I Need You

I Need You
Lebih Dulu Mengenalnya



Danang dan Jefry masih bertukar cerita di dalam ruang kerjanya.Sejenak kemudian pembicaraan mereka terusik oleh kehadiran papa Imran,


"Nah,Jef.Kau di sini,nak?"


"Ya,om."Jefry tersenyum dan mengangguk sopan.


"Apa kabar kuliahnya Amanda,lalu bagaimana kabar Denis sekarang?"


"Baik om,kalau papa biasalah,memang tidak pernah mempedulikan aku dan Amanda."Jefry menjawab tenang,"Papa masih saja beranggapan kalau aku dan adikku yang menyebabkan kematian mama."lanjutnya menyesal.


Tuan Imran berdecak pelan,"Kasihan Amanda,dari kecil sudah kehilangan kasih sayang."menggelengkan pelan kepalanya,"Kapan-kapan ada waktu,om akan coba bicarakan hal ini kepada papamu."


Jefry menghela napas tajam,"Terima kasih atas kepeduliannya,om."menyapu pelan wajahnya,"Semoga saja papa bisa mendengarnya."lanjutnya menerawang.


Jefry tampak berpikir beberapa saat dan kembali bersuara setelah sempat menciptakan hening,"Amanda semakin dewasa dan tak terbendung,aku khawatir dia salah jalan."Menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Tuan Imran menepuk pelan punggung keponakan isterinya itu,"Baiklah,om janji ini."


Dalam hati kecil tuan Imran mengakui akan kemampuan Jefry menjaga sang adik.Anak muda yang memang sudah terbiasa hidup mandiri sejak zaman remaja.Kedua orangtuanya sempat memutuskan untuk pisah ranjang lantaran masalah pribadi.


Namun beberapa alasan demi kebaikan putera dan puteri mereka,akhirnya membuat mereka berdua harus kembali rujuk.Namun belum sampai sebulan mereka kembali sebumbung,tiba-tiba ibunda Jefry dan Amanda meninggal secara mengejutkan.


Pada saat itu,Jefry yang berumur delapan tahun dan Amanda yang masih empat tahun tampak menangis bingung karena sang mama yang tengah sakit keras meninggal beberapa saat setelah Jefry dan Amanda datang ke kamar lalu menawarkan segelas susu buatannya kepada beliau.


Hal itu yang membuat Denis membenci dan menuding kedua anaknya telah menyebabkan kematian isterinya itu.Sejak saat itu ia kerap mengasari Jefry secara fisik dan melukai hati kedua anaknya secara psikis hingga iapun memutuskan untuk menikah lagi dengan seorang wanita yang menjadi sekretaris di kantornya.


Tuan Imran menghela napas dalam,"Yang sabar,nak.Semuanya akan indah pada waktunya."


"Ya,terima kasih,om."Jefry mengangguk pasrah.


Tuan Imran terlihat mengingat sesuatu,"Oh,ya.Danang,tolong kau hubungi Hilya,dia tadi mengontak lewat nomer papa."


"Ah,ya.Ponselku sedang dalam mode silent."Menepuk jidat,menyadari kekeliruannya.


Tuan Imran mengangguk dan kembali berucap,"Baru saja papa dapat laporan dari anak buah Sani kalau tuan Jayahadi nyaris menggusur kediaman pak Ferdy Zamhir dan ingin mencebloskannya ke penjara,mungkin ada hubungannya dengan itu."


Danang mengerutkan keningnya,tajam.Ia segera meraih ponsel miliknya,tampak dua puluh panggilan tak terjawab dari sang isteri yang tertera di layar sana,"Astaga."


..


Perumahan Premium....


Sore yang cerah,Danang mengayun langkah panjang menuju ke kamar yang pintunya masih tertutup rapat.Membukanya dan melongok sebelum benar-benar masuk ke dalam dan mendapati Hilya tengah menangis sesenggukan di atas lantai.


"Kenapa ada lagi air mata,hmm?"Danang dengan langkah pelan mendekati sang isteri yang masih sibuk dengan ekspresi dan rasa terdalamnya.


Hilya mendongak sesaat setelah menyadari kehadiran sang suami di sisinya.Lantas berbalik menghadapkan posisi duduknya pada kaki jenjang sang suami.Kini ia di posisi memeluk kaki jenjang tersebut, "Kakak Helmi menjemput Juna pulang ke kota kecil atas perintah bapak,"ucapnya seraya berurai air mata.


Danang membungkuk,"Tenanglah,"menangkup kedua bahunya dan membuatnya berdiri,"Kurasa tindakan bapak sudah benar,"membawanya duduk bersama di sofa,"Biarkan bapak yang mengatasi ini dengan sabar,semuanya akan baik-baik saja,oke."menariknya ke pelukan.


Akan tetapi menurut Helmi yang mengatakan bahwa sang bapak Haryadi bersedia menyerahkan Juna kepada tuan Jayahadi.Hal itulah yang membuat Hilya lepas kontrol layaknya seorang pesakit.


"Aku khawatir,berakibat fatal bagi Juna."Hilya masih dengan ekspresi air mata yang tidak terbendung.


Danang membelai rambutnya,"Usah terlalu dipikir,"ucapnya menjeda,"Mungkin sudah saatnya Juna mengenal siapa keluarga kandungnya."lanjutnya menenangkan.


Hilya tertegun,wajah sayu itu sontak mendongak lalu memindai mata elang yang baru usai berbicara,"Semudah itu?"melemparkan pertanyaan mengobrak-abrik seisi jantung sang suami yang kebingungan ingin menjawab apa.


Hilya menarik tubuhnya dari pelukan hangat pria yang kini sudah mulai meleburkan diri ke dalam setiap privasi hidupnya,"Setelah suka duka yang kami lalui sendirian,tanpa ada yang peduli?"berusaha mencari kebenaran dari bola mata elang yang selama ini selalu membuatnya tidak berkutik.


Danang membalas tatapan itu,dalam,dan teduh, seakan sedang menjelaskan kepadanya bahwa dirinya tidak sendirian,"Sayang,cobalah memahami dari sudut hati seorang tuan Jayahadi yang kehilangan cucu."menghela napas dalam,"Maka kau akan mengerti betapa menderitanya seorang ayah dan juga kakek yang pernah terjebak dalam sebuah kesalahan."


Hening....


"Maka berilah ia satu kesempatan saja,setidaknya agar Juna bisa merasakan memiliki kakek dari ayah biologisnya sendiri."Danang mencoba memberikan pengertian,sementara Hilya yang ternganga dan tidak percaya akan mendengar ucapan serupa itu keluar dari mulut suaminya sendiri.


"Jadi kau juga ingin aku menyerahkan Juna kepada mereka,memisahkan kami begitu saja,dan melupakan kalau aku adalah ibunya Juna?"Hilya menghunus sebuah tatapan tajam sebagai bentuk penolakan kerasnya.Tampak rahangnya mengertak sebagai pertanda kecewa yang mendalam.


Danang menggeleng-gelengkan kepala sembari tersenyum.Lembut menatap bola mata yang beradu dengannya.Berbeda dengan Hilya yang sinis dan mengintimidasi.


Perlahan tangannya naik merapikan anak rambut di kening sang isteri,lalu turun meraup dagu runcingnya,"Lama-lama kau tua sebelum melihatku beruban,"decitnya terkekeh.


Membawa pandangan yang sudah siap dilempar ke tempat lain itu,untuk kembali beradu tembung dengan tatapan lelakinya yang nyalang,"Sayang,cobalah....,hmm....,lebih realistis."Tatapan yang sukses memenjarakan hati wanitanya itu menghunus begitu saja.


Hening....


"Juna itu sedang dalam proses diterima oleh keluarga kandung yang selama ini menjadi pertanyaan bocahnya,"menangkup dagu runcing itu,"bukankah ini terbaik buat mengobati hati anak sekecil dia?"lanjutnya menenangkan.


Hilya tergugu,"Tapi....,"ucapnya terputus.Suaranya seakan tercekat di rongga kosong itu.


Itu artinya Juna berasal dari keluarga yang latar belakangnya sudah tidak diragukan lagi.Hilya dalam diam menatap lekat wajah pria yang tengah menghiburnya.Diam-diam kini ia yakin bahwa diamnya membenarkan ucapan sang suami.


Ia bahkan tidak pernah terpikirkan akan hal itu sebelumnya.Jika memang Nuha Izz adalah sahabat karibnya,maka tuan Jayahadi dan nyonya Amanda adalah sosok ayah dan ibu pengganti sejak ia datang ke di kota besar dan mulai mengenal keluarga tersebut.


Sejak itulah,Hilya merasa ternyata di kota yang masuk menjadi salah icon dunia ini,masih ada juga keluarga kaya raya yang tidak sombong dan mengenal orang tidak berdasarkan status sosialnya.


"Mereka lebih dulu menerimamu sebelum papa dan mama,"ucap Danang meyakinkan,dan Hilya mengangguk membenarkan.


Di mana ketika pertama kali ia menginjakkan kaki ke kota D,tidak seorangpun ia kenal.Akan tetapi perkenalannya dengan Nuha telah membawanya kepada sosok kedua orang tua yang telah melahirkan sahabatnya itu.


Tampak keduanya begitu menerima kehadirannya dan menganggap dirinya sebagai anak layaknya puteri mereka sendiri.Dan kini satu hal yang harus ia terima bahwa kedua orang tua tersebut jugalah yang telah melahirkan sosok ayah biologis dari Juna,anak angkatnya itu.


"Masih belum yakin,sayang?"mencoba memantapkan,"Aku pernah melihat sendiri kekhawatiran mereka terhadapmu sewaktu kau pulang sendirian dari galeri seni di malam itu,"ucap Danang menerawang.Hilya tertegun,menatap wajah sang suami tanpa kedip.


Dalam hatinya menerawang.Bukankah malam itu,Danang tampak sangat marah kepadanya karena mendapati kehadirannya di galeri seni milik Joshua.Lalu bagaimana mungkin ia bisa mengingat hal sekecil itu secara mendetil.


Hilya membatin,'Dia mengingat tentang kebaikan di malam itu?'


Kini ia perlu flashback kejadian di malam yang menurutnya sangat runyam dan menyebalkan jika sampai diingat kembali.Dia bahkan sudah berusaha melupakannya,namun tetap tidak bisa pergi begitu saja.


Karena di malam itu,untuk pertama kalinya ia merasakan sensasi ramasan jemari kekar Danang yang tengah menggeram mengenai pinggangnya yang sensitif.Begitu sensual.Meski rasa sakit lebih mendominasi namun tidak bisa dipungkiri bahwa Danang telah membuat tubuhnya bereaksi sebagai seorang wanita dewasa yang normal.


Hal itu membuatnya sempat mengutuk dirinya sendiri lantaran perasaan itu datang pada waktu yang tidak tepat.


'Aku pikir malam itu dia tengah mabuk berat karena nyaris melecehkanku,'batin Hilya bingung.


Seakan mengerti jalan pikiran sang isteri,Danang mencoba memecah keheningan yang sempat tercipta di antara mereka berdua,"Ah,ya.Aku bahkan tega mengasarimu di malam itu,"gumamnya pelan,"menarik tubuh langsing itu ke dalam pelukan hangatnya,"Maafkan aku,"desahnya lirih dan penuh penyesalan,sembari mengecup lembut pucuk kepalanya,dan membawa Hilya kepada anggukan pasrah.Tidak ada kata dendam di dalam kamusnya.


Waktu itu Danang seharusnya menyadari,untuk pertama kalinya ia merasakan kecemburuan gara-gara Joshua memberikan kejutan dengan memeluk gadis itu lalu memamerkan lukisan sketsa wajah si gadis yang bakal dinikahinya.


Hal itulah yang membuatnya gelap mata dan mengasari Hilya.Namun sayangnya Danang tidak mengakuinya ketika itu.Ia malah merasa semakin dongkol dan berusaha menyangkal saat perasaan itu tiba-tiba muncul begitu saja.


Kini Danang merasa perlu memperbaiki semua itu.Saatnya ia mengobati hati wanitanya agar kembali tersenyum,"Ingat satu hal sayang,"menahan kepalanya,lalu mengecup bibirnya lama dan intim,"Aku adalah ayahnya Juna sekarang,dan aku tidak akan membiarkan siapapun yang menyakiti puteraku bebas begitu saja."lanjutnya pelan namun penuh penekanan.


"Terima kasih,sayang,"desah Hilya lebih tenang dan merasa tidak sendirian lagi menghadapi masalah tersebut.Gadis itupun tersenyum membalas kembali kecupan hangat sang suami.Keduanya sempat larut dalam permainan bibir yang cukup lama.


Danang tersenyum lega mendapati sang isteri bisa tersenyum kembali,"Bersiaplah,kita akan berangkat ke kota kecil,"ucap Danang memberi perintah.


"Hah?!....,tapi ini sudah sore kan,hei....,kita bisa kemalaman di jalan."Hilya melayangkan protes.


"Apa yang tidak demi membuat ibu negara tidak menangis lagi."balas Danang sekenanya.


Hilya tersipu,wajahnya menyembulkan rona merah yang membuatnya tampak lebih menggemaskan di mata elang sang suami,"Oke,oke.Aku akan tenang sekarang,"ucapnya seraya melemparkan senyum menawan agar sang suami percaya bahwa ia baik-baik saja,"Mendengarmu mengizinkanku ke sana saja sudah cukup menenangkan hatiku,jadi besok saja kita berangkat,oke."Hilya membelai dada bidang sang suami.


Ia tidak ingin membuat suaminya sibuk apalagi sampai kelelahan hanya karena sifat kekanak-kanakannya yang tiba-tiba muncul begitu saja.Walau bagaimanapun kesehatan sang suami lebih penting daripada segalanya.


"Yakin?"


"Ya."


Danang tersenyum miring,"Tapi boleh aku meminta hak dan kewajibanku saat ini,"menatap nakal mata yang tengah beradu paksa dengannya.Apalagi kalau bukan dipaksa buat bertembung.


"Katakanlah,sebagai penebus kesalahanmu karena telah melawan perintahku untuk berangkat sekarang."Tambahnya licik,mulai menggerayangi titik sensitifnya,membuat Hilya terbelalak meski enggan menghindar.


"Emm....,apa tidak sebaiknya mandi dulu?"Hilya membuat penawaran sebagai pertanda penolakannya secara halus.


"Kalau begitu,kita mandi berdua."Menatap sang isteri,kian menggoda dengan tatapan mesum.


"Masing-masing."Mengelak,"Dasar mesum."


"Berdua,"ucapnya semakin kekeh.


"Ditolak."balasnya masih ingin bernegosiasi.


"Wajib."Sergahnya memaksa dan tidak ingin dibantah lagi.


Akhirnya Hilya mengalah dan keduanyapun mandi bersama,berendam berdua di dalam busa hangat beraroma wangian bunga,dengan segenap ritual khusus sang penakluk wanita,tuan Danang Danuarta Setiawan.


.....


Bersambung....


Teman-teman sekalian,maaf baru nongol lagi,setelah jeda beberapa lama karena alasan pribadi dalam keluarga.Maaf terlambat mengucapkan juga,Selamat lebaran buat kita semua,Minal Aidin walfaidzin,mohon maaf lahir dan batin.Tetap dukung karya receh ini jika berkenan.Salam lanjut, selamat berkarya dan saling dukung....Terima kasih.


🤗🤗🤗