I Need You

I Need You
Cinta yang Terasa Asing



Malam harinya di jalanan sepi, sebuah mobil mewah mendadak menghentikan laju kendaraan tepat di tepi jurang yang dalam. Seorang wanita muda dengan napas tersengal-sengal bergegas turun dari mobil dan membuka pintu belakang dengan terburu-buru.


"Sial!!" umpatnya dengan pandangan mengelilingi. "Di mana mereka?" Tangannya sigap menekan tombol ponsel demi menghubungi seseorang. Namun, tidak ada jawaban dari seberang. Terpaksa dia melakukan sendiri pekerjaannya. Susah payah mengeluarkan seseorang dalam keadaan tidak berdaya dari dalam mobil. Hingga beberapa pria sangar bergegas mendatanginya.


"Woi! Buruan!" pekiknya kesal.


"Siap, Bos!" balas empat pria sangar serentak.


"Bereskan dia di jurang itu tanpa jejak apapun!" titahnya masih tersengal.


"Baik, Nona Dinda."


"Ck! Ck! Ck! Denis, Denis. Beraninya bermain-main denganku," tuturnya tersenyum iblis sembari memeragakan gerakan mencuci tangan. "Kalau saja Wayan Group itu benar-benar milikmu, maka nasibmu tidak sesial ini," gumamnya menyesal.



Esok harinya, Prisil Amanda sudah lebih awal mendatangi apartemen milik Dimas sebelum yang lain menunjukkan batang hidung. Senyum tak acuh menghiasi penampilannya yang khas bar bar.


"Kopi pagi!" seru Danang tiba-tiba muncul dengan penampilan serba wangi. Melompat ke sofa tempat di mana Prisil sedang duduk berselonjor. "Awal-awal udah cantik aja!" guraunya mencubit pipi Prisil. Gadis itu menepis dengan wajah memerah.


"Ngapain cubit-cubit. Emang kita temenan?"


"Ih! Cakep-cakep galak. Alamat perawan tua, lho!"


"Biarin."


"Papa Danang ini kalau becanda suka kelewatan!" usik Hilya yang baru muncul mengambil posisi duduk berhadapan dengan suaminya, disusul Dimas dari belakang masih dengan wajah khas baru bangun tidur.


"Candanya Amanda lebih kelewatan." Ikut melompat ke sisi sambil mengacak gemas rambut Prisil. "Pakai temuin kakak dengan Vania segala," tambahnya mengejek. Prisil menepis lengan Dimas.


"Serius, nggak sengaja."


"Huu ... trikmu nggak mempan," balas Dimas dengan melambai-lambai telapak dan jemarinya ke bawah.


"Dia tidak sedang bercanda, Bang!" Joshua yang baru datang segera bergabung. Wajah Dimas berubah seram. Sementara Danang hanya melempar tatapan datar.


"Silakan duduk, Joshua. Kupikir kau betah di Kota Dam." Hilya mencairkan suasana. "Rupanya Kota K lebih dari segalanya." Joshua tersenyum miring.


"Akan semakin betah kalau ada cewek manja keras kepala ikut ke sana," balasnya santai. Danang maupun Dimas hanya bergeming sementara Prisil melirik tanpa ingin mencerna ucapan Joshua. Hilya tertawa kecil.


"Kalau Tuan Seniman punya niat baik, kenapa tidak?" Sedikit basa-basi berhasil membuat suasana menjadi lebih kondusif hingga pembahasan mengenai tujuan utama kedatangan Joshua demi meminta maaf kepada Hilya dan juga Prisil Amanda berjalan alot.


"Maafkan aku, dan selamat atas kehamilan pertamamu," ujar Joshua saat ia mendapat kesempatan berbicara empat mata dengan Hilya.


"Terima kasih, Joe."


"Aku menyesal, Hilya. Gara-gara kesalahan itu, hubungan persahabatan kita renggang. Nuha juga menjauhiku. Apalagi Prisil sampai membencimu," terangnya menyesal. Hilya manggut-manggut.


"Sudah, jangan dipikirkan lagi. Aku sudah memaafkan sejak lama,."


"Semoga kau bahagia kedepannya."


"Terima kasih. Mungkin setelah ini, aku tidak akan pernah kembali lagi ke Kota ini untuk selamanya," lirihnya dengan tatapan menerawang. Hilya peka pada perasaan Jashua saat itu. Diliriknya Prisil Amanda yang tengah berbaur ria dengan kedua sepupunya di kumpulan terpisah dengan dia dan Joshua. Gadis itu tengah mengutarakan kekesalannya kepada Danang dan Dimas secara bergantian. Ada senyum, canda, tawa, sedih dan juga air mata di sana.


"Kau tidak ingin bergabung di sana?" Joshua mengalihkan perhatiannya. Hilya menggeleng.


"Biarkan mereka berbicara antara kakak dengan adik," balasnya kikuk.


"Kau mulai menyukainya?" Kali ini giliran Joshua yang salah tingkah. Hilya menepuk pundaknya, "Lekas perjuangkan dia sebelum semuanya terlambat."


Sementara itu, di sisi yang berbeda, Danang mengawasi pembicaraan istrinya dengan tatapan lekat. Joshua yang menyadari itu hanya bisa tersenyum kecut.


Saat berpamitan pulang, Prisil meminta waktu untuk berbicara dengan Hilya. Keduanya mengambil posisi duduk di taman belakang.


"Maafkan, aku." Prisil berucap datar. Tangannya menyodorkan sebuah bungkusan kepada Hilya. "Anggap ini sebagai permintaan maaf dariku." Gadis itu tersenyum kecil.


"Lupakan saja. Terima kasih atas pemberian ini."


Prisil mengangguk dalam hening.


"Aku sudah mendengar semuanya tentang keluargamu dari Danang. Jadi jangan terlalu merasa bersalah. Kau punya hak untuk meminta kebahagiaan," ujarnya dan Prisil tampak tersenyum getir.


"Aku bahkan lupa bagaimana caranya berbahagia."


"Jangan berkecil hati. Allah tidak akan memberi ujian di luar batas kemampuan hamba-Nya." Dia begitu paham permasalahan gadis yang terlahir dari keluarga broken home itu. "Semoga suatu saat kau juga mendapatkan kebahagiaan itu."


"Terima kasih."


"Oh ya. Aku sangat berharap kedepannya kita berteman. Apa kau juga akan pergi selamanya meninggalkan Nuha yang lagi koma berjuang sendirian? Jangan bilang kau juga ingin pergi sama seperti Joshua." tanyanya lirih. Prisil tampak memampangkan senyum terpaksa.


"Aku tidak akan ke mana-mana, sampai masalah keluargaku tuntas," balasnya pelan. Dalam hatinya menyimpan secuil rasa sedih mendengar Joshua akan pergi selamanya. 'Tidak kah sedikit saja hatimu tergerak untuk memikirkanku, Tuan Seniman?' pikirnya nelangsa.



Tiga bulan kemudian, Hilya tengah sibuk menghibur Juna yang kondisinya sudah membaik di gazebo rumahnya. Bocah itu tengah lari-lari kecil sambil menyembunyikan wajahnya ke perut sang bunda kini mulai membuncit.


"Adek, jaga bunda dari dalam, ya? Abang Juna jaga dari luar. Biar bunda tetap sehat dan kuat!" pekiknya girang sambil melambai-lambaikan tangan. Senyum tulus menguar dari balik wajah polos yang sebelumnya nyaris kehilangan harapan hidup. Kini sudah kembali kepadanya.


"Sayang, jangan lari-lari. Nanti jatuh." Hilya selalu berada di samping Juna tanpa berniat meninggalkannya walau sehari. Kebahagiaan terpancar dari wajah ibu dan anak tersebut.


"Eheemm ...."


Dehem panjang seorang gadis yang cukup familir dipendengarannya. Hilya dan Juna sama-sama menoleh.


"Nut?"


"Tante Izz?"


Keduanya menyapa tidak percaya pada penampakan gadis berkursi roda yang mendekati mereka. Senyum haru menghiasi wajah keduanya. Dimas berada di belakang membantu mendorong kursi roda dengan senyum yang sama harunya. Juna menyerbu tubuh Nuha dan memeluknya erat. Air mata tampak membasahi kelopak keponakan yang tidak dikenali oleh tantenya ini.


"Anak manis, kenapa menangis? Apa kau punya hubungan denganku di masa lalu?"


"Punya Tante."


"Apa?"


"Cinta," jawabnya singkat. Jemari mungilnya sigap meraih tangan lentik gadis itu seraya berbisik, "Maafkan Juna, Tante."


"Kau menggemaskan sekali, Sayang." Nuha dengan perasaan asingnya tertawa renyah. Sambil mencubit pipi gembul keponakan yang asing di matanya.


Sementara itu, seorang pemuda jangkung yang berdiri di belakang kursi roda menatap getir pemandangan di depannya dengan rasa bersalah yang mendalam.


Bersambung ....