I Need You

I Need You
Bikin Dia Tersenyum



Happy reading๐Ÿ˜๐Ÿ“–


"Emm....,baiklah kalau begitu.Besok sepulang kerja papa antar ke sana ya."Danang menyetujuinya dengan suara paling khas yang membuat siapapun merasa trenyuh dan tidak percaya jika hubungan mereka hanyalah sebatas ayah dan anak angkat.


"Hore....,asyik.Papa mau,bunda.Papa mau!"Pekiknya kegirangan.


Sementara Helmy masih saja melotot tidak percaya.


"Emm....,Juna sayang."


"Nanti dibelikan sama paman saja,boleh ya."Helmy mencoba melayangkan permintaannya,"Papa kan sibuk tuh."lanjutnya tidak enak hati.


Juna menggeleng,"Tidak paman,papa punya banyak waktu buat Juna."


Keterangan yang otomatis membuat sang paman sukses melongo,'Mereka sedekat ini?'Padahal jika ditelisik secara baik,bukankah berita yang didengarnya beberapa hari yang lalu sangat bertolak belakang dengan kenyataan yang ada sekarang ini.


Lalu siapa yang paling bersalah di sini.Danangkah yang sebagai pemicu,atau dirinya kah yang terlalu cepat percaya pada masukan seseorang,atau bahkan terletak pada isu miring yang sudah terlanjur beredar di masyarakat.


Tentunya bukan perkara mudah untuk diselesaikan dalam tempo yang singkat.


'Ah,Mengapa terlalu mudah mempercayai pemandangan di depan mata,bukankah kebenaran tidak selalu sesuai dengan kenyataan yang ada.'Gumamnya lebih tepat ditujukan kepada dirinya sendiri.


"Juna,sayang."Lembut suara Hilya membuyarkan lamunannya.Untuk sesaat ia baru menyadari kalau hubungan keponakannya dengan ayah yang satu ini tidak terlalu buruk.


"Ikut bunda ke belakang,yuk."Masih terdengar jelas dipendengarannya meski Hilya sudah berhasil memboyong tubuh mungil sang keponakan keluar dari ruang keluarga menuju ke taman belakang melalui pintu dapur.


"Ehm...."Deheman kecil Danang seketika membuyarkan lamunan gusarnya.


Sejenak ekor matanya melirik ke arah adik ipar yang tampak tenang sembari menekuri ponsel miliknya.


Tanpa mendongakkan kepala memandang kakak iparnya,"Apa perlu kujelaskan biar salah pahamnya tidak berlanjut?"Danang mencoba menawarkan pencarian solusi.


Helmy menggeleng,"Percuma....,jangan harap aku bisa mempercayaimu begitu saja,"menghunus tatapan tajam seraya mengertakkan rahang kokohnya,"Mana ada maling yang mau mengaku."


Hening....


"Jadi jangan bangga dulu,"ucapnya sinis,"Aku memilih membawa Juna kembali demi adikku Hilya."lanjutnya penuh penekanan.


Baiklah,itu artinya Helmy masih belum begitu mempercayai kebaikannya saat ini.Toh,bukan sebuah kesalahan jika memang tidak menyukai seseorang.Itu haknya,apalagi awal kehadiran dirinya ke tengah keluarga Hilya bukan dengan cara yang baik.


Maka sudah menjadi konsekuensi yang harus ia jalani jika memang ada hal-hal mendasar yang ternyata bertolak belakang dengan kehendak hati.


Lalu siapa lagi yang paling bersalah di sini,dirinya yang sebagai pemicu,ataukah orangtuanya,dalam hal ini,papa Imran sebagai pemeran utama yang telah menyatukan mereka berdua dengan cara yang dipaksakan.Yang jelas,kini ia merasakan dampak dari semua tindakan di masa lalu.


"Tapi itu mudah kan,"gumamnya menguatkan diri sendiri,"Bukankah kebahagiaan itu tidak gratis?"lanjutnya menahan gusar di dada.


"Aku pamit dulu."Ucapan Helmy semata-mata membuyarkan lamunannya.Ya,sudah saatnya mereka melanjutkan aktivitas harian dengan berangkat ke kantor.


"Sampaikan salamku kepada mereka berdua,"lanjutnya dan kali ini kedengaran melunak dan santun.Danang menghela napas berat yang sempat tertahan begitu Helmy menghilang dari pandangannya.


..


"Sayang,aku berangkat,ya!"Pekiknya dari ujung pintu dapur.


"Lho,di mana kakak?"Tanya Hilya setelah mendekat dan menyadari bahwa sang kakak sudah tidak berada di posisinya.


"Sudah berangkat dari tadi,dapat salam dari beliau,"jelasnya sembari tertawa kecil.


"Waalaikumsalam,"balasnya sembari ikut tersenyum.Tangannya tidak lupa mengulur dan jemarinya turut merapikan kerah baju dan juga dasi milik suaminya,"Kenapa terburu-buru?"Pertanyaan terakhir yang tidak mendapat respon apapun darinya karena kini ia sukses larut dalam lamunan.


'Inilah yang aku suka darimu,sayang.'batin Danang tersenyum.Sifat peduli dan perhatian yang Hilya curahkan meskipun selama ini sering mendapat perlakuan kasar darinya.


Akan tetapi gadis itu tidak pernah berubah sedikitpun.Ia malah semakin gencar melayangkan perhatian yang tidak terbalaskan itu.Kini saatnya ia membayar semua kesalahan tersebut lewat perlakuan kasar sang kakak ipar.


"Kau melamun lagi,sayang."Hilya melayangkan protes.Tampak wajahnya memberengut dan bibirnya mengerucut pada batas terpanjang.


"Ah,tidak.Kuharap kau tidak sedang menggodaku,sayang."Danang sengaja melancarkan aksi kedipan miringnya dengan memicing seraya tersenyum jail.Tujuannya cuma satu yaitu menghindar dari serangan pertanyaan sang isteri.Membuat gadis itu tidak bisa menahan tawa sumbangnya.


"Kau baik-baik saja,kan?"


Kali ini situasi yang tidak bisa ia hindari karena Hilya memberondongnya dengan pertanyaan yang sebenarnya tidak terlalu penting untuk direspon.Namun itulah yang telah menjadi inti pokok kekalutannya saat ini.


Danang menggeleng pelan,"Tidak."


"Emm....,maafkan kakak jika ia lancang."Seakan mengetahui kedalaman isi hatinya,"Jangan digubris sikap kakak yang terkesan arogan,kakak sebenarnya orang baik."lanjutnya telak pada intisari permasalahan.


Lagi-lagi Danang menggeleng menafikkan kenyataan,"Its okay,honey....,sesama lelaki,itu bukan masalah yang berat."Merengkuh tubuh langsing tersebut seraya mendaratkan ciuman ringan di pucuk kepalanya,"Aku berangkat dulu,ya.Jaga Juna baik-baik,"ucapnya menyamarkan suasana hati yang sebenarnya sedang mencekam.


"Emph....,baiklah.Hati-hati di jalan,sayang."Balas Hilya sembari tertawa lirih setelah mencoba menghindar dari serangan mendadak sang suami yang merapat ke bibir ranumnya.Mengingat jam kerja sang suami yang kian mepet.


Danang ikut terkekeh kemudian berlalu meninggalkan dirinya dengan senyum dikulum,'I love you,my wife.'Lagi-lagi kalimat itu berhasil lolos dari gumam pelannya.


"Ada orang gila lagi senyum sendirian,"ledek seseorang dari ujung halaman depan yang tengah berjalan mendekat menuju garasi ke pintu utama.Sontak membuat Danang terkesiap.


"Kau!....,ganggu kesenangan orang saja,"celetuknya sesaat setelah mendapati Nuha sedang mengedipkan mata seraya meledeki dirinya.


"Lagian,kau juga senyam-senyum sendirian.Apa,kalau bukan gila,huh."balas Nuha masih dengan mimik jailnya.


"Kau yang gila,pagi-pagi sudah nyelonong masuk ke rumah orang."balasnya tidak terima,"Cepat katakan,ada apa kemari.Bukan untuk mencuri isteri dan anakku,kan?"Serang Danang dengan tatapan menyelidik.Kali ini dengan senyum menyeringai.


"Pastinya iyalah.Masa gadis secantik isterimu,dibiarkan nganggur.Apalagi anakmu yang imut menggemaskan itu,bueh!"


"Dasar gila."


"Ye,orang gila mah bebas.Mau baik serupa apapun tetap saja dianggap nggak waras,"cebik Nuha membuat mereka sama-sama tergelak.


Sejenak berikutnya,Danang berpamitan dengan Nuha setelah memberi tahu kalau isterinya sedang berada di taman belakang bersama Juna.Sembari bersiul ria iapun siap membuka pintu mobilnya.


Eitt!Tapi tunggu dulu,bukankah baru saja Nuha telah menganggapnya gila karena mendapati dirinya sedang tersenyum sendirian,"Ah,ya.Aku memang sedang gila karena jatuh cinta,"


"dan tergila-gila pada dia isteriku."lanjutnya tersenyum, menggeleng-gelengkan kepala seraya mendudukkan tubuhnya ke dalam mobil yang telah dipanaskan oleh om Madi,sang supir pribadi yang ditugaskan untuk mengurus keperluan perjalanan isteri tercintanya.


..


"Hai,Juna sayang."Sapa suara merdu yang baru saja mendatangi dirinya dengan sang bunda setelah kepergian paman Helmy dan papa Danang.


"Eh....,tante Nuhiz."Balas Hilya setelah mendapati puteranya tetap diam tidak bergeming,"Sudah lama tante?"


"Sudah dari tadi sayang,habis ngobrol sama papanya keponakan tante yang ganteng ini."Nuha sengaja mencubit pipi gembul sang bocah sembari tersenyum manis,"Oh,ya.Tante punya sesuatu buat Juna."Membawa tangannya merogoh ke dalam tas yang menyampir di badannya.


"Apa itu tante?"Kali ini Juna tampak antusias merespon gadis tersebut.Ada senyum merekah di bibir mungilnya yang imut.


"Apa,coba tebak kalau bisa."


"Emm....,pasti buku."Juna langsung bisa menebaknya dari bentuk dan tampilannya meski ianya terbungkus dengan rapi.


"Pintar ponakan tante,ini buku ensiklopedi dinosaurus dan binatang purba lho sayang."mengulurkannya tepat ke pangkuan sang bocah yang lebih memilih duduk di pangkuan sang bunda,"Jadi tante akan mengajak Juna bertualang ke zaman purba melalui buku ini."lanjutnya semringah karena Juna tampak merespon baik dirinya.Tidak seperti yang ditemuinya kemarin di area mall sewaktu ia bersama dengan paman Helmy.


"Emang boleh,tante?"Tanya Juna dengan ekspresi bingung.


"Jelas boleh,sayang.Sini tante kasih tau."


Anggap saja buku ini sebagai mesin waktu yang membawa kita bertualang ke zaman sebelum batu tua.Jelas Nuha Izz yang kini telah berhasil membawa Juna yang mulai melunak ke dalam pangkuannya.


Sementara sang bunda Hilya ikut manggut-manggut di samping tante Nuha dan putera kesayangannya,dengan senyum dikulum tanpa sepatah katapun yang terucap.


Juna menyimak setiap penuturan tante Nuha dengan saksama.Sambil sesekali melirik ke arah bunda Hilya seakan sedang meminta pendapat kepadanya.Dan Hilya mengangguk pertanda sependapat dengan tante Nuha.


Benar kata tante Nuha,serupa terhipnotis,Juna kini tenggelam dalam cerita hewan purba bersama gambar-gambar unik lengkap dengan fakta tentangnya.


Ratusan juta tahun yang lalu,hewan-hewan purba ini yang hidup di bumi dan memiliki kekuatan super,bahkan ada yang menyeramkan seperti monster....


.....


Bersambung....


๐Ÿค—๐Ÿค—๐Ÿค—