
Happy reading 😍📖
Danang menatap semringah sosok Hilya yang masih saja meniru gaya bicaranya sembari tertawa riang.Kali ini tanpa menolak situasi,ia juga ikut memamerkan tawa sumbangnya.
"Hanya perlu seperempat dari satu solusi untuk meredam kebiasaan anak yang gampang merajuk,"Colekan pinggang dari tangan mungil sang isteri berhasil menggeliatkan pandangannya ke arah sumber suara,"Jika kau menguasai caranya."lanjutnya dengan sebuah kedipan yang menggoda.
'Ah,isteriku.Kau begitu lihai membaca pikiranku,'batinnya manakala merasa gadis itu kini sukses menyihir perasaannya.
"Papaaa....,lihat Juna sini."Pekik sang bocah riang tanpa dosa.
Sekilas matanya bertembung dengan bocah yang tengah menunggang kuda putih,lengkap dengan kostum antah berantahnya.Senyum manisnya ikut mencuat begitu saja.
Entah mengapa belakangan ini sosok bocah itu selalu saja mengusik hidupnya.Bukan karena tingkah tantrumnya yang berlebihan,atau bahkan sikap jail dan usilnya yang suka mengacaukan barang-barang milik pribadi di ruang kerjanya menjadi berantakan,melainkan keberadaan dirinyalah yang menjadi pertanyaan.
"Hati-hati,jagoan."Kini giliran ia yang memekik sembari mengacungkan high five ke arahnya.
"Ahsihiaapp boss!"Dibalas dengan tindakan yang serupa.
Ya,patut diakui bahwa beberapa hari belakangan ini,Juna memang terkesan mengabaikan semua perhatiannya.Asal ada kesempatan dirinya mengajak bermain atau sekedar mengajarnya bermain basket dan bola kaki,Juna tampak kurang bersemangat dan lebih banyak diam daripada merespon setiap guyonannya.
Hal itu perlahan mulai terbaca semenjak mereka pulang dari rumah tuan Jayahadi beberapa minggu yang lalu.Di mana saat itu sempat terjadi insiden adu mulut antara Helmy dan tuan Jayahadi.Lalu bunda Hilya ikut menimpalinya.
Kemudian puncaknya,setelah Juna pulang dari rumah paman Helmy.Apa yang terjadi di rumah sang paman,tentang hal baikkah atau burukkah yang dialaminya di sana,sungguh di luar kendali, mengingat keterbatasan jangkauan dan juga pandangan yang ia miliki.
Sementara Juna hanyalah seorang bocah yang baru genap usia lima tahun,dan bukan hal yang sulit jika seseorang nekad melakukan sesuatu yang bisa mempengaruhi mental dan motoriknya.Ah,beginikah rasanya diabaikan?
"Makanlah,jagoan papa pasti sudah lapar,"ujarnya seraya menyodorkan seporsi menu khas nasi campur kukus berpadu dengan makanan laut nan menggugah selera kepada sang bocah,diikuti segelas jus buah segar yang menyejukkan tenggorokan.
Sementara dirinya dan Hilya memilih untuk menikmati menu mie goreng berbahan dasar rumput laut yang rendah lemak dan memiliki tekstur kenyal nan gurih.Ditemani segelas jeruk hangat menambah kesan segar di lidah.
Menikmati menu makan malam sederhana sembari memandang panorama tepian laut yang nan indah,sangat menyenangkan buat weekend sekeluarga,bukan.Patut diberi skor delapan koma lima untuk hal tersebut.
"Papa,bukannya saat ini kita harus sudah di kampung?"Sebuah pertanyaan bernada datar membuat dirinya dan Hilya sukses terperangah dan saling pandang.
Tidak ada jawaban apapun yang keluar dari mulut yang ditanyakan.Juga tidak ada pertanyaan berikutnya dari penanya setelah itu.Yang tercipta hanyalah hening yang berlangsung cukup lama dalam suasana mencekam.
"Ehmm...."Suara dehem kecil dari sang bunda hadir sebagai penengah.
Sejenak kemudian,Hilya kembali berinisiatif memecah hening yang sempat tercipta di meja VIP,"Sayang....,"Menatap haru lalu menggeleng mantap,"bukan kita yang ke kampung,"Sembari menggenggam erat pergelangan tangan mungil yang tampak enggan menghabiskan sisa hidangan di depannya,"Tapi kakek dan nenek yang akan ke kota,untuk kita."lanjutnya menatap dalam mata bocah yang menghunus pandangan misterius ke arahnya.
Sesaat kemudian,Juna tampak memaksakan diri untuk melirik ke arah Danang yang sedari tadi masih saja bungkam namun menatapnya tanpa ekspresi.Lalu sontak ia yang merasa tertangkap basah oleh yang dipandang malah sedang memandang langsung menunduk tajam,"Aa_pa papa juga bakal memisahkan Juna dari bunda,"malu-malu seraya mengaduk asal sisa makanan di dalam piring,"Seperti paman yang meminta Juna tinggal bersamanya tanpa bunda?"lanjutnya dengan mimik hampir menangis.
Danang tertegun menatap anak kecil yang kini terpaksa menua dari umur yang sesungguhnya,lantaran masalah telah mengancamnya lalu merenggut kebebasannya bagai telur di ujung tanduk.
Bukankah memisahkan anak dari ibunya itu perbuatan yang salah,lalu mengapa Helmy bisa secepat itu mengambil keputusan dan secara blak-blakan menyatakan hal tersebut di depan anak sekecil dirinya.
" Juna....,tatap papa."Ucapan tegasnya berhasil membawa mata sang bocah menatapnya ragu,"Apa Juna dapat melihat hal konyol itu di wajah papa?"Bocah itu menggeleng pelan.
"Itu artinya pikiran Juna tentang papa,apa....?"Sebuah penegasan yang meminta jawaban secara langsung.
"Sallaahh,"serunya dengan sang bunda,nyaris bersamaan.
"Tuh,pinter anak papa."memantikkan jemarinya yakin.
Juna masih belum puas ditandai dengan penampakan kening yang mengerut,"Tapi malam itu,di rumah paman....,"masih dengan wajah yang tertunduk dalam,"Juna tidak melihat papa membela Juna ataupun bunda di depan paman,"ucapnya memberengut.Tampaknya saat itulah ia mulai merajuk karena merasa diabaikan oleh pria yang sangat diteladaninya saat itu.
Danang tidak langsung merespon ucapan sang bocah,"Yuk,jagoan papa,habiskan dulu makannya."Pintanya sembari menepuk pelan bahu mungilnya,"Nanti papa jelaskan,setelah Juna selesai makan."Bujukannya berhasil membuat sang bocah mengangguk meski berat.
Namun setelah usai acara makan malam,Juna terlanjur terlelap lantaran lelah bermain.Atau bahkan mungkin saja karena pikiran buruk tentang dirinya yang telah berhasil ia luahkan secara langsung kepada orangnya telah membawa efek kantuk pada mata mungilnya.
Danang menyapu kasar wajahnya sesaat setelah berhasil mengantar Juna ke dalam kamarnya.Membiarkan sang bocah terlelap dalam pelukan bantal guling ditemani temaram cahaya lampu tidur yang berpendar,menambah kesan lelap yang panjang dan indah.
"Sial apa aku malam itu,"batinnya merutuki diri sendiri.
Rupanya Juna menguping setiap pembicaraan antara dirinya dengan kakak ipar Helmy.Patut diakui pernyataan Juna ada benarnya.Dirinya terkesan lamban merespon setiap ucapan Helmy.
Bukan tidak beralasan,itu karena Helmy tidak ingin memberinya ruang dan kesempatan untuk menyatakan pembelaan.Meski sekedar untuk membela diri,apalagi sampai mempertahankan isteri dan anaknya.
Dan ia sangat yakin ketika ia mendapat kesempatan itu,kemungkinan besar Juna sudah terlanjur kesal dan pergi dari sana....,hfftt.Perlahan tangan kekarnya meraih gagang pintu dan siap berhambur keluar kamar Juna sembari sesekali berpaling menatapnya dari kejauhan.
"Sabar Danang,sabar.Bahagia itu tidak gratis,bukan."Berusaha mendamaikan hatinya sendiri.
Dan di saat Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang mengutus seseorang seperti Hilya yang teguh berjuang demi merawat,lalu membesarkannya tanpa ia sendiri mengerti bagaimana proses kehadiran seorang bayi di dalam hidupnya.
Ya,karena gadis itu memang belum pernah menjalani bagian dari kudratnya sendiri.Atau boleh dibilang masih butuh waktu dan proses untuk melaluinya suatu ketika nanti.
Dirinya dan sang gadis kemudian bersitatap dalam gusar.
"Aku bahkan tidak percaya jika dalam usia semuda ini,bisa menjadi ibu bagi Juna.Padahal diriku sendiri belum pernah melahirkan seorang bayi.Bukankah itu istimewa?"Kata Hilya suatu ketika menerawang nasibnya.
Sebuah perkataan yang bukan tidak berlandas.Melainkan ketika itu Danang sempat mempertanyakan keteguhan hatinya.Mengapa begitu nekad mengambil resiko.
Tidak takutkah dengan gunjingan serupa tudingan masyarakat yang mempertanyakan kebenaran tentang dirimu,atau bahkan akan berdampak buruk bagi dan hubungan cinta dengan masa depanmu yang bakal kau jalankan.
Karena bisa saja seseorang pria seperti diriku,contohnya.Yang ingin mengenal privasimu lebih jauh,malah ciut nyali sebelum maju lantaran menganggap dirimu adalah seorang janda beranak satu yang ditinggal suami gara-gara selingkuh.
Sang gadis hanya tertawa sumbang sembari menghela napas panjang,"Aku hanya melakukan sesuatu yang menurutku benar....,dan jika kebenaran bisa membuat kita melihat dunia lebih luas,lalu mengapa harus meninggalkannya?"
"Tapi bukankah itu sebuah kenyataan yang pahit,karena kau harus memikul beban di sepanjang jalan.Tidak seharusnya kau yang menanggung perbuatan sepupumu itu,bukan?"Danang membanding.
Lagi-lagi tawa sumbang itu muncul,namun tidak disertai dengan helaan napas berat,melainkan dengan sebuah tatapan menghunus ke arahnya,"Aku hanya berusaha memposisikan diriku menjadi dia.Andai perbuatan masa lalunya jatuh kepadaku,maka sudah barang tentu bakal sama terkucilnya diriku seperti dirinya,di mata masyarakat."
"Menyakitkan bukan....,tapi siapa kita,dan kenapa harus menghakimi seseorang hanya karena sebuah kesalahan?"lanjutnya berapi-api.
Toh hidup butuh proses untuk belajar.Belajar menempatkan diri pada posisi yang seharusnya,belajar membedakan mana baik dan mana buruk,juga belajar menghargai sesuatu yang sudah menjadi ketentuan bagi takdir kita.
"Lebih seperti dirimu yang menerima diriku,meski sebelumnya kau berpikir bahwa Juna adalah putera kandungku....,menyakitkan sebenarnya.Tapi kau tidak menganggapnya sebagai hambatan di masa depan."Tiada hentinya melayangkan seumpamanya,
"Maka sama halnya jika aku juga terlanjur mengetahui kebenaran tentang pribadi seseorang,lalu apa aku harus membencinya hanya karena kebenaran itu menyakitkan hatiku ini?Tidak,kan."
"Mungkin ya....,bagi segelintir orang,"Mengangkat seujung jarinya,"Tapi tidak untuk semua."lanjutnya sembari menggeleng pelan.
"Ah,kau sepolos itu,isteriku."Gumamnya tanpa ingin didengar.
Danang sukses tertegun mencerna setiap ucapan sang isteri yang bermakna dalam.Lagi-lagi membuatnya harus mengakui betapa realistisnya dunia sang isteri.Sebelas duabelas dengan dirinya yang sesungguhnya.
Hanya saja cara memposisikan permasalahannya yang jauh berbeda,hingga keduanya terkesan saling berseberangan.
Lalu kini hanya karena perbedaan cara menalar setiap problematika yang masuk dalam kehidupan mereka berdua,membuat kakak ipar Helmypun terpaksa ikut mencampurinya.Pria dua anak itu sukses menilainya dari kacamata negatif.Baginya,Juna adalah boomerang yang membuat dirinya mengabaikan isterinya sendiri.Miris,bukan.
Akan tetapi,justeru itulah ancaman terbesar dalam hubungannya dengan Hilya saat ini,bahkan jika Helmy benar-benar nekad memisahkan Juna dari Hilyapun,tidak akan berhasil membersihkan perbedaan persepsi yang terlanjur beredar di masyarakat.
Dan itu membuat dirinya semakin sulit untuk membuktikan kebenaran tentang pola pikirnya selama ini.Toh apa yang dipikirannya belum tentu sama dengan yang ada dipikiran orang lain.
'Puas kau,tuan Danang.'batinnya merutuki diri.
"Mau sampai berapa lama bertahan di depan pintu?"Lamat-lamat ucapan Hilya yang tidak langsung membubarkan pikiran kalutnya.
"Butuh berapa ruang lagi,biar aku bisa mengisi memorimu itu dengan hal lain selain lamunan?"Kali ini usikan sang isteri berhasil membuyarkan lamunan kronisnya.
"Ah,maaf.Kurang konsentrasi,ini."Danang menoleh sekilas dan mendapati sang isteri sedang memelotinya sembari bersedekap ria,
"Aku hanya butuh sedikit ruang dan waktu untuk memahami kharakternya.Karena Juna yang sekarang sangat bertolak belakang dengan Juna yang kutemui beberapa bulan lalu,"ungkapnya tertawa sumbang,
"Ya,mungkin kehadiran keluarga kandungnya telah membuat pikirannya terkontaminasi,hingga ia merasa terguncang dan terkesan sensitif lalu jadi pemarah seperti diriku dulu."
"Salah penyampaian sedikit saja,semuanya jadi kacau,"timpal Hilya diikuti gelengan hampa dan tawa sumbang.
Danang membalas dengan mengedikkan bahu,"Ia bahkan sempat berpikir kalau aku bakal meninggalkan dirinya demi mempertemukan ia dengan keluarga kandungnya,huh."
"Butuh kesabaran ganda buat meyakinkan dirinya,kalau kau tidak menginginkan hal itu terjadi."Hilya kembali beropini.
Kini ia mulai menemukan sesuatu,dari hasil mencerna ucapan sang isteri,ditandai dari seringai samarnya yang menyungging,"Masih perlu tips untuk membuatnya menjadi jagoan sejati,"desahnya mulai menguarkan senyum termanis sembari menarik lengan sang isteri kemudian membawanya beranjak dari sana.
....
Bersambung....
🤗🤗🤗