
Happy reading 📖😍
Danang yang kesakitan malah menepis kasar tangan gadis itu hingga membuatnya seketika terjerembab. Namun Hilya tidak mempedulikan reaksi Danang. Ia pun segera bangkit menuju ke meja kasir sesaat kemudian kembali lagi dengan membawa kotak P3K di tangannya dan mendapati Danang sudah tergelatak di atas lantai.
"Maaf tuan, sekarang anda sedang terluka. Maka biarkan kumemeriksanya," meraih telapak tangan dan jemari yang terluka,
"tenanglah, aku hanya mengobatimu." Hilya berucap sopan.
Sementara itu di kediaman tuan Imran, ibu Andin tidak bisa terlelap malam itu akibat belum mendapat kabar dari sang anak. Sejak siang tadi putera semata wayangnya itu benar-benar tidak bisa dihubungi lantaran nomor ponselnya selalu berada di luar jangkauan.
"Pa, papa bangun pa." Ibu Andin menggoyang tengkuk papa Imran yang tertidur pulas. Niatnya membangunkan sang suami agar segera mencari tahu keberadaan puteranya.
"Ehm.., ada apa ma. Kenapa membangunkan papa di jam begini?" Papa Imran yang mengambil posisi duduk dan mengucek mata yang masih mengantuk.
"Kenapa Danang belum pulang juga papa?" Ibu Andin menyatakan kepanikannya.
"Papa juga tidak tahu ma," Tuan Imran membalas bingung,
"tenanglah ma, besok papa akan mencari tahu keberadaannya."
Nyonya Andin menggeleng keras, "Sekarang pa,jangan tunggu besok! Mama sangat mengkhawatirkan keselamatannya."
"Ehm...., mama, tenanglah! Danang itu sudah dewasa. Pandailah dia menjaga dirinya sendiri." Tuan Imran membujuk sang isteri.
"Mama nggak mau tahu pa, pokoknya sekarang juga cari tahu keberadaan anak kita!" tegasnya, "Tadi Dania cerita kalau papa menyuruhnya pergi ke pantai utara bersama Sani?"
"Ehmm...., ya," jawab papa Imran singkat.
"Tapi dia malah menyuruh Sani pulang dan ikut Dania ke acara pelantikan manager di ASH," jelas sang mama kecewa.
"Apa?!Sani pulang bersama Dania?" Imran mengernyitkan kening.
Pria itu lantas beranjak keluar kamar dan langsung mencari tahu kabar anaknya yang telah berani mengambil keputusan sendiri.
Kembali lagi ke area dapur restoran DS,
Hilya yang meminta agar Danang tetap tenang karena ia ingin membalut luka di tangannya. Danang yang sedikitnya mulai tenggelam ke alam mimpi hanya bisa memasrahkan diri membiarkan gadis itu merawat lukanya dengan telaten.
"Aku baik-baik saja...., aku hanya sedikit membenci wanita.'' Danang meracau.
Hilya tidak mempedulikan racauan pemuda yang tidak dikenalnya sama sekali. Perlahan ia membersihkan luka tersebut dengan alkohol, mengoles dengan betadin lalu kemudian membalutnya dengan perban.
"Selesai." Hilya meletakkan pelan tangan pemuda itu di atas lantai. Mengembalikan kotak P3K lantas kembali lagi dan berusaha memapah tubuh kekar pemuda yang menurutnya memang sangat berat namun dipaksakan juga.
Danang yang sedikit banyak antara sadar dan tidak memaksakan langkahnya mengikuti gadis tersebut.
"Katakan aku harus mengantarmu ke mana," ucap Hilya yang tengah menahan beban tubuh Danang dengan tumpuan pundak dan kakinya.
Danang yang tersenyum lemas hanya menunjukkan sebuah lorong penghubung ruangan yang mencapai anak tangga di ujung dapur restoran tersebut menuju ke lantai atas. Belum sempat melangkah tiba-tiba,
Hoek hoek hoek hoekkk
Pemuda itu memuntahkan semua isi perutnya dan parahnya muntahan itu mengenai baju sang gadis. Hilya yang sudah terlanjur memapahnya, ingin menghindar karena tidak kuasa menahan aroma menyengat tersebut namun tidak tega membiarkan pemuda tersebut tersungkur. Alhasil ia terpaksa menepis semua perasaan jijiknya demi menyelamatkan sosok pemuda yang tidak dikenalnya itu.
Danang yang sudah tidak berdaya lalu membiarkan gadis itu memboyong tubuhnya menyisir lorong yang sudah ditunjuk oleh dirinya tersebut, susah payah si gadis menaiki anak tangga hingga menuju ke sebuah kamar VIP yang dikhususkan untuk pemilik hotel restoran.
"Tempat apa ini?" Hilya bergumam.
Selama keberadaan dirinya di restoran tersebut Hilya tidak pernah mengetahui jika ada tempat seperti itu di restoran itu. Dengan wajah yang bingung Hilya memaksakan suaranya yang kian tercekat untuk bertanya kepada pemuda tersebut.
"Lalu ke mana lagi aku harus membawamu?" Hilya berucap berat.
Seketika otak gadis itu sedikit mulai bekerja. Jangan-jangan pemuda ini tamu restoran yang tersesat di dapur. Hilya kemudian dengan hati-hati mencoba meraba saku baju pemuda tersebut namun tidak menemukan sebarang kunci di sana.
Kali ini ia memberanikan diri untuk menyentuh privasi pemuda itu,dengan meraba saku celananya.Cek dan ricek akhirnya ia menemukan sebuah kunci lalu dicobanya kunci tersebut ke pintu kamar VIP yang ada di depannya.
Ceklek
'Berhasil!' Hilya bergumam lega.
Tanpa berpikir panjang Hilya segera memapah tubuh yang masih dirangkulnya tadi masuk ke dalam kamar tersebut.
Membawa tubuh yang tidak berdaya itu aslinya tidaklah mudah.Apalagi tubuh yang dibopong itu adalah tubuh seorang pria kekar seperti dia.
Maka sudah bisa dibayangkan betapa setengah matinya seorang gadis bertubuh langsing yang berat badannya cuma mencapai empat puluh lima kilogram memapah seorang lelaki dewasa yang beratnya rata-rata mencapai enam puluh kilogram.
'Hhhhhhfftt!' Hilya bernapas lega setelah berhasil membaringkan pemuda itu di atas kasur.
Jeda sejenak lalu ia pun segera melepaskan satu persatu sepatu dan kaos kaki yang dikenakan oleh pemuda tersebut.
'Perasaan restoran ini tidak menyediakan makanan apalagi minuman beralkohol. Lalu kenapa pria ini bisa semabuk itu?' Hilya berdecit sendirian.
Tangannya gesit meraih jas yang masih tergeletak disampingnya lalu memindahkan ke atas sofa. Kemudian menyelimuti tubuh yang sudah benar-benar larut ke dalam dunia mimpi itu.
'Selesai.' Hilya bergumam puas.
Sekarang waktunya untuk beranjak dari sini dan pulang ke rumah. Gadis itu sigap melangkahkan kaki keluar dari kamar. Dalam hatinya berdoa agar besok pagi pemuda itu bagun dalam keadaan segar bugar.
Belum jauh gadis itu menapakkan kaki di ujung lorong tiba-tiba kakinya tersandung sesuatu dan membuatnya terjerembab. Sesaat ia ingin bangkit, lagi-lagi tengkuknya terasa dihimpit sesuatu yang berat. Kali ini lebih berat dari tubuh pemuda yang tadi hingga ia benar-benar merasa bahwa dunianya seketika menjadi gelap.
•
•
Pagi pun tiba..
Sejak semalaman Danang tidur dengan nyenyak di kamar VIP restoran DS. Menikmati mimpi indahnya dalam gelungan selimut yang berikan oleh Hilya sang koki seraya memeluk erat dan mencium bantal guling yang menurutnya sangat empuk.
Sedangkan di luar restoran DS terlihat sosok mama Andin, papa Imran dan juga Dania tengah memasuki lorong penghubung antar ruangan menaiki anak tangga dan menuju ke kamar VIP yang ditempati oleh Danang.
Sang mama sudah tidak sabar lagi ingin bertemu dengan puteranya yang sejak kemarin pagi tidak memberikan kabar kepadanya. Manakala mendengar penjelasan dari sang suami bahwa sekuriti restoran DS mengatakan kalau Danang semalam menginap di kamar restoran tersebut.
Maka sang mama pun memaksa agar suaminya segera berangkat menjemput anaknya yang telah membuat dirinya tidak tidur semalaman gara-gara memikirkan nasibnya.
Sedangkan Dania sengaja mengikuti sang mama karena sudah lama tidak berkunjung ke restoran kebanggaan keluarga itu.
Alhasil ke tiga orang terdekat Danang itu pun mendatangi restoran tersebut dengan perasaan bahagia dan sudah tentu Danang sebagai alasan kehadiran mereka.
Tok tok tok tok
Ceklek
•••••
Bersambung...
Terima kasih kawan-kawan sudah dukung karya amburadul dan belum di revisi ini. semoga kita semua diberi nikmat kesehatan dan rezeki yang berlimpah.
Salam lanjut dan tinggalkan jejak bagi yang berkenan..🤗🤗