I Need You

I Need You
Meniti Rasa Menggapai Asa



Happy readingπŸ˜πŸ“–


Warning 21+πŸ’“πŸ’“....maaf teman-teman sekalian,bagi yang sedang berpuasa silahkan di skip dulu ya..Terima kasih sudah like dan komen..πŸ™πŸ˜Š


Ajaibnya,didalam satu saja pilihan takdir yang harus dijalani itu justeru terdapat begitu banyak nikmat yang terkadang kita lupa dan memilih untuk mengabaikannya.Padahal nikmat itulah yang memberi makna bagi kehidupan yang sudah kita jalani.


Nikmat hidup,nikmat sehat,nikmat lapang,nikmat kaya,dan juga nikmat muda hingga menua bersama.Dan itu kebanyakan kita terlambat memahaminya.


"Katakan,kenapa kau melakukan semua ini untukku?"Hilya yang setengah sadar masih menghunus pertanyaannya.


"Karena aku baru saja menyadari kalau saat ini aku sangat membutuhkanmu....,"menancapkan satu kecupan hangat penuh rasa yang cukup lama ke bibirnya,"....membutuhkanmu didalam hidupku,"melepaskan sejenak kecupan panasnya,"yeah....,I Need You Hilya."mendesah berat sembari meniupkan deru napas birahi yang pelan namun menyengat ke sekujur wajah dan raga isterinya.


Hilya tertegun dengan pengakuan Danang.Gadis itu masih belum puas mendengar pernyataan sang suami,"Kenapa baru sekarang menyadarinya,padahal aku sudah cukup terluka selama ini."lanjutnya bertanya.


Hilya mulai berani membalas memindai wajah maskulin Danang dengan jemari lentiknya.Mengusap tiap inci wajahnya hingga turun ke bibir seksinya disela pantulan cahaya ujung senja yang kian memudar dan menjemput malam.Memendar indah pada sketsa hidup yang menjadi anugerah terindah yang tengah diusapnya kini,sungguh pahatan yang sempurna.


Baru kali ini Hilya menyentuh wajah yang selama ini terkesan arogan dan sinis setiap kali menatapnya.Selalu memaksanya untuk jatuh kedalam kubang rindu yang tidak pernah dijawab sedikitpun oleh si pemilik sorot elang muda itu,tajam dan menohok.


Hilya kembali mendesah pelan,"Empat bulan bukan waktu yang sedikit untuk mengambil kesimpulan."lanjutnya masih bergerilya menyentuh bibir yang entah sudah berapa kali melumatinya.


Meski birahinya juga sudah memuncak dan mengubun,namun ditahannya juga karena ia harus mendapat jawaban yang pasti atas pertanyaan yang menumpuk dari sosok misterius itu.


Danang yang juga baru kali ini menerima sinyal balasan dari sang isteri sudah tak kuasa lagi menahan gejolak di dada.Hati dan pikirannya yang timbul berlawanan kini meronta seakan saling mengejek pada ketidakmampuan dirinya dalam menaklukkan hati wanita yang kini sudah memberi aba-aba kepadanya.


Seakan ingin lari dari pertanyaan bertubi-tubi sang isteri,Danang mendesah lirih,"Bersiap-siaplah,malam ini aku akan memilikimu seutuhnya."


Isi dadanya bergemuruh riuh bagai diketuk bertalu-talu oleh tatapan menghunus dari bola mata bening yang sejak awal tidak bisa ia pungkiri telah memiliki kekuatan dahsyat yang sempurna.


Ya,tatapan sejak pertama kali bertembung di kamar VIP restoran DS,dan memaksanya untuk merindu jika tidak bertemu seharipun.Tatapan itu juga yang memaksanya untuk mencari tahu di mana keberadaannya,Permata Kos,dan juga tempat tinggal orangtuanya.


'Sejak awal pertemuan,aku sudah peduli kepadamu Hilya.'batinnya.


Terbukti setelah insiden di kamar VIP itu,keesokan harinya bukan anak buah yang datang menjemput gadis itu untuk menghadap petinggi Adhytama Star Group,melainkan dirinya sendiri yang mendatanginya.Danang baru menyadari bahwa dia sangat membutuhkan sorot teduh yang bisa menyejukkan nalurinya.


Sorot yang selalu memberi kode kepadanya agar tetap memilikinya meski hatinya terkadang memaksa untuk segera mengusir wanita itu dari kehidupannya.


"Kenapa tidak dijawab?"Hilya lagi-lagi menyerangnya dengan pertanyaan yang beriringan dengan sentuhan-sentuhan maut yang kian menyiksa batinnya.Memaksa naluri kelelakiannya mencuat dan menari-nari.


Sementara Danang masih melawan gejolak di dada antara menjawab pertayaan sang isteri ataukah melayani birahi yang kian mengejek kegagalanya.Satu tamparan keras yang memaksanya untuk tidak menyerah seperti yang sudah-sudah.


Kali ini ia harus membuktikan bahwa ia bisa menaklukkan wanita yang diam-diam memiliki kekuatan dahsyat dan kemampuan super dalam memagar dirinya dari serangan maut lelaki yang menatap bejat kepadanya.Termasuk dirinya saat ini.


Danang sigap membopong tubuh gadis itu ke dalam kamar yang ranjangnya sangat luas dan didukung oleh pantulan cahaya temaram,menambah kesan erotis di seisi ruang kamar tersebut.Langkahnya pelan dan hati-hati ia membaringkan sang isteri ke atas ranjang lalu menindihnya dari atas.


"Sayang....,jawabnya nanti saja.Hhhss...Kumohon,"desahnya bergetar disela tatapan mendamba,"Aku janji akan menjawab apapun yang kau tanyakan padaku."lanjutnya semakin gencar menyerang bibir itu tanpa memberi kesempatan kepada sang isteri berbicara lagi.


Hilya yang sejak tadi masih leluasa mematahkan pergerakan suaminya,kini mulai pasrah dan semakin larut dalam permainan birahi suaminya.Kini ia mulai menikmati setiap sentuhan jemari suaminya pada titik-titik vital tubuhnya.


Danang mendominasi,kini ia gencar menyerang dan bertubi-tubi menghujani isterinya dengan pelukan,ciuman,pagutan,*******,dan juga decapan.Semuanya pelan,berirama,dan semakin menyentak lalu mengalun begitu saja.Karena isterinya tidak melakukan perlawanan ataupun ekspresi menolak seperti waktu-waktu sebelumnya.


Setiap pergerakan sensualnya menghadirkan letupan-letupan kecil di dada yang kekuatannya amat dahsyat menghantam sekujur jiwa dan raga yang ikut bergetar.Sarat rasa dan menguar wangi-wangi desahan lirih di pendengaran.Bagai tarian erotis yang memuja-muja sang pemilik rindu yang sebenarnya.


Danang lihai memperlakukan isterinya dengan lembut.Membelai setiap incinya dengan bibir dan decapan lidah pada tubuh polos yang entah kapan mulai ia poloskan begitu saja bersamaan dengan tubuhnya yang juga sudah sama-sama polos.Sentuhan lembut dan lembab yang berasal dari tarian lidahnya.


Ya,Danang kuat di lidah,mengeksplor sekujur raga nyata sang isteri membuat gadis itu menggelinjang hebat berkali-kali saat menerima transfer gelenyar yang begitu dahsyat dan nikmat.Semua itu sengaja dikirim suaminya lewat gerakan-gerakan erotis sebagai bukti rasa cinta yang mulai tumbuh meski belum mampu diungkapkan secara langsung.


Danang tersenyum saat mendapati isterinya ikut menikmati.Ya,Hilya sangat menikmati setiap detik,setiap menit hingga kepada jam yang tidak dibiarkan kosong dan selalu terisi oleh kegiatan menggelitik dari sang suami.Pemuda itu begitu betah seakan tidak ingin melepas setiap sudut lekuk tubuh yang mengundang napsu begitu juga pada tiga titik vital yang sangat menggoda imannya.


"Malam ini milik kita sayang,"desahnya parau,"Bahkan nyamukpun tidak berani berdenging melihat kemesraan kita."lanjutnya tertawa lirih.Tawa yang mengundang hasrat kewanitaan sang isteri.


Aslinya Danang tipe orang yang tidak egois dalam merebut kenikmatan.Ia bahkan rela menahan gejolaknya demi membuat tubuh ideal isterinya itu ikut menerima sinyal yang merata.


"Sayang....,"desahnya memelas disela deru napas yang terengah.


Hilya hanya bisa mengangguk pasrah.Kali ini iapun tidak ingin menghalangi keinginan suaminya yang sudah menggebu.Membiarkan Danang si pria yang menurutnya telah berubah drastis itu menggagahi tubuhnya.


Hilya mengangguk pelan,"Lakukanlah,"desahnya lirih dengan suara yang nyaris tidak kedengaran.


Danang sangat paham dengan sinyal tubuh isterinya.Perlahan ia memindahkan kedua telapak tangan sang isteri untuk menumpu pada punggung kekarnya.Hingga dirasa sang isteri sudah mulai lentur dan bisa menerima pusat raganya,ia mulai melancarkan aksi mendesakkan raga kokohnya secara pelan dan terkendali mengingat ini pengalaman pertama sang isteri.


Beberapa kali sentakan pelan hingga terakhir saat pusat raga kokoh itu tidak mampu lagi menahan kedutan yang memaksanya segera mendesakkan diri didalam sana.


Deru napasnya dilepas pelan,"Bertahanlah sayang....,sedikit melukai namun tidak sampai fatal."Danang menyugesti sang isteri dengan bisikan lembutnya,"Sayang,kau makhluk lembut yang paling kuat."lanjutnya penuh pengertian,hingga Hilya benar-benar larut dan mengambil ancang-ancang semakin membuat pelukannya menjadi erat.


Maka sekali saja sentakan keras dengan kedua tangannya menumpu pada puncak kepala wanitanya,membuat gadis itu sukses mengeluarkan pekikan tertahan hingga tanpa terasa pulupuk mata itu ikut basah menahan rasa sakit.Namun tidak lama karena Danang yang lihai tetap menyugesti dengan bisikan dan kecupan birahi yang semakin meningkatkan libido masing-masing.Keduanyapun menikmati malam yang indah penuh warna.


Hilya menghela napas puas dan lega.Patut diakui bahwa kini Danang telah berhasil membawa kelembutan itu kepadanya.Kelembutan yang selama ini dirindukan dari seorang pria arogan dan pembenci terhadap wanita,terutama dirinya.Entah ianya bertahan lama atau tidak,yang jelas saat ini ia sangat menikmatinya.


"Hilya Afiyana Abimanyu,"desahnya lirih saat tubuhnya terkulai lemas disamping gadis itu,"I need you because I love you."lanjutnya pelan sembari memeluk tubuh polos isterinya dari belakang.Menarik selimut lalu menyelimuti mereka berdua dalam satu gelungan selimut yang hangat.


Sementara sang gadis yang sudah diambil mahkota kebanggaannya oleh sang suami hanya bisa tersenyum dalam kelelahan dan lamat-lamat mulai terlelap tanpa mengucapkan selamat tidur kepada suaminya.


Dan saat hati mulai kuat menerima cinta yang seharusnya,lalu cinta itu memaksa untuk hadir dan bertakhta,maka semua rintangan bukanlah penghalang yang berarti.Beban,derita dan juga sengsara yang melingkupi sanubari pergi menghilang begitu saja bagai butiran debu yang berterbangan dan berganti dengan nikmat rasa yang dikehendaki.


Nikmat rindu,nikmat kasih,nikmat sayang,dan juga nikmat ingin memiliki dan nikmat ingin mempertahankan apa yang dimiliki.Semuanya menyatu dalam penyatuan jiwa dan raga hingga membawa kehidupan sepasang anak manusia menjadi penuh warna dan berwangi bunga.Itulah yang dinamakan cinta subur di sepanjang detik petualangan dan menebar wangi bunga di semua jenis musim yang berjalan.


Bahkan semestapun seakan tunduk memberi ruang dan waktu lalu ikut melantunkan 'kalimah insani'....,kemudian bertepuk tangan dan mengucapkan selamat kepadanya,"Menualah bersama."


β€’β€’β€’β€’β€’


Bersambung...


πŸ€—πŸ€—πŸ€—