
Hari ini, tepat satu bulan Nuha menjalani rawat jalan. Perkembangan kesehatan gadis itu sudah menunjukkan kemajuan meski sebenarnya memori di otak belum bekerja secara normal. Dimas, pria jangkung ini dengan kesabaran dan telaten mendampingi. Demi mendapat maaf dari orangnya, dia rela berhari-hari menjaga sang gadis hingga benar-benar sadar dari koma.
"Menikahlah denganku," tuturnya sangat pelan di sela suasana membeku. Hanya detak alat bantu pernapasan yang terdengar memenuhi ruangan. Tak sadar jemarinya naik membelai pucuk kepala si gadis yang terbujur kaku. Entahlah, seakan malaikat kematian sudah begiru dekat dan siap menjemputnya.
Namun, siapa sangka kalimat sederhana itulah yang menjadi kata pamungkas bagi seorang gadis yang terjebak dalam ruang waktu. Kata-kata yang seakan menjadi sinyal terdahsyat untuk memanggilnya pulang. Seakan gadis itu kembali untuk menuntut penjelasan akan ucapan sederhananya.
"Kau sudah sadar?" Begitu Dimas menatap bingung mata Nuha yang mendadak mengerjap. Antara sedih dan haru pemuda jangkung itu menitikkan air mata. Cemas dan khawatir jika itu hanya mimpi. Kini ia benar-benar memastikan kalau hatinya sedang takut kehilangan seseorang. Ya, takut pada kehilangan gadis bernama Nuha Izz.
Keajaiban membuktikan. Ketulusan cinta yang muncul dari perasaan singkat yang sebenarnya telah ia rasakan saat pertama kali betemu beberapa tahun lalu di mana mereka pernah terjebak dalam sebuah kamar, tepatnya Nuha tersesat di kamar bercintanya bersama Vania. Hanya saja perasaan ego dan napsu yang berat membuatnya tidak menyadari hal itu. Apalagi sampai merespon balik perasaannya sendiri. Jangankan merespon, bahkan saat berpapasan kembali dengan gadis itu, Nuha sudah terlanjur membenci dirinya yang bejat. Hingga ujung-ujungnya perang mulutlah yang terjadi di antara keduanya.
"Aku mencintaimu," bisiknya pelan dengan suara yang berat dan penuh makna.
Kini, tulusnya Dimas kepada si gadis terjawab lewat begitu cepat ia bangkit dari keterpurukan. Padahal menurut vonis dokter, Nuha bisa saja mengalami lumpuh total pada mental dan syarafnya. Namun, hari ini Dimas membuktikan sendiri apa yang pernah dilakukan sang kakak ipar Hilya kepadanya. Cinta tulus seseorang kepada orang-orang terdekatnya.
Lalu hari ini, Dimas dengan sengaja mengajaknya bertemu dengan sahabat sekaligus keluarga setelah ayah dan ibu. Hilya. Gadis yang bisa berperan sebagai sahabat, adik, bahkan sebagai seorang kakak atau ibu buat seorang Nuha Izz. Meski ada pertentangan di antara ibunda Nuha dengan Hilya, namun Dimas berupaya menjelaskan yang terbaik kepada Nyonya Amanda hingga wanita itu akhirnya memilih mengetepikan semua kekesalan dan kekecewaannya demi kesembuhan satu-satunya sang buah hati yang tersisa setelah kepergian Arjuna Wijaya dalam keluarganya. Nyonya Amanda mengizinkan Dimas membawa Nuja bertemu dengan Hilya.
"Aku punya sebuah kejutan untukmu,"bisik Nuha pelan ke telinga Hilya usai memberi isyarat kepada Dimas untuk mengajak Juna bermain keliling taman gazebo.
"Apakah itu?" balasnya antusias.
"Mau tahu aja, apa tahu banget?" Kebiasaan lama yang satu ini memang tidak pernah luput dari setengah memorinya yang eror.
"Bingitz!" Hilya tersenyum haru melihat Nuha dengan gelak tawa yang khas begitu menikmati keterbatasannya.
"Baiklah, pasang kuping baik-baik, Nona Hilya sang calon ibu muda." Jangan ditanya mengapa Nuha begitu mengenalnya. Semua itu berkat Dimas yang sudah berkali-kali memberikan informasi terakurat perihal sahabatnya yang satu itu. Dimas telah memberikan rekaman memori kepada Nuha dengan harapan si gadis tidak kecewa jika suatu saat ingatannya kembali pulih lalu berbalik menyalahkan sahabatnya sendiri akan kecelakaan yang telah menimpa dirinya.
Hilya manggut-manggut mengerti. Mendengar pengakuan Nuha bahwa ia akan segera dinikahi oleh Dimas, tanpa sadar membuat air mata menetes di kedua pipinya yang menggembul seperti milik Juna. Efek dari usia kehamilan yang semakin meningkat.
"Aku ikut bahagia, Nut," tuturnya pelan. Nuha tertawa kecil.
"Selamat ya, Nut. Aku doakan semoga semuanya berjalan lancar."
"Terima kasih, Hilaf." Nuha memamerkan wajah usil yang tak terduga membuat Hilya tertegun.
Hilya memandang ragu sahabatnya. Apakah panggilan sayang untuknya yang satu ini pun tidak terhapus dari memori sahabatnya itu?
"Aku sudah ingat semuanya, Hil." Nuha berbisik pelan. "Hanya saja aku ingin membuktikan lebih baik lagi soal perasaan sesungguhnya Dimas terhadapku."
"Ck! Kau?"
"Aku khawatir kalau Dimas hanya ingin menikahiku karena faktor iba dan merasa bersalah," ungkapnya dengan tatapan berkaca-kaca.
"Yakin sama rencanamu ini?"
"Yakinlah. Dimas pasti bakal menunjukkan kedok sesungguhnya padaku. Dengan begitu aku jadi bebas memintanya menjauh dariku dan hari-hariku bakal jauh lebih baik tanpanya."
Hilya diam menatap tidak percaya akan apa yang baru dilihatnya. "Tapi, Izz."
"Itu salah dia sendiri, kan. Siapa suruh menyatakan cintanya di saat aku sudah dalam keadaan begini, Hil? Aku bahkan merasa tidak berguna sama sekali di matanya." Kali ini Nuha dengan jemarinya dan bibir yang bergetar hebat. Seakan ingin berteriak sekeras-kerasnya. Andai bisa. air mata sudah berhasil terjun bebas dari kelopak mata yang indah itu. Hilya berupaya memeluk erat gadis yang mengepal tinju ke arah kursi roda yang ia duduki.
"Husyh! Nggak baik berprasangka buruk. Jalani dulu. Aku yakin kau pasti bisa melihat sisi tulusnya hati Dimas dan juga setitik rasa yang ada di hatimu itu. Belajar untuk jujur dan jangan merasa rendah di mata siapa pun." Hilya membelai lembut rambut sahabatnya yang kini berhasil sesenggukan dalam rengkuhan eratnya. "Aku yakin ada alasan utama yang berhasil membawamu pulang ke tengah kami. Itu pasti asalnya dari Dimas sendiri dan aku yakin kau pun tahu itu. Jadi cobalah membuka hatimu untuknya," tutupnya sembari menepuk lembut bahu sang sahabat.
Dua malam berikutnya, Hilya, Danang bersama keluarga Setiawan lainnya mendatangi rumah keluarga Tuan Farhan Haditama Wijaya. Sesuai permintaan Dimas, malam ini adalah momen bersejarah di mana dia memboyong keluaga bersarnya datang menjemput sang putri Nuha izz.
"Jadi mau Anda, putriku dinikahkan begitu saja dan sesederhana mungkin?" tanya Tuan Farhan tidak percaya.
Bersambung ....