
Happy reading. 😍
Gadis itu memperhatikan wajah pemuda yang duduk di sofa dan berhadapan dengan ranjang tempat ia menjaga Hilya berbaring. Untuk beberapa menit berjalan hening.
Dua puluh menit berlalu..
"Aku baru saja menghubungi dokter di wilayah sini,sebentar lagi akan datang,"ucap Danang seraya bangkit dari duduknya,
"Aku tinggal dulu,dan ingat jangan coba-coba membuat sahabatmu ini kabur dariku atau aku akan membuat perhitungan dengan kalian."lanjutnya tegas dan penuh penekanan.
Nuha Izz yang centil,galak,dan juga cerewet hanya mematung memandang punggung pria tersebut hingga menghilang di balik pintu.Jika di bilang ia termakan dengan ancaman pemuda itu,sebenarnya tidak.Ia bahkan tidak memikir hal itu sama sekali.
Yang menjadi alasannya bungkam saat ini adalah soal keterkejutannya mendengar bahwa ia telah menghubungi dokter dan juga sebelumnya ia sempat melirik sesaat ke atas nakas ternyata ada bejana berisi air dan juga handuk kecil bekas kompres.
'Benarkah dia telah merawat Hilya ?' batinnya berkecamuk.
Izz begeser pelan mendekatkan tangannya ke bejana yang berisi air,diraba isinya ternyata masih hangat.Ia mencoba melirik ke arah dispenser kemudian bergerak menuju ke dapur.
Di sanalah pertanyaannya mulai terjawab.Ia menemukan di atas perapian ada bekas panci berisi air panas yang masih tersisa.
'Jadi ini cara ia mendapatkan air panasnya. Tapi kenapa dia bisa bersikap baik,padahal sejak pagi aku pikir hatinya tidak manusiawi.' gumamnya.
Beberapa menit menunggu akhirnya dokter yang dimaksudkan oleh pemuda tadi tiba dan memeriksa keadaan Hilya.Menurut dokter,gadis itu demam akibat kelelahan beraktivitas dan juga pola makan yang tidak terjaga.Tidak ada gejala penyakit yang membahayakan di dalam tubuhnya
Disarankan agar istirahat secukupnya dan makan yang teratur,sehingga oleh dokter telah memberikan beberapa jenis pil dan vitamin sesuai dengan resepnya.
Malam itu Izz menjaga Hilya hingga menjelang pagi,ia baru bisa mengistirahatkan sejenak matanya karena dari semalam sahabatnya itu telah banyak meracau.
Mungkin efek dari panas tinggi yang dialaminya menyebabkan ia berbicara tidak jelas.Nuha Izz pasrah dengan keadaan itu,padahal selama ini dirinyalah yang paling merepotkan Hilya.
Baru kali ini ia merasa direpotkan oleh seseorang sehingga membuat dirinya rada kewalahan,apalagi orang tersebut adalah Hilya sahabat yang selama ini telah banyak berkorban untuk dirinya.
Surya pagi menembus jendela kamar.Hilya yang baru keluar dari kamar mandi melangkah berat ke arah sahabatnya yang masih tertidur pulas.Ia mencoba meraih gelas berisi air putih dan meneguknya dengan sekali teguk.
Saat meletakkan kembali gelasnya,matanya bertembung pada bungkusan resep obat di sebelahnya,ia mengernyit bingung.
"Kau sudah bangun Hilaf?"ucap Izz menggeliat.'Hilaf'adalah panggilan manja yang ia tujukan kepada sahabatnya yang bernama lengkap Hilya Afiayana.
Hilya mengangguk pelan,
"Jadi semalam kau membawakan dokter untukku?"tanya Hilya tersenyum haru.
Izz menggeliat dan bangkit tanpa menjawab pertanyaan sahabatnya itu,
"Cepatlah ceritakan kepadaku kenapa kau bisa sakit begini."Izz melemparkan pertanyaan seraya menarik tangan sahabatnya itu ikut duduk disampingnya.
"Entahlah,mungkin hasil keputusan direktur itu yang membuatku begini."balas Hilya sedih.
Izz mengernyit bingung,"apa keputusannya itu,"ucapnya lagi seraya menyugar rambutnya sejenak,
"dan yang penting tidak memberatkan dirimu kan,Hil?"tanya Izz bertubi-tubi.
Hilya menggeleng,"Tidak hanya semakin berat Nuhizz,"ujarnya menerawang,
"tapi juga membuatku nyaris gila."lanjutnya dengan tampang bersedih.
"Ayo ceritakan kepadaku,kau tidak boleh memendamnya sendiri."pungkas Izz.
Hilya menghela napas berat,air matanya mulai bercucuran.Ia pun menceritakan semua kejadian di kantor Adhytama Star Group.Hasil keputusan direktur adalah mutlak dan tidak boleh dibantah.Ia terpaksa harus menikah dengan pemuda yang terjebak satu ranjang bersamanya itu.
Nuha Izz terkesiap.Matanya membulat penuh,"Aku nggak salah dengar kan Hilaf?" susah payah ia mendorong sesuatu di tenggorokannya yang semakin mengering.
Hilya menggeleng,"Itulah kebenarannya." ucapnya sedih dengan air mata yang mengucur.
Nuha Izz yang awalnya hanya terperangah kini tidak bisa menahan diri melihat sabahatnya itu menangis,
"Kau tenang saja,aku akan mencoba meminta bantuan kepada papaku untuk melakukan negosiasi dengan tuan pemilik Adhytama Star Group.Siapa tau ia berubah pendirian."
Hilya menggeleng,"Percuma Izz,sudah kutandatangani hitam di atas putih."
Gadis itu kembali terbelalak dan berkaca-kaca lantas meraih sahabatnya itu ke dalam pelukannya,
"Yang sabar Hil,aku yakin Tuhan pasti merencanakan sesuatu yang indah di balik semua ini."hibur Izz.
Beberapa saat setelah tangis Hilya mereda,gadis itu terlihat lebih tegar dari sebelumnya.
"Oh ya,Hil.Kau tunggulah,aku akan mencarikan sarapan di warung depan."ucap Nuha Izz dan Hilya mengangguk.
Air mata yang mengering di wajahnya hanya memancing iba di hati gadis mungil nan centil yang berusaha mencerna setiap kejadian yang terjadi di depan matanya semalam.Ia baru sadar kalau ternyata pria yang menjaga Hilya semalam itu tidak lain adalah orang yang bakal menikah dengan Hilya.
"Terima kasih sudah menggantikan pakaianku semalam."ucap Hilya membuyarkan lamunan Nuha Izz.
"Haahh?!"balas Nuha terbelalak.
"Ah,kau!Aku kemarinkan pulang-pulang dari sana langsung pingsan,mana sempat ganti kemeja dan rokku."ulas Hilya membuat Nuha semakin ternganga.
'Appaa???!Jadi monster itu juga yang menggantikan baju dan juga roknya.' batin Nuha tidak percaya.
"Ah,ya."balas Nuha Izz sembari nyengir menutupi rasa kaget akan penjelasan sahabatnya itu.
'Monster atau dewa kah dia bagi seorang Hilya?'gumamnya di sela mengunyah bubur ayam yang penuh sesak di mulut namun sulit untuk ditelan.Maka air putih juga yang menjadi sasaran mendorong makanan tersebut.Ya,bubur ayam serasa batu.
•••
Kediaman Keluarga Imran..
Pagi itu Danang mendatangi meja makan untuk ikut sarapan bersama dengan kedua orangtuanya.Ucapan selamat pagi membuka pembicaraan di antara mereka.Meski suasananya masih terbilang canggung namun ketiganya memilih untuk saling menerima dam memaklumi.
'Apa dia sudah mulai menerima gadis malang itu?' batin mama Andin.
'Siapapun gadis itu,aku harap dia akan menjadi penyelamat buat puteraku ini.'bisik hati papa Imran.
Danang menikmati sarapannya dengan khusyu.Sesekali kedua orangtua yang duduk disampingnya itu melirik ke arahnya kemudian saling pandang penuh tanya.
"Hai papa,hai mama,selamat pagi."Dania menyapa riang di momen sarapan.
"Selamat pagi sayang."balas sang ayah dan ibu.
"Kakak,selamat pagi."ucap Dania riang seraya mengambil posisi duduk disamping sang kakak.
"Hmm..,pagi."jawab Danang singkat.
"Puteri mama ceria banget pagi ini,"goda mama Andin ikut tersenyum,
"Apa gerangan hayo!"lanjutnya seraya memicingkan mata.
"Ada deh mama,hehe."balas Dania semringah.
"Emm..,anak mama sudah main rahasiaan sama mamanya sendiri ya,"ucap sang mama menantang,
"awas ya kalau sampai kualat."lanjutnya mengancam.
"Ih,mama..,jangan sumpahin Nia gitu ah.Sayang kan kalau sampai terijabah."cebik Dania cemberut.
"Itu lho ma,Nia kan sebentar lagi mau dipromosi menjadi sekretaris general manager hotel..."ulas papa Imran tertawa kecil.
"Hotel yang mana pa,kan sudah ada Lisa dan Kayla di ASG dan DSH,"Danang yang diam dan hanya menyimak tiba-tiba menimpal,
"Atau Nia mau di tempati di cabang Adhytama ujung timur?Itu kan pedalaman yang jauh dari kota,"melirik ke arah sang adik,
"Mana tahan anak papa yang manja ini ditempatkan jauh dari mama dan papa."lanjutnya meledek.
Dania mencebik,"Kakak meremehkanku."
Danang tersenyum,"Bukan meremehkan dek,tapi kenyataannya memang begitu." balas Danang nyinyir membuat sang adik cemberut.
"Bukan untuk Adhytama star Group nak, tapi untuk Adhytama Star Hotel."jelas sang papa memastikan.
Danang yang sedari tadi sempat bercanda dengan sang adik meskipun tidak seramai dulu,mendadak wajahnya berubah datar. Menghentikan kunyah dan memilih menegak air putih seraya menolak pernyataan sang papa,
"Aku tidak setuju pa."bantahnya.
Sang papa terdiam,Dania dan mama Andin hanya mengernyit dan saling pandang.
•••••
Bersambung...
Hay kawan-kawan..,ikuti terus ya cerita fiktif ini..semoga terhibur.Terima kasih sudah mendukung dan dukung terus jika berkenan..salam lanjut,semoga kita semua diberi nikmat dam kesehatan yang melimpah...aamiin.
🤗🤗🤗