I Need You

I Need You
Berarti di Hidupku



Hadirnya Hilya berhasil membuat dirinya bertekuk lutut dan hatinya memohon agar cintanya dibalas oleh sang gadis yang kini mulai dituntun masuk ke dalam batas privasinya,meski masih dalam tahap membatin dan belum bisa ia tunjukkan secara terang-terangan kepada wanitanya,'Aku mohon,cintai aku.'


Perlahan tangan kekarnya menggenggam jemari lembut sang isteri seraya mengajaknya bercengkerama,"Sudah kau tanya kabar tentang Juna?"


Hilya mengangguk,"Ibu bilang,bapak merindukan Juna,dan akan mencari waktu buat ke kota hanya untuk bertemu dengan kita."


Padahal sesuai pernyataan sang kakak,atas perintah beliaulah maka besok Helmy akan segera mengantarkan Juna ke kampung.Karena dalam jangka waktu dua hari ke depan,om Hadi akan menemui bapak Haryadi dalam rangka membahas perihal Juna.Danang tertegun mendengar pernyataan Hilya.


Itu berarti ibu mertuanya belum mengetahui kalau Juna sedang bersama Helmy.Itu juga pertanda bahwa kakak iparnya tidak menceritakan apa-apa kepada kedua orangtua mereka.Maka ada kemungkinan berita miring tentang dirinya memperlakukan Hilya secara tidak adil sesuai versi Helmy,belum sampai ke telinga sang mertua.


Danang menghela napas berat,andai saja berita miring itu sempat tercium,maka dengan sendirinya kedua mertua pasti menganggap dirinya sebagai suami yang tidak bertanggung jawab.


Lantas masih bisakah ia memberi alasan kepada mereka walau sekedar membuat pembelaan terhadap diri sendiri,pikirnya.


"Kurasa om Hadi terlalu memaksa untuk memiliki Juna."Hilya bersuara di tengah gusarnya,


"Jika memang bapak ingin menyerahkan Juna kepada om Hadi,lalu mengapa tidak bicara kepadaku dulu?"


"Ah,aku sudah seperti orang asing saja."


Ucapan Hilya berturut-turut yang tidak satupun berhasil terekam dipendengarannya.


"Sayang,apa kau mendengarkanku?"


Kali ini Hilya berhasil membuyarkan lamunannya setelah meraba dagu maskulin yang ditumbuhi bulu-bulu halus.Gadis itu tampak menghela napas berkali-kali.


"Ah,ya.Aku akan mendengarkanmu,"jawab Danang sekenanya sembari berusaha menyembunyikan pikiran kalut yang mengerubuti.Meski begitu,kini ia sedang mencoba menenangkan perasaan sang isteri yang tampak mulai gelisah.


"Kau melamun?"Hilya masih memberondong pertanyaan yang senada.


"Ah,tidak.Aku hanya sedang memikirkan bagaimana cara buat meyakinkan bapak dan ibu,"Tangannya mulai menuntun jemari sang isteri dan mengajaknya menuruni tangga menuju ke kamar.


"Agar tidak menyerahkan Juna secara sepihak kepada om Hadi."


Hilya menuruti gerak langkahnya,"Emm....,gitu ya."


"Oh,ya.Aku hampir lupa."


"Tadi Nuha bilang,ia sempat bertemu dengan kakak dan Juna di mall."


"Aku malah berpikir,dalam keadaan genting,kakak masih sempat mengajak Juna jalan-jalan?"


Danang mengerutkan kening,"Oh ya?....,lalu respon Juna?"Tangannya siap nenyentuh gagang pintu.


Hilya melengos malas,"Menghindar,"ucapnya pendek seraya mengedikkan bahu,"Juga menolak komunikasi,"memasang mimik greget dengan bola mata membulat penuh.


"Tapi Nuha tidak cerita kalau om Hadi akan menjemput Juna,"tambahnya geleng-geleng.Kini tubuhnya siap melenggang masuk ke dalam kamar.


"Nuha malah bilang,om Hadi akan pergi ke Belanda untuk satu bulan,dan ia baru saja mengantarnya ke bandara."Beralih memicingkan mata menatap Danang penuh curiga.


Danang terkekeh,"Aahh,ya.Mungkin sudah ada perubahan setelah kau mendapat keterangan dari kak Helmy."


Hilya mengacak pinggang tidak sabar,"Kau tidak sedang berbohong padaku kan?"


Danang terkekeh lagi sembari menggelengkan kepala,"Tidak,nona Hilya Afiyana Abimanyuku yang cantik....,baiklah,besok kita akan bicara lagi."


"Sekarang bersihkan diri,lalu istirahat....,hmm."Sembari mengecup singkat kening sang isteri kemudian mengarahkannya untuk bersih-bersih diri.


Hilya menuruti ucapannya tanpa berucap,akan tetapi di dalam hatinya masih tetap menyimpan berbagai macam tanya.


Danang menatap wajah teduh yang kini sudah terlelap manis.Tentunya setelah melalui momen indah yang tak ingin terlewatkan begitu saja.Berkali-kali membawa jiwa dan raga itu ikut berkelana menjelajah setiap lekuk incinya,agar bersama menikmati pusaran arus birahi yang memabukkan.


Membuat wanitanya melayang lalu terhempas berkali-kali mencapai puncak dalam hitungan kesekian kalinya....,ketiga,keempat dan seterusnya.Bahkan hingga sang wanita tampak begitu lelahpun sang pria yang lihai dan ahli masih saja segar bugar.


Hingga akhirnya ia terpaksa memberi ruang kepada sang isteri dengan membiarkannya terlelap lebih dulu,"Istirahatlah,"bisiknya lirih usai menitipkan bingkisan terindah untuk kesekian kalinya di dalam tubuh mungil sang gadis,sementara dirinya akan terus bekerja hingga hasrat yang membuncah mencapai klimaks dan benar-benar tuntas dengan sempurna.


"Sangat cantik,"gumamnya pelan.


Untuk sepersekian detiknya sorot mata tajam dengan bibir dikulum itu memindai tiap lekuk yang terpahat sempurna sembari sesekali mencoba merapikan sulur rambut yang terurai menutupi wajah cantik isterinya.


Bahkan sorot mata itu seolah enggan berpindah meski sebenarnya ia juga sangat lelah setelah seharian suntuk melakukan aktivitas padat ditambah dengan ulah sang kakak ipar yang membuatnya pusing,lalu aktivitas memabukkan yang baru saja dilewatinya,benar-benar menguras tenaga.


Pria itu tampak tersenyum manis sembari berbisik di dalam hati,"Kau tahu....,perumpamaan bintang saja tidak cukup untuk menyimpan posisimu di hatiku saat ini.Ibarat mentari yang memberikan cahaya bagi kehidupan,maka begitu juga dirimu telah menjadi sumber bagi kehidupan baru di dalam hati yang sudah terlanjur rapuh di sekian waktunya.Perjalananmu bersamaku yang terbilang singkat telah mengisahkan arti cinta yang sesungguhnya....,lalu kau dengan santun membawa kebahagiaan yang sungguh ini untuk kujemput di dalam hidup,dan kehidupanku menjadi lebih berarti di tengah rona wajahmu yang malu-malu mendera jiwa sangarku.Hingga kau meluluhkannya dengan senyum terindah yang kau miliki.Kesempurnaan itu....,kini kau telah berhasil menaklukkannya.Aku bahkan sampai merasa takut kehilangan kebahagiaan yang sudah kudapat bersamamu,dan benar-benar tidak ingin kehilangan lagi.Aku mencintaimu,isteriku."


Perlahan mata itu mulai ikut memejam mengajak sang pujaan hati bertualang bersama di dalam mimpi indah,sembari memeluk erat bahagia yang tidak ingin dilepas lagi.


..


Keesokan harinya,saat mentari malu-malu menyapa bumi dewata,wanita itu baru saja mendelik,menyesuaikan pandangan seraya mengumpulkan separuh nyawanya yang masih mengawang-awang.


Setelah di luar kamar tidurnya terdengar suara gaduh sang bocah itu berkali-kali menyerukan kata,"Bunda,Juna pulang,"


"Bunda,Juna pulang."Khusus untuknya.


Hilya tertegun,ia bahkan sampai lupa kalau sebenarnya ia sudah merencanakan sesuatu agar bisa membuat Juna kembali kepadanya.


Namun di luar dugaan,sang bocah kini sudah berada di hadapannya,sembari berlari-lari keliling ruangan keluarga.Lalu menerobos masuk ke dalam pelukan hangatnya,seakan momen perpisahan kemarin adalah waktu terlama sepanjang perjalanan mereka.


"Juna,jangan lari-lari,nak.Nanti jatuh."


Kalimat pamungkas yang membuat dirinya selalu bersemangat dalam menjalani hari-hari tersulitnya.


"Baaiik,bunda."Kekehan manis keluar begitu saja dari bibir keduanya seakan sedang memberi sebuah kesimpulan,jangan pernah dipisahkan lagi.


Perlahan kaki jenjangnya mendekati Danang dan sang kakak yang tengah asyik menikmati kopi pagi dalam diam.Mengambil posisi duduk di antara kedua pria hebat yang ia miliki,di mana keduanya tampak lebih asyik menekuri benda pipih yang ada di tangannya masing-masing ketimbang memecah sunyi.


Ia sengaja berdehem di tengah hening.Di saat gambaran rahang kokoh itu kian mengeras tanpa ada sepatah katapun yang mengalir dari mulut kedua pria tersebut.


"Terima kasih,telah membawa Juna kembali."


Ucapan itu lolos memecah begitu saja setelah beberapa lama suasana kaku tercipta di antara mereka bertiga,tanpa tahu masalah apa yang sedang terjadi di sana.


Dibalas dengan sebuah anggukan singkat dari sang kakak tanpa suara.Justeru malah memamerkan rahang kokohnya kian berlipat.


Meski di wajah cantiknya terpancar rona bingung,kini tampak pula raut kekecewaan yang mendalam,namun lidahnya jelas-jelas menolak berkata,walau sekedar protes ataupun menyatakan pendapat.


Kini matanya beralih melirik sang suami yang juga memasang ekspresi sebelas dua belas dengan sang kakak.Bungkam namun ngotot.


Maka sebuah helaan napas panjang disertai tampang memberengut kesal yang bisa mewakili perasaannya saat itu,"Menyebalkan,"sungutnya dongkol.


Sementara Danang yang begitu memahami duduk masalahnya,hanya bisa tertunduk dalam diam tanpa sepatah katapun yang bisa ia lontarkan.


Mengingat kharakter dasar kakak ipar yang kapan saja amarahnya bisa membabibuta,maka ia lebih memilih untuk tidak bersuara lebih dulu sebelum pria itu angkat bicara.Karena ia tidak ingin ada keributan yang membuat suasana hati sang isteri menjadi kacau.


"Sudah kau hubungi bapak dan ibu?"Helmy dengan suara yang sengaja dibuat lunak sedemikian rupa.


Hilya mengangguk,"Sudah....,dalam minggu ini bapak dan ibu akan ke kota untuk menjenguk kita semua."


Helmy mengangguk,"Ya,karena bapak ingin menyelesaikan semuanya di sini."


"Biar tidak ada lagi kemunafikan yang kerjanya hanya menyita waktu,"decitnya datar namun penuh penekanan.


Danang mendongak pantas menatap lekat wajah kakak iparnya yang masih tidak bergeming dari posisi semula.Ia tahu betul jika kalimat Helmy itu memang sengaja ditujukan untuk dirinya.Serta merta membuat egonya mengguncang.


Saat rahangnya kian mengeras dan trnggorokannya mulaibgatal ingin melayangkan protes,tiba-tiba Juna hadir dengan tingkah lucunya,"Papa....,Juna minta belikan pesawat tempur gede yang ada baling-balingnya,"Melompat naik ke pangkuannya seraya menangkup kedua pelipis maskulinnya,"Kayak yang di gudang arena bermain kemarin,waktu Juna dan paman datangi itu."Turun menenggelamkan wajahnya ke dada bidangnya dalam posisi yang paling nyaman.Seketika itu juga membuat semua gengsi dan emosi yang sempat membuncah hilang pergi entah ke mana.


"Oh ya,seperti apa bentuknya?"Turun mendekap tubuh mungil yang lincah menabrak dada bidangnya.


"Manual,pa.Tinggal diputar bontotnya lalu terbang deh!"Jawab Juna antusias dengan wajah semringah.


Ingatannya tiba-tiba melayang ke toko permaimanan yang pernah ia datangi dahulu,sekedar untuk membelikan mainan otomatis untuk Juna.Mengingat kesibukannya yang padat dan lokasinya lebih dekat dengan rute perjalanan dinasnya,maka dengan sangat berharap ia mengajukan tawaran kepada bocah yang kini merengek dalam pelukan hangatnya.


"Baiklah,nanti papa belikan yang otomatis seperti waktu itu."Membelai rambut lebat sang bocah,berharap semoga tidak berbuah penolakan.


Juna menggeleng,"Tapi Juna maunya yang manual kayak di gudang kemarin,pa."Rengeknya sembari melirik ke arah sang paman di seberang yang sukses memelototi wajah imutnya.


Bukan tanpa alasan sang paman menghunus tatapan tidak setujunya.Melainkan membayangkan harga pesawat tempur itu saja sudah membuatnya bergidik ngilu mengingat harganya yang lumayan besar.


Boleh dibilang seharga gajinya sebulan ketika ia masih menjabat sebagai operator biasa di perusahaan Xx yang pernah ia kerja beberapa waktu lalu.Ya,jika dibandingkan dengan gajinya di empat bulan ini bagi dualah.Yang manual saja harganya sedemikian rupa,lalu bagaimana dengan yang otomatis,pikirnya.


"Ayolah,papa."


"Boleh ya,pa."


Lagi-lagi rengekkan manja sang keponakan sukses membuatnya jengah dan semakin melotot kesal.


"Emm....,baiklah kalau begitu.Besok sepulang kerja papa antar ke sana ya."Danang menyetujuinya dengan suara paling khas yang membuat siapapun merasa trenyuh dan tidak percaya jika hubungan mereka hanyalah sebatas ayah dan anak angkat.


"Hore....,asyik.Papa mau,ma.Papa mau!"Pekiknya kegirangan.


Sementara Helmy masih saja melotot tidak percaya.


.....


Bersambung....


Terima kasih teman-teman masih mengikuti....


🤗🤗🤗