajak oleh Joshua meski hanya sekedar menemaninya.


Kini mereka tularkan ilmu yang mereka dapatkan dari Joshua secara otodidak kepada para penikmat seni yang hadir malam itu.Dengan senang hati kedua gadis itu melakukannya.


Malam semakin larut,para pengunjung masih memadati galeri seni Jafie Group.Tidak jarang peminat yang membeli lukisan tersebut untuk dijadikan koleksi di rumah.


Tidak ketinggalan keluarga Imran yang masih betah berlama-lama di galeri seni hanya sekadar untuk memilih lukisan terbaik untuk koleksi mereka.Tuan Imran yang masih berbincang dengan tuan Farhan membiarkan isteri dan puterinya untuk berkeliaran menikmati pameran.


Sementara Danang yang masih menunggu ketiga orang dekatnya memilih untuk berkeliling galeri namun terpisah dari kedua wanita hebatnya.Saat ia berkeliling tiba-tiba matanya tertarik pada sebuah lukisan antik yang menggambarkan seorang pejuang wanita tanah air yang dilukis dengan teknik transparan.Tumphan cat air yang padu dan polesan kuas yang tipis dan ahli menimbulkan kesan transparan yang unik dan indah.


Hilya yang sedari tadi berpencar dengan Nuha dan Joshua,memilih untuk jeda sejenak setelah memastikan para pengunjung sudah mulai menikmati momennya sendiri.


Hilya yang sengaja berjalan menuju ke area belakang,tiba-tiba dikejutkan oleh suara Joshua,


"Hilya,kemarilah."


Hilya menoleh dan Joshua sudah siap menggenggam erat jemari gadis itu,lantas menyeretnya pelan menuju ke sebuah ruangan yang masih dipadati oleh pengunjung.Salah satunya adalah Danang.


"Ada apa Jo?"tanya Hilya penasaran.


"Aku punya satu kejutan buatmu."jawab Joshua tersenyum kecil.


"Boleh aku tau apa itu?"tanya Hilya.


"Boleh,asalkan ditutup dulu matanya."ucap Joshua seraya menutup mata gadis itu dengan sepotong kain yang telah ia siapkan.


"Lalu bagaimana caranya aku melangkah, Jo?Duniaku gelap,"cetus Hilya tidak terima.


"Tenanglah sayang,kan ada aku."balas Joshua sekenanya.


Joshua gesit menuntaskan ikatan kain penutup mata Hilya.Pemuda itu melemparkan senyum penuh makna.


"Kau seperti memberi kejutan kepada seorang pacar saja,sayyang."decit Hilya tertawa geli,menekan di kata sayang seakan meledek decitan pemuda tersebut.


Joshua tergelak,"Ini juga sebentar lagi bakal jadi pacar kok."balas Joshua seraya mengedipkan mata nakal.


Hilya mencebik.Gadis itu tidak menyadari kalau Danang juga berada di sana dan sedang mengamati tingkah mereka.


"Tuan Joshua yang baik,hati-hati lho kalau ngomong sama calon bini orang,"seloroh Hilya sembari tertawa getir.Meskipun terkesan bercanda namun di hati kecilnya tidak lupa bahwa dirinya kini sudah menjadi calon isteri kepada pemuda yang tidak dikenalnya.


"Bini orang?Ya,orangnya biar aku saja Hil,mau enggak jadi calon biniku?"balas Joshua dengan ekspresi yang tidak bisa dibaca oleh Hilya lantaran matanya yang sudah tertutup oleh kain penutup mata.


Danang yang mengamati Joshua dan Hilya terlihat mengerutkan kening seakan berusaha mengingat sesuatu.


Joshua mengarahkan tubuh Hilya tepat di depan sebuah lukisan terbesar di antara semua lukisan.Ukurannya yang tinggi menjulang membuat Joshua harus susah payah menarik kain penutup lukisan tersebut.


Ya,lukisan yang sedari tadi tidak ikut dalam pajangan pameran.Mungkinkah dikhususkan buat seorang Hilya Afiyana,hanya Joshua Adie Farhan sendiri yang mengetahuinya.


"Oke,kau boleh buka matamu sekarang." ucap Joshua setelah berhasil membuka kembali ikatan penutup mata gadis itu.


Jantung Hilya tiba-tiba berdesir haru namun seketika itu juga perasaan sedih menghantam jiwanya,


"Apa yang kau lakukan Jo?"ucap Hilya tidak berdaya.


"Bagaimana,cantik kan,"ucapnya ringan,


"Tapi lebih cantik yang aslinya."lanjutnya tersenyum penuh makna.


Danang yang menyaksikan semua adegan tersebut ikut terpana melihat lukisan yang memaparkan wajah wanita yang bakal menjadi calon isterinya itu.


"Ta_tapi untuk apa kau la_lakukan semua ini Joshua?"tanya Hilya gagap.


"Itu karena aku,"menjeda sejenak,mengatur kembali napasnya,


"aku mencintaimu Hilya."balasnya spontan sesuai kharakter aslinya yang to the point,


"Maukah kau menjadi kekasihku Hilya,aku berjanji akan menjaga hati ini hingga kau benar-benar siap menerimaku."


Hilya terperangah mendengar ucapan Joshua.Matanya mengerjap beberapa kali dan menimbulkan kabut bening yang siap meluncur kapan saja.Hatinya bak tertusuk sembilu yang menyemburkan darah segar dari luka yang tersayat.


Hilya mengutuk dirinya sendiri.Di saat yang seharusnya ia menerima cinta seorang pemuda yang selama ini telah menjadi bagian dalam hatinya,ia malah terkena musibah yang membuatnya harus menutup rapat-rapat hatinya untuk pemuda yang berada di depannya ini.


Joshua yang tulus,yang supel dan peramah, terpaksa ia lukai hatinya hanya karena terjebak dalam masalah yang menurut semua orang adalah skandal.


Hilya menghela napas dalam,bibirnya tersenyum getir.Matanya yang kian berkaca namun di sembunyiknnya.


"Apa kau tidak menyukai lukisan ini Hil?" tanya Joshua yang menyadari perubahan di wajah Hilya.


"Bu_bukan tidak suka Jo,tapi aku benar-benar belum siap menjawab dengan pernyataanmu baru saja."ucapnya gugup.


Joshua tersenyum manis penuh pengertian, "kau tenanglah,aku tidak akan memaksamu untuk menjawabnya saat ini juga."balas pemuda itu seraya mencuit ujung hidung Hilya yang bangir.


Semuanya tidak luput dari penglihatan mata gelap Danang.


"Eh,lukisan itu sangat sempurna,apa aku bisa mengoleksinya?"tanya seorang pengunjung yang menunjukkan rasa ketertarikannya kepada lukisan berwajah Hilya itu.


Baik Hilya maupun Joshua sama-sama kaget mendengar suara orang itu.Manakala Joshua yang gelagapan dan tengah berusaha mencari jawaban yang tepat,Hilya lantas mengambil kesempatan untuk melepasakan diri dari Joshua.


Hilya melangkah cepat ke toilet.Di toilet ia menumpahkan semua rasa sakit yang dirasakannya.Rasa terhadap Joshua yang selama ini menggantung dan belum sampai kepada orangnya tiba-tiba harus ia kubur begitu saja.


Hilya bahkan menyadari kalau selama ini Joshua menaruh perasaan kepadanya akan tetapi Hilya belum berani menunjukkan sinyal untuk menerimanya mengingat ia dan Joshua baru berkenalan di saat ia menginjakkan kaki di kampus tempat mereka kuliah.


'Ujian apalagi ini.' batinnya lirih.


Hilya mengumpat kesal.Merutuk dirinya sendiri.Air mata yang tidak bisa ia bendung akhirnya tumpah ruah membasahi seluruh pipinya yang menirus.


Setelah merasa agak lega,gadis itupun segera keluar dari toilet dan berniat mencari sahabatnya Nuha Izz dan mengajaknya pulang.


Baru saja kakinya melangkah keluar dari pintu toilet tiba-tiba seseorang menggenggam penuh lengannya dan menarik kasar tubuhnya hingga menyudut.


Hilya yang baru menyadari setelah dirinya ikut terseret membuatnya mendongakkan kepala dan mendapati sepasang iris gelap tengah menantang bola matanya yang sembab dari jarak lima sentimeter.


Hilya gugup...,serasa atmosfer di sekelilingnya kian mencekam,seketika itu juga dunianya menyempit.


Bersambung..


🤗🤗🤗