
Bocah malang itu terbaring lesu di pembaringan ICU. Keadaannya yang masih lemah membuat ia tertidur begitu pulas. Namun pulas saja jelas tidak pernah bisa menyamarkan rasa sakit yang tengah dideritanya. Hilya melangkah maju, mendekati puteranya yang terluka secara lahir maupun batin. Begitupun nalurinya sebagai seorang ibu ikut terluka, bahkan bertambah kapasitasnya saat mengamati keadaan fisik sang anak dari posisi yang tidak berjarak.
"Maaf membiarkanmu sendirian," lirihnya sendu.
Satu hal yang baru tersadarkan, jemarinya lantas bergerak mengusap lembut pipi gembul yang tampak menirus sejak beberapa minggu belakangan lantaran kurang mendapat perhatian darinya.
"Separah ini Kau menghukum dirimu, nak?" bibirnya bergetar hebat dengan kelopak mata yang kian memerah, "Bunda janji, setelah ini tidak akan ada lagi kesedihan di hidupmu," air mata lagi-lagi jatuh tidak terbendung.
Dirinya mendapati kelopak mungil itu perlahan mengerjap. Begitu lelah dalam kepayahan. Melirik sendu padanya yang masih memaku di depan sana. Ada butiran bening ikut mengalir di kelopak yang kuyu, "Bund_ ," bisiknya terputus.
"Ya, sayang. Ini bunda, nak." gumamnya pelan di sela Isak tangis yang tertahan.
"S_sakit, Juna nggak k_kuat," keluhnya sangat pelan.
Jemari lentik itu mengusap lembut pelipis sang buah hati, "Juna kuat ya, nak. Anak pintar sayang bunda, kan?" wajah letihnya ikut menggeleng pelan, "Berjanjilah kepada Bunda, untuk tetap kuat." ucapnya penuh kasih sayang.
"Semuanya akan baik-baik saja, nak." lanjutnya memberi penguatan.
Bocah malang itu tengah berupaya menengadahkan wajahnya yang masih berbalut perban dengan gerakan hati-hati. Di bagian tangan dan tungkai yang terpasang gips membuatnya kesulitan bergerak. Upaya memalingkan wajah dari sang bunda, malah menampakkan bekas darah menembus di beberapa titik yang terkena luka. Sebuah kenyataan yang jelas mengusik nurani sang bunda, diamnya seakan tengah mengatakan bahwa dirinya tak ingin diganggu, atau dengan kata lain, "Aku tak ingin mendengarkanmu, bunda." kira-kira demikian.
Hilya pasrah, meski hati kecilnya masih ingin berbicara panjang lebar dengan sang anak, namun keadaan memaksanya untuk ikut bungkam mengingat kondisi sang buah hati masih sangat lemah.
"Bagaimana keadaan putera saya , Dok?" ucap Hilya kepada Dokter yang baru usai memantauan perkembangan sang anak.
"Ibu Hilya, kami memastikan putera anda akan segera sembuh setelah lolos dari proses pemasangan gips ini." tutur dokter ahli terhadap kondisi Juna.
Hilya menarik napas dalam, hatinya cukup terusik dengan penuturan lanjutan sang dokter yang mengatakan bahwa secara medis, sang anak dinyatakan akan segera sembuh namun untuk beban psikisnya, Juna harus menjalani beberapa terapi untuk mengembalikan rasa percaya dirinya.
"Perhatian dan dukungan keluarga sangat diharapkan, terutama ayah dan ibu sang nak." lanjut sang dokter mantap.
Hilya memilih mengikuti rentak sang buah hati. Hampir setengah hari ia berkesempatan menjenguk puteranya itu namun sang anak masih saja membuang muka darinya. Pertanda bahwa sang Arjuna sedang menderita secara psikis. Beberapa kali ia mencoba peruntungan menyapa sang Arjuna Wijaya, namun nihil. Baginya ini sebuah tantangan berat. Atau jika ini adalah sebuah hukuman demi penghapusan dosa, maka ia ikhlas menjalani asalkan sang anak kedepannya tetap baik-baik saja dan tidak memusuhinya.
"Juna harus sembuh." gumamnya sendu di tengah langkah gontainya menelusuri koridor menuju ruang kantin sekedar untuk mencari camilan pengisi kampung tengah. Ya, terapi seperti kata dokter. Mungkin ini jalan terbaik buat menyembuhkan sang buah hati.
Sementara itu di ujung koridor rumah sakit, seorang pemuda melangkah gesit mendatangi loket dengan beberapa pertanyaan memenuhi isi kepalanya. Tampak dari keningnya yang mengerut tajam, ditambah sorot mata elang yang menyala dari balik kaca mata kebesaran miliknya.
Tatapannya terpaut pada sosok Hilya yang tanpa sadar mengambil langkah gontai menyilangi jalannya. Matanya memicing tajam, "Dia kah?" batinnya resah. Ada keinginan untuk mengekor dari belakang, namun diurungkan niatnya karena harus fokus pada tujuan kedatangannya ke sana. Meja loket.
Beberapa detik kemudian, langkahnya kembali membawa tubuh jangkung itu menuju ruang tunggu setelah sempat bercengkrama dengan si penjaga loket yang ramah mengenai keberadaan Nuha Izz.
"Selamat sore, Tante," sapa pemuda itu ramah kepada Nyonya Amanda yang masih setia di ruang tunggu.
"Sore," balas Nyonya Amanda lesu seraya mengangkat kepala dengan gerakan pelan, "Kau? Sejak kapan kau kembali?" lanjutnya kaget. Salah satu tangannya mempersilakan tempat duduk kepada sang pemuda.
"Dua hari lalu. Maaf, Tan. Aku baru saja mendengar kabar tentang Nuha pagi tadi, lalu menyusul kemari." Pemuda itu berucap seraya menuruti pergerakan tangan Nyonya Amanda dengan mengambil posisi duduk bersebelahan, lalu menjawab pertanyaan yang diajukan oleh wanita separuh baya tersebut.
"Oh, ya. Bagaimana kabar Nuha?" tambahnya lagi.
"Menurut prediksi dokter, Nuha bakal mengalami kelumpuhan dan kehilangan memori untuk sementara." jelasnya menyesal.
"Aku turut prihatin atas musibah ini, Tan."
"Baik, nak. Terima kasih juga sudah berkunjung," ujarnya pelan dengan tatapan berkaca-kaca.
"Sudah menjadi kewajiban seorang sahabat untuk melakukan hal seperti ini, Tante." balasnya santun.
"Tante pikir Kau bakal menjauhi Nuha setelah kejadian buruk menimpa hubunganmu dengan si anak pembawa sial itu."
Pria yang tidak lain adalah Joshua, si sahabat kecil Nuha tampak mengerutkan keningnya samar, "Anak pembawa sial?" gumamnya pelan namun masih kedengaran oleh Nyonya Amanda.
"Siapa lagi kalau bukan gadis kampung yang menempel erat kayak benalu sama si Nuha," sentaknya melengos tajam, "Hasil akhirnya setelah mendapatkan apa yang dia mau, eh! Dia malah membuat Puteriku celaka!" lanjutnya penuh permusuhan.
"Hilya kah?" batinnya muram. Ia merasa baru saja berpapasan dengan gadis yang dimaksudkan Nyonya Amanda. Namun tidak punya nyali untuk menghampirinya.
Nyonya Amanda mengangguk kecil seolah mendengar isi hati pemilik nama lengkap Joshua Adi Farhan tersebut.
"Kau tahu, Hilya itu tanpa malu telah mengambil hak asuh anaknya almarhum Arjuna Wijaya," ujarnya memprovokasi, "Padahal harusnya Tante dan Om punya hak penuh atas Juna."
Joshua tercenung, pemuda itu tampak menerawangi masa di mana dirinya mengambil keputusan untuk pindah ke Amsterdam demi menjauh dari masa lalu yang kelam. Obsesinya mendapatkan gadis sebaik Hilya telah merusak reputasi dirinya sebagai seorang seniman muda yang terkenal santun kepada siapapun termasuk kepada para wanita.
"Dan sekarang, Juna malah ikutan celaka gara-gara dia!" lanjut Nyonya Amanda penuh kemarahan.
"Juna? Bocah yang menjadi anak angkatnya itu?" gumam Joshua gamang.
Nyonya Amanda mengangguk pelan, "Ya, Juna itu anak kandung Arjuna Wijaya, putera Tante." mengertakkan rahangnya, " Selagi anak dan cucu Tante masih menderita, Tante pastikan hidup perempuan itu tidak akan pernah tenang." seraya mengepalkan jemari membentuk tinju.
Awal percekcokan antara Joshua dengan Danang suami Hilya, semakin menyulutkan dendam nan membakar dirinya, dan berjanji akan membalas dendam pada Hilya dan juga Danang. Sikapnya ini jelas telah mengorbankan banyak pihak selain dirinya sendiri. Keadaan keluarganya, persahabatannya, serta hubungan baiknya pada semua orang. Maka ia pun memutuskan untuk berhijrah ke negara dam demi meredam obsesinya mendekati Hilya. Hari-harinya kacau gara-gara masalah itu. Kehidupannya hancur lantaran pikiran gamang yang tak berkesudahan.
Lalu hari ini ia kembali dengan niat ingin berdamai pada si gadis dengan suaminya itu, agar ia bisa dengan mudahnya melanjutkan kehidupan baru. Namun apa yang ia dapat, malah kabar lain dan predikat baru 'Pembawa sial' tentang gadis itu dari Nyonya Amanda yang selama ini telah ia anggap sebagai orangtua nya sendiri. Percayakah dia pada pernyataan Nyonya Amanda? Adakah ia bakal konsisten dengan niat awalnya untuk kembali berdamai atau malah tersulut dendam lama dan kembali ingin membalas dendam?
"Lalu apa rencana Tante selanjutnya?" tanya Johsua bersamaan menatap nanar ke ujung ruangan di mana seorang pemuda yang sangat dikenalnya sedang bergerak maju.
"Dimas?" batinnya ragu. Memikirkan Hilya dan Dimas, Sungguh pikirannya tidak sinkron dengan pertanyaan yang baru saja ia lempar kepada Nyonya Amanda, "Kenapa semua orang di masa lalu muncul di saat bersamaan?"
"Tante akan menuntutnya dan membuat dia dipenjara." jawab Nyonya Amanda begitu saja, "Tante sangat membutuhkan bantuanmu." tambahnya lagi.
Akan tetapi Joshua terlanjur memusatkan perhatiannya kepada pemuda yang baru saja ia sebutkan namanya.
"Kenapa dia berada di sini?" batinnya lagi. Sementara Nyonya Amanda yang rada kurang sabar segera menuntut jawaban pasti.
"Joe, apa Kau mendengarkan ucapan Tante?"
"Ah, i_itu Tan_" namun bersamaan dengan itu, benda pipih miliknya ikut berderit meminta untuk segera dijamah, "Maaf, Tante. Aku akan segera kembali." ucapnya pelan seraya menghilang dari pandangan. Meninggalkan Nyonya Amanda sendirian yang masih melongo.
Hallo, Ma.
****
Ya, masih di Maulana Medika.
****
Whatt? di ruang mana?
****
Baik Mama. Aku akan segera ke sana.
Jawab Joshua dalam panggilan ponsel kepada sang mama yang memberikan informasi kepadanya.
Sesuai petunjuk dari panggilan ponsel baru saja, Joshua melangkah cepat menuju ruang ICU di mana sosok yang dimaksud saat itu berada. Vania, sang kakak mengalami kecelakaan tunggal saat mengendarai mobil dalam keadaan mabuk berat.
Pemuda jangkung itu menyerobot masuk tanpa ragu, "Kakak, kenapa ini terjadi padamu?" gumamnya parau. Jemarinya gemetar mencoba meraba kening dan wajah sang kakak yang sebagiannya berbalut perban, "Aku bahkan belum sempat bertemu denganmu." tambahnya kelilipan. Sang kakak dinyatakan kritis.
"Maaf, dengan siapa ya?" ucap seseorang dari belakang sontak membuyarkan konsentrasinya.
Joshua membalikkan tubuhnya dan tampak kaget saat mendapati sosok seorang wanita yang sangat ia kenal, "Kau?"
Untuk sekian detik dirinya terpana pada seseorang berwajah pucat yang juga memasuki ruangan pasien yang sedang sekarat. Ya, sosok gadis yang kerap mengganggu pikirannya, bahkan selalu berada dalam penyesalannya beberapa bulan belakangan. Tampak bergeming memandanginya, seolah tidak pernah mengenal dirinya. Dialah Priscilia Amanda.
"Syukurlah, sudah ada keluarga yang datang. Aku boleh pulang." gumamnya lega seraya beranjak pergi tanpa memedulikan pemuda tersebut.
Joshua mendadak merasa hatinya terusik saat mendapati gadis itu mengabaikannya begitu saja. Jiwa maskulinnya tiba-tiba saja meronta. Namun ia berupaya mengontrol suasana hatinya dengan menarik lengan gadis itu seraya mengertakkan rahangnya kemudian balik bertanya, "Sedang apa Kau di sini?" menatap nyalang ke mata gadis yang menurutnya akan gugup saat kedua mata mereka saling bertembung. Namun dugaannya meleset. Gadis itu tampak biasa-biasa saja dan tidak tertarik kepadanya.
"Ck!" decaknya.
Prisil tampak mendengus kecil sebelum akhirnya ia memilih menjawab dengan sangat tenang, "Mengantar Kakak ini."
Gadis itu menghentikan ucapannya sejenak. Menatap lekat mata elang Joshua yang seolah meminta kejelasan lain selain dari penjelasan mengenai kronologi musibah namun si gadis tidak memedulikannya, dan memilih menuntaskan ucapannya.
"Dia menabrak jejeran lapak warga yang sedang berjualan. Kebetulan Aku berada di sana dan mendapati para warga mengamuk, namun Aku berhasil melerainya dengan membayar ganti rugi sebelum mereka bertindak lebih jauh kepadanya mengingat dia sedang tidak berdaya." ujarnya mendetil.
Mendapati sikap gadis itu, Joshua memicing penuh tanya. Baru kali ini ia merasa kalau gadis bernama Prisil Amanda begitu cuek. Biasanya gadis yang pernah tergila-gila padanya itu akan mencari perhatian darinya, namun kali ini tidak. Ia malah terkesan mengabaikan keberadaan dirinya. Ah,
"Apa Aku boleh pergi?" ucap Prisil seraya melirik lengannya yang masih digenggam. Mendadak membuyarkan lamunan Joshua. Ia baru menyadari kalau sedari tadi jemarinya masih menggenggam erat lengan wanita tersebut.
"Ah! Maaf. A_aku hanya ingin_" ucapnya gagap, "A_aku mendapat berita kalau kakakku dirawat di sini." tambahnya membetulkan ucapan.
"Baiklah, kalau begitu Aku akan pergi sekarang." ucap Prisil seraya memasang aba-aba beranjak.
"Tunggu_" Joshua masih berupaya menahan pergerakan Prisil, namun ucapannya terpotong oleh suara yang menggema dari balik pintu yang tiba-tiba terbuka.
"Amanda, kenapa Kau lama sekali?" ucap seorang pria muda dari balik pintu sontak mengusik pandangan Joshua.
••••
Bersambung...