
Beberapa saat kemudian Hilya tampil sangat sempurna di mata Nuha Izz. Sahabatnya itu mengerjap beberapa kali memandang penampilan seorang Hilya Afiyana.
"Sukses pangling!Kau cantik sekali.Baru kali ini aku melihatmu begini."ucapnya tulus. Senyum semringah menghiasi wajah centil energiknya itu.
"Benarkah itu?Makasih Nut..,hehe."balas Hilya menggoda Nuha dengan sapaan manjanya 'Nut'.Senyum manisnya kian mengembang.
"Meskipun malam ini kau adalah tamu istimewanya Joshua tapi kau tidak boleh terlalu baik denganya Hil,"ucap Izz murung.
Kening Hilya mengerut..
"Ingat Hilaf,kau sudah tidak lajang lagi.Kau sekarang adalah calon isteri tuan monster ganteng menyebalkan itu."lanjutnya mengingatkan.Seketika itu juga membuat Hilya menjadi lemas.Senyum riang yang sempat menghiasi wajahnya kini sirna begitu saja.
"Ya,kau benar Nut."ucapnya pelan.
"Maafkan aku telah menyinggung perasaanmu Hil."decit Nuha Izz.
Hilya menggeleng pelan,"Disinggung ataupun tidak,kenyataannya memang begitu Izz."jawabnya lunglai.
"Ya,padahal aku sudah berusaha sebaik mungkin untuk membuatmu dekat dengan Joshua."ucapnya murung.
"Apa kau bilang Nut?"tanya Hilya bingung.
"Ups!"Izz mengatup mulutnya dengan jemarinya,tanpa sadar gadis itu keceplosan berbicara.Wajahnya memerah menahan tawa manakala melihat bola mata Hilya
yang membulat penuh.
Ya,sejak mereka bertiga bersahabat,Nuha menyadari jika Joshua memiliki perasaan kepada Hilya.Itu sebabnya ia selalu berupaya mempertemukan kedua sahabatnya itu.Dan ketika upayanya hampir saja berhasil tiba-tiba Hilya tertimpa skandal bersama pemuda yang dianggap monster olehnya itu.
Hilya baru mengerti mengapa tiga bulan belakangan ini Nuha Izz memang selalu menghindar ketika Joshua mulai ikut bergabung dengan mereka.Selalu saja ada alasan yang keluar dari mulut gadis itu untuk segera pamit duluan.
"Kau curang!Kenapa tidak berterus terang saja,aku akan mempertimbangkannya." serang Hilya,
"Joshua orang baik Izz,aku bahkan sudah berniat menerima dirinya.Tapi_"
"Sudahlah Hil,mulai detik ini kau harus belajar membuang perasaanmu uang baru tumbuh untuk Joshua itu."ucap Nuha dan berniat membantu Hilya untuk menjelaskan duduk masalah yang sebenarnya kepada Joshua namun Hilya menolaknya dan berjanji untuk menyelesaikan sendiri masalahnya dengan pemuda seniman itu.
Bedanya antara Hilya dan Joshua adalah, Hilya baru dikenalnya ketika mereka sama-sama kuliah di kampus yang sama dan mengambil jurusan yang sama pula. Sedangkan Joshua adalah sahabat masa kecilnya.
Dulu Nuha Izz,Joshua dan juga Prisil selalu menghabiskan waktu untuk bermain dan berkumpul bersama.Namun karena sifat Prisil yang manja dan mau menang sendiri akhirnya baik Nuha maupun Joshua memilih menjauhinya.
Hilya dan Nuha tiba di galeri seni lebih awal dari semua orang.Mereka sengaja datang lebih awal agar tidak menjadi pusat perhatian para tamu yang hadir.
"Malam Om."sapa Nuha Izz kepada tuan Farhan Haditama.
"Malam juga Izz,senang bertemu dengamu, di mana papa dan mamamu nak?"
"Sebentar lagi mereka akan kemari.Oh ya,perkenalkan ini sahabat saya.Namanya Hilya."balas Nuha tersenyum ramah.
"Oh baiklah,salam kenal Hilya,"ucap tuan Farhan mengernyit seraya memindai wajah gadis itu,beberapa kali dan cukup lama hingga akhirnya ia bersuara,
"Apa kau juga temannya Joshua?"tanyanya memicingkan mata.
Hilya mengangguk,"Ya,Om.Saya juga teman kuliah Joshua."
"Emm..,Joshua kemarilah."panggil tuan Farhan kepada anaknya.
Joshua mendekat,"Ya,papa.Ada apa_,eh cakep,kalian berdua sudah di sini rupanya." ucap Joshua tertawa tipis.
"Oh,jadi tamu istimewa ni ceritanya."ucap tuan Farhan menggut-manggut ria.
Joshua menanggapi usikkan sang papa dengan mengedikkan bahu dan merentang kedua tangannya.Sang papa tergelak melihat gelagat puteranya itu.
Joshua benar-benar terpukau dengan kecantikan Hilya Afiyana malam itu.
Terbukti dari cara tatapnya yang tidak berkedip dan berulang-ulang.Namun Hilya berusaha lebih profesional di sana agar Joshua tidak terlalu gencar mendekatinya.
Hilya mengedarkan pandanganya kepada para tamu yang kian berdatangan.Sorot matanya tiba-tiba bertembung dengan sosok keluarga yang tidak asing lagi di matanya.Tuan Imran dan nyonya Andin beserta putera dan puterinya itu kini tengah melangkah maju kian mendekat.
Hilya gugup.
Nuha Izz yang menyadari hal itu sengaja mencuit lengan sahabatnya itu,
"Hil,kau sambut mereka."bisiknya pelan.
"Kau saja,aku gugup banget Nut."balas Hilya semakin ciut.
"Jangan bikin ulah Hil.Ingat!Kau berada dalam ancaman si monster itu.Jangan memancingnya untuk menyakitimu di tempat ini."sergah Nuha Izz seraya berlalu.
Hilya pasrah.Kini ia merasakan atmosfir di sekelilingnya semakin mencekam.Dunianya terasa semakin sempit manakala mendapati sorot mata elang yang gelap pekat itu juga ikut menatap tajam ke arahnya,cukup dalam.
Tuan Imran yang berjalan di depan bersama dengan sang isteri tersenyum penuh makna memandang gadis yang berdiri menyambut kehadiran mereka.
"S_selamat malam tuan."sapa Hilya gugup.
"Malam juga nak."balas tuan Imran ramah.
"Kau juga ada di sini nak?"ujar nyonya Andin semringah sembari memegang tangan gadis yang masih terlihat gugup.
Hilya mengangguk,"Ya,nyonya."jawabnya yakin.
"Eeh,sudah diingatkan jangan panggil nyonya tapi ibu."ucap mama Andin meluruskan.
"Ah,ya.Baiklah bu."jawab Hilya salah tingkah.
Danang dan Dania yang berjalan di belakang kedua orangtuanya juga menghentikan langkah dan berdiri di sisi kedua orangtua mereka.Dania melemparkan senyum manisnya kepada Hilya sedangkan Danang hanya diam terpaku.
Pemuda itu memilih bungkam seraya memindai tubuh gadis itu dari ujung kepala hingga ke ujung kaki dengan tatapan dalam dan mencekam.Wajah orientalnya menampakkan seringai samar membuat Hilya seketika tertunduk dalam kegugupan yang kian membumbung.
"Papa,malam ini semua yang ada di sini sangat indah ya,baik lukisannya,maupun orangnya."decit mama Andin seraya mencolek pinggang sang suami dan mengajaknya agar melirik ke arah putera tercinta mereka.
Tuan Imran ikut mengangguk dan tersenyum ramah.
Dania yang tersenyum simpul ikut mengangguk ria.
"Ayo bu,mari saya antarkan kepada tuan Farhan Hadinata."ucap Hilya sopan,seraya mengarahkan jemarinya mempersilahkan keluarga itu berjalan maju dan Hilya memposisikan dirinya sebagai kompas.
Danang yang sedari tadi menyimak pembicaraan orangtuanya dengan gadis itu seketika mengernyitkan keningnya.Mencoba mencerna sesuatu dari ucapan yang baru saja dilontarkan gadis itu.
Keluarga tuan Imran berjalan mengkuti langkah Hilya sembari bercengkerama ria.
"Apa kau berteman dengan pemilik pameran ini nak?"tanya mama Andin memastikan.
Hilya mengangguk,"Ya,bu.Joshua adalah teman kuliah saya."jawab Hilya polos.
Mama Andin mengangguk mantap diikuti oleh papa Imran dan juga Dania yang berjalan disamping.
"Berarti kau satu semester dengan Joshua nak?"Tuan Imran menimpal.dan disetujui oleh gadis itu dengan sebuah penjelasan yang bersahaja dan meyakinkan.
Semua itu tidak luput dari penglihatan dan pendengaran Danang yang berjalan di belakang.
•••••
Bersambung...
Hai teman-teman,jumpa lagi.Terimakasih sudah mendukung karya fiktif ke dua ini. Semoga kita semua diberi nikmat kesehatan dan rezeki yang melimpah..amin..Tetap dukung jika berkenan.Salam semangat berkarya..
🤗🤗🤗