I Need You

I Need You
Rencana Papa dan Mama



Happy reading 😍📖


Seperti yang di bicarakan oleh sang ayah sebelumnya,orangtua Ibnu Haidar melakukan kunjungan keluarga ke rumah tuan Imran dengan maksud ingin melamar puteri mereka Dania.


"Maafkan atas kelancangan kami,"ucap Ibnu Fahri,"Atas keinginan putera kamilah,maka kami berani berkunjung kemari."lanjutnya santun.


Hilya memandang saksama rombongan tersebut.Ia baru menyadari mengapa suaminya bersikeras menolak Ibnu Haidar sebagai calon adik iparnya.Selain memiliki banyak bodyguard yang mendampingi,mereka juga muncul dengan melakukan penyamaran.Bukankah itu cukup menggambarkan betapa susahnya jadi mereka.


"Akan menjadi pertimbangan buat kami dan akan diberi jawaban setelah kami membicarakannya bersama puteri kami."balas tuan Imran tanpa basa-basi.


Berbeda dengan papa Imran dan mama Andin yang tampak tersenyum dan netral menaggapi kehadiran para tamu tersebut,Danang agak sedikit berbeda.Pemuda itu tampak bungkam dan bersikap dingin.Nyaris tidak ada bahasa yang ia lontarkan kepada mereka,meskipun beberapa pertanyaan tentang persetujuan langsung dilontarkan kepadanya.


"Aku tetap pada pendirianku pa,"ucap Danang setelah rombongan tersebut bubar.


Danang lantas mengambil sikap pergi dari rumah tanpa ingin menunggu pembahasan lanjutan bersama dengan Dania di sore harinya.Pemuda itu pergi dan mengajak isteri ikut bersama.


"Sebaiknya,nanti kau juga harus bicara kepada adikmu."Tuan Imran menyarankan.


"Dia keras kepala,pa.Aku tidak ingin membahas sesuatu bersamanya."Danang berkilah,"Padahal aku sudah memperingatkan tentang hal ini kepadanya."lanjutnya seraya menarik lengan Hilya agar segera pergi dari sana.


"Aku panggil Juna dulu."Hilya mencegatnya.


Danang menoleh menatap kosong ke arahnya,"Bisakah sejam saja kita pergi berdua saja?"mengeratkan cekalan tangannya,dan Hilya tertegun.


Papa Imran tampak dengan senyumnya yang khas mengangguk ramah,"Biarkan Juna bersama kami dulu,nak."


"A-apa tidak merepotkan,pa?"


"Tidak,sayang.Turuti keinginan suamimu,dan mama siap jaga Juna sampai waktu yang suamimu inginkan."Mama Andin ikut menimpali.


Danang yang paham betul cara membuat Hilya patuh kepadanya,tidak ingin membuang waktu.Secepat kilat ia menyambar,"Dengar,tuh.Papa dan mama saja memberi ruang untuk kita,"menarik Hilya semakin mendekat,"Kapan kau bisa jadi ibu dari anak-anakku jika kau menolak terus."lanjutnya sembari mengedikkan bahu dengan senyum yang ditahan.


Hilya terbelalak,matanya tidak lepas melolot ke arah suaminya,"Sana,sana,sana.Di depan orangtua kau asal bicara saja."usirnya sembari mendorong kemudian menarik tubuh suaminya agar segera menghilang di depan kedua orangtua mereka.


Hilya yang sibuk menggerutu tidak menyadari kalau suaminya sempat memutar kepala dan mengangkat tangan memberikan kode'OK'kepada sang papa,kemudian dibalas oleh beliau dengan gerakan jemari yang sama.Pantas saja pagi tadi Danang mengatakan kepada isterinya kalau sang papa meliburkan dirinya hari ini.Rupanya mereka punya rencana yang tidak Hilya ketahui.


Mama Andin menarik napas dalam kemudian membuangnya pelan,"Semoga mereka cepat akur."


"Ya,putera kita tidak salah,ma.Papa yang sudah mempertemukan mereka dengan cara yang salah."terang sang suami sembari menerawang masa lalu.


Ia baru mengetahui permasalahan puteranya secara mendetil setelah Danang mengamuk kemarin pagi dan memaparkan semua kejadian selama sehari ia di sana serta permasalahan restoran DS yang tengah menjadi perbincangan hangat,lalu terakhir ia memergoki sendiri ketika Danang sedang makan siang di ruangannya dengan derai air mata yang tidak terbendung.Sang papa paham,kini puteranya tengah terluka.


Kemudian sang papa datang dan memposisikan dirinya sebagai sahabat yang mengajak ia untuk berbagi.Akhirnya Danang mau menceritakan semua masalahnya kepada sang papa termasuk sang menantu yang menolak diberi hak nafkah batin akibat trauma kekerasan yang pernah terjadi di awal pertemuan mereka.


Itu sebabnya sang papa sengaja meliburkan puteranya sampai pada waktu yang tidak ditentukan demi untuk memperbaiki semua kesalahan yang dipicu oleh rencananya sendiri.Secara tidak langsung sang papa telah membuat mereka saling menaruh syak wasangka hingga terjadilah pertengkaran dalam rumah tangga mereka.


Dan ketika ia menyampaikan hal itu kepada sang isteri,nyonya Andin menyarankan agar keduanya diberi kesempatan untuk berbulan madu.Maka komplitlah rencana sang papa dengan puteranya itu.


"Ya,dan menantu kita juga tidak salah kan,pa."memeluk erat lengan suaminya,"Padahal mama sudah gencar-gencarnya memaksa mereka memeriksakan diri ke dokter kandungan."lanjutnya sembari bergidik ngilu memikirkan kebodohan yang pernah terjadi di antara mereka semua.


"Ya,semoga semuanya baik-baik saja."membalas merangkul tubuh sang isteri dengan penuh kasih sayang.


Menurut papa Imran puteranya itu tidak jahat.Dia hanya sedang memasuki proses pematangan hati agar suatu saat tidak terpengaruh kepada godaan hidup yang bisa menjerumuskan rumah tangganya.


Kembali lagi ke Danang dan Hilya.Sekarang mereka berdua sedang dalam perjalanan menuju ke Perumahan Premium.Tampak Danang yang tengah sibuk menyetir sambil sesekali melirik aktivitas sang isteri disamping.Gadis itu kelihatan sibuk memainkan benda pipih di tangannya.


"Ck,kenapa kita harus pulang tanpa Juna?"Hilya bernada kesal tanpa peduli situasi bahwa sang suami akan marah kepadanya ataupun tidak.


Hilya terperangah,"Hah?!....,Huftt....,perjalanan lagi."menghempas napasnya pasrah.


Danang tersenyum,"Kenapa?Kau tidak suka perjalanan jauh?"melirik sesaat ke arah isterinya.


"B_bukan begitu,tapi jangkauan menuju ke sana itu sangat jauh,"memainkan tali tas selempangnya,"Membayangkannya saja aku sudah kelelahan."pikirnya lebih tepat berbicara kepada dirinya sendiri.


"Tidak lama di sana,hanya beberapa hari saja."Danang menambahkan.


"Hah?!....,beberapa hari itu sangat lama,lalu Juna di ke manakan?"Hilya tidak terima menjalani rencana dadakan yang tidak pernah direncanakan sebelumnya.


"Kan,mama dan papa tadi bilang,siap menjaga Juna sampai batas waktu yang aku tentukan,"jawab Danang sekenanya.


"No,no.Aku tidak mau pergi.Kau saja."Hilya menolak dengan mengangkat telunjuknya sembari menggelengkan kepala.


"Oh,jadi rupanya kau sangat betah tinggal di rumah yang kau bilang neraka kastil itu?"menatap tajam ke arah Hilya,"Baiklah,akan kulepas kau sendirian di rumah,lalu menjemput Juna dan bibi Nunung untuk menemaniku ke pantai selatan,biar bibi Nunung bisa mengurus Juna di sana."mengancam agar Hilya mematuhinya.


"Ah,ide yang buruk."gerutu Hilya dengan komat-kamit lanjutan yang tidak jelas.


"Ya,sudah.Turuti aku.Ikut aku ke Paradise Villa Jimbaran."


"Whhuatt?....,lehih gila lagi.Sejak kapan kau mengajakku ikut bekerja denganmu,hah?"memutarkan arah duduknya, memandang lekat wajah tampan sang suami,"Aku lelah,ingin istirahat saja."lanjutnya menyelutuk.


"Ya....,kau akan istirahat sepuas-puasnya di sana sambil menikmati,dan aku yang bekerja."jelas Danang dengan maksud yang berbeda dan hanya dia saja yang memahaminya.Sementara Hilya yang masih larut dalam pemikiran bahwa suaminya pergi dalam rangka urusan pekerjaan hanya melongo membulatkan bibirnya membentuk huruf O.


"Ya,sudah.Aku ikut,"ucapnya pasrah.


Danang yang fokus pada kemudi,tampak menyungging senyum samar di bibir seksi miliknya.'Akan kupastikan kau tidak bisa menolakku lagi,isteriku.'batinnya semringah.


"Kau kenapa,senyam senyum tidak jelas begitu?"Hilya memicingkan mata seakan menyadari sebuah kebohongan pada suaminya.


"Ah,t_tidak apa-apa.Aku cuma sedang memikirkan,jika kau kelelahan,apa perlu kita naik helikopter saja ke sana,ya?"Danang sengaja menawarkan hal baru baginya.


"Ah,ngaco!"Hilya semakin cemberut dan memilih diam daripada terus-terusan berperang mulut dengan pria yang menurutnya tampan namun menyebalkan.


"Tidak ada sesuatu yang tidak mungkin,sayang."terang Danang tertawa lebar.


Danang yang sudah membelokkan mobil memasuki pekarangan rumahnya semakin tertawa saat melihat isterinya yang lagi-lagi cemberut dengan bibir semakin menancap ke depan.Maka semakin ada celah buat terus menggoda gadisnya,"Kenapa dengan bibirmu itu,mau minta kulumatkan lagikah?"menghentikan mobil lalu menatap mesum ke arahnya.


Hilya yang menatap lurus dengan tawa sarkasnya sigap mencubit pinggang suaminya,"Semakin ke sini,kau semakin mesum saja."celetuknya geram.


Danang lebih sigap lagi membaca pergerakan tangan sang isteri.Ia menangkap tangan Hilya yang siap menerkam pinggangnya,menahannya sejenak lalu membuat tangan itu melingkari pinggangnya.


Sekali lagi jemari maskulinnya naik menyelip ke leher jenjang yang terekspos.Karena tadi sewaktu sang isteri fokus berdebat dengannya,tidak sengaja malah menguncir rambut sebahunya menyerupai ekor kuda.Suatu pemandangan yang menggoda imannya.


Danang kemudian mengunci leher tersebut dan....,mengecup lembut bibir ranum milik isterinya.Menancap dalam,membelainya dengan lidah menuju kedalaman yang intim,lembab dan juga kenyal,lama dan puas hingga napas mereka terengah-engah....


Danang menatap isterinya penuh damba,'Kuharap di Villa nanti jangan menolakku seperti yang sudah-sudah,"pintanya berbisik lirih penuh rasa dan napsu ke telinga isterinya.


Gadis itu seketika menggeliat.Seluruh peredaran darahnya yang berdesir menyiratkan getaran indah yang tak teetahankan ke sekujur tubuhnya,membuat ia tak kuasa melepas dan semakin mengeratkan pelukannya ke pinggang sang suami.Seakan memberi kode kepada pria itu bahwa ia tidak akan menolak jika menjalaninya.


•••••


Bersambung....


🤗🤗🤗