
Happy reading 😍
Pagi yang cerah, saat mentari baru menembus tirai jendela apartemen, gadis bernama Dania itu mendadak mendengar gedoran dari luar pintu. Dengan gaya malasnya, berusaha bangkit untuk menggapai gagang pintu. Di dalam pikirannya, "Haidar pengganggu orang tidur saja." Namun bagaimana jika yang mengetuk pintu kamar bukan Haidar?
"Ah, rupanya kau kakak ipar," celetuk Dania sesaat setelah berhasil membukakan pintu dan mendapati Hilya tengah berdiri membelalak di depannya.
Sementara Dania hanya mengedikkan bahu menatap sang kakak ipar, tanpa menyilakannya untuk masuk.
Hilya akhirnya menyerobot masuk ke dalam kamar yang tampak sepi,"Kau sudah buat masalah besar. Seharusnya jam begini kau di kantor."
"Aku mencarimu ke sana, dan kau tidak ada."
"Malah tidur di kamar pria, semalaman. Bagaimana kalau yang mencarimu itu kakakmu, atau papa, atau mama?" Hilya melayangkan protes bertubi-tubi.
Dania melengos, "Aku malas kerja hari ini. Ah santailah, aku tidak macam-macam, kok." Tapi tunggu dulu, Dania baru menyadari sesuatu, "Bagaimana kau tahu aku di sini?" tanyanya bingung seraya memicingkan mata penuh curiga.
Menyadari itu, Hilya berbalik menyorotnya tajam, "Menurutmu? Apa aku ibu-ibu tukang rumpi yang kepo sama urusan orang?"
Dania hanya bisa menarik bibir miring, "Ya, bukan begitu juga, kak."
"Tapi melihat kau yang tiba-tiba muncul di sini, membuat pikiranku mengira, bisa jadi."
Kini giliran Hilya yang melengos, "Nia, kau yang kurang update. Kenapa tidak baca chatku dari semalam, huh?"
"Oh, ya? Jadi kau sudah membalas pesan dariku?"
Gadis itu hanya menjawab pertanyaan Dania dengan memutar bola matanya, dongkol.
"Kakak ipar, ayolah. Sedikit santai, itu lebih baik." balas Dania manja.
"Ini bukan soal santai atau serius, Nia. Tapi soal kesalahan besar yang sudah kau buat. Tidur di kamar lelaki yang bukan muhrim."
"Lalu ini, apa ini? Lihat penampilanmu. Pakaian siapa yang kau pakai, sampai kedodoran begini?"
Hilya menghunus tudingan bertubi-tubi, "Jangan- jangan, kau...."
"Setop! Kakak ipar, aku tidak seburuk itu, oke." Sela Dania cepat, "Maaf, pikiranku memang sedang kacau, tapi aku tidak senekad yang kau kira." lanjutnya dengan tatapan memelas.
Hilya hanya menarik napas dalam, lalu membuanya kasar, " Cepat ganti bajumu, lalu kita pergi dari sini."
Baru saja Dania menarik lengan Hilya agar disilakan duduk, tiba-tiba pintu apartemen sudah didobrak paksa, Pembantu Haidar yang ditugaskan pagi itu untuk menjaga Dania, sudah bekap oleh beberapa orang berpakaian serba hitam.
Tampak beberapa orang pria berbadan kekar lainnya menerobos masuk ke dalam ruangan pribadi milik Haidar yang ditempati oleh Dania tersebut tanpa permisi.
"Hei, siapa kalian?"bentak Hilya meninggi.
Melihat penampilan sangar para pria tersebut membuat kedua gadis itu panik dan berteriak, "Tolooonggg!!!" pekik Dania keras.
"Diam di tempat! Dan jangan berteriak!" perintah salah seorang dari mereka.
"Pergi dari sini, atau kalian akan tahu akibatnya!" serang Dania ketus.
"Kami tidak apa-apakan anda, jika anda tidak melakukan perlawanan." balas orang yang sama, "Maaf, kami harus bertindak, nona." lanjutnya tegas.
Manusia berpakaian serba hitam tersebut dengan gerakan sigap membungkam suara Dania yang masih memekik panik. Namun beberapa detik kemudian....
Hei, siapa kalian masuk kediaman orang tanpa sopan-santun, hah?" Dania yang mulai terkontrol, membentak saat mendapati orang-orang tersebut melepas topi lalu siap menunduk hormat kepada dirinya dan juga Hilya.
Bersamaan dengan itu, seseorang menyeruak di antara beberapa pria yang sedang menunduk hormat, "Maaf, nona. Ini atas perintah tuan besar. Dan kami harus segera membawa nona berdua untuk menghadap."
"Paman Sani kau...."
Baik Hilya maupun Dania sama-sama terkesiap melihat pemandangan di depan mata. Bisa dipastikan bahwa tuan besar yang dimaksud oleh pria yang baru disebut mereka, tidak lain papa Imran sendiri.
Hilya baru bisa bernapas lega, saat memastikan dirinya dan Dania tidak sedang diculik.
Adhytama Privat Room
Saat di depan sang papa, Hilya tampak tertunduk malu, daripada Dania yang kelihatan biasa-biasa saja. Penampilannya dengan kaos oblong yang tampak kebesaran, dan juga celana jeans yang kedodoran dan digulung berkali-kali. Bisa ditebak setelan baju dan celana yang ia kenakan saat ini adalah tuan apartemen, Haidar.
"Anak papa, mulai bertingkah semenjak bergaul dengan pemain kelas mafia itu,"
"Jadi melanggar etika dan tradisi keluarga yang beradab," ujar ayah Imran datar dengan posisi kedua tangan dimasukkan ke saku celananya," Menantu papa juga sudah mulai belajar bersekokongkol menutupi kesalahan iparnya." lanjutnya kecewa. Tidak berniat untuk menatap wajah kedua puterinya tersebut.
Baik Hilya maupun Dania, tidak ada yang sanggup mengangkat suara meski sekedar untuk menyatakan pembelaan. Dania yang merasa tersudutkan hanya bisa menangis dalam diam, "Salahkah jika aku mempertahankan perasaan ini?" batinnya sebak.
Dania melirik singkat ke arah ujung sofa di mana sang kakak, Danang sedang duduk dengan posisi berselonjor dengan tangannya sibuk memutar-mutar benda pipih di tangannya tanpa tujuan.
Sejenak kemudian sang kakak memilih pergi dari sana tanpa melirik sedikitpun ke arah dirinya ataupun isterinya, Hilya. Tampak garis kecewa di wajahnya itu, sama persis seperti sang papa, ah dua pria terhebat itu memang sedang marah.
"Maaf pa, aku sudah melakukan kesa_"
"Stop, Hilya. Jangan membela adik iparmu," potong sang mertua cepat.
"Papa tidak suka, anak papa yang lainnya juga terlibat dalam masalah yang ingin papa musnahkan ini."
"Maaf, papa. Akulah yang telah melakukan kekacauan ini." timpal Dania pelan, "Aku janji akan menjauhi Haidar."
Sementara itu, di ruang yang berbeda, seorang pemuda tampak babak belur dihajar oleh beberapa pria sangar berbadan kekar, "Kami tidak peduli, sekuat apa anda di luar sana. Yang kami inginkan hanya satu hal, jauhi puteri kami." Gelegar suara sekretaris Sani yang benar-benar menunjukkan berangnya kepada pemuda yang tidak lain adalah Ibnu Haidar.
"Maafkan aku," ucapannya nyaris tidak kedengaran. Deru napasnya naik turun tidak karuan. Tubuhnya lebam, wajahnya terluka bersimbah darah. Semenjak keluar dari apartemen sebelum fajar, pemuda itu langsung dibekuk oleh sekretaris Sani dan anak buahnya lalu di bawa ke ruangan khusus Adhytama Group.
Haidar yang memiliki keahlian bela diri yang buka. kepalang, nyaris sulit ditaklukkan, namun karena dirinya sendirian dan sekretaris Sani yang juga memiliki skill bela diri yang tidak kalah kuatnya dengan pria itu masih memiliki banyak anak buah yang tidak kalah bengisnya.
Ditambah ketika ia mengetahui bahwa kelompok yang menyakitinya saar ini bukanlah musuh seterunya, melainkan orang suruhan pria paling menakutkan itu, "Ini peringatan!" seru sekeretaris Sani.
Maka mau tidak mau iapun mengalah dan tidak ingin melakukan perlawanan. Cintanya kepada gadis itu lebih besar dari segala kebencian. Hingga ia memilih untuk membiarkan orang-orang tersebut bertindak sesuai arahan ayah sang gadis.
"Ayo lawan!" bentak sekretaris Sani yang menyadari kekuatan bela diri Haidar bukan sembarangan, namun pemuda itu menggeleng.
"Kau tidak mau melawan? Aku bisa saja membunuhmu." Sekretaris Sani semakin membabi buta menghajar Haidar. Namun pemuda itu tetap bergeming.
"Hentikan!" bentak suara lembut yang tba-tiba muncul dari balik pintu. Dania. Gadis itu akhirnya dibawa oleh petugas jaga ke dalam ruangan tersebut atas perintah sang ayah.
Dania kalang kabut menerobos benteng tubuh kekar para pesuruh ayahnya demi mempertahankan hidup pemuda itu, "Paman Sani, hentikan. Haidar kesakitan," pekiknya panik dalam tangisan yang memecah. Namun digagalkan oleh petugas dan sekretaris Sani tetap leluasa menghajarnya.
"Aku bilang hentikan, paman!" lagi-lagi bentakan Dania tenggelam dalam amarah sekretaris Sani. Dan Dania masih tidak menyerah untuk itu.
"Kakak, tolong hentikan mereka, kenapa diam saja kak?" Dania yang baru menyadari ternyata sang kakak, Danang juga berada di ruangan tersebut. Namun sayangnya sang kakak juga tetap diam di tempat.
"Kakak, aku mohon. Dia juga manusia sama seperti kita, kan. Bilang ke paman Sani, hentikan semua pukulan itu...., kakakkk...."
Bersambung...
🤗🤗🤗