I Need You

I Need You
Hanya Bepergian dan Belum Kembali



"Bunda,kenapa melamun?"suara manja Juna membuyarkan lamunan Hilya.


"Ah,tidak apa-apa nak....,bunda hanya sedang memikirkan oleh-oleh buat kakek dan nenek,sayang."sahut Hilya berkelit.


"Emm....,kado yang spesial gitu ya bun?"


"Ya,sayang.Ah,gampanglah itu.Ayo dihabiskan dulu sarapannya,biar cepat kita jalan-jalan."


"Oke,siap bunda."


"Nah,itu baru anak bunda."balas Hilya seraya mencium pucuk kepala bocah nan tampan jelmaan wajah mendiang sang ayah.


"Bunda,boleh Juna tanya sesuatu?"


"Boleh sayang,apa itu?"


"Bunda pernah bilang kan,kalau ayah Juna itu ada di antara bintang yang bertebaran,"


"Em..,em.."Hilya mengangguk,sambil merangkul tubuh bocah tersebut.


"Apa ayah Juna itu orang yang baik?"


Hilya menghela napas pelan,


"Baik sayang....,bahkan sangat baik."


"Lalu kenapa ayah memilih tinggal di atas sana ketimbang bersama kita?...,Juna kan belum pernah melihat wajah ayah."


Hilya mendekap erat tubuh kecil itu,hati kecilnya teriris membayangkan penderitaan seorang anak kecil yang merindukan sosok ayah di sisinya.Ah,andai ia bisa membawa sosok seorang suami yang bisa menganggap Juna sebagai anaknya juga.Namun apa mau dikata,calon suami yang bakal menikahinya saat ini agak unik.Jangankan Juna sebagai sosok anak,dirinya sendiri saja belum tentu diterima sebagai isteri yang pantas.


"Juna sayang,ayah itu tidak melupakan kita.Ayah hanya sedang bepergian jauh.Dia pasti akan kembali pulang untuk kita,oke."sahut Hilya lembut seraya meraih tubuh bocah itu ke pangkuannya lalu membawanya ke dalam irama pelukan yang erat.


Sesaat gadis itu memejamkan matanya untuk ikut merasakan derita batin yang dirasakan oleh anak angkatnya.Berharap bisa menyalurkan energi positif ke dalam tubuh bocah itu melalui pelukan hangat kasih sayang seorang bunda.Cukup lama,hingga akhirnya lamat-lamat ia kembali membuka mata.


Saat matanya terbuka,ia melihat sepasang kaki jenjang dengan balutan celana jeans berwarna hitam edisi terbatas sudah tegak di depan matanya.Begitu dekat hingga ia tidak bisa mengenal wajahnya jika tidak dipaksakan untuk mendongakkan kepala.


Hilya tersentak,dan menengadahkan kepalanya ke atas.Sorot mata gelap itu menatapnya datar dengan pandangan yang sulit dibaca.Melesat masuk ke dalam kelopak bening yang sedari tadi sudah berkaca-kaca.


Gadis itu terbelalak dan mendadak bangkit dari duduknya bersama bocah yang ia pangku,


"Kau?!"


"Kenapa,kaget?"


"S_sejak kapan kau di sini?"


Sosok pria yang tidak lain adalah Danang tampak misterius,memindai tubuh gadis yang beridiri dengan perasaan gugup di depannya.


Danang membuang pandangan,


"Sejak anakmu menanyakan di mana sosok ayahnya."jawabnya datar.


Hilya mengalihkan pandangannya ke arah Juna,


"Sayang,sana dilanjutkan dulu mainnya.Jangan jauh-jauh ya nak,Bunda mau bicara dulu sama om Danang."


Meski keberatan,Juna akhirnya menuruti perintah sang bunda.Beberapa kali ia melirik ketakutan ke arah wajah pria dewasa yang baru dilihatnya.




Pagi yang sama,gedung Adhytama Star Group...


Tuan Imran tengah menandatangani beberapa berkas penting yang disiapkan oleh sekretaris Sani.


"Sani,apa Dania sudah kemari?"tanya tuan Imran memastikan.


Terbukti di setiap pertemuan,mereka selalu melibatkan tuan Imran selaku pendiri dan perintis jalan awal.Niat baik yang disambut dengan baik oleh tuan Imran yang berjiwa amanah dan dermawan.


"Belum,tuan."jawab sekretaris Sani tertib.


"Oh ya,San.Tolong kau urus lamaran Puteri Daniah untuk mengisi jabatan sekretaris GM di ASH ya."


"Baik,tuan.Akan saya urus secepatnya."


"Ya,untuk memenuhi permintaan Karin."ucap tuan Imran memperjelas.


"Kasihan keponakanku yang satu itu...,sudahlah jauh di negara jiran,hidupnya juga rawan musuh.Ke mana-mana selalu di kawal pakai tim."


"Ya,tuan.Informasi terakhir,tuan Diego nyaris menjadi korban di dalam insiden ledakan bom itu."


"Oh ya,kapan itu?"


"Kira-kira sebulan yang lalu,di detik-detik kelahiran puteranya itu."


"Resiko ya,punya suami hebat.Dia bahkan pernah meminta agar ASH dikembalikan saja kepada ASG.Tapi itu mustahil terjadi.Jadi saya pikir,ada baiknya Dania dikirim ke sana untuk membantu kesulitannya saja.Toh,Karin dan Dania sudah sangat akrab."


"Ya,tuan.Tapi kendalanya sekarang ini,tuan Danang melarang nona Dania untuk bergabung di Adhytama Star Hotel."ucapan sekretaris Sani membuat tuan Imran seketika menghentikan ucapannya.


Tuan Imran baru teringat keberadaan puteranya saat ini.Sejak kepulangan mereka dari kampung Hilya dua hari yang lalu,tuan Imran sengaja memerintahkan puteranya untuk menginap di hotel Puteri Daniah demi mempermudah ia mengurus proses nikahnya.


"Oh ya,lalu bagaimana dengan urusan Danang di sana?"


"Saya baru mendapat informasi kalau tuan Danang saat ini sedang dalam perjalanan menuju ke kota kecil B."


"Benarkah itu?"tanya tuan Imran menyunggingkan senyum samar,dan sekretaris Sani mengangguk.


"Ah,biarkan seperti itu,agar dia terbiasa dengan calon isterinya."


"Baik,tuan.Apa perlu saya menyuruh pengawal menyusul ke sana?"


Tuan Imran mengangguk,


"Sekedar memantaunya dari jauh,dan pastikan orang-orang yang kutugaskan untuk mengurus persiapan pernikahannya berjalan lancar."!


"Baik,tuan."


Sementara itu,di Adhytama Star Hotel,Dania yang mewakili sang ayah,datang menghadiri pertemuan sebagai tamu istimewa.Kehadirannya disambut ramah oleh general manager yang juga telah menaruh hati kepadanya.


Awalnya Haidar rada sungkan mendekatinya,namun sekarang pemuda blasteran itu malah terang-terangan menunjukkan perasaannya kepada gadis cantik itu.Ia malah sedang gencar-gencarnya melakukan pendekatan.


"Izinkan aku untuk menyelami dasar hatimu,sekali saja."ucapan khas jiwa playboy yang melekat di hati Haidar,sukses membuat Dania berbunga-bunga.


Entah cinta jenis apa yang dimiliki oleh seorang Dania,padahal ia sudah mendengar secara langsung dari sang kakak bahwa sosok Haidar adalah seorang playboy kelas mafia.Akan tetapi Dania seakan menutup mata dan kupingny dari penilaian buruk tentang pemuda yang sukses menawan hatinya itu.


'Separah itukah daya tarik seorang playboy mafia?'batin Dania bergidik ngilu.


Entah kenapa,Dania yang awal mulanya tidak menyukai keberadaan Haidar karena kegilaannya,kini ia malah selalu ingin bertemu dengan pemuda gila itu.Meski masih dalam taraf pendekatan,namun sehari tidak melihat wajah Haidar,Dania bisa uring-uringan sendiri jika ia terjebak rindu.


'Ah,ini adalah pertemuan terakhir yang aku hadiri.Setelah ini aku harus menjauh darinya.'


'Siapa yang mau terjebak dalam cinta seorang playboy seperti dia,bisa mati bodoh karena bukan cuma diduakan,tapi malah di urutan ke seratus akunya.'gumam Dania sendirian saat sedang menunggu kedatangan supir di ruang lobi.


"Nia,boleh kau temani aku makan,untuk siang ini?"


Dania mendongak menatap sosok playboy yang membuat hatinya porak poranda itu dengan tatapan yang penuh misteri.


•••••


Bersambung..


🤗🤗🤗