I Need You

I Need You
Tudingan Menohok



Hilya berusaha menghindar dari tatapan tajam pemuda yang mengungkung tubuhnya dengan sebelah tangan menekan di dinding.


Sejenak ia pun berupaya melonggarkan tubuh namun yang terjadi malah pemuda itu semakin membuat wajah mereka bertembung tanpa batas.


"Cepat katakan,kenapa kau berada di tempat ini."bentak Danang membuatnya terjingkat.


"A_aku,_"


"Ah,aku tahu.Kau sengaja kemari dan berpenampilan begini,"ucapnya menjeda,


"agar kau bisa menjebak target barumu kan,"sergahnya memotong,


"Pria pecundang mana lagi yang ingin kau jebak hah?!"lanjutnya sangar.Untung tidak ada siapapun di pojok itu selain mereka berdua.


Hilya pasrah,kali ini tidak ada perlawanan. Hanya ada tatapan berkaca-kaca yang berusaha ia bendung.Karena ia tahu bahwa pemuda yang berada di depannya itu tidak lain adalah Danang.Pria temperamen yang baru ia kenal dalam jebakan itu.


Gadis itu terpaksa menyerah sembari memicing dan mengatup rapat bibirnya sembari berharap agar terhindar dari sesuatu yang tidak diinginkan.


Melihat Hilya yang salah tingkah dan ketakutan,Danang kembali menyerangnya. Kini pinggang gadis itu yang menjadi sasaran empuknya.Danang sengaja meramas pinggang gadis itu dan seketika membuatnya menggeliat.


Hilya bahkan yakin bahwa debaran jantungnya yang kian berpacu bisa dirasakan oleh pemuda yang menindih tubuhnya itu.


"Ah,ya.Kau juga sengaja kemari untuk menjaja tubuhmu ini kepada seniman itu kan," ucapnya seraya mengguncang pinggang ramping yang baru saja ia ramas membuat Hilya semakin menggeliat gemetar.


"Berapa bayaran yang kau terima untuk sekali sentuhan hmm?"serangnya bertubi-tubi.


Hilya yang gemetaran tidak bisa menjawab satupun pertanyaan dari pemuda itu. Bukannya tidak ingin menjawab tapi Danang memang tidak memberikan cela kepadanya untuk menjawab.


Pertahanan gadis itu akhirnya roboh.Air mata yang ia bendung sejak tadi akhirnya lolos membasahi pipi dan wajahnya.


"Katakan kepada kekasihmu itu,jangan pernah membuat lukisan yang tidak berbobot dengan melukis wajah yang jelek seperti itu lagi."ucapnya penuh penekanan dengan urat nadi yang kian menyembul di beberapa titik wajah dan lehernya.


Danang yang penuh amarah menghempas kasar tubuh gadis itu hingga tidak sengaja membentur di dinding,membuat Hilya meringis kesakitan seraya memegang pinggulnya.


Tangisnya semakin memecah namun tatapan pemuda yang berada di depannya itu malah semakin gelap dan menatap sinis ke arahnya,


"Wanita murahan sepertimu masih bisa merasakan sakit akibat benturan kecil di pinggulmu hmm,"ucapan yang semakin menohok hati dan pendengaran gadis itu,


"Seharusnya kau kebal dengan guncangan kecil seperti ini,"tandasnya,


"karena guncangan itu hanya menimbulkan sensasi nikmat yang menggairahkan di atas ranjang." lanjutnya sinis sembari berlalu dari hadapan gadis itu.


Tubuh Hilya ambruk ke lantai.Gadis itu menangis sejadi-jadinya.Perasaannya hancur berkecai.Kali ini harga dirinya benar-benar diinjak.Hilya tidak pernah merasakan hinaan seperti ini sebelumnya. Jangankan makian kasar,umpatan kecil saja tidak pernah ia terima dari seseorang, apalagi kekerasan fisik seperti yang baru saja ia alami.


Siapa gerangan pemuda jahat ini,apakah dia tertakdir untuk menerima perlakuan kasar dari seorang pemuda temperamen seperti dia.Hilya merutuki dirinya sendiri,mengapa ia harus bertemu dengan pria kasar dan arogan seperti Danang.


'Apa dia monster berkedok seorang pria tampan?' gumamnya pilu.


'Ibu..,Hilya ingin pulang..' bisisknya lirih


Sementara itu di galery seni, Nuha Izz terlihat mendekati Joshua.


"Di mana Hilya,Jo?"tanya Nuha.


"Dia tadi mencarimu kan,"balas Joshua bingung.


"Lha,bukannya dari tadi Hilya bersamamu?"sergah Nuha.


"Tenanglah Izz,dia pasti ada di sekitar gedung ini.Kau carilah dulu,"ujar Joshua memberi saran.


Nuha mengangguk pelan dan beranjak ragu.


"Apa dia sudah pulang Izz?"tanya Joshua rada khawatir.


"Entahlah Jo,aku bingung mencarinya ke mana lagi."balas Nuha pasrah.


"Sudah kau hubungi?"


"Sudah tapi nomornya tidak aktif."


Nuha dan Joshua mulai terlihat panik.Kedua sahabat itu mulai berlari-lari kecil menggeledah seisi ruangan gedung namun belum juga ada tanda-tanda keberadaan


sahabat mereka.


Nuha terlihat pasrah, mengutak-atik ponsel miliknya,


"Nuha,kau di sini nak,di mana Hilya?"ujar sang mama yang bersama dengan sang papa berjalan dalam satu rombongan dengan keluarga Imran.


Sang bernama nyonya Amanda sangat hafal dengan sahabat puterinya yang satu itu. Selain daripada sering main ke rumah,dia juga termasuk gadis sopan yang baik hati.


"Hilya?Ah,ya.Di_dia sudah pulang ma." jawab Nuha gugup.


"Kenapa tidak pulang bersama saja nak?"Tuan Jayahadi ikut menimpal.


"E_itu,Hilya ada urusan dan dia pamit duluan,pa."Nuha berkelit.


Tuan Imran dan nyonya Andin yang sedari tadi hanya menyimak terlihat mengernyit saat mendapat tahu bahwa keluarga Jayahadi sangat mengenal baik gadis yang pernah bekerja dengan mereka itu.


"Nak,lain kali jangan biarkan teman sejalanmu pulang sendirian,karena tidak baik bagi seorang gadis di luar sana seorang diri,"timpal nyonya Andin kepada puteri koleganya itu.


"Ba_baik ta_nte,"jawab Nuha seraya melirik ke arah Danang yang berdiri tidak jauh dari sang mama.Gadis itu kelihatan gugup dan takut menatap mata elang Danang yang seakan ingin menerkamnya bulat-bulat.


"Oh,gadis yang tadi itu ya,"timpal tuan Farhan yang mengantar rombongan dua koleganya itu,


"temannya Joe."lanjutnya sambil tersenyum.


Nuha mengangguk,"Ya,om."


Danang yang ikut dalam rombongan tersebut terlihat membuang pandangan ke lain sisi.Sesaat matanya memergoki Joshua yang tengah bingung mengutak-atik ponsel miliknya.


Sepertinya ia tengah menghubungi seseorang namun tidak ada respon dari seberang.Pemuda itu terlihat kesal sembari menyugar rambutnya dan meninju angin.


Ketika rombongan mulai bergerak,Danang memilih menaiki lift yang terpisah dengan yang lainnya.Tidak ada yang tahu mengenai gerakan sigapnya itu kecuali sang adik Dania.Akan tetapi gadis itu memilih bungkam daripada harus menjawab pertanyaan sang mama jika wanita itu mengetahuinya.


Danang melirik detik menit yang berputar di jam tangannya,terhitung dari kejadian di pojok sepi tadi rasanya gadis itu belum jauh dari sini.Danang segera meraih mobilnya dan melaju menyisir sepanjang jalanan yang sepi.Tidak ada tanda-tanda gadis itu berjalan kaki.


Sementara itu beberapa menit yang lalu Hilya berlari keluar lewat belakang gedung di mana tidak seorangpun yang melihatnya.Gadis itu terlihat menuruni lift,dan berlari keluar pagar dan mencari tumpangan.


Dua puluh menit berjalan kaki ia baru mendapatkan tumpangan menuju ke rumah kost miliknya.Saat ia baru hendak menjejakkan kaki ke dalam taksi tersebut tiba-tiba sebuah mobil hitam mendadak berhenti dan seorang pemuda yang tidak asing di mata Hilya sigap keluar dari mobilnya lantas menuju ke sopir taksi lalu membayarnya dan menyuruhnya pergi begitu saja.


Setelah taksi melesat,siapa lagi kalau bukan sosok Danang yang bertingkah di depan Hilya.Pemuda itu lantas menarik paksa pergelangan tangan Hilya tanpa mempedulikan meski gadis itu meronta dan berusaha melepaskan diri.


"Le_lepaskan aku,sakit."rintihnya di sela isakan.


Akan tetapi Danang yang terlanjur emosi tetap pada cengkeramannya hingga tubuh langsing gadis itu ikut terseret dan masuk ke dalam mobil hitam miliknya.


•••••


Bersambung...


🤗🤗🤗