
Happy reading 😍📖
Hilya memejamkan mata penuh frustrasi.Sesaat yang lalu,ia mengecek ponsel miliknya,dan mendapati tulisan membentuk kalimat angker yang tertera di layar siaga,lima panggilan tak terjawab dari 'My Hubby'.
"Tamat riwayatmu,Hilya!"Gerutunya stress sembari meninju angin.
Jemarinya gemetaran membuka notifikasi pesan masuk dari sang suami.
"Ada kendala?"
Hilya membalas chat Danang dengan tangan gemetaran.Rasa cemas menggelayuti hati dan pikirannya.
"Maaf,baru buka ponsel."
"Aku baik-baik saja,hanya sedikit lelah."
"Istirahatlah.Aku baru saja check in....,tadi,mampir ke kantor dulu,agak lama.Mau bersih-bersih diri dulu."
"Oke,jangan lupa istirahat yang cukup."
"Baik,dan kau juga,sayang."
"Oke,terima kasih,sayang.
Hilya menghela napas lega.Baru saja ia berpikir suaminya akan meneleponnya lalu marah-marah dari seberang sana dengan gaya monsternya yang kumat.Namun nyatanya ia salah besar.Danang tidak mempermasalahkan keterlambatannya memberi kabar.
"Ah,aku bahkan sudah berprasangka buruk terhadapnya."Hilya bergumam lirih.Kali ini ia benar-benar merutuki keadaan yang telah membuat dirinya terjebak di kamar pribadi seorang pasien yang tak dikenalnya.
Lalu pergi ke mana pasangan paruh baya yang menghilang sejak pagi tadi,membuat Hilya tertanya-tanya risau.Hatinya semakin mencemaskan keadaan di rumah.Juna sudah ditinggalkan sejak pagi sebelum matahari terbit sempurna.
"Ke mana,mereka?"Sementara bibirnya komat-kamit resah,kaki jenjangnya siap melangkah ke arah pintu siap mencari asisten rumah tangga yang melayani kebutuhannya sejak pagi.
Niatnya untuk membanting pertanyaan yang sudah menumpuk di kepalanya.
"Mau ke mana,nona?"Suara khas seorang asisten patuh kepada tuannya membuyarkan lamunan manakala daun pintu yang baru saja dipegangnya sudah terbuka lebih dulu oleh orang yang memulai pembicaraan dengannya.
"Mau pulang,"jawabnya singkat.Niat awalnya ingin bertanya soal pasangan paruh baya yang tidak kunjung datang namun seketika ia urungkan begitu saja,mengingat saat ini hari sudah beranjak gelap.
"Maaf,tapi nona harus menunggu sampai mereka kembali....,tuan dan nyonya berpesan bahwa hari ini mereka akan menginap di luar."
"Masih ada urusan penting yang harus diselesaikan di sana."
"Kapan,mereka mengatakan itu?"
"Pagi,sebelum mereka berangkat nona."
"Kenapa tidak bilang dari tadi?"Padahal kalau sejak tadi ia sudah mengetahui hal ini,maka sudah barang tentu ia akan segera mengabari dan mengarahkan bibi Nunung untuk lebih fokus memberi alasan kepada Juna.
"Maafkan saya,nona....,dan bapak juga berpesan jangan pergi ke mana apalagi sampai mengajak orang lain kemari."
"Lalu kapan mereka akan kembali?"
"Kemungkinan minggu depan."
"Appaa?Aku disuruh menunggu selama itu?"Pekiknya keras memecah gendang,sembari matanya melotot tidak percaya.
"Hah,mereka memang pasangan yang gila."Tentunya kalimat yang hanya berhasil bergema di balik batinnya yang berkecamuk ria.
"Ya,nona....,maafkan kami tidak bisa berbuat banyak untuk anda."
"Memangnya siapa kalian sebenarnya?"
"Kenapa sampai menahanku selama itu?"
"Kenapa bukan anda saja yang menjaga pria itu?"Hilya mulai kehilangan stok kesabarannya.Beberapa pertanyaan ketus ia layangkan di udara.Telunjuknya tiada henti mengacung ria membentuk protes.
-
Hilya mendesah gelisah,"Bibi,bagaimana kabar Juna sekarang?"Bibi Nunung menanggapi ucapan Hilya dengan kening yang mengerut tajam.
"Apa dia bertanya tentangku?"
Sejenak kemudian,sang bibi mulai kedengaran bersuara dengan nada penuh rasa ingin tahunya meninggi,"Alhamdulillah,baik nak,baru saja selesai makan."Menjeda,
"Juna tidak bertanya tentangmu,kau di mana dan baik-baik saja,kan?"
Bibi Nunung masih mendengar begitu jelas,suara desahan napas berat Hilya,"Oh,baiklah bi....,aku ada urusan mendadak dan malam ini terpaksa menginap di luar."
"Sampaikan salamku kepada Juna,kalau aku ada pekerjaan penting,jika dia bertanya."
Bibi Nunung langsung mengiakan ucapan Hilya,"Baik,nona.Akan bibi sampaikan kepada Juna."
"Bibi,apa aku bisa meminta tolong?"
"Katakan saja,nona....,bibi akan membantu sebisa mungkin."Bibi Nunung dengan nada meyakinkan dari seberang.
"Bi,sebenarnya aku saat ini sedang menjaga seorang pasien yang tidak sadarkan diri,"ujarnya ragu,
"Anggap saja aku sebagai penyebab kecelakaan yang dialaminya."lanjutnya terpaksa berbohong.
"Jadi aku terpaksa merawatnya hingga ia benar-benar sadar."
"Setelah itu,aku berjanji akan pulang ke rumah secepatnya."
"Nak,apa semuanya tidak baik-baik saja?"
"Tidak,bi....,semuanya baik-baik saja....,hanya butuh waktu untuk melewati prosesnya."jelas Hilya berusaha setenang mungkin.
Hilya sengaja menjepret gambar tubuh pasien yang terbujur kaku di depan sana lalu siap mengirmkan foto hasil jepretannya kepada bibi Nunung agar wanita itu percaya kepadanya.
Tidak puas,akhirnya ia memutuskan untuk melakukan video call agar bibi Nunung semakin percaya kepadanya.
"Dengar bi,aku akan menginap di sini sampai masalahku selesai."
"Aku janji setelah semuanya beres,aku akan pulang ke rumah."
"Tolong jaga Juna baik-baik dan jangan bawa dia pergi ke mana-mana sebelum aku kembali ke rumah.Agar masalah ini tidak bocor ke telinga keluarga besar kita."
"Baik,nona."Jawab bibi Nunung menyanggupinya.
Jemari bibi Nunung sigap menangkap hasil screenshot foto dirinya sedang melakukan panggilan video bersama isteri majikannya yang masih dengan latar belakang seorang pasien yang tengah terbaring kaku.
Hanya demi berjaga-jaga,jika tiba-tiba ada masalah yang tidak diinginkan muncul di kemudian harinya.Wanita paruh baya itu tidak tega jika posisi Hilya menjadi tersudutkan di mata suaminya sendiri,apalagi keluarga besarnya.
"Terima kasih banyak,bi."
"Aku telah berhutang budi kepada bibi."
"Tidak apa-apa,nak.Kau sudah seperti puteriku sendiri."
Hilya memutuskan sambungan dengan perasaan gelisah yang beragam.Namun ia menarik napas dengan sedikit lebih lega karena satu beban sudah berhasil lepas.Bibi Nunung telah mengetahui keberadaan dirinya secara persis.
Malam itu,usai bersih-bersih badan,Hilya tampak lebih bugar dari sebelumnya,meski raut dongkol masih jelas terpancar dari wajah bersihnya yang tampak memerah.
Gadis itu memenuhi ajakan wanita paruh baya yang bertugas melayani keperluannya itu untuk mengambil posisi makan malam di meja makan.Kali ini ia benar-benar memanfaatkan kesempatan untuk bertanya kepada wanita yang baru memperkenalkan dirinya sebagai bibi Riska tersebut.
"Jadi siapa nama pasien itu,bi?"desahnya pelan setelah beberapa suap nasi lolos ke dalam mulutnya.
"Namanya Dimas Yudhistira Set....,"ucap bibi Riska dengan ujung suara yang menenggelam karena Hilya begitu cepat memotong ucapannya seakan tidak terlalu peduli dengan jawaban atas pertanyaannya.
"Oh,jadi dipanggil Dimas ya."
"Benar,nona."Riska membenarkan dan Hilya manggut-manggut.
"Dia sakit apa dan sejak kapan dia sakit?"
"Sebenarnya,tuan Dimas mengalami kecelakaan mobil tiga bulan yang lalu dan kehilangan kesadaran."
Bulan pertama ia dirawat di ruang ICU,bulan berikutnya ia di bawa ke luar negeri,tepatnya di Singapura.Sudah dicoba dengan berbagai macam cara baik medis maupun non medis,namun hasilnya masih tetap sama.
Hingga di bulan berikutnya,tepatnya dua minggu yang lalu,nyona Mira memutuskan untuk segera membawa puteranya pulang ke rumah untuk dirawat di sini.Tentunya setelah melewati tahap uji klinis dari pihak dokter dan mendapat persetujuan dari mereka.
"Nyonya Mira sangat menyayangi putera semata wayangnya itu.Dia satu-satunya anak setelah nyonya Mira mengalami keguguran di proses kehamilannya yang kedua,ketiga,dan keempat.Selanjutnya,nyonya Mira divonis tidak bisa hamil lagi lantaran infeksi pada rahim akibat bekas luka."
"Sedangkan tuan besar sangat sibuk dengan urusan perusahaan yang ditinggal oleh sang anak setelah mengalami kecelakaan.Beliau terpaksa menangani semua perusahaannya baik di dalam maupun di luar negeri itu sendirian."
"Orang-orang kepercayaannya juga setia membantu dirinya,meski ada sebagian yang membelot.Namun tuan besar tidak menyerah begitu saja."
"Kini ia sedang meminta bantuan kepada anggota keluarganya yang lain.Perusahaan mereka sedang dalam proses pembenahan besar-besaran dari tim penyelamat yang baru saja dibentuk oleh tuan besar selaku pemiliknya."
"Apa di sudah menikah?"
"Belum,dia masih lajang.Tuan Dimas membatalkan rencana pernikahan sebulan lalu sebelum ia mengalami kecelakaan parah.Padahal hubungannya dengan calon isteri sudah memasuki tahun ke enam."
Hilya tercenung menatap pasien yang masih lengkap dengan ventilator yang terpasang rapi.Cukup lama ia memperhatikan wajah pria tersebut.Sekilas rada mirip dengan wajah sang papa,si pria aneh yang ngotot dan menyebalkan.
Namun setelah dipindai baik-baik,wajah sang mama yang cantik meski minim senyum lebih mendominasi wajah bersih nan terpampang nyata tersebut.Singkatnya,sangat tampan.
"Jadi namamu Dimas....,heumm....,perkenalkan,namaku Hilya."Gadis itu tiba-tiba berseloroh,seakan ucapannya didengar oleh pemuda tersebut.Padahal jelasnya tidak menurut Hilya.
"Bagaimana kau bisa tidur selama ini,bangunlah."
"Papamu telah membuatku kemari dengan cara yang tidak adil.Jadi kau harus membayar semua perlakuan papamu kepadaku."Hilya kini melotot memandang wajah pria tersebut dengan ekspresi menuntut.
"Kau tahu,aku punya banyak kesibukan yang luar biasa.Aku punya anak angkat yang tengah menungguku di rumah."
"Ah,kau keras kepala,kenapa masih saja tidak bergeming?"
"Kau sangat tampan....,tapi kau juga pasti sangat galak."
"Buktinya,kau membatalkan pernikahanmu setelah menjalin hubungan begitu lama dengan calon isterimu."
"Kau mengalami celaka setelah membatalkan pernikahan,itu artinya,aku menganggapmu sebagai orang yang putus harapan dan hidup."
"Hey,anak muda....,setiap detak napas perlu perhitungan.Hidup tidak hanya berfokus pada keputusasaan."
"Jika kau memilih putus asa,maka kenapa kau memilih menyusahkan orangtuamu yang sangat mangkhawatirkan dirimu,kenapa tidak langsung tutup usia saja sekalian?"
"Bangunlah,kau butuh kekuatan untuk mengembalikan rasa percaya dirimu itu."
"Agar kau bisa mengembalikan kebahagiaan papa dan mamamu di jelang masa tua mereka."
"Dan yang terpenting....,kau berhutang kepada wanita secantik diriku ini.Papamu membuatku terjebak di sini,jadi kau harus membayarnya dengan kesembuhanmu itu."
"Agar aku segera pulang menjenguk anak dan....,ah suamiku.Kau tahu....,suamiku sangat tampan,sama seperti dirimu.Atau bahkan dia lebih tampan darimu.hehe.."Hilya tersenyum simpul sembari menutup mulutnya dengan wajah yang memerah.Padahal ia hanya bercerita kepada pasien yang koma,lalu pada dinding yang sunyi,"Kenalkan,nama suamiku adalah Danang Danuarta Setiawan...."lanjutnya tersipu,
"dan dia sekarang ada di luar kota."
"Jika kau benar sudah siuman nanti,aku berjanji akan memperkenalkan dirimu pada suami tampanku itu."
Hilya mendengus pelan.Memejamkan matanya lalu beberapa kali mengerjap sembari memandang langit-langit kamar.Mendelik,kemudian menyapu pandangan ke setiap sudut ruangan.
Sesaat kemudian sorot matanya bertembung dengan tubuh Dimas.Namun apa yang terjadi,jari jemari pemuda itu tiba-tiba bergerak.Sebuah helaan napas panjang terjadi begitu saja,lalu wajah sang pemuda tampak mulai mengerut tajam....,namun kejadiannya tidak begitu lama.Iapun kembali ke keadaan semula,meski Hilya sempat tertegun dan dengan sabar menunggu respon selanjutnya.
"Apa ini?"
Hilya akhirnya menghentikan perkataannya.Kali ini ia memilih untuk beristirahat dengan menundukkan kepalanya ke atas ranjang tepatnya di samping pasien.Namun beberapa lama kemudian iapun akhirnya memilih untuk merebahkan diri ke sofa demi meregangkan otot-ototnya yang kaku.
"Hah,lelah."
.....
Bersambung....
🤗🤗🤗