
Happy reading 😍📖
Mentari pagi menyapa langit kota D. Hiruk pikuk suasana jalanan dipadati semut kota. Seperti biasanya, pagi ini Hilya terbangun setelah bibi Nunung mengantarkan sarapan pagi ke kamarnya.
"Maaf, bibi mengganggu tidurmu," ucap sang bibi menunduk tajam.
"Emh..., tidak masalah bi, aku yang seharusnya minta maaf telah merepotkan bibi tiap paginya." Hilya mengerjap barkali-kali seraya mengarahkan pandangannya ke arah wanita paruh baya tersebut, "Di mana Juna, bi?"
"Itu yang ingin bibi sampaikan kepadamu, nona." Bibi Nunung mengangkat wajah menatap dirinya yang tengah mengerutkan kening, "Tuan Danang baru saja mengantar Juna ke rumah besar. Nyonya besar yang meminta agar Juna segera diantar ke sana."
Hilya menarik napas dalam, "Ada apa di sana ya, bi? Kenapa aku tidak diberi tahu?"
Bibi Nunung menggeleng pelan, "Maaf, nona. Bibi juga tidak mengetahui persis apa alasannya. Bibi hanya diperintahkan oleh tuan Danang agar segera mandikan Juna lalu bersiap-siap."
"Satu lagi, nona. Anda diminta untuk menyusul ke sana setelah sarapan pagi."
"Emm, baiklah bi. Aku siap-siap dulu."
"Baik, nona. Jangan lupa sarapan dulu."
"Baik, terima kasih, bi."
Hilya bergegas ke kamar mandi setelah bibi Nunung meninggalkannya. Membersihkan diri, lalu kembali lagi untuk bersiap-siap dan berdandan cantik di sela sarapan paginya yang serasa hambar tanpa Danang, tanpa Juna.
"Apa sebaiknya aku meminta bibi Nunung menemaniku buat menyusul mereka, ya?" Hilya bermonolog.
Meski ragu, namun setelah menimbang beberapa kali, akhirnya dirinya memutuskan untuk mengajak bibi Nunung agar menyusul ayah dan anak itu ke rumah besar.
Tapi bagaimana kalau bibi Nunung menolak? Ia merasa malu kalau berjalan sendirian ke rumah itu, mengingat perlakuan papa Imran yang mendiaminya belakangan ini.
"Bagaiman kalau papa menolakku di sana?" Pikirnya lagi. Ya, sang mertua memang masih bungkam dan tidak bersahabat kepadanya semenjak masalah menimpa puterinya Dania.
Namun pikiran buruk itu berhasil ditepis. Kini ia merasa bahwa ini adalah saat yang tepat untuk mendekati beliau dan meminta maaf kepadanya. Bukankah seorang anak berkewajiban meminta maaf kepada orangtuanya ketika berbuat salah? pikirnya brilian.
"Bi, ikut aku ke rumah besar, ya." pintanya manja.
Bibi Nunung yang sedari tadi sibuk dengan urusan beres-beres rumah, akhirnya mengangguk pasrah meski di hati kecilnya menolak untuk ikut. Akan tetapi mengingat pesan Danang agar senantiasa memenuhi permintaan isterinya karena kondisinya tengah hamil muda, membuat sang bibi diam-diam tersenyum dan rela meninggalkan segala pekerjaannya buat menemani isteri majikan tersayangnya itu.
"Baik, nona. Apa perlu bibi siapkan sesuatu untuk bekal, nak?" jawab bibi Nunung seraya menawarkan bekal mengingat sang majikannya itu kini rajin mengunyah. Buktinya meski garis pipinya yang masih tampak menirus, namun tubuhnya kelihatan mulai padat berisi. Aura orok di wajahnya kian menguar membuatnya kelihatan semakin cantik natural.
"Emm, tidak usah, bi. Nanti saja di rumah besar kita bikin bersama kalau aku menginginkannya," jelas Hilya melakukan penolakan, membuat sang bibi mengangguk dan bergegas siap-siap.
Di perjalanan Hilya sibuk mengajak sang supir pribadi bercanda ria sambil sesekali ditimpali oleh beliau. Sedangkan bibi Nunung sibuk mengutak-atik benda pipihnya dengan wajah yang sedikit menegang dan kening yang mengerut meski pada akhirnya ia juga ikut larut dalam senda gurau mereka.
Di rumah besar, bibi Nunung masuk ke dapur dengan mengambil akses jalur belakang yang biasa dilewati oleh para Asisten Rumah Tangga yang bekerja di sana. Sementara Hilya masuk ke dalam rumah melalui pintu utama.
Hilya sama sekali tidak menyangka kalau saat ini rumah besar milik mertuanya dipadati oleh sekelompok orang yang sangat dikenalnya. Kini kaki jenjangnya melangkah maju dengan wajah bingung dan kening yang mengerut memandangi suasana rumah yang dipenuhi nuansa ramah tamah.
"Mereka semua di sini, dan aku sama sekali tidak diberitahu?" batinnya kacau.
Bagaimana tidak, di salah satu sudut ruang keluarga sana jelas terlihat bapak, ibu, kakak Helmy, dan juga isteri beserta dua puteri kecilnya tampak sedang tertawa riang bersama mama Andin dan juga Juna kesayangan.
Tidak ketinggalan, nyonya Amanda, dan nyonya Mira beserta tiga wanita tak dikenalnya yang duduk berjejer ria. Salah satunya tengah menggendong seorang balita cantik. Tampak jemari lentik nyonya Mira tengah asyik mengelus lembut rambut Juna seraya tertawa lebar melihat tingkah polah lucu sang bocah, dan juga tuan Amran serta tuan Jayahadi yang duduk bersebelahan dengan Dimas yang tampak ikut ramah berbincang bersama Helmy. Mungkin sedang membahas Juna, karena semua mata tertuju kepada bocah imut tersebut.
"Mereka semua di sini?" gumamnya pelan.
Sementara itu di ujung sudut yang lainnya, tampak tuan Imran bersama sejumlah besar orang penting yang menurut perkiraannya adalah kolega bisnis sang mertua yang sibuk bercengkerama. Tampaknya ada hal serius yang sedang mereka bahas di sana.
Sementara itu di sisi yang berbeda, Hilya mendapati sebuah pemandangan yang cukup membuatnya terkesima, Dania bersama sosok pria itu, Haidar. Dari kejauhan keduanya tampak menatapi dirinya sembari tersenyum penuh arti dan melambaikan tangan kepadanya. Bahagiakah mereka? Dari kapan semua itu bermula? Menakjubkan!
"Bagai bermimpi ini," lagi-lagi gumamnya gusar. Kali ini bibir merahnya menjadi sasaran empuk dibentur keras oleh deretan gigi-giginya yang rapi, "Aww, sakit. Berati nyata."
Belum lagi seorang wanita cantik sempurna berambut pirang yang tengah duduk anggun sembari berbincang-bincang dengan Dania dan Haidar. Sesekali matanya mengerling indah seraya tersenyum menawan. Dialah Karin, wanita yang pernah dipeluk posesif oleh suaminya, dan yang baru diketahui olehnya sebagai sahabat sejati suaminya. Ya, Danang sendiri yang mengakui itu. Tapi entahlah, kini malah perasaan cemburu itu masih saja menyelinap begitu melihat sosok cantik tersebut tiba-tiba berada di rumah mertuanya.
"Ah, masa bo doh," batinnya konfrontasi.
Lalu di mana suaminya? Kini ia mengedarkan pandangan ke segala arah, bertujuan mencari keberadaan orang tercintanya itu, "Pergi ke mana dia?" Namun bukan Danang yang ditemuinya melainkan matanya tertuju kepada seorang balita tampan berpipi gembul di pangkuan sosok pria perfect berkharisma tinggi yang pernah ditemuinya beberapa minggu lalu di ruang ICU saat ingin bertemu dengan Haidar.
"Selamat pagi menjelang siang, tuan rumah," sapanya ramah.
Pria perfect yang tidak lain adalah Diego Hedy Dz itu tengah asyik melongok memandanginya dengan mimik mengagumi, setidaknya membuat jantung hatinya tiba-tiba menyentak dan serasa ingin melompat keluar dari persemayamannya. Namun sedetikpun matanya tidak ingin berpindah ke lain arah karena kini ia seakan-akan memiliki pertahanan yang kuat untuk dirinya sendiri.
Hilya mengangguk santun, "Selamat pagi juga, tuan." meski rada kikuk dan sebenarnya bingung, namun ia berupaya untuk tetap membusung, "Silakan bersantai, anggap saja rumah sendiri." diikuti dengan senyum ramah dan dibalas oleh senyum dan anggukan kecil dari Diego.
Berbagai pertanyaan memberondong di pikrannya, untuk apa mereka semua berada di rumah ini? Mengapa seluruh keluaraganya juga ikut berkumpul di sini? Apa sebenarnya yang terjadi?
"Assalamualaikum," ucap Hilya membuyarkan konsentrasi sebagian orang di sana. Hilya hadir dengan gaun cantik dan penampilan natural saat itu, membuat semua mata tertuju kepada pesonanya.
"Wuaalaikumsalam..., eh, menantu mama sudah datang, kemarilah sayang," sapa mama Andin ramah membuat ia merasa bahwa kehadirannya diterima saat itu, kian membawa langkahnya mendekati sekelompok paruh baya tersebut lalu menyalami tangan mereka.
"Selamat datang, menantu sayang." Nyonya Mira ikut bersuara. Hilya mengangguk santun seraya melemparkan senyum terindahnya, "Terima kasih tante," ucapnya pelan seraya ikut menyodorkan tangan menyalami tangan wanita tersebut lalu di balas olehnya dengan ekspresi senyum getir.
Hilya melirik singkat ke arah tuan Amran yang duduk bersebelahan dengan isterinya, lalu puteranya yang juga ada di balik sofa yang berdekatan, tampak satu paket, seolah-olah ada yang salah dengan tatapan mereka. Namun Hilya berupaya untuk tidak mengambil peduli terhadap keadaan tersebut.
"Sayang, kabar baik itu tidak seharusnya ditutupi, kau pikir ibu tidak bisa membaca auramu saat ini?" Elmyza, sang Ibu tercinta mencuit pinggang puterinya seraya melayangkan protes yang sontak membuatnya rada cengengesan.
"Maaf, bu. Bukan maksud menutupi, tapi memang belum dapat momen yang pas buat bicara sama ibu," balas Hilya sopan seraya menunduk tajam. Kini posisinya sudah duduk di samping sang ibu yang telah melahirkan dirinya.
Wanita paruh baya itu tampak begitu haru menatap sang anak yang memgalami perubahan drastis di tubuhnya. Sudah bisa dipastikan oleh seorang ibu yang memiliki ikatan batin dengan anak-anak tercinta. Sang ibu memang sangat peka sepertinya, kini ia semakin yakin jikalau puterinya itu kini sedang hamil muda.
"Sayang, ikut mama ke kamar sebentar, yuk." Mama Andin tiba-tiba berdiri meraih lengan Hilya yang masih sibuk memeluk ibunda tercintanya. Hilya yang rada terkesiap, namun terpaksa menuruti permintaan sang mama mertua.
"Ibu Elmyza bisa ikut ke dalam juga, ya." Sang mertua menambahkan setelah berhasil meraih lengan menantunya. Membuat sang ibunda mengangguk dan ikut bergerak.
"Jalannya hati-hati, sayang. Jangan terburu-buru," titahnya penuh ekspresi ketika mereka menaiki anak tangga.
Namun karena permasalahan yang dialami Dania membuat papa Imran memdiami mereka semua. Itu sebabnya niat tersebut masih tertunda hingga kini.
Ya, begitu juga dengan mama Andin yang sebelumnya telah mendengar kabar bagus tersebut secara langsung dari mulut puteranya sendiri, Danang, membuat wanita tersebut sedari tadi tidak lepas dengan air mata mengingat sikap suaminya beberapa waktu yang tiba-tiba menjadi tidak berperasaan terhadap anak-anaknya, terutama kepada menantunya itu.
Dan kinipun ia perlu ekstra hati-hati terhadap pergerakan menantu tercintanya itu.
"Maaf tadi mama memaksa Danang datang duluan, karena pada saat mama menghubungi, katanya kau belum bangun." Mama Andin membuka penbicaraan setelah mereka sudah di dalam kamar.
Hilya yang belum menyadari sesuatu di sana hanya tersenyum canggung menatap wajah sang mertua yang memandangnya lekat. Nyonya Andin membawanya ke meja rias. Saat kamarnya di buat terang benderang, ia baru menyadari kalau ruangan kamarnya telah dihiasi ala kamar penganti baru, "Whatt? Ada apa ini?" gumamnya terkesiap.
"Kaget ya, nak?"
"Kau kaget, nak?"
Menyadarinya, mama Andin dan sang ibu sontak melayangkan ucapan yang nyaris bersamaan. Kini mereka sama-sama tertawa.
"Sayang, itu, hubungab adikmu Dania direstui oleh papa, dan hari ini akan diadakan acara pertunangannya, maka kau sebagai menantu kesayangan Setiawan, wajib didandan cantik agar bisa melewati beberapa momen yang perlu melibatkan dirimu di dalamnya," jelas mama Andin panjang lebar.
"Oh, ya? Baiklah, kalau begitu."
Meski ragu, Hilya tetap menjalani ritual dandan yang telah di atur sedemikian rupa oleh dua orang pesolek yang dipesan datang oleh mertuanya.
"Bagaimana bisa anak ibu belum mendengarnya?" usik ibu Iza mengedipkan matanya, "Ibu yang jauh-jauh di Kota Kecil sana sudah mendengarnya dua hari yang lalu, dan kau belum mengetahuinya sama sekali?"
Hilya tertawa sumbang, "Bagaimana bisa tahu, bu. Kalau Danang saja sangat sibuk di kantor, sementara papa saja masih bersikap diam pada kami semua."
"Oh, ya? Kenapa ibu tidak tahu soal ini?" Kini giliran ibu Iza yang melempar tanya, namun itu hanyalah sebuah kepura-puraan. Yang benarnya sang ibu telah mengetahui semuanya secara persis.
"Itu sebabnya, mama meminta Danang untuk membawamu kemari hari ini, namun karena kau masih terlelap maka mama berpesan kepada bibi Nunung agar menyuruhmu menyusul kemari."
"Ya, dan aku mengajak bibi Nunung ikut, ma."
"Nggak apa-apa, malah lebih baik, mama sudah tahu, itu."
Hilya menanggapinya dengan ber 'O' ria.
"Ini bajunya mau pakai yang mana, nyonya?" tanya salah seorang perias andalan kepada mama Andin.
"Aku pilih yang putih dengan motif merah cokelat itu, untuk menantuku yang cantik ini. Sangat pas buat kharakternya," jelas mama Andin membuat Hilya sedikit merona lalu ikut melirik ke arah pakaian adat yang sudah disiapkan oleh kepadanya.
"Duh! Bukankah itu setelan seperti yang pernah kukenakan saat mengikuti upacara 'Berbagi Seribu Warga' waktu itu?" batinnya gusar, "Itukan riasan dan aksesorisnya cukup berat dan melelahkan," pikirnya lagi.
"Pastikan tidak ada yang tertinggal, aku ingin menantuku tampil sempurna hari ini," terang mama Andin lagi lalu disanggupi oleh perias tersebut sebelum akhirnya sang mama dan juga ibunda Iza memilih keluar kamar setelah memastinya anak mereka sedang dirias cantik.
Anehnya, acara pertunangan Dania, kenapa ia yang harus mengenakan pakaian serupa itu? Padahalkan seharusnya cukup Dania saja yang mengenakannya. Dalam kebingungan, Hilya menuruti semua permintaan dua orang penata rias tersebut.
"Hallo, sayang. Aku datang," ucap lenting suara gadis muda yang tidak lain adalah Nuha Izz.
"Payah, kau kacang Nut. Aku boleh kesulitan dari tadi dan kau baru datang?"
"Lah?! Siapa yang meneleponku di sini dari tadi?" Nuha melayangkan pembelaan.
"Iya, aku memang nggak menghubungimu karena aku sedang panik pas sampai dan lihat suasana di sini tadi. Tapi, kan sebagai sahabat, peka dikit kek! Lalu ini acara apa sebenarnya? Membingungkan! Muasak papa mamamu ada dan kau tidak diikutsertakan sama sekali?" protes Hilya tidak terima.
"Iya, sih. Tapikan seharusnya kau datang dan langsung mencariku, dan bukannya malah bengong lalu menatap ganjen pria tampan yang menyambut kehadiranmu tadi itu," sanggah Nuha dan kali ini sukses memancing amarahnya.
"Jadi kau melihatku kebingungan sendirian, dan kau puas cekikikan ria di sana? Kau sengaja mengerjai aku kan? Katakan ini idemu bersama Danang, kan?"
"Husyh! Susuzhon sama suami sendiri."
Tiba-tiba suara bariton yang muncul dari balik pintu ikut menimpali ucapannya barusan.
"Kau?!" ucapnya ketus manakala menatap suaminya segak dengan padanan seragam yang sama dengan dirinya. Pria itu tampil dengan air muka nan tampan memesona.
"Ya, aku suamimu yang tampan ini," ucap Danang tertawa kecil, namun memukau.
"Nggak lucu, kenapa tidak bilang padaku sebelumnya kalau ada acara semacam ini di rumah ini?" sentaknya keras. Kali ini ia merasa emosinya tersulut lantaran melihat suaminya yang santai dan senyam-senyum bahagia padahal dirinya sedari tadi bingung dan panik luar biasa.
Danang sontak mengedipkan mata kepada Nuha lalu gadis itu mengangguk tanda paham. Kini ia memilih bergeser ke sofa sebelah dan bermain ria dengan ponsel dan hedsetnya tanpa mau menguping apalagi mengusik pembicaraan kedua anak muda yang saling membujuk tersebut.
"Mana, bibir isteriku yang cantik ini, hmm?" ujarnya mengusik seraya melancarkan satu kecupan ringan di sana. Sementara Hilya masih larut dengan ketidakpuasannya, kini menghunus tatapan tajam berkaca-kacanya, "Kau tahu, aku seperti orang linglung saat masuk ke dalam rumah ini tadi."
Danang memeluk hati-hati tubuh isterinya yang sudah lengkap dengan seragam adat dan polesan riasan cantik di wajahnya, "Aku tahu, dan aku melihatnya di cctv," ucapnya santai, "Termasuk tatapan kagum si Diego kepadamu tadi. Jujur, aku cemburu," ucapnya spontan dan sangat pelan namun penuh penekanan.
"Hah?! Kau dan Nuha sama saja," cetusnya tidak terima.
"Sayang, akukan sudah jujur. Kenapa masih disalahin sih?" Danang dengan senyum miringnya menggerayangi pipi sang isteri.
"Sana, sana. Nanti riasanku kacau," usir Hilya mencubit gemas pipinya membuat sang suami tertawa puas. Satu kecupan bibir kembali mendarat, lalu didikuti pelukan posesif dan ciuman ringan di kening wanita yang aura kecantikannya kian menguar itu.
"Ini pertunangan Dania, kenapa kita harus berdandan menor gini sih?" protes Hilya namun tidak mendapat jawaban apapun dari Danang, karena sang suami fokus pada ritual posesifnya dan tidak ingin diganggu.
"Ehmm..., sudah siap? Waktunya keluar menuju ke arena." Penata rias yang sebelumnya sudah keluar tampak kembali lagi di depan pintu yang sudah terbuka sejak tadi, bersama wanita cantik yang tadinya sempat membuat hatinya rada panas dingin. Ya, Karin datang menjemput dirinya dan juga suaminya. Entah bagaimana, Nuha Izz yang sedari tadi sibuk entah di mana kini kembali lagi dan sudah siaga di samping dirinya dan juga Karin.
"Eksekusi," bisik Nuha pelan ke telinga sahabatnya yang masih kesal menatapnya itu, lalu kembali memandang ke arah Danang yang sudah siap menghunus satu kedipan mata nakal tanpa rasa bersalah yang sengaja ia tujukan terhadapnya. Kini Hilya pasrah dalam gandengan suaminya. Semua perlakuan mesra dan posesif seorang Danang terhadap isterinya itu benar-benar direkam jelas oleh memori wanita yang bernama Karin tersebut. Kini ia hanya bisa memandang Hilya dengan tatapan yang tidak terbaca.
••••
Bersambung...
Teman-teman sekalian, maaf telah haitus begitu lama. Bukan karena kehabisan ide tapi ada urusan pribadi yang memang tidak hisa ditinggal. Salam manis untuk kalian semua..🤗🤗🤗