
Happy reading 😍📖
Dimas baru akan menyapa Nyonya Amanda yang sedang duduk bersama dengan seorang pemuda yang rada samar di dalam ingatannya. Namun pergerakannya justeru terhambat oleh sapaan Nyonya Andin dari kejauhan, "Nak Dimas!" yang berjalan kian mendekat lantas menanyakan sesuatu padanya.
"Apa Kau melihat Hilya lewat di sekitar sini?"
"Tidak, Bibi. Aku baru saja sampai," menggeleng pelan, "Memangnya Hilya ke mana, Bi?" lanjutnya menyugar rambutnya yang legam.
"Tadi usai berbicara dengan dokter, Hilya keluar dari ruangan Juna tanpa berbicara sepatah pun. Dan sekarang ia belum muncul. Bibi mulai mencemaskan keadaannya."
Dimas mematung. Bukannya tidak ingin mencari tahu, akan tetapi keberadaan dirinya di sana bukan tentang musibah yang menimpa keluarga Danang, melainkan kehadirannya saat itu justeru ingin menemui sepupunya yang sedang terkena masalah saat menangani kasus kecelakaan tunggal seorang wanita yang tanpa sengaja menabrak lapak-lapak warga dalam keadaan mabuk berat.
Flash back on
Saat dalam perjalanan menuju ke kantor, Dimas melewati jalur ramai macet yang kebetulan terjadi akibat sebuah kecelakaan tunggal yang baru saja usai. Entahlah, kabarnya seorang wanita muda kurang kerjaan yang mengalami mabuk berat mengemudi mobilnya lalu lepas kontrol dan menabrak lapak-lapak warga yang berjejer di pinggir jalan. Akibatnya jalur lalulintas terpaksa dihentikan untuk sementara. Dimas sengaja turun saat di depan sana ada petugas ambulance yang tengah sibuk membopong wanita babak belur ke dalam mobil ambulans.
"Kakak Dimas Yudhistira!" sayup menggema suara seorang gadis di tengah hiruk-pikuk warga. Samar di pendengaran juga samar di memori. Gadis rada centil itu melambaikan tangan ke arahnya.
Demi menutupi rasa penasarannya, ia memilih mendekati gadis tersebut sesaat setelah mobil ambulans meluncur pergi. Namun di saat yang bersamaan, si gadis malah ditarik-tarik oleh beberapa warga yang menuntut tanggung jawab padanya akibat kecelakaan tersebut.
"Salahmu menyuruh gadis itu dibawa ke rumah sakit," protes salah satu warga yang mengamuk.
"Seharusnya Kau membiarkan dia di sini sampai keluarganya datang," tambah bapak yang lainnya.
"Kau harus bertanggung jawab!" timpal seorang ibu yang lain.
"Kalau tidak kami akan melaporkan kau ke polisi," lanjut yang lainnya lagi.
Dimas menyaksikan keberanian gadis yang dituding tersebut membalas tantangan mereka. Ia sengaja menyentil soal rasa kemanusiaan lewat pidato singkat yang berapi-api lalu mengambil tindakan heroik dengan memberi segepok uang tanpa ragu. Anggap saja sebagai ganti rugi kepada para warga tersebut.
"Adik, apa yang Kau lakukan?" tanyanya bingung, "Memangnya Kau siapanya pelaku?" Sesungguhnya Dimas tidak begitu tertarik perihal kronologi kecelakaan tersebut karena menurutnya itu urusan yang berwajib. Namun lebih kepada rasa penasaran terhadap gadis yang begitu luwes menyebut namanya.
"Menolong kakak yang tidak berdaya tadi. Aku bukan siapa-siapa. Tapi biarkan saja kutolong, Kakak," ujarnya seraya membalikkan tubuh memandang lurus wajah Dimas yang masih bingung, "Paling tidak sampai ada keluarganya yang siap mengambil alih menangani musibah ini." jelasnya yakin.
Lagi-lagi gadis itu tersenyum manis ke arahnya, "Ya, daripada dia dikeroyok dalam keadaan tidak berdaya?" celotehnya penuh semangat. Dan kini ia baru bisa mengenal secara jelas wajah adik sepupunya itu di sepersekian detik.
Saat menyadari dengan siapa ia berbicara, Dimas pun geleng-geleng, "Ck!" decaknya pelan, "Amanda, Kau rupanya?" tuturnya kaget seraya mengacak gemas rambut panjang sang gadis.
Gadis itu kemudian terkikik geli menatap ekspresi Dimas yang tampak begitu lucu, "Lagian Kakak, melihatku seperti melihat setan saja."
"Itu karena ..., ck! Kau saja yang tidak pernah lagi main ke rumah," cetusya membela diri, "Lagi pula Kau sudah dewasa, jadi sulit mengenalmu, dik." Dimas menutup kalimatnya dengan pandangan menerawang.
"Ya, ya. Terakhir lima tahun yang lalu, kan?" tebak Amanda setuju.
"Ayolah, Kak. Bantu Aku mengurus pasien wanita tadi," rengeknya manja.
Dimas merenung sejenak. Lalu mulai bersuara, "Cepat Kau susul dia, segera hubungi keluarganya." melingkarkan lengannya ke bahu sang adik, "Kakak masih ada urusan penting di kantor." jelasnya meyakinkan, "Kakak janji akan menyusul ke sana. Sampai besok ketemu di rumah sakit." lanjutnya seraya menepuk pelan punggungnya.
"Aaa, maunya sekarang...," rengeknya lagi.
Dimas tersenyum mengacak rambut sang gadis, "Gegara aksi heroikmu yang bikin Kakak harus turun dari mobil ini," seraya memiringkan arloji yang melingkar di tangannya, " Akibatnya waktu Kakak semakin mepet, anak bandel." Dimas mendelik gemas.
"Ya, ya, ya. Aku maklum." Keduanya pun tertawa serempak lalu memutuskan akan bertemu kembali esoknya.
Flash back end.
Dan hari ini beberapa menit yang lalu, ia sudah datang untuk menemui sepupunya itu. Tapi belum bertemu langsung dengannya. Itu karena sang adik masih sibuk mengurus keperluan admistrasi untuk wanita yang mengalami kecelakaan tersebut. Karena menurutnya sampai detik inipun ia belum berhasil menghubungi keluarga pasien.
Kakak datang saja ke ruang tunggu kamar ICU xxx, Aku akan segera temui Kakak. Kita gantian jaga pasiennya, Aku mengantuk berat. Kegerahan juga, mau ganti baju.
Terdengar rengekan manja Amanda di balik ponsel yang baru saja berdering. Lalu diputuskan sepihak oleh yang bersangkutan. Sejurus kemudian, benda pipih itu berderit lagi menyampaikan pesan dari aplikasi hijau. Amanda mengirim foto dirinya tengah berdiri di depan pintu ruang ICU yang dimaksud.
"Dasar bocil manja! Dari dulu nggak pernah berubah." kekehnya gemas seraya menyoroti foto yang dimaksud.
Dimas bangkit dan berjalan menuju ke ruang tunggu di mana dirinya mendapati Amanda sedang memasuki kamar pasien yang ditolongnya. Untuk beberapa menit ia menunggu di luar. Namun di sepersekian detik, Amanda belum juga muncul.
"Lama sekali si bocah. Katanya lelah? Apa Aku masuk saja ya? Biar dia cepat istirahat." walau bagaimanapun ia masih punya perasaan iba pada gadis manja tersebut. Lalu iapun berinisiatif untuk membuka pintu kamar tersebut lalu meminta Amanda segera keluar dari sana.
Ceklek
"Amanda, kenapa Kau lama sekali?" desisnya gusar. Namun pergerakannya tertahan manakala ia mendapati sosok pemuda yang cukup dikenalnya tampak mematung di depan sana. Dialah Joshua Adie Farhan. Mantan calon adik iparnya.
Tatapan tajam Dimas cukup menjelaskan kalau ia ingin berkata, "Kau di sini?" seraya menyapu pandangan ke ranjang pasien, sudah cukup menjelaskan. Ada Vania terbaring kaku di sana.
"Kejutan apa ini?" ujarnya sarkas. Sontak pemuda itu menggenggam tinjunya sendiri dengan rahang mengeras. Rasa sakit mendera sekujur jiwanya akibat luka lama yang tertoreh. Kecewa, dendam berbaur menjadi satu. Andai ia punya hak atas sebuah pengadilan, maka tentunya saat itu juga ia bakal menghukum pasien tidak berdaya itu. Namun semua di luar kendali manusia biasa. Haruskah ia tersenyum puas dengan keadaan ini, atau malah sebaliknya?
"K_kakak ...," ujar Amanda gugup. Upayanya mencairkan suasana tidak berhasil mematahkan kebungkaman Dimas.
Hanya kerlingan tajam menyertai sorot elang pemuda klimis itu seakan meminta penjelasan kepada sang adik, "Amanda, ada apa ini?" seraya menaut kedua alisnya seakan menuding, "Kau pasti menjebakku," cukup ekstrem dan menohok.
Amanda kalap. Mendadak tatapannya membola. Dan terpaku di sekian detiknya, namun terakhir ia berhasil mengontrol kepanikannya, "M_maaf, Kak. I_ini tidak seperti yang ada di pikiran Kakak," sanggahnya menautkan sepuluh jemari, "Oke, akan kujelaskan." Amanda berdalih memohon pemakluman.
"Tapi tidak di sini," tambahnya memelas.
Dimas berupaya memaklumi permintaan Amanda meski di hatinya memberontak. Sejenak ia mendengus kesal, "Baiklah." mengerling singkat ke arah sepupunya itu, "Kuberi Kau waktu satu jam dari sekarang," ucapnya pelan namun tegas sembari melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Siap melangkah penuh wibawa.
Amanda menarik napas lega. Telapak tangannya naik meraba seonggok daging mentah yang berdenyut mengencang. Menatap punggung sang kakak yang kian menjauh. Membawa langkahnya menuju ke ruang rawat inap yang lainnya.
"Kak Dimas mau temui siapa ya?" batinnya bingung.
•
Menjelang sore, Danang sengaja mendatangi rumah sakit Maulana Medika lebih awal demi bisa mengajak isterinya agar pulang. Mengingat kondisi kehamilan sang isteri yang patut dijaga. Sejenak, pria itu terpana di depan pintu. Memikirkan cara yang paling tepat untuk membujuknya.
"Perlu istirahat yang cukup," ucapnya pelan, "Demi kesehatanmu dan bayi kita," setengah berbisik ke telinga sang isteri, sesaat setelah ia berhasil memeluknya dari belakang.
Wanita itu menghela napas berat, "Bagaimana dengan Juna?" menatapnya memelas, "Aku tidak ingin meninggalkannya lagi," dengan mata berkaca-kaca.
Danang tersenyum membelai pucuk kepalanya, "Ada Ibu dan bapak yang jaga." sudah ia duga sebelumnya, "Papa, Mama, dan Dania juga," sang isteri pasti ingin enggan pulang. Bukan tidak mungkin jika Hilya bersikukuh untuk tetap bertahan di sana demi sang anak, maka sudah menjadi tugas dan kewajibannya untuk bersabar dan memberi masukan positif pada wanitanya itu.
"Sayang, Aku sudah berjanji," jedanya. Menengadahkan wajah menantang bola mata sang suami, "pada diriku sendiri. Untuk tetap bersamanya," lanjutnya meminta pemakluman. Lelah memancar nyata dari kelopak matanya yang kuyu.
"Juna bakal sedih jika melihat kondisimu begini," menyejajarkan posisi tubuhnya dengan wanita yang memilih bungkam, "Ingat. Dia seperti ini pun karena ingin Bundanya bisa menjaga calon adik bayinya."
Juna itu masih anak-anak, tapi pengorbanannya sudah sangat besar kepada sang bunda membuat wanita itu tiada hentinya terisak. Pola pikirnya bahkan melebihi standar umurnya. Ini tidak adil, pikirnya sendu.
"Allah pasti punya rencana yang indah buat Juna." bisik lagi sembari tersenyum dan hanya dibalas dengan anggukan samar. Seakan memahami tatapan diam isterinya, Danangpun menggandeng bahu wanitanya untuk segera keluar dari sana dan mendapati keluarga besarnya sudah memadati ruang tunggu.
"Sayang, Mama sangat mengkhawatirkan keadaanmu." ujar Nyonya Andin jelas menginginkan hal yang sama agar menantunya segera pulang.
"Ya, Ma. Aku pulang sekarang," jawabannya pelan.
Mama Andin tersenyum lega, "Gitu dong, sayang. Oke. Jangan lupa makan yang bergizi dan istirahat yang cukup, ya," menangkup kedua bahunya "Umh! Sayang Mama, sayang anak," mencium keningnya, lalu telapak tangannya turun mengelus perut sang menantu yang masih datar.
Dua sejoli itupun bergandengan tangan mengambil langkah pelan menyusuri koridor rumah sakit Maulana Medika. Sembari bercengkrama di sepanjang langkah. Samar-samar menyadari ada beberapa sosok manusia yang nyaris bersitegang di ujung area parkir. Dimas, salah satunya. Sisanya seorang gadis dan seorang pemuda.
Danang dan Hilya yang semakin dekat, saling pandang.
"Dimas?" seru Danang kaget. Lebih kaget lagi saat mendapati pemuda berkaca mata yang pernah dipukulnya beberapa waktu lalu. Belum lagi gadis kecil yang menghilang selama bertahun-tahun dari pandangannya lantaran aksi mogok dan kini telah beranjak dewasa.
"Amanda?" gumamnya pelan.
Sementara Hilya yang tadinya sempat memicing sejenak, mendadak membulatkan matanya saat mendapati Prisilia Amanda yang sangat membenci dirinya kini berada dalam rangkulan erat tangan Dimas yang nyaris menghantam wajah pemuda yang tidak lain adalah Joshua. Kalau dulu Danang memukul Joshua DNI dirinya, lalu kini Dimas hendak memukul pemuda itu demi gadis yang ia kenal sebagai Prisil, whatt?
"Ada apa ini?" timpalnya bingung.
Menyadari kehadiran mereka, ketiga anak muda itu serempak ingin pergi.
"Tunggu!" sentakan tegas seorang kakak yang tidak terima, "Dimas, ada apa ini? Amanda, jelaskan." menekan ucapannya seraya mengerling tajam ke arah Joshua yang lebih memilih menundukkan wajahnya.
Prisilia Amanda memandang Danang dan Hilya secara bergantian dengan tatapan kurang suka terlebih kepada Hilya. "Hadeh! Peri sempurna pun muncul." sarkasnya miring. Melengos sebal kemudian membuang kasar pandangannya, "Sial apa Aku hari ini harus bertemu dengan mereka?" gumamnya pelan namun masih bisa didengar oleh Danang yang berdiri tidak jauh darinya.
"Enggak pernah berubah, ya," celetuk Danang tersenyum gemas menatapnya.
"Lagian Kakak, ngapain bawa-bawa cewe rese kayak dia ke hadapanku?" protesnya tidak terima.
"Ini tempat umum, siapapun bisa lewat." menyoroti wajah gadis yang sebenarnya masih merajuk padanya gara-gara ia menegurnya saat dipergoki memasuki area club malam bersama salah seorang rekan pria. Karena si pria melawan, akhirnya Danang terpaksa memerintah anak buahnya untuk melakukan kekerasan fisik pada si pria hingga kapok. Amanda yang waktu itu sangat labil karena ditinggal sang ayah, bukannya berterima kasih, malah memilih mogok bicara dengannya. Namun Danang memaklumi keadaan gadis yang terlahir dari keluarga broken home tersebut.
"Halah! Dianya saja yang lagi mencoba peruntungan mendekati cowok mapan seperti Kakak." ketusnya menyulut emosi, "Orang dia matre. Aku enggak suka ya, dia berhubungan dengan kerabatku."
"Jaga ucapanmu!" tekan Danang tegas, "Apa Kau tahu, dek? Orang yang Kau sebut matre itu isteriku," lanjutnya menekan di kata isteri. Membuat gadis itu terkesiap menunduk tajam wajahnya.
Di saat yang bersamaan, Hilya sukses mematung menatap wajah gadis bar-bar yang selama ini yang ia kenal sebagai Prisil. Pikirannya terusik. Gadis itu tampak begitu luwes dan manja di depan suaminya dan juga Dimas. Jadi mereka keluarga?
Sementara itu cekcok antara Dimas dan Joshua masih saja berlangsung.
Dimas menggeram, "Enggak kakak, enggak adik sama-sama pecundang!"
"Ya, Aku mengaku salah. Tapi Aku juga punya hak untuk memperbaiki hubungan ini."
"Hubungan mana yang Kau maksud? Lalu siapa yang ingin Kau bujuk? Aku? Amanda? Ataukah Danang?"
"Semuanya bukan. Tapi dia ...," ucap Joshua menunjukkan ke arah Hilya, "calon Kakak iparku." tambahnya merendahkan suara.
"Whatt??" baik Dimas, Amanda maupun Danang sama-sama terkesiap mendengar kalimat terakhir pemuda berkaca mata itu.
"Apa hubungannya?" sarkas Dimas.
"Dia sudah gila." decih Amanda.
"Ya, karena Aku telah melakukan kesalahan terbesar di dalam hidupku dengan mencoba merusak pernikahan gadis ini dengan suaminya." Joshua menjeda ucapannya, "Keserakahan telah membuatku buta mengejar gadis itu lalu tega mengabaikan gadis lain seperti Amanda yang begitu amat mencintaiku."
"Aku gelap mata. Aku minta maaf. Maafkan aku Hilya. Maafkan Aku Amanda." tambahnya penuh penyesalan.
Hilya hanya mengelus dada, sementara Danang sudah siap dengan pertanyaan lanjut. Sorot elangnya memerah. Kali ini lebih tajam dan membunuh. Pada Joshua yang tampak menciut.
"Sudah kuperingatkan." tegasnya, "Masih berani juga Kau menyambangi keluargaku." mengeraskan rahangnya. Sementara Hilya gesit menangkup erat lengan sang suami demi menahan tindakan lebih jauh lagi.
Melihatnya, Dimas sigap mengambil alih situasi, "Sudah, sudah. Hanya perlu suasana yang tepat untuk membahas ini."
Matanya mengedar ke arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Lalu kembali menengadahkan wajah menatap sang Kakak, "Bro! Bukankah Kakak ipar perlu waktu untuk istirahat?" mencoba meredam suasana yang memanas, "Pulanglah, biar Aku yang mengurus si bocah tengik ini." tambahnya meyakinkan.
"Ee, tunggu sebentar, Bang." tahan Joshua, "Aku datang dengan niat baik." tambahnya lagi memberanikan diri.
"Beri Aku sedikit waktu." melirik singkat ke arah Hilya, sebuah sinyal yang cukup dipahami oleh Danang.
"Isteriku kelelahan, tidak punya waktu untuk berbicara denganmu." balasnya datar.
"Tolong, Bang. Aku tulus ingin meminta maaf." bujuknya memelas.
Lewat beberapa pertimbangan, Danang pun akhirnya mengalah, "Tidak sekarang." Ia setuju mengatur pertemuan dengan pemuda berkacamata tersebut, "Besok jam delapan pagi di apartemen milik Dimas," ungkapnya lugas.
"Baik, Aku setuju," jawab Joshua sesaat setelah mendapat kerlingan bermakna dari sang pemilik apartemen.
Setelahnya, mereka pun memutuskan berpisah. Dimas dan Amanda akan pulang dengan kendaraan masing-masing.
"Ingat Amanda, Kau berhutang penjelasan padaku." Dimas mengacungkan telunjuknya. "Jadi besok Kau pun ikut," tambahnya lagi seraya beranjak.
"Baiklah, Kakak Dimas yang tampan," jawabnya mantap menatap punggung sang Kakak yang kian menjauh, "Aku tidak percaya ini, bagaimana mungkin Aku bisa melupakan kalau Kak Vania adalah mantan beracun nya Kak Dimas? Aku malah mengajaknya menolong Kak Vania. Ya, Tuhan ..., berilah hamba kekuatan ...," batinnya gusar. Membayangkan amarah Dimas yang siap meledak saja sudah membuatnya bergidik ngilu.
Prisilia Amanda melangkah gontai. Bibirnya tiada henti berkomat-kamit. Semoga ada solusi. Otaknya mulai berputar memastikan ada solusi jika memang Dimas marah besar. Pikirannya berkecamuk ria dan teringat sesuatu ...
"Eh! Tapi tunggu dulu. Tadi si seniman gila itu bilang apa? Hilya calon kakak iparnya?" desisnya bingung, "Apa dia mulai jatuh cinta pada Kak Dania?" lanjutnya berupaya mencerna.
Kian jauh ia menghitung jarak, "Huh! Dasar si gila bayang. Aku yang cantik gini diabaikan. Giliran cakep-cakep punya orang malah diembat ...?" semangatnya tiba-tiba drop, "Tapi Kak Dania sudah punya pacar nggak ya? Masa bodoh. Ah! Bukan urusanku," gumamnya seraya membanting kasar pintu mobil sesaat setelah tubuhnya berhasil mengambil posisi duduk di kursi kemudi.
••••
Bersambung....
🤗🤗🤗