I Need You

I Need You
Bimbang



Usai menjalani ritual mandi,Danang berpamitan kepada Hilya untuk pergi ke suatu tempat.Meninggalkan Hilya sendirian di rumah.


"Emm....,boleh aku ikut?"


"Lain kali boleh ya,aku hanya mendatangi rumah Jefry saja,"mengecup ringan keningnya,"Ada hal penting yang ingin kuselesaikan bersamanya."lanjut Danang memelas.


"Oh,baik....,berjanjilah untuk pulang dengan selamat."


"Aku janji sayang,doakan aku,oke."


Setelah kepergian Danang,Hilya memilih untuk mengisi waktu luangnya dengan membantu bibi Nunung memasak di dapur.Hilya sengaja menyediakan menu kesukaan Danang untuk makan malam nanti.


"Biar kubantu ya,bi."Hilya menawarkan bantuan.


"Ah,ya.Silahkan,nona Hilya."


Bibi Nunung menyerahkan sebagian tugasnya kepada Hilya sembari tersenyum ramah.Wanita paruh baya itu ikut bersedih karena Juna harus pergi dalam keadaan terpaksa.Walau bagaimanapun,Juna sudah sangat akrab dengan dirinya.


'Semoga semuanya baik-baik saja,'batin bibi Nunung.


Bahkan sejak Juna datang ke tengah keluarga majikannya,Danang telah menitipkan Juna kepadanya.Sama halnya ketika ia mulai merawat Danang sejak masih berumur dua bulan hingga kini.


"Tampaknya tuan muda sudah mulai akur denganmu,nona."Bibi Nunung tanpa sungkan melayangkan pedulinya kepada isteri majikannya itu.Hilya yang ramah dan selalu berbaur dengan siapa saja,membuat bibi Nunung dengan mudah masuk ke dalam hal privasi gadis itu sejak pertama kali bertemu,dan mereka memang sangat akrab.


"Ah,ya.Kurasa juga begitu,bi."meraih potongan wortel dan kentang yang sudah dicuci untuk segera diolah,"Bahkan bibi lebih mengenal dirinya dengan baik,"ucap Hilya menanggapi sang bibi dengan senyuman bersahabat.


Satu hal yang membuat bibi Nunung bisa dengan mudah mengajak Hilya untuk kembali tersenyum adalah manakala melihat Danang yang sudah seperti anak kandungnya sendiri,kini memperlakukan sang isteri dengan baik dan santun.Tidak seperti awal-awal kehadiran Hilya di tengah keluarga majikannya.


"Bibi ikut bahagia melihat kalian bahagia,nak."Bibi Nunung melanjutkan ucapannya.


"Terima kasih,bi."Hilya membalasnya dengan sebuah seringai kecil.


Berbeda dengan tuan dan nyonya Andin yang tidak mengetahui secara persis perilaku puteranya,karena baik Danang maupun Hilya sama-sama menyembunyikan kebenaran akan hubungan mereka,maka bibi Nunung mengetahui semuanya secara mendetil.


Hal itu disebabkan oleh Danang yang suka blak-blakkan ketika memarahi Hilya di depannya.Bahkan suka berkomentar buruk pada setiap tindakan Hilya tanpa memandang sisi baiknya.Apalagi setelah mereka pindah ke rumah baru ini.Tuan mudanya itu tampak sangat mudah dan leluasa mengabaikan sang isteri.


Memperlakukannya dengan kasar dan tidak sopan,menolak memakan masakannya,dan tidak pernah pulang tepat waktu.Bahkan berani menginap di luar rumah.Hal ini membuat gadis itu kerap terluka dan berusaha menyembunyikan kesedihannya pada semua orang.


"Padahal sebelumnya,tuan muda tidak pernah sekasar ini terhadap wanita,"komentar bibi Nunung,"Tuan muda sangat hormat dan menghargai wanita,"lanjutnya sembari menggelengkan kepalanya.Hilya menyimak perkataan sang asisten rumah tangga yang sudah ia anggap seperti ibu kandungnya sendiri.


Dalam hati gadis itu terbesit perasaan ingin tahu tentang masa lalu suaminya,meski selama ini yang ia temukan hanyalah kekecewaan ketika mendapati masa lalunya terkuak dengan kehadiran beberapa wanita yang begitu agresif memeluk dan menciumnya di depan umum tanpa dosa.


"Lalu apa yang membuatnya berubah,bi?"Tanya Hilya penasaran.


Bibi Nunung merasa perlu menjelaskan hal tersebut kepada Hilya karena ia yakin,sejak Danang mengajaknya bersekongkol untuk memberi kejutan kepada Hilya tentang rencana bulan madu itu,ia merasa bahwa Danang mulai menerima isterinya yang tidak berdosa itu.


"Itu....,tuan muda...."ucapannya terputus.Bibi Nunung tampak berpikir sejenak dan melirik ke arah Hilya yang mulai serius menyimak topik pembicaraan mereka.


Baiklah,bibi Nunung akan membantu menjelaskan sesuai yang ia ketahui,"Itu karena....,tuan muda pernah patah hati,nona."mengaduk-aduk sesuatu di dalam wajan hingga menguar aroma pedas manis yang menggugah selera,"Ada wanita yang tega meninggalkan dirinya demi pria lain."lanjutnya hati-hati.


'Oh,ya....,pria sesempurna dirinya bisa ditinggal juga?'batin Hilya tidak percaya.Padahal menurut dirinya selama ini,Danang adalah pria yang suka mempermainkan wanita di masa lalunya.Ditandai dengan sikapnya yang suka kasar dan tidak sopan terhadap dirinya.Maka ketika bibi Nunung memaparkan sesuatu yang bertolak belakang dengan pikirannya selama ini,membuatnya merasa bahwa sosok suaminya adalah pria yang sempurna.


Bibi Nunung tersenyum,seakan memahami jalan pikiran majikannya itu,"Bibi yakin,takdir telah tetulis,hingga Tuhan mempertemukan kalian berdua dengan cara seperti ini."


Kini dalam hatinya ada perasaan lega lantaran mendapati sang majikan yang tampak mulai akur.Danang yang tampak mulai mencari-cari keberadaan Hilya.


"Bi,apa Danang sering mengajak wanita ke rumah sebelum menikah?"Hilya berharap agar bisa menemukan sesuatu dari jawaban bibi Nunung.Entahlah,tiba-tiba saja terbesit di hati untuk mencari tahu tentang kriteria wanita idaman dari suaminya.


Bibi Nunung tampak berpikir sejenak,kemudian tersenyum lalu bersuara,"Pernah....,dan puncaknya dua tahun lalu,nona."mencoba mengingat-ingat kembali masa itu.


Melemparkan ekspresi yang berubah-ubah dan seketika menjadi sedih,"Itu dengan calon isterinya,mereka dijodohkan oleh orangtua dan tuan muda dengan senang hati menerimanya."


Hilya tertegun mendengar pernyataan bibi Nunung.Itu berarti Danang nyaris menikah.Lalu kenapa tidak jadi menikah,itulah yang menjadi pertanyaan utamanya.


Tiba-tiba bayangan dua wanita masa lalu Danang yang pernah ia pergok bersama Danang itu bergelayut indah di pelupuk matanya,"Apa dua orang itu ada hubungannya dengan cerita bibi Nunung?"Lebih tepatnya bergumam pada diri sendiri.Masih untung bibi Nunung tidak mendengar ucapannya itu.


"Tapi syukurlah sejak menikah dengan nona,tuan muda menjadi lebih betah di rumah."


Menurut bibi Nunung meski banyak kurangnya saat awal menerima krhadiran Hilya,akan tetapi nilai positifnya adalah Danang nyaris tidak pernah keluar rumah di malam hari,apalagi sampai menginap dan tidak pulang ke rumah.


"Jadi menikahkah dia,bi?"mengerutkan kening,"Kata maaf sebelumnya sudah ia layangkan kepada wanita paruh baya tersebut,agar tidak menimbulkan salah duga yang tidak ia inginkan.Jikalau ya,lalu pergi ke manakah wanita beruntung yang telah membuat hati Danang terpaut itu sekarang.


..


Sementara itu di sebuah perumahan minimalis,Danang menghentikan putaran roda mobilnya di pelataran parkir.Beberapa saat kemudian,perlahan pintu mobil itu dibuka dan ditutup kembali.


Setelah berturut kaki jenjangnya memijak ke permukaan bumi,membawa langkah pendeknya menuju ke pintu rumah,yang di sana sudah ada seseorang tengah menanti kehadirannya dengan tatapan tajam nan sangar.


"Sudah kuperingatkan,jangan coba-coba memancing amarahku."Gelegar suara seseorang yang tidak lain adalah sang kakak ipar,Helmy Afindra.


Danang melepas sebuah helaan napas yang panjang,"Setidaknya,biarkan aku masuk dulu,"ucapnya datar.


Kebiasaan Helmy jika sedang diliputi amarah,maka ia pasti akan mengabaikan tata krama sopan santun yang telah diterapkan oleh keluarga Abimanyu yang santun dan beradab.


Danang sengaja mendatangi kediaman kakak iparnya itu lantaran sang kakak ipar yang menghubunginya pada saat ia masih di kantor.


.....


Bersambung....


Teman-teman maaf lelet lagi....,masih ada urusan yang membuat waktu author tersita dan kurang fokus...terima kasih sudah setia like dan komen...luv u all.


🤗🤗🤗