
Happy reading 😍📖
Jujur,mendapati sikap Danang serupa itu,hingga larut malampun,Hilya tidak bisa terlelap walau semenit saja.Mata yang dipaksa memejam tetap saja tidak bisa ditutup.Kelopaknya penat,bagai ditopang penyanggah tak kasat mata.
Membuatnya jadi berdecak kesal.Entah sudah berapa kali ia merubah posisi tidurnya,masih saja tidak nyaman.
Ingin memeluk guling di sisinya,sudah terlanjur disambar oleh Danang yang membelit dengan kedua kaki sambil menelentangkan diri bagai batang kering.Mencoba meraih guling lain di sisi suaminya,kejauhan.Khawatir pergerakannya malah mengganggu tidur nyenyak prianya itu.
"Menderitanya,huh,"gumamnya pelan.
Kenapa Danang begitu tega menyiksanya,padahalkan kesalahannya tidak tergolong fatal.Dirinya hanya lupa memberikan informasi sedetil yang diinginkan suaminya,itu saja.Bukan tindakan perlanggaran besar atau bahkan perbuatan dosa semacam menyelingkuhi sang suami,bukan.
Huftt
Lagi-lagi deru napas itu tercekat di ujung tenggorokan.
"Suamiku,andai kau tahu betapa serba salahnya, jika kau diposisiku."
"Aku bahkan sudah berjuang melakukan yang terbaik,namun tetap masih salah dipandang orang,"batinnya nelangsa.
Sejenak matanya mencoba melirik ke arah Danang yang masih diposisi terlentang dengan kedua lengan sengaja dibuat bantal,dan kedua kaki masih setia membelit bantal guling.Matanya memejam dan bibirnya terkatup rapat,tak ada ekspresi apapun di sana.Menurutnya memang ia sudah terlelap.
Namun satu hal yang membuat dirinya harus mengakui kelebihan anugerah terindah di depan matanya itu,manakala pendaran cahaya temaram memantulkan sketsa wajah bersih sang suami yang terpahat sempurna.
Dengan penampakan dua alis simetrisnya,hidung bangir dan bibir seksi yang begitu menenangkan jiwa kelananya.Wajah orientalnya tampak sangat tampan mempesona meski dalam posisi terlelap sekalipun,sungguh tak terbantahkan lagi.
Sekilas bayangan tentang sentuhan lembut dan belaian manja sang suami yang memperlakukan diri bak ratu,berkelebat ria membuat edaran darahnya seketika berdesir hebat,melesat ke sekujur tubuhnya yang ikut memanas.Membuatnya susah payah menelan ludah yang terasa batu.
'Tidak bisa dibiarkan,ini.'umpatnya kesal.
Kini ia sengaja merubah posisi tidurnya membelakangi obyek penyebab dirinya terjebak dalam pikiran terkutuk nan menyiksa jiwa wanitanya,sedemikian rupa,agar tehindar dari lamunan-lamunan gila yang hanya membuat wajahnya bertambah merah laksana tomat segar yang siap dilahap bersama sambal matah.
Hah,perasaan gusar ini seakan menoyor,menjitak lalu mengejek jiwa kelananya,membuat dunianya seakan ikut menggelap.Sudah seharusnya dibuang jauh-jauh.
"Kenapa belum tidur?"Baru saja ia berniat membalikkan tubuhnya tiba-tiba suara Danang mematahkan niatnya.
"Ee....,susah tidur."
"Kenapa?"
"Entahlah."Merubah tubuh ke posisi terlentang.Berharap suara itu masih terus mengajaknya berbicara.Sekedar bercengkerama agar matanya bisa ikut terlelap.Namun,tidak semua yang keinginan sesuai dengan harapan,bukan.
Lima menit,sepuluh menit,hingga dua puluh menit berlalu,tak ada lagi suara yang muncul dari arah samping.Adanya hanyalah bunyi dengkuran halus yang muncul dari pria pulas nan tak terganggu.
Hilya mengerjap berkali-kali,"Mimpikah aku?"gumamnya sangat pelan.
Lagi-lagi deru napas berat menertawakan kegundahannya,seakan menyangkut ria di ujung paru-paru.Bahkan hingga menjelang fajarpun,mata itu masih saja tiduran ayam.
"Hah,lelah,"celetuknya geram.Matanya yang letih tampak memerah namun dipaksakan juga untuk tetap terjaga dan membawa langkah gontainya menuju ke kamar mandi untuk segera membersihkan diri.
Usai mandi dan berdandan cantik,Hilya yang tidak mendapati Danang di kamar,bergegas keluar dari kamar untuk menemui bibi Nunung.Sesuai kesepakatan semalam,pagi-pagi ini dia akan segera mendatangi rumah besar milik pria misterius itu lagi.
"Bi,di mana Danang?"Hilya dengan suara ringannya.
"Di ruang kerjanya,bibi baru saja usai membereskan ruangannya dan mendapati tuan muda ada di sana."
"Oh,ya?Kalau begitu biar kuantarkan sarapan pagi ke atas."Hilya menawarkan diri manakala melihat bibi Nunung sudah siap beranjak dengan semangkuk bubur ayam dan segelas air putih di atas nampan.
"Baiklah,silakan,nona Hilya."
Hilya dengan langkah pelannya berjalan menuju ke ruang kerja sang suami.Berharap tidak ada lagi acara mogok bicara seperti semalam.
Toktoktok
Ceklek
"Aku datang,"ucap Hilya sesopan mungkin.Seulas senyum ramah mengukir indah di bibir ranum miliknya.
Danang yang masih asyik memindai layar laptop miliknya,sontak beralih pandang ke arah datangnya suara.
"Masuklah,"balasnya singkat.
"Sarapan buburnya,sudah siap....,silakan dicicip,belum siap diri juga,tidak ke kantor?"Hilya dengan antusias tanpa mempedulikan sikap Danang yang masih tampak kaku.
"Hmm....,kerja dari rumah,"jawabnya singkat.
"Yah,padahal aku baru saja berniat mau menumpang,"gumamnya pada diri sendiri.
"Hmm,numpang ke mana?"
"Ehh,itu....,ingin menemui bapak jjuahatt itu lagi."
"Buat?"
"Aku harus membereskan semua masalah ini,biar dia tidak lagi memaksaku untuk tetap menjaga anaknya."Jelasnya panjang lebar,"Tapi kalau kau tidak mengizinkan,tidak masalah,aku tidak jadi berangkat."Dengan perasaan gugup Hilya tiba-tiba tidak sengaja menabrak salah satu deretan berkas penting milik suaminya berupa map yang tersusun rapi di atas meja.
"M_aaf,"ucapnya gagap,sembari berjongkok merapikan beberapa map yang tercecer di lantai dan terpisah dengan isinya.
Danang bungkam.Masih asyik dengan sesuatu di layar laptop miliknya.Sementara Hilya masih sibuk dengan beberapa berkas yang tercecer di lantai.
"Berikan buburnya,"pintanya datar.
"Baiklah,"balas Hilya seraya meletakkan kembali berkas yang sudah berhasil ia rapikan.Namun tiba-tiba ada sebuah benda tipis yang melesat begitu saja.
Sepintas Hilya kembali menunduk dan memastikan sebuah foto berukuran 10R tergeletak di atas lantai ubin.Namun ia memutuskan untuk menghidangkan sarapan pagi buat suaminya terlebih dahulu,lalu berjongkok mengambil foto tersebut.
"Foto siapa ini?....,kayak pernah lihat."Hilya tampak mengangkat foto itu setinggi dada,"Dua pasang suami isteri,dua orang bocah laki-laki dan seorang bocah perempuan yang lucu dan menggemaskan."Persis seperti yang pernah ia lihat,tapi entah di mana.Mencoba mengingat sesuatu dengan jelas,namun memorinya gagal mencerna.
Tanpa melirik,Danang sudah bisa memastikan kalau itu salah satu foto masa kecilnya yang digenggam oleh Hilya,"Sok akrab,"cebiknya sinis,tapi bukan,lebih tepatnya tersenyum samar,"Itu foto masa kecilku,juga keluargaku."Hilya balas mencebik kesal dengan menjulurkan lidah bersamaan dengan Danang yang menoleh ke arahnya,membuat pria itu seketika melotot sebal.
"Ini,Dania?"Danang mengangguki cepat pertanyaan isterinya.
"Kau punya adik laki-laki,kenapa tidak pernah cerita?"
"Lebih tepatnya,sepupu kandungku."Mengaduk-aduk bubur di mangkuk,"Tapi sudah kuanggap seperti Dania."lanjutnya mulai lancar.
"Oh....,"Hilya manggut-manggut seraya berniat meletakkan kembali foto tersebut ke tempat asalnya,"Eh,eh....,tunggu."menarik lagi foto tersebut lalu memindai cermat,"Ini foto papa dan mama,kan?"Danang mengangguk,tangannya sigap menyuapkan sesendok bubur ayam ke dalam mulutnya.
"Lalu yang sepasang lagi,bu_kan_nya bapak jjuahatt itu,ya?"Hilya bergumam pelan pada dirinya sendiri,namun masih terdengar jelas oleh Danang.
"Apa kau bilang?"Cetusnya melotot.
"Ah,m_aaf.Sepertinya foto ini sama persis yang kulihat di dinding kamar pasien itu."
"Apa mungkin?"Danang mengerutkan kening.
"Ya,mungkin.Pria ini kan memang mirip si bapak ngotot menyebalkan itu."Hilya masih mempertahankan pemikirannya.
"Jangan samakan omku,dengan pria itu."Gerutu Danang,namun Hilya terlanjur bersikukuh.
Danang menatap mata Hilya mencari kebenaran di sana,dan kenyataannya,sang isteri memang tidak sedang berbohong.
"Kau yakin?"
"Mungkinkah?....,kenapa bisa kebetulan begini?"
"Siapa nama pasien,itu?"
"Dimas Yudhistira...."
"Setiawan?...."
Danang refleks menambahkan nama akhirnya,namun Hilya yang pernah mengabaikan keterangan bibi Riska hanya bisa mengedikkan bahunya pertanda tidak yakin.
"Mana lihat,fotonya."
Hilya mencebik,"Kau pikir aku tukang potret?"
"Ya,kan dia pasienmu,siapa tau kau mengabadikannya."
Merasa diledek,Hilya tidak terima,"Iiihh...." Memasang wajah cemberut dan menghentakkan kaki berkali-kali,"Menyebalkan."Masih saja menggerutu sembari melangkah pergi dari hadapannya.
Danang yang awalnya tidak berniat untuk meledek tiba-tiba mengedikkan bahu seraya menarik kedua sisi bibirnya ke atas,senyum kemenangan.
"Jangan lupa kirimkan foto pasienmu itu!"Seru Danang dari kejauhan sebelum Hilya berhasil membanting keras pintu ruang kerjanya.
Kini ada kelegaan tersendiri saat merasa bisa menguasai isterinya.
Dua jam kemudian,Danang turun ke dapur sekedar mencari sesuatu yang manis asin untuk dicicip.
"Bi,roti keju sama kopi ya."Pintanya santun.Langkahnya terhenti tepat di mini bar dan mengambil posisi duduk di salah satu kursinya.
"Siap,tuan muda."Bibi Nunung dengan gaya hormat penuh semangat.Kebiasaan yang selalu diperagakan semenjak Danang masih kecil.Lebih tepatnya saat majikannya itu sedang merajuk pada orangtuanya.
Menyadarinya,Danang ikut tersenyum simpul,"Bi,Juna sudah bangun?"Tanyanya sedikit manja.Ya,memang sejak kecil,bibi Nununglah wanita yang paling memahaminya setelah mama Andin.Maka sudah seharusnya ia menganggap wanita paruh baya itu seperti ibu kandungnya sendiri.
"Belum,masih pulas,nak."
"Hmm...."
Bibi Nunung melirik singkat ke arah Danang yang tampak sibuk menyugar rambutnya barkali-kali,"Tidak ingin tahu,nih....,di mana isterimu?"Melempar pertanyaan dalam candaan namun serius.
Tangannya yang sigap memindahkan potongan roti yang dioles dengan keju ke dalam piring dan siap dihidangkan.
"Kan,sudah pergi."
"Belum,sepertinya tidak jadi berangkat."Meraih cangkir kopi di ujung minibar yang sudah diseduh oleh Hilya sebelumnya.Danang melirik sekilas pergerakan tangan bibi Nunung.Dapat ia pastikan kalau kopi tersebut adalah buatan isterinya.Seulas senyum samar kembali melengkung di bibirnya.
"Kenapa,bi?"
Bibi Nunung menjelaskan kalau sepulang dari mengantarkan sarapan pagi untuk dirinya tadi,Hilya menghampirinya dengan wajah riang sembari siap-siap menyeduhkan kopi dan mengatakan kalau ia tidak jadi berangkat,melainkan akan menemani suaminya di rumah.
"Nak,kau tidak sedang memarahinya,kan?"Tanya Bibi Nunung hati-hati.
Danang menggeleng singkat.
"Eh,bibi sampai kaget,nak."Danang mengangkat kepala menyimak ucapan wanita itu,"Wajah orang sakit itu mirip Dimas."lanjutnya tanpa basa-basi,segera meraih benda pipih miliknya yang tergeletak di atas meja bar.
Tangan berurat timbul itu perlahan menggulir sesuatu di sana hingga memunculkan foto yang sempat diambil saat sedang menjawab panggilan video dari Hilya.Kemudian menyodorkannya kepada sang majikan.
"Waktu itu,bibi screenshot ini,demi memastikan kalau nona Hilya baik-baik saja,"ujar bibi Nunung terkikik geli mengingat kepanikannya di malam itu.
Danang memindai wajah di foto itu lalu meminta bibi Nunung untuk mengirimkan kepadanya.Pria itu mendengus kecil seraya menyadari sikapnya yang terlalu berlebihan pada Hilya.
Bukankah semalam ia pura-pura tidur,padahal dirinya juga sebenarnya tidak bisa terlelap sama seperti isterinya,lalu diam-diam memperhatikan gelagat sang isteri yang sangat menggemaskan kalau bisa dinyatakan dengan ucapannya semalam itu.Hanya saja rasa kesalnya belum bisa berpindah begitu saja membuatnya harus ingin membiarkan isterinya itu benar-benar sendirian.
Ditambah efek lelah yang dirasakan oleh Hilya bisa dibacanya dengan sangat baik,membuat hatinya khawatir kalau sampai hasratnya kembali membuncah maka isterinya jugalah yang akan merasakan dampak dari pelampiasan jiwa maskulinnya itu.
Danang menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal,"Lalu di mana dia,bi?"kemudian menyugar rambutnya dengan sepuluh jari.
"Di dapur belakang,lagi merawat pot bunganya."
"Perlu diganggu,ini....,"Meraih cangkir kopi dan piring berisi potongan roti kejunya,"Makasih ya,"bi."Disambut kekehan kecil dari Bibi Nunung sembari geleng-geleng kepala,"Sama-sama,tuan muda."
Kini ia membawa langkahnya menuju ke tempat di mana isterinya berada,"Ehm....,katanya mau pergi?"Danang memulai aksinya saat mendapati Hilya yang sibuk menggemburkan tanah di pot.Pertanyaan yang hanya dibalas dengan satu kedikan bahu tanpa ekspresi apapun di wajah cantiknya.
"Masih merajuk?"Mengambil posisi duduk bersebelahan dengan sang isteri di emperan teras dapur.
Hilya menggeleng tanpa menoleh,ia sudah membulatkan keputusannya untuk tidak mendatangi rumah itu lagi,"Biarkan bapak jahat itu yang mencariku."
"Jangan sebut dia bapak jahat,dia omku."
Hilya mendadak menghentikan aktivitasnya seiring dengan menoleh ke arah Danang,"Sok kenal."Sontak memutar kedua bola matanya.
Danang sigap mencekal pinggang langsingnya,"Kau bilang aku sok kenal?"Sedangkan Hilya sudah siap melepas sarung tangan karet yang dikenakan setiap kali menggemburkan tanah.
"Jadi benar dia sepupumu,di foto itu,kan."
"Ya."Kali ini semakin merapat dan memperat cekalan jemarinya ke pinggang isterinya membuat sang empunya suskses menggeliat dan berusaha menghindar namun gagal.Namun masih terdengar jelas decakan keluar begitu saja dari lidahnya.
"Maafkan aku."Danang melonggarkan cekalan tangannya,"Kau boleh pergi ke sana dengan syarat....,"
"Aku sudah tidak ingin pergi ke sana,apalagi pakai syarat."
"Dengarkan aku,"
"Om Amran memang rada ngotot,tapi dia baik seperti papa."
"Kau tidak igin mengenalnya lebih jauh?"
"Apalagi tante Mira yang ramah senyum."
Sekilas ingtan Hilya membayangkan wajah wanita yang dimaksudkan suaminya kini,padahal yang dilihatnya waktu itu hanyalah seorang wanita yang minim senyum.Soal baik,bisa dipastikan sama persis seperti mama Andin.Karena wanita itu memang jelas sangat ramah dan penyayang.
"Jadi si bocah tengil itu....,"ucapanya terputus seketika membuyarkan lamunan isterinya.
"Pantas saja....,"ucapnya pelan.Teringat akan ucapan tuan Amaran yang mengatakan bahwa ia menitipkan Dimas pada orang baik,dia aman bersama seorang gadis baik.
Lagi-lagi ucapan terputusnya membuat Hilya hilang sabar dan harus menatapnya lurus,"Apanya yang pantas?"
"Hmm,temuilah om Amran,dia pasti sudah menunggu."
"Emm....,baiklah."
"Tapi suapi aku roti dulu."
'Huh,dasar bayi besar.'Hilya menggeram.Namun Danang tidak peduli pada rutukan isterinya.
....
Bersambung....
🤗🤗🤗