I Need You

I Need You
Perjalanan



Siang yang terik....,pantai timur pedalaman kota besar D.Mobil mewah edisi terbatas yang ditumpangi Hilya menghentikan lajunya di sebuah hotel megah.Danang keluar dari mobilnya dan melangkah pergi begitu saja.Sedangkan Hilya yang masih merasa syok dengan perjalanan kali ini memilih untuk menetap di dalam mobil.Gadis itu menggeliat membetulkan posisi duduknya seraya menghela napas panjang.Baru saja ia mencapai posisi enak,tiba-tiba pintu mobil dibuka oleh Danang.


"Hei,kenapa kau masih mendekam di sana?Cepat keluar!"sentaknya mengagetkan.


Meski enggan,Hilya menuruti saja titahnya karena tidak ingin membuat Danang lebih marah lagi.


Gadis itu mengekori langkah pemuda yang kian menjauh memasuki gedung hotel Puteri Daniah di mana hotel ini memiliki restoran yang selalu menjadi favorit keluarga Hilya jika berpergian ke kota D.


Ayah Hilya bernama bapak Haryadi sangat menyukai menu masakan laut yang disediakan oleh restoran ini.Selain enak,mewah dan harga yang terjangkau,kebersihan tempatnya ikut terjaga.Pemilik restoran hotel Puteri Daniah juga menjaga pola masak tradisional yang menjadi ciri khas dari restoran tersebut.Di tempat ini,Danang dan Hilya disambut ramah oleh para petugas yang melihat kehadiran mereka.


Setelah mendapatkan kunci,Danang segera beranjak menuju ke lantai tiga menggunakan lift.Hilya mengikuti langkahnya penuh was-was, ditandai dengan perubahan raut wajahnya yang kian memucat.


"Cepatlah,jangan terus-terus menyusahkan orang."ucapnya setelah berdiri tepat di depan pintu kamar VIP dan mendapti Hilya yang tertinggal jauh di belakang.


"Kau pikir aku ini asistenmu?Cepat bukakan pintu untukku!"serang Danang dengan tatapan menerkam.


"T_tapi....,kenapa harus ke sini?"gadis itu ketar-ketir meraih kunci dari tangan pemuda itu, lalu membukakan pintu untuknya.


Dalam pikirannya masih dibayangi perasaan takut yang kian menjadi. Ingatan saat mereka terjebak dalam satu kamar hotel waktu itu membuat otak kotornya terus bekerja.Gadis itu tiba-tiba merasa bergidik ngilu membayangkan andai kejadian mengerikan itu sampai terulang kembali.


"Kalau bukan di sini,lalu mau ke mana lagi?"sorot elang itu nyalang menerobos pupilnya,melesat hingga ke dasar hati bak sengatan listrik yang menyetrum sekujur tubuh gadis yang masih kelimpungan di depannya.


"Bukannya kita harus menuju ke rumahku?"ucap gadis itu polos.


Danang menyeringai,"Hhhh...,kenapa kau ingin sekali cepat sampai ke rumahmu hah?"


"Ah,ya.Aku tahu!Rupanya kau sudah tidak sabar ingin segera menikah denganku kan,"lanjutnya menyeringai licik.


"B_bukan begitu,apa tidak sebaiknya k_kita istirahat di luar,eh....,"ucapnya terbata-bata,


"ma_maksudku t_tidak di kamar hotel."lanjutnya tercekat.


Danang mendengus kesal,


"Jadi kau pikir aku senang istirahat sekamar denganmu?No,no,no!....,aku juga enggak sudi melakukannya,tapi ini terpaksa."pungkasnya sembari mendobrak pintu kamar dan segera masuk ke dalam dan membiarkan gadis itu mematung sendirian.


Hilya masih mematung.Gadis itu tidak sanggup melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam kamar yang pintunya masih terbuka lebar.Matanya berkaca-kaca menahan sebak di dada.Pikirannya bergelayut memikirkan nasib sial yang telah menimpa hidupnya.Andai dia tidak bertahan lebih lama di dapur restoran waktu itu,maka mungkin saja nasibnya tidak akan seburuk ini.


"Apa kau punya rumah di sekitar sini?"tanya Danang yang tiba-tiba muncul di balik pintu membuat Hilya sukses terjingkat keras.


Gadis itu menggeleng pelan,menahan rasa dongkol di hatinya.


"Ya,sudah.Apa susahnya dituruti saja?"lanjutnya sinis.


Hilya ragu.Kakinya serasa berat diangkat.Tangannya masih menggenggam erat kunci kamar hotel setelah ia berhasil membukanya tadi.Jemarinya semakin lincah memainkan tali sling bag yang menyilang di tubuhnya.Gugup.


"Cepat masuk,atau aku geret!"seru Danang mulai kehilangan sabar.


Sementara Danang yang sudah mulai mengambil posisi berbaring dan mungkin saja sudah terlelap, Hilya malah masih duduk berselonjor di sofa. Matanya mengedar ke seluruh ruangan.Mencari posisi nyaman agar tidak terlalu panik dan takut menghadapi situasi.


Dalam pikirannya sekarang hanyalah selalu siaga.Bagaimana agar ia bisa keluar dari ruangan tersebut jika memang sampai pemuda yang menurutnya seorang monsteri ini berbuat nekad dan sewaktu-waktu menganiaya dirinya.


"Mau sampai kapan kapan kau bertengger di sana?"


"Kemarilah tidur bersamaku.Bukankah ini pekerjaanmu,dan kau senang melakukannya?"cebiknya menyulut bara di hati gadis cantik itu.


Hilya bungkam,gadis itu tidak ingin melakukan perlawanan.Lama-lama lelah juga meladeni ucapan menohok pemuda bermulut cabe itu.Hilya memilih tetap duduk berselonjor seraya memainkan ponsel miliknya hingga bunyi bel dari petugas yang mengantarkan menu makan siang yang sudah di pesan oleh Danang.


Melihat menu masakan favorit yang biasa dipesan oleh sang ayah ketika mereka melakukan perjalanan ke kota,Hilya mendadak ngiler.Ingin rasanya segera mungkin mencicipi makanan itu, namun ia urungkan niatnya karena Danang masih belum mau beranjak dari rebahan ternyamannya.


Mana mungkin ia menikmati makanan pesanan orang lain sementara yang memesan saja belum menyentuhnya sama sekali.Hilya melipat kedua tangan di pinggang menahan lapar yang kian menyerang kampung tengahnya.


kruuk kruuk kruuukkk


"Makanlah,sebelum cacing-cacing di perutmu itu semakin mengamuk."decit pemuda yang tiba-tiba saja sudah berdiri disampingnya.Hilya hanya bisa diam dengan wajah yang memerah menahan rasa malu di hatinya.


"Habiskan makananmu,karena jika kau sampai sakit,orangtuamu pasti akan menyalahkanku."tambahnya ketus.


Hilya nyaris terpancing saat mendengarkan ucapan pemuda tersebut.Mana mungkin ayahnya yang begitu santun menyalahkan seseorang yang tidak melakukan kesalahan apa-apa.Apalagi orang yang belum ia kenal.


Ah,daripada memikirkannya,terus tidak bisa menikmati makanannya,akan lebih baik ia menerima kenyataan pahit dan nikmati saja makanannya sebelum sakit lambungnya benar-benar kambuh dan malah menyusahkan pemuda ini lagi.Hilya tidak sudi dirawat kembali olehnya.


Hilya menikmati makannya dengan lahap tanpa mempedulikan Danang yang sedang memperhatikan dirinya yang berlepotan makanan.Rupanya gadis itu sengaja membuatnya semakin sakit hati melihat gaya joroknya.


Terbukti Danang jadi tidak bisa menghabiskan sisa makanannya lantaran dongkol dengan aksi Hilya yang diam tapi melawan dirinya.Nasi yang baru satu sendok masuk ke dalam mulutnya tidak jadi ia lanjutkan,lantas segera meraih air minum dan meneguknya begitu saja lalu beranjak dari sana.Sepertinya ia bakal melanjutkan tidur siangnya.


Hilya sedikit lega dengan pembalasan dendamnya.Setidaknya secara tidak langsung ia bisa memberitahu kepada pemuda itu bahwa dirinya juga manusia biasa yang mempunyai perasaan.Kemenangan karena telah berhasil mengerjai Danang ini,seharusnya'puas'lah yang ia rasakan,namun entah mengapa justeru ia berbalik menyesali perbuatannya.


'Kenapa aku yang jadi merasa bersalah?'gumamnya pelan.


Usai makan siang,Hilya yang kekenyangan tidak bisa menahan rasa kantuk yang mendera.Sisa makanan yang belepotan,masih menghiasi wajah tirusnya dan belum sempat ia lap dengan benar.Cukup disapu seadanya dengan tangan dan akhirnya iapun tertidur di sofa dalam kondisi bibir yang masih penuh dengan sisa minyak.


Danang yang sedari tadi menyaksikan dari kejauhan hanya bisa menggeleng-geleng seraya tersenyum sinis.Apa yang bisa ia lakukan selain daripada menyiksa hati gadis yang menurutnya telah mengacaukan hidupnya itu.Hari-harinya rusak hanya gara-gara mengurus seorang gadis liar seperti dia.


Perlahan pemuda itu melangkah keluar kamar hotel untuk mencari makanan sekedar untuk mengganjal perut.Karena menurutnya Hilya yang liar telah merusak mood makannya.


•••••


Bersambung...


🤗🤗🤗