I Need You

I Need You
Sosok Istimewa



Happy reading 😍📖


Danang mempersilahkan kepada Juna untuk menjadikan dia sebagai ayahnya,


"Baiklah,coba panggil aku papa sekarang."


Pa pa."Juna memeluk erat tubuh kekar itu.Menenggelamkan wajahnya ke dada bidang yang sekian lama ia rindukan.Merengguk dalam-dalam aroma maskulin yang belum pernah ia rasakan dari seseorang yang bernama ayah.Pria dewasa yang awalnya dianggap musuh,kini berubah menjadi sosok ayah yang baik baginya.


Keduanyapun sama-sama tertawa riang.Danang memeluk dan mencium gemas pipi sang bocah.Ia telah berjanji kepada dirinya sendiri bahwa mulai saat ini,ia akan menganggap Juna sebagai puteranya.Mengatur waktunya buat melengkapi kekurangan bocah malang tersebut.


Entah kenapa,dalam bayangannya sekarang,apa yang dilakukannya saat ini serupa dengan yang dilakukan Hilya di masa lalu.Mengangkat Juna sebagai putera angkatnya.Namun itulah kenyataan yang dia ketahui saat itu Hilya adalah ibu kandung Juna.Maka di saat itu juga ia menepis semua perasaannya yang belum tentu benar.


'Ah,lupakan...,mimpi itu hanya mendatangkan luka.'batinnya.


Hilya terpana menyaksikan pemandangan di depan mata.Tatapannya yang semula berkaca-kaca,kini butiran demi butiran bening terjun bebas begitu saja.Gadis itu menangis haru.Sosok Danang yang begitu menyebalkan di depannya tampak sangat sempurna saat menobatkan dirinya sebagai seorang ayah bagi Juna.Berkali-kali Hilya mengerjap,dan menelan paksa ludahnya yang serasa tercekat di tenggorokan.Lidahnya kelu seakan tidak bisa berkata-kata.


Danang tersenyum merentangkan tangannya menyambut tubuh isterinya yang sempat terguncang itu kedalam pelukannya bersama sang Juna.Entah kenapa,sesaat ia memejamkan mata dan di dalam bayangan sana ia melihat dirinya dan Hilya tengah berbahagia sembari menggendong bayi-bayi mungil yang meramaikan isi rumahnya.


Begitu juga dengan Hilya.Melihat keadaan begini,Hilya bahkan sempat membayangkan andai rumah tangganya berjalan mulus,maka ia ingin sekali punya bayi yang lahir dari rahimnya sendiri,dan Danang adalah sosok ayah yang sempurna bagi anak-anaknya.


Hilya tertunduk lemas.Bibirnya tampak tersenyum getir.Hanya ada satu kenyataan saat ini.Danang bukanlah sosok yang ingin berbagi dengan dirinya secara tulus dan ikhlas.Kini ia hanya bisa menepis semua perasaan itu daripada harus menanggung luka lantaran terlalu banyak berharap.Hilya menghela napas berat.Danang memperhatikan perubahan demi perubahan di wajah gadis itu.


"Juna sayang,main dulu sama nenek.Papa mau bicara sama bunda ya,"bisik Danang pelan ke telinga Juna.Bocah itu mengangguk dan kemudian pergi begitu saja ke ruang keluarga meninggalkan ayah dan bundanya di kamar.


"Kenapa,tidak senang lihat Juna punya papa?"Danang melirik singkat ke arah Hilya yang masih mematung.Pemuda itu memilih merogoh kedua tangannya kedalam saku celananya.


"Bukan begitu,"memilih bersandar disamping jendela sembari memandang ke langit,"Kau membuatnya bicara kepada bintang."lanjutnya.datar.


"Aku hanya meluruskan pemahaman yang pernah kau berikan kepadanya,"ikut bersandar di sisi lain jendela,"Kau yang bilang kepadanya kalau ayahnya ada di antara bintang itu."lanjutnya menatap nanar taburan bintang di angkasa.


"Itu karena aku tidak sanggup berbohong kepadanya.Haruskah aku menjelaskan kepada balita itu kalau ayahnya telah tiada saat sebelum ia dilahirkan,dan...ibuny...,"berbalik memandang Danang yang dari tadi menatapnya tanpa kedip,


"Hah,sudahlah...,dijelaskanpun,kau tidak akan mengerti apa yang aku rasakan."lanjutnya menghempas kasar napas beratnya.


Danang berdecak kesal,


"Kau meremehkanku,"mencekal lengan Hilya,"Aku paling tidak suka mendengar penjelasan yang setengah-setengah,"membawa tubuhnya saling berhadapan dengan jemari yang lincah.


"Kau mau apa?"Sentak Hilya terbelalak.


"Lanjutkan penjelasanmu atau sesuatu dengan sendirinya akan menjelaskanku."Danang memasang ancang-ancang membuka kancing piyama Hilya.


Gadis itu tampak panik.Serta merta ia menepis tangan nakal suaminya.Wajahnya tampak memerah.


"Kenapa,bukannya kau sudah mengizinkannya?"


"A_aku harus meninabobokan Juna,"tampiknya sembari bergegas meninggalkan ruangan.Membuat Danang seketika berdecak.


Bayangannya,teringat kembali kepada kejadian kemarin malam,Hilya bercengkerama ria dengan Joshua sembari mengucapkan kata-kata penuh birahi.


'Ck!...,pura-pura lugu.'menyapu kasar wajahnya yang tampak kesal.




Satu minggu kemudian...,kediaman Keluarga Imran....


"Juna sayang,kemari nak,oma pangku."


Suara mama Andin memecah taman belakang rumah saat menyambut kedatangan bocah yang baru pulang dari tempat hiburan bersama Danang dan Hilya.Juna melesat begitu saja dan melompat naik ke pangkuan mama Andin.Tidak ada yang perlu disungkan oleh bocah itu.Karena sikap mama Andin dan papa Imran yang sangat penyanyang tidak membuat Juna kikuk saat berhadapan langsung dengan mereka.


Apalagi nona Dania yang manja dan suka bermain dengan anak kecil malah menambah keseruan Juna di rumah besar tersebut.Mama Andin banyak mengetahui,soal latar belakang Juna melalui ibunda Elmiza.Wanita paruh baya itu merasa sangat senang saat mengetahui Juna akan tinggal bersama Hilya.


'Siapa tahu bisa memancing Danang dan Hilya cepat punya anak.'gumam sang mama.


"Oma,tempat hiburan di sini sangat unik dan seru."pekik Juna kegirangan.


Mama Andin menyambutnya dengan senyum yang disertai satu kerutan di kening,


"Oh ya,ceritakan ke oma,tadi main apa."balas sang oma tergelak melihat gaya Juna yang sangat dominan.


"Juna main bajak laut,oma."jawab Juna penuh semangat,tampak kepercayaan diri itu mulai tumbuh kembali di dalam dirinya.


"Wow...,cucu oma..The Pirates Bay nih ya,"membelai rambut dan wajahnya,"Ujujuu...,keyennya papa Danang."sembari menggeleng takjub.


Juna tertawa girang,mengagumi sosok pria dewasa di depannya itu.Bocah itu mengakui bahwa sang papa Danang adalah pria paling baik yang ia kenal.Ditandai dari binar mata yang nyalang menyambut tatapan pria dewasa yang tengah mengedikkan bahu ke arahnya.


"Bahkan sangat istimewa,oma."ucapnya berbinar-binar.


Danang terkekeh,


"Laki-laki harus keren dan jago,dong!Masa main barbie sih...,bueh!"Danang berkomentar penuh sarkas.


Sementara Hilya baru muncul dengan membawa jus buah lalu disodorkan kepada mama Andin dan juga Danang.


"Silahkan diminum,ma."meletakkan gelasnya di atas meja,"Ayo sayang,diminum ya,"tambahnya ke sang suami.Danang menyambutnya dengan semangat.Ceritanya mereka lagi bersandiwara di depan mama Andin.


"Semester depan,Juna sudah masuk TK ya,Hil?"tanya mama Andin sesaat setelah Juna beranjak lari-lari keliling taman.


"Ya,mama_"ucapannya terpotong,


"Juna,jangan lari-lari,nak.Kan baru sembuh."pekik bunda Hilya.


Juna tergelak riang,seakan tidak menghiraukan peringatan dari sang bunda.


"Baik bundaaa..."


Danang ikut menyimak pembicaraan sang mama.


Mama Andin menghela napas berat,


"Apa tidak ada niat sama sekali untuk mempertemukan dia dengan keluarga ayahnya nak?"


Hilya mendadak murung,


"Pernah dicoba ma,tapi belum berhasil."


Mama Andin mengangguk,seakan memahami perasaan Hilya saat itu,


"Kasihan dia,benar-benar sebatang kara."


Danang yang mencerna pembicaraan sang mama dan isterinya itu dengan pemahaman yang ambigu.Baginya sang mama juga sudah mengetahui bahwa Juna adalah putera kandung Hilya dan ia pernah berniat mempertemukan Juna dengan keluarga dari ayah kandungnya.


Untuk sejenak,hatinya ikut terpukul ketika mendapati sang mama malah merespon baik terhadap status Hilya yang sudah memiliki seorang anak.Tampak dari raut wajahnya yang datar,pemuda itu mendengus samar,


'Aneh,mana ada mama di dunia ini yang instan menerima menantu janda beranak,tanpa protes.'


'Yang ada juga ujung-ujungnya mengajak ribut sama anak dan menantu mereka.'


'Mama memang pencetak rekor sejagat.'batinnya tumpang tindih.


•••••


Bersambung...


🤗🤗🤗