
'Jadi dia benaran tidak makan siang,'batin Hilya setelah terjaga dari lelapnya.
Gadis itu melirik seisi ruangan mencari keberadaan Danang yang tidak ia temukan di sana.Hilya bergegas menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.Di depan cermin,ia baru menyadari kalau wajahnya memang sangat kotor.Pantas saja Danang langsung ill feel kepadanya.Usai membasuh wajahnya,Hilya keluar kamar hotel sekedar untuk mencari udara segar.
Pemandangan kota persinggahan yang sering ia datangi namun tidak pernah sampai beristirahat selama ini.Penataan kota yang rapi dengan taman kota yang apik,sangat indah dan enak dipandang.
Gedung mewah yang menjulang tinggi meski tidak semegah tampilan kota D.Namun cukup bagus di mata para wisatawan manca negara yang tidak ingin ketinggalan menikmati indahnya suasana pantai timur matahari terbit.Indah memang,namun sedikit rawan pencopetan dan juga penodong bagi orang baru yang belum terlalu hafal dengan lokasi ini.
Bahkan teman baik Hilya dari kampungpun pernah mengalami hal demikian.Ketika itu ia sedang bersama dengan seorang temannya melakukan perjalanan ke kota D.
Sepulang dari sana mereka ketinggalan kereta dan memilih menginap di salah satu penginapan sederhana di wilayah ini.Namun sayangnya mereka di todong dan terpaksa menyerahkan semua barang berharga milik mereka kepada para pencopet tersebut.Untung cuma barang berharga yang diminta,kalau sampai nyawa yang jadi taruhan,maka ceritanya pasti akan lebih rumit.
Sementara itu di kamar hotel,Danang yang baru saja pulang dari menikmati segelas kopi hitam di temani camilan segar,mendapati Hilya tidak sedang berada di sana.Pemuda itu lantas menggeledah seisi ruangan namun tidak menemukan apa yang ia cari.
Dirinya tampak resah dan beberapa kali terlihat mendengus kecil sembari menyugar rambutnya berkali-kali.
'Ke mana dia?'batinnya kesal.
Cukup lama ia mencari gadis itu ke sana ke mari namun tidak menemuinya.Sementara untuk menghubunginya,mana mungkin bisa dilakukannya....,toh dia tidak memiliki nomor ponsel gadis itu.Danang kembali menyapu kasar wajahnya hingga akhirnya ia pun memutuskan menghubungi resepsionis untuk melakukan panggilan darurat kepada gadis yang bernama Hilya.
Dua jam kemudian.....,Hilya muncul dari balik pintu seraya menenteng barang belanjaan yang lumayan sarat di kedua sisi tangannya.Senyum manis merekah indah dari bibir chery miliknya.Raut wajah semringah khas orang habis berbelanja terpampang nyata tanpa dosa... Melihatnya,seketika itu juga membuat Danang sukses terbelalak.Wajah berangnya tidak bisa ia sembunyikan lagi.
"Kau!...,makin ke sini semakin menyebalkan saja!"geramnya mengertakkan rahang,
"Siapa yang menyuruhmu belanja sesuka hati di wilayah ini hah?"lanjutnya sembari mengeratkan genggaman jemarinya ke tangan gadis tersebut yang entah kapan mulai ia tarik secara kasar.
Hilya terperangah mendapati ekspresi Danang yang di luar dugaan.Padahal ia cuma berbelanja sesuatu untuk dibawa pulang ke rumah.Tapi entah mengapa pemuda ini tampak keberatan lalu menarik kasar lengannya kemudian melepasnya begitu saja.Tak ayal gadis itu pun ikut terjerembab bersama dengan barang-barang belanjaannya yang berhambur ke mana-mana.
Hilya berupaya bangkit lalu mengumpulkan kembali barang belanjaannya seraya berucap dengan nada tercekat di tenggorokannya.Gadis itu benar-benar ketakutan melihat Danang yang semarah itu kepada dirinya,
"M_maafkan aku,j_jika kau keberatan,a_aku bisa mencari tumpangan lain dari sini....,"ucapannya malah menghilang di balik tenggorokan,
"A_aku sudah terbiasa dengan jalur lalulintas di sini."lanjutnya semakin gugup.
Mendengar ucapan Hilya,Danang sedikit mereda.Akan tetapi mata gelapnya masih saja menyoroti wajah Hilya yang ketakutan.Gadis itu tidak punya keberanian untuk mendongakkan kepalanya apalagi menantang mata elang milik pemuda yang berdiri di depannya itu.
"Bersiaplah,kita akan segera berangkat."ucapnya datar lantas berlalu dari hadapannya.Hilya menunduk patuh.
Di lantai dasar....,Danang dan Hilya disapa ramah oleh beberapa petugas yang mendatangi mereka.Termasuk general manager yang kebetulan menyempatkan diri untuk mengantar Danang.
"Apa tidak sebaiknya menginap dulu di sini tuan muda?"ujar pak Bayu selaku general manager,
"Ini sudah kelewat sore,jalan menempuh kota kecil akan memakan waktu selama dua setengah jam dari sekarang.Kalian akan kemalaman tuan muda."lanjut pak Bayu bernada khawatir.
Danang membalas ucapan pak Bayu dengan santun,
"Terima kasih sudah mengkhawatirkan kami pak,"
"Baik kalau begitu tuan muda,berhati-hatilah di jalan."balas pak Bayu seraya membungkuk memberikan bow.
Hilya baru mengerti bahwa sebenarnya hotel yang mereka singgahi ternyata milik bos lamanya.Pemilik Adhytama Star Group dan Danang adalah pewarisnya.
Gadis itu diam-diam merutuki nasibnya sendiri.Mengapa harus bertemu dengan keluarga yang selama ini dianggap dewa oleh seluruh masyarakat kota D.
Cerita tentang Hotel Puteri Daniah itu sudah melegenda sejak zaman opanya Hilya yang satu angkatan dengan opa dan omanya keluarga Setiawan yang terkenal itu.
Keluarga Imran memang sangat terkenal di mana-mana.Karena sifat amanah dalam memegang kendali bisnis yang dititipkan kepadanya serta sifat dermawan yang mereka miliki dalam menolong orang-orang kelas menengah ke bawah.
Bahkan rumor tentang pembagian harta waris yang terjadi di antara keluarga besar Setiawan juga sukses menarik simpati yang positif bagi masyarakat kota D dan sekitarnya.
Hangatnya pembicaraan tentang keluarga ini membuat pamor mereka kian melejit dan bisnis mereka semakin naik daun.Hilya menepuk jidatnya sendiri lantaran merasa terlalu bodoh.Padahal selama ini ia bekerja di bawah naungan Adhytama Star Group,tapi ia sendiri tidak menyadarinya.
Sementara ciri khas keberadaan hotel Puteri Daniah telah mendarah daging di semua kalangan masyarakat kota kecil yang kerap mendapat uluran tangan secara cuma-cuma dari pemilik hotelnya.
Tuan Imran adalah pebisnis panutan yang selalu muncul di semua media lokal maupun nasional,bahkan sosok itu telah mendunia karena sukses mengantar Adhytama Star Hotel dan Hotel DS menjadi level bintang lima yang di kenal di mata dunia.
Banyak para pengusaha kecil yang belajar bisnis melalui motivasi-motivasi yang ia berikan melalui banyak seminar,salah satu contohnya adalah 'Kiat Menjadi Pebisnis Hebat'yang ditayangkan oleh media nasional di mana sosok beliau hadir sebagai bintang tamunya.
Tidak terkecuali para orangtua seperti bapaknya Hilya yang memang punya pekerjaan di bidang kuliner.Sang ayah Haryadi juga memiliki rumah makan kecil yang asri di kota kecil B.Orang tua itu tidak pernah ketinggalan informasi dalam 'kiat menjadi pebisnis '.
Namun siapa sangka kalau ternyata sifat salah seorang dari anggota keluarganya yakni puteranya sendiri,sangat bertolak belakang dengan sifat tuan Imran yang nyaris sempurna.Seorang ayah yang sifatnya bak dewa,kenapa tidak menurunkan sifat baik itu kepada puteranya.
Kenapa puteranya malah bagai seorang monster yang siap menerkam mangsanya sewaktu-waktu?Melalui hotel Puteri Daniah ini,secara tidak langsung membuat Hilya jadi mengetahui tentang latar belakang keluarga Danang yang selama ini membuatnya sedikit bertanya-tanya.
Hilya bergidik ngilu membayang kemungkinan buruk yang bakal menimpa keluarganya karena telah berurusan dengan cucu keturunan mantan orang nomor satu kota D itu.Ya,Tuan Adhytama Setiawan,sang mantan wali kota yang membawa kesuksesan kota D ke mata dunia melalui tangan dinginnya.(Riwayat kakek buyut Adhytama Setiawan sudah tertuang di novel karya pertama berjudul Cintai Aku Sahabat Kecilku di mana mereka hadir sebagai kakek buyut dari pemeran utama yang bernama Karin Dhiyana Haikal Jolly.Teman-teman bisa mendapatkan penjelasan dari sana..🙏)
Hilya sangat yakin ayahnya juga pasti akan marah besar terhadap dirinya karena telah lancang kepada keluarga terhormat ini.Dalam hatinya tidak habis merutuki nasibnya yang semakin apes bagai telur di ujung tanduk.
Sementara mobil Danang sudah memasuki pekarangan rumah minimalis milik bapak Haryadi,dan berhenti tepat di ujung teras di mana ada dua buah mobil mewah juga ikut terparkir di sana.Akan tetapi Hilya masih tenggelam di dalam lamunan bodohnya...
"Hei?!....,turun,atau terus saja larut dalam impian bodohmu itu."cebik Danang sinis membuat Hilya terperangah.
"B_baiklah."jawabnya gagap.
Rupanya selama dalam perjalanan Danang memang sesekali melirik ke arahnya namun gadis itu seakan larut dalam dunianya sendiri dengan bermacam-macam mimik di wajah.Ada sedih,kaget,takut dan pucat.Namun ia tidak menyadari jika Danang sedang memperhatikannya.
•••••
Bersambung....
Teman-teman sekalian,salam lanjut dan saling dukung...terima kasih..
🤗🤗🤗