I Need You

I Need You
Aktivitas Ujung Minggu



Keesokan harinya,tuan Imran sekeluarga berpamitan pulang ke kota.Sedangkan Hilya terpaksa menghentikan rutinitasnya di kota selama dua minggu ke depan.Gadis itu harus tinggal di rumah orangtuanya sembari menunggu masa pingit calon pengantin tiba.Sesuai dengan kebiasaan warga setempat,biasanya pingit pengantin akan dilakukan satu minggu menjelang hari H pernikahan.


Hilya mengisi waktu luang selama satu minggu keberadaannya di kampung dengan membantu kedua orangtuanya menjadi pelayan di warung makan dan juga mengurus anak angkatnya bernama Juna yang sudah ia tinggalkan semenjak ia masuk kuliah ke kota.


Juna adalah anak dari sepupu Hilya.Dia teman satu SMP nya yang meninggal dunia ketika melahirkan Juna.Pernikahan dini akibat dari salah pergaulan di antara ayah dan ibu Juna membuat keluarga dari kedua belah pihak menentang keras hubungan mereka.


Ayah Juna bernama Arjuna Wijaya yang notabenenya anak konglomerat dan hidup di kota besar.Arjuna Wijaya jatuh cinta kepada Luna,ibu Juna yang cuma anak seorang petani biasa dan yatim piatu.Ibunda Luna bernama Elmyati telah meninggal karena terserang kanker payudara yang mematikan.


Sedangkan ayah Luna meninggal karena terserang penyakit jantung.Luna yang malang mengikuti adik dari ayahnya pindah ke kota lalu melanjutkan SMA di sana.Luna terpaksa dipulangkan ke kampung oleh pamannya itu karena dianggap telah mencoreng nama baik keluarga.


Karena masalah itu,Arjuna Wijaya diungsikan oleh sang papa ke luar negeri meninggalkan isterinya sendirian bersama pamannya.Namun Arjuna menolak untuk pindah ke luar negeri,dan ketika mendengar bahwa isterinya dipulangkan ke kampung oleh pamannya.


Akhirnya anak SMA itu frustrasi dan berniat menyusul sang isteri ke kampung namun justeru mendatangkan malapetaka bagi dirinya sendiri.Ia mengalami kecelakaan pada saat berkendara dari kota menuju ke kampung isterinya.


Singkatnya di kampung ini,Luna yang yatim piatu tidak diterima oleh keluarga besar dari pihak ayah Luna yang lain.Sehingga bapak Haryadi sebagai paman dari pihak ibu Luna terpaksa mengambil sikap menyelamatkan gadis malang itu dari kecaman keluarganya sendiri.Namun nasib berkata lain,Luna meninggal di saat melahirkan bayinya.Hingga akhirnya Juna besar di tangan Hilya dan ibu Iza.


Warung makan Abimanyu....,


ngeeenngggggg!


Lenting suara anak usia lima tahun mendengungkan bunyi pesawat terbang, menggema di ruang belakang warung Abimanyu,milik orangtua Hilya.Bocah laki-laki imut nan lucu berlari riang ke sana kemari sembari memamerkan pesawat terbang yang baru dibeli oleh bunda Hilya sebagai oleh-oleh dari kota.


"Juna,jangan lari-lari nak!Awas jatuh."suara ibu Iza melenting keras melawan suara bocah bernama Juna itu.


"Tidak apa-apa,oma...a..,sedikit lagi...,hahaha.."pekik Juna sembari tertawa kegirangan.Oma Iza hanya menggeleng-geleng memandang sang cucu dari kejauhan.


Hilya sibuk menata pesanan pelanggan di piring.Gadis itu tampak semangat dan tidak menyerah sedikitpun.Ibu Iza memandang sendu gerak lincah sang anak.Hati kecilnya seakan belum rela melihat gadis kecilnya kini telah dewasa dan sebentar lagi akan menjalani kehidupan barunya yaitu menjadi seorang isteri.


Masih terbayang Hilya kecil tengah menari-nari disampingnya saat ia bersama sang suami sibuk menyediakan pesanan warga yang berkunjung ke warung yang baru mereka rintis.Wajah lucu Hilya kecil yang menangis merengek tanpa dosa minta dibelikan sepeda baru.


Padahal ketika itu,jangankan sepeda,uang buat belanja kebutuhan sehari-hari saja tidak cukup karena mereka masih terbelit hutang pada deb kolektor.Akan tetapi Hilya kecil tidak pernah menyerah.Ia malah mengambil tindakan aktif menjaja permen lolipop kepada semua pelanggan yang berkunjung ke warung ayah ibunya.


"Paman,bibi,tante,om....,tukarlah lolipop ini dengan uang seadanya,buat jajan anak-anak kalian di rumah.Aku ingin mengumpulkan uang buat beli sepedaku yang baru."ucapnya sembari berjingkat kegirangan.


Hilya yang lucu mengutarakan tujuan menjaja permennya kepada setiap pengunjung yang datang.Bahwa ia berniat mengumpulkan uang agar bisa membeli sepeda baru.Meski sudah dicegat,namun Hilya kecil tetap melakukannya secara sembunyi-sembunyi.Hingga suatu ketika ada seorang ayah muda penuh kharismatik dan baik hati merasa iba lalu memberikan uang sebesar harga sepeda yang ia inginkan.


Bahkan ayah muda itu sampai membawanya ke gudang sepeda dan membiarkan Hilya sendiri yang memilihnya.Belum juga sempat mengenal wajahnya,manakala ibu Elmyza berniat ingin mengucapkan terima kasih kepadanya,sang dewa penyelamat yang penyayang itu sudah terlanjur pergi terburu-buru karena mendapat panggilan mendadak dari seseorang melalui ponsel miliknya.


Ah,rasanya baru kemarin peristiwa itu terjadi.Pikir sang ibu membuyarkan lamunannya sendiri dengan tatapan berkaca-kaca,


"Nak,apa kau tidak ingin jalan-jalan sebelum memasuki masa pingitmu?"tanya ibu Iza di sela kesibukan mencuci piring bekas.


Hilya menghentikan sejenak aktivitasnya dan menatap intens wajah sang ibu.Sesaat iapun menghela napas berat,


"Tidak perlu bu....,berada disamping ibu saja sudah cukup saat ini."ucapnya pelan sembari tersenyum lalu melanjutkan pekerjaannya.


'Karena hanya inilah yang bisa membuat Hilya bahagia meski tidak cukup menebus kesalahan Hilya kepada kalian bu....,maafkan Hilya karena telah mengecewakan bapak,ibu dan juga kakak.'batin nya sendu.


"kasihan dia....,belum lahir saja sudah ditinggal ayah,saat lahir ditinggal ibu dan kini baru mau masuk sekolah dasar malah ditinggal bundanya."desah ibu Iza membuat Hilya terdiam,membenarkan ucapan ibunya.


Ada benarnya juga yang diucapkan sang ibu.Kasihan Juna yang malang...,malah lebih malang daripada nasibnya saat ini.Gadis itu hanya bisa berdecak sedih,membayangkan nasib putera angkatnya.


"Baiklah,bu.Jika memang demikian,mulai besok Hilya akan mengajak Juna jalan-jalan ke pantai, berbelanja di swalayan dan bermain ke taman hiburan anak."


"Nah!...,itu baru anak ibu yang cantik."


Hilya memaksakan senyumnya di hadapan sang ibu.Sementara di hatinya tertanam luka yang semakin berdarah.Entah apa yang bakal terjadi setelah menikah nanti.Menjadi bahagiakah atau menderitakah dia.


Esok paginya,mentari pagi menyapa alam pantai kota kecil B yang ramah.Sinarnya menyengat membakar tubuh bagi para pecinta sunshade yang mengambil bagian untuk berjemur di pantai nan indah.Meski ianya hanya kota kecil,namun tidak jarang para turis manca negara yang berbondong-bondong datang untuk menikmati suasana pantai nan indah.


"Bundaa...."lenting suara Juna memanggil bunda Hilya.


Bocah imut itu berlari ke dalam pelukan gadis yang tengah menghidangkan bekal sarapan pagi Juna di atas tikar yang baru ia gelar.Hari ini kedua ibu dan anak itu memilih pantai sebagai tempat pertama yang mereka kunjungi.


"Lihatlah nak,sarapan apa yang bunda siapkan untukmu."


"Emm....,bunda pasti siapkan Juna sandwich kan,"


Tek!


"Tepat sekali sayang,sesuai keinginanmu."balas Hilya sembari menjentikkan ujung jarinya,


"Ayo,dihabiskan ya.Lepas itu kita jalan-jalan keliling pantai."


"Oke,siap bunda."


Hilya mengelus kepala dan punggung Juna.Gadis itu tersenyum getir memandang bocah yang tengah menikmati sarapannya dengan lahap.Jika bukan karena sang bapak Haryadi yang membela nasibnya,maka entah apa jadinya dengan nasib anak angkatnya itu.


Hilya menerawang mengenang sosok Luna sewaktu masih SMP bersama dirinya.Ibunda Juna yang dulunya selalu riang dan selalu beringan dengannya ke manapun mereka pergi.Tidak ada kata sedih di dalam kamus hidup mereka.Hingga ketika mereka berpisah di usia SMA pun mereka masih tetap berkomunikasi.


Namun tahun-tahun terakhir setelah ia terjebak dalam cinta terlarang bersama rekan satu angkatan namun beda kelasnya,Luna jadi jarang curhat hingga akhirnya Juna hadir di tengah-tengah mereka dan ia terpaksa harus menikah dini.


Setelah pulang dari kota,Luna dengan perut buncitnya mendadak jadi pendiam dan tidak banyak bicara.Semua masalah ia pendam sendiri hingga akhirnya ketika melahirkan Juna ia harus berhadapan dengan maut.Namun sebelum kepergiannya ia sempat berpesan kepada Hilya agar menjaga Arjuna Wijaya dengan baik.


"Jadikan dia anakmu."


Ya,ibu Luna sengaja memberikan Juna nama yang sama dengan mendiang suaminya sebagai ayah dari anaknya dan juga sebagai tanda cinta mereka berdua.


•••••


Bersambung...


🤗🤗🤗