I Need You

I Need You
Milikku Juga



Di meja makan,suasana ramai diciptakan oleh Juna.Bocah yang tidak mengerti permasalahan yang tengah dihadapi kedua orantuanya,tampak begitu antusias menceritakan pengalaman selama berada di rumah sang tante,Nuha Izz.


"Papa,Juna punya cerita seru selama di rumah tante Iiz."


"Oh,ya?....,jagoan papa main ke rumah tante Nuha,kapan itu?"


"Bukan cuma main saja,pa,tapi sekalian nginap lima hari di sana."Memperagakan pergerakan enam jari diacungkan ke udara,"Ya,kan....,bunda?"sembari melirik ke arah sang bunda meminta persetujuan.


Danang tertegun menatap Hilya tanpa kedip namun bukan untuk menuntut jawaban.


Hilya tersenyum cangung,"Ya,sayang."


Menyadari sikap diam suaminya,sontak dirinya menjadi salah tingkah.Sejenak iapun berusaha mengendalikan situasi dengan mencoba bercengkerama dengan Juna seraya menegur kesalahan kecil yang dilakukan oleh puteranya itu,"Turunkan satu jarimu,nak."Memperbaiki acungan jari mungilnya,"Baru pasa lima."Diikuti tawa cekikikan sang bocah lantaran menyadari kesalahan yang telah diperbuatnya.


"Maaf bunda,"ucapnya masih terkikik.


Hilya ikut tersenyum seraya melirik singkat ke arah Danang yang makan dalam diam.Dapat dipastikan,wajahnya kini berubah masam.


Juna yang merasa semuanya baik-baik saja,masih tetap dengan semangat ingin berbagi ceritanya,"Papa tau,ternyata tante Iizz orangnya baik dan asyik."


"Itu patut,nak."Danang dengan ekspresi datar namun nada suaranya diatur serendah mungkin.Dapat dipastikan kini sang pemimpin itu tengah meredam sesuatu yang nyaris meledak di dalam kepalanya.


Hilya paham betul dengan situasi semacam ini,namun lagi-lagi ia berusah berpikir positif.Sementara Juna yang serupa beo,lagi-lagi bercicit ria.


"Kita sempat ke wahana,"Memeperagakan gerakan tangan meluncur,"main ke kebun binatang,"meniru suara aum si raja hutan,"Bermain dengan anak penyu,"Meniru gerakan anak penyu dengan jemarinya,"Pokoknya asyik,papa."


"Emm....,lima hari di rumah tante,berarti ketemu sama opa dan oma juga,pastinya."


"Opa,oma....,"Juna berpikir sejenak,"nggak tuh,"memberengut murung,"Tapi,apalah....,orang dewasa mainnya memang gitu.kejap datang,kejap pergi....,gampang menghilang suka-suka demi apa,nggak asyik,ah."lanjutnya dengan wajah khas tengil.Danang menyeringai sinis.


Hilya tergugu,seulas senyum getir di bibir merambat naik ke wajah piasnya,merasa tersudutkan oleh ucapan anak sendiri.Sementara senyum sinis sang suami diyakini sebagai sindiran tajam untuknya.


Kini ia merasa perlu meredam situasi agar tidak menjadi lebih genting lagi,"Juna sayang,habiskan makan dulu,yuk."Membelai rambut lebat sang bocah,"Baru bicara lagi,ya."


Ucapan tak ingin dibantah yang diikuti tatapan melotot berhasil mengatup rapat mulut sang bocah.Juna akhirnya patuh dan melanjutkan makan malamnya tanpa suara.


Sementara Danang mengambil sikap makan dalam diam.Usai mencicipi hidangan penutup,pria itupun segera beranjak dari meja makan seraya meninggalkan sebuah tatapan tajam dengan rahang yang mengeras kepada isterinya.


Seketika membuat Hilya mengerti akan inti dari pesan yang ingin disampaikan oleh suaminya melalui sorot elang miliknya.


Bibi Nunung yang baru muncul dari dapur belakang,segera mengambil alih bersih-bersih meja dan piring bekas makan malam sang majikan.Hilya yang penolong,tidak tinggal diam membiarkan sang bibi bekerja sendirian.


Hilya menghela napas berat sambil sesekali mengedarkan pandangan ke arah ruang keluarga yang lepas.Tampak dua lelaki beda fase miliknya tengah asyik bercanda ria menata warna pada mainan berbentuk kubus yang sudah diacak sedemikian rupa.


"Lihat ni,papa lebih jago main....,R2 U R U R’ U’ R’ U’ R’ U’ R’."Memperagakan rumus alogaritma(langkah terakhir menyempurnakan layar rubik)dengan ucapan lantangnya,jelas memukau kecepatan daya motorik sang bocah menjadi bekerja ekstra,membawa jiwa tualangnya kian melanglang.


"Ayo,jagoan papa pasti bisalah."Danang berseru riang sembari mengarahkan jemari Juna untuk melakukan hal serupa dirinya,"Tek tek tek tekkkkk,ah!....,gagal,"pekik Juna tak mau kalah hingga keduanya larut dalam derai tawa menyenangkan.


Satu gelengan kecil berhasil ia peragakan sedemikian rupa,menanggapi suasana riuh yang tercipta seakan tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya.


"Bibi,besok pagi,sarapannya bubur ayam saja,"ucapnya di sela langkah kaki yang terhenti tepat di sisi sang bibi.Wanita paruh baya itu sedang merapikan alat makan di ujung rak,dapur kering.


Sekilas wanita itu ikut mengedarkan pandangan mengikuti arah tatapan mata Hilya yang masih setia memandang aktivitas kedua makhluk kesayangannya di ujung sana.Lalu kemudian berbalik lagi menyoroti Hilya yang mengambil posisi bersandar di balik kabinet,"Baik,nona,akan bibi kerjakan."


"Jangan lupa bungkuskan satu porsi lengkap juga,bi....,pagi-pagi aku akan ke rumah itu lagi."Hilya berniat menyelesaikan inti pokok dari masalah yang sudah membuatnya pusing sepanjang minggu.


Gurat murung menjalar di wajah cantiknya yang memberengut.Kondisi yang sangat dimaklumi oleh wanita paruh baya tersebut.


"Ehm....,semuanya baik-baik saja kan,nak?"Sang bibi seketika memnuyarkan lamunannya.


Hilya mengangguk lemah,"Baik,bi....,aku hanya perlu meluruskan sedikit saja benang merahnya....,"ujarnya ragu,"agar tidak terjadi salah paham di sini."lanjutnya setengah berbisik.


Bibi Nunung mengangguk pelan,"Semoga semuanya baik-baik saja,nak."


"Terima kasih,bi."


Di ruang keluarga,Juna tampak mulai kehilangan fokus bermainnya,ditandai dari tatapan mata mungil yang kian dipaksakan.


"Ke kamar,yuk."Ajak Hilya yang sudah berdiri di depannya,"Kita minum susu dulu,lalu bersih-bersih diri,baru bobo,oke."Jelasnya panjang lebar dan hanya dijawab oleh sang bocah dengan anggukan malas seraya bangkit dan melompat naik ke pelukan sang bunda,meminta dibopong naik ke lantai dua mengingat dirinya sudah tidak kuat berjalan.


Kenyataannya,postur tubuh Juna yang bongsor dan tampak jauh lebih besar dari umur seharusnya,membuat Hilya kewalahan membopongnya.


Terbukti ketika langkahnya baru mencapai tangga ke dua,tubuh langsingnya terpaksa berhenti untuk membetulkan posisi Juna yang sudah mulai melorot ke bawah.Hingga akhirnya ia mendengar langkah gesit itu membawa gelegar suara maskulin yang menawarkan bantuan kepadanya meski secara tidak langsung.


Kenapa demikian,karena ucapan sang pria hanya ditujukan kepada si bocah,dan bukan dirinya,"Sini jagoan,biar sama papa saja,"ujarnya sembari mengambil alih Juna kedalam dekapannya.


Meski demikian,kontak fisik yang tidak sengaja dilakukan bersama sang suami manakala bertukar posisi Juna,tetap saja membuat darahnya berdesir.Seketika hawa panas menjalar ke sekujur tubuhnya.


Gi gi pu tih dan ber sih


Ba gai kan mu tiara


ku si kat ber sih ber sih, dua ka li se hari


pa gi se sudah ma kan, ma lam se be lum ti dur


ha rum se gar se mer bak,se nyum se hat gem bi ra


"iiiiggggghhhh"Hilya memandu Juna menggosok gigi sembari berdendang ria dan memamerkan hasil gigi putihnya ke depan cermin wastafel.


"Emm....,anak bunda cakep,putih giginya."Puji Hilya sembari memeluk erat sang bocah.


"Makasih,bunda."Juna dengan gaya sok gentlenya,sangat menggemaskan dan mengundang tawa riang di wajah wanita muda itu.Sejenak iapun sedikit berhasil melupakan masalah rumit yang tengah dihadapinya saat ini.Ya,suami mogok bicara kepada isteri.


Hilya membiarkan Juna melangkah keluar lebih dulu kemudian menyusul setelah usai ikut membersihkan dirinya.Langkah malaspun diambilnya,sengaja untuk memperlambat pulang ke kamar.


Namun langkahnya mendadak terhenti manakala mendapati Juna yang lamat-lamat tertawa riang di sisi Danang yang tengah asyik menepuk pelan punggung puteranya demi membuat sang bocah lekas terlelap.


"Whattt."Padahal baru saja ia berniat untuk membacakan 'dongeng Pinokio'.


Hilya tertegun.Tulang kakinya mendadak lemas tak bertenaga.Seharusnya Danang sudah pergi ke kamarnya dan bukan malah menemani Juna tidur.


"Bunda,bacakan dongeng ya."Pinta Juna tertawa tanpa dosa.


"Juna,ditemani papa saja,boleh ya,"ucapnya hati-hati seraya melirik ke arah sang suami yang masih tidak menggubrisnya,"Bunda mau ke dapur ambil sesuatu."Sekedar memberi alasan.


"Janganlah,bunda....,temani Juna sebentar saja,sama papa di sini,oke."Persis tak mau dibantah.Dapat dipastikan sikap keras kepala sang papa mulai diwarisi oleh bocah yang kian hari mulai berlagak tengil.Ya,hasil didikan sang papa,menurut Hilya.


"Emm....,baiklah."


Hilyapun siap membacakan dongeng untuk Juna.Sesekali ditemani papa dan mama sebelum tidur,sangat membahagiakan,bukan.Demi membuat puteranya itu tersenyum,Hilya rela melakukan apa saja asal tidak membahayakan dirinya.Tapi kali ini justeru sangat berbahaya,menurutnya.


Ia bahkan merutuki dirinya sendiri,mengapa sampai melewatkan perihal Juna kepada suaminya itu.Bukankah Danang tidak suka jika hal itu sampai terjadi.


Hilya melangkah keluar kamar Juna sesaat setelah Danang selangkah lebih dulu di depannya.Keduanya berjalan dalam diam.Hilya sengaja memperlambat langkanhnya sembari memainkan jemari merapikan rambutnya agar tercipta jarak di antara mereka.


Hingga akhirnya Danang berbalik lalu sigap mencekal lengannya,namun tidak menyakiti.Ya,tampaknya Danang tidak ingin membiarkan jarak itu terjadi.


"Jelaskan kepadaku,"ucapnya datar setelah berhasil menarik tubuhnya menuju ke kamar utama,pelan namun tegas.


"Soal apa?"Hilya pura-pura tidak mengerti.


"Jangan membuatku mengulang perkataan yang sudah terucap."masih pelan namun sedikit ditekan.Rahangnyapun semakin kokoh.


"Ee....,baiklah....,lepaskan dulu lenganku,biar nyaman bicara."Pinta Hilya mengulur waktu.


Namun Danang tidak peduli,yang ada justeru mempererat genggamannya.Lalu membawanya duduk di sisi ranjang.


"Maafkan aku,bukan sengaja."


"Hanya tidak terpikirkan saja."


Danang tertawa sumbang,"Semudah itu ucapanmu?"


"Aku boleh panik perihal Juna,lalu kau bilang tidak terpikirkan untuk memberitahuku?"


"Aku hanya kesulitan harus memulai dari mana."


"Itu kesalahanmu,"Menatap tajam mata Hilya yang siap dialihkan namun gagal karena Danang terlanjur membawa dagu runcingnya lurus menghadap demi beradu tatap dengannya,"Kau lupa kalau Juna adalah milikku juga."


"Ingat,milikku adalah milikku."


"Dan aku paling tidak suka diabaikan.Jadi jangan pernah mengabaikan apa yang sudah kutetapkan."


Perlahan melepas dagu runcing Hilya lalu memberi isyarat kepadanya agar segera tidur.


Setelah itu,tidak ada lagi pembicaraan lanjutan maupun sentuhan apapun dari suara dan tangan maskulin yang sangat dirinduinya.Mungkinkah itu jenis hukuman berikutnya yang harus ia terima,pikirnya kalut.


.....


Bersambung....


🤗🤗🤗