
Danang menangkap ekspresi kesedihan,bercampur rasa dendam yang membakar.Jelas tergambar di wajah pria paruh baya itu.Lalu apa yang membuat pihak keluarga menentang keras kehadiran Juna,satu hal yang menjadi pertanyaan di benak pemuda yang sudah tidak bisa membendung rasa ingin tahunya.
Bapak Yadi lagi-lagi mendengus kecil,
"Hanya karena ibunya hamil di luar nikah,bayi malang itu jadi tidak diterima oleh pihak keluarga,"ucapnya dengan pandangan berkabut,
"pokoknya kalau sampai dicari oleh pihak ayahnya,bapak tidak akan segan-segan buat perhitungan dengan mereka."lanjutnya sembari mengatup rahang.
Deg
Gemuruh rasa di hati Danang,bergejolak laksana gelombang pasang yang menghantam batu karang.Berdesir bagai terpaan badai yang tiba-tiba mengguncang seluruh jiwa dan raganya.Pemuda itu terkulai lemas.Oke fix,kalau Juna adalah anak hasil perbuatan gelap ayah dan ibunya.Itu artinya,Hilya pernah hamil di luar nikah.
Suatu kebenaran yang ingin diketahuinya beberapa hari belakangan setelah ia menanyakan status Juna kepada Hilya di pantai itu.Ah,haruskah ia membenci kebenaran ini.
"Ah,sudahlah nak.Tidak perlu dibahas lagi.Hanya akan memicu amarah saja.Nanti kita pula yang berdosa,karena kesannya kurang ikhlas.
Bapak Haryadi memilih menutup ceritanya,jika Danang ingin bertanya sekali lagi,maka mungkin ia akan menanyakan kenapa bapak begitu yakin,bahwa Hilya tidak bersalah di peristiwa jebakan malam itu.
Mereka terjebak di kamar hotel,tidur bersama tanpa sehelai bajupun dan saat itu hanya ada Hilya sendiri yang dalam keadaan normal.Sedangkan dirinya berstatus hangover.Kalau bukan Hilya,lalu siapa lagi.
Maka tidak menutup kemungkinan ia gadis yang berpengalaman dalam hal jebak menjebak.Toh,puterinya ini sudah pernah menjalani hubungan terlarang di zaman sekolah dulu.Itu benar-benar sebuah pencapaian yang buruk.
Akan tetapi mana mungkin Danang melemparkan pertanyaan menohok itu kepada seorang pria yang lebih pantas ia panggil ayah.Ia memilih bungkam dan mengira-ngira sendiri sembari berpikir untuk mencari tahu masalah ini sendiri.Tapi bagaimana bisa ia lakukan jika tanpa bukti.
Mengingat keluarga ini baru ia kenal beberapa hari,rasanya ia perlu melakukan sesuatu dengan melibatkan Hilya dan Juna.Agar semua kedok tentang gadis itu terbongkar di mata keluarganya.Minimal ada pengakuanlah tentang buruknya sifat puteri yang mereka bangga-banggakan selama ini.
Di kampung Danang dan Hilya menginap satu malam.Keesokan harinya mereka harus segera kembali ke kota untuk memulai kehidupan baru di sana.Rutinitas harian yang sempat tertundapun sudah sedia menanti.
Selama di perjalananpun, Danang dan Hilya tidak banyak berinteraksi.Danang membiarkan Hilya larut dalam dunianya sendiri.Jika sesekali terjadi,itupun ketika mereka berhenti untuk makan siang.Atau bahkan di saat Danang menawarkan sesuatu kepada gadis itu,misalnya minum,ataupun mencicipi makanan ringan.
Hilya yang sedikit pusing menolak untuk makan apapun,
"Sudah,nanti saja."
"Makanlah,kau butuh tenaga untuk melayaniku setelah di rumah nanti."ucapnya datar.
"Sedikit saja,boleh ya,"pintanya memelas.
"Terserah kau saja,yang penting makan.Daripada kumat,nanti aku yang repot."balasnya ketus.
Kediaman Tuan Imaran...
Tuan Imran memastikan sejauh mana persiapan yang telah dilakukan oleh sekretaris Sani dalam rangka menyambut kedatangan putera dan menantunya di kantor besok.
Sani,apa persiapan menyambut putera dan menantuku sudah siap?
Sudah tuan.Tinggal eksekusi besok pagi.
Baik,terima kasih
Tuttuttuttuttut
Tuan Imran mengangguk pelan.Menatap nyalang langit malam dari tepi balkon.Senyum semringah hadir menghiasi wajah dan bibirnya.Pria itu tampak menghela napas panjang,
'Hhhmm..,niatku sudah tercapai.Sekarang saatnya menyatukan mereka berdua.'batinnya penuh perjuangan.
Di dapur,tampak Dania dan sang mama juga ikut bergabung dengan para pembantu untuk menata hidangan makan malam di meja makan.
"Mama yakin,kakak bakal mencintai kakak ipar Hilya?"ucap Dania di sela kesibukannya menata makanan.
"Yakinlah sayang,kau tahu kan,kakakmu itu tidak pernah menuntut sesuatu yang berlebihan.Jadi apapun yang menjadi kekurangan isterinya,dia pasti akan memakluminya."jawaban yakin sang mama membuat Dania hanya bisa mengedikkan bahu.
Sementara itu di luar rumah,Danang dan Hilya sudah disambut oleh sekuriti yang menjaga pintu gerbang.Hilya berniat mengangkat koper miliknya.
"Biarkan bibi Nunung yang mengambilnya.Kau hanya akan memberikan masalah besar kepadaku saja jika kau sendiri yang membawanya ke dalam."ucap Danang mengarahkan.
Hilya hanya bisa menuruti perintah suaminya itu.mengangguk pasrah,lalu mengekorinya dari belakang.Di depan pintu,papa Imran,mama Andin,dan adik Dania sudah sedia menyambut kehadiran dua orang yang mereka sayangi.
"Selamat datang ke rumah ini nak."ucap papa Imran sembari menyapu lembut kepala menantunya.Pria itu tiada henti memamerkan senyum ramahnya.
Hilya menyambutnya dengan senyuman kecil sembari mencium punggung telapak tangan ayah mertuanya.Memeluk serta bercipika-cipiki dengan ibu mertua dan juga iparnya.
"Jangan sungkan-sungkan ya nak,ini juga rumah kamu kok,sayang."ucap mama Andin penuh kasih sayang,
"Hai cantik,akhirnya aku jadi punya teman."seru Dania kegirangan,
"Kau tenang saja,kakak tidak akan berani macam-macam denganmu."lanjutnya berbisik ke telinga Hilya,menimbulkan tawa renyah di antara keduanya.
"Dasar wanita,kerjaanya cuma berisik kalau sudah berkumpul."celetuk Danang sembari memutar bola mata ala-ala,meniru kebiasaan sang adik ketika lagi kesal.
Dania mencebik,"Kakak sirik,tidak punya teman."
"Ah,terserah."ucap Danang sembari beranjak menjauh.
"Eh,eh....,mau ke mana Danang?"serang nyonya Andin menangkap lengan puteranya.
"Ke kamar ma."jawab Danang cuek.
"Ajak isterimu juga buat ganti baju nak,masa dibiarkan mencari kamarnya sendiri,"ucap mama Andin sembari mengernyit bingung.
"Nah,bingung kan,biasanya juga ke mana-mana,sendirian."seru sang papa tertawa kecil.
"Haahah,kakak ada-ada saja.Isteri baru pertama kali masuk rumah,ditinggal begitu saja....,awas saja kalau aku dapat suami kayak gitu."tukas Dania dengan ekspresi dan intonasi menyentak naik turun.
Danang sigap menyugar rambutnya,refleks menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.Senyum tersipu ikut mengembang di bibirnya begitu saja,
"Maaf."ucapnya datar,berbalik menggandeng lengan Hilya lalu membawanya ke lantai dua.
"Danang,oh Danang."seru sang mama sembari menggeleng-geleng,diikuti sang papa dengan gerakan serupa.
Di kamar,Hilya celingak-celinguk memperhatikan isi kamar yang dihiasi berbagai macam-macam pernak-pernik pengantin yang indah dan lilin-lilin yang cantik.Semprotan minyak wangi aroma terapi yang menyengat indera penciuman,menguar menggoda hasrat.
Hilya bergidik ngilu membayangkan sikap arogan sang suami yang tiba-tiba beringas lalu menyerang dirinya begitu saja,lantaran terpancing dengan suasana dekorasi bernuansa romantis ini.Seperti yang sering ia tonton di film aksi luar negeri atau bahkan yang pernah ia baca di kisah-kisah novel romantis.
Kini gadis ini sudah tampil segar berbalut piyama berwarna senada dengan hiasan dekorasi kamar yang mendominasi warna cokelat muda dan juga cream,menciptakan kesan romansa yang tinggi.Apalagi suaminya akan segera keluar dari kamar mandi dengan tampilan setengah polos dan buliran air yang menyisa di tubuh maskulinnya.
Itu hanya akan menimbulkan ghairah yang tidak seharusnya terjadi di antara mereka saat ini.Merasa tidak ingin dibully oleh suaminya lantaran berpikiran yang tidak-tidak,gadis itu akhirnya memilih segera keluar dari kamar sebelum kecolongan,Ia pergi meninggalkan kamar yang menurutnya hanya akan menjadi pemicu perdebatan di antara mereka berdua.
Gadis itu melangkah keluar dari kamar menuju ke dapur.Saat kakinya sukses mendarat di dua tangga terakhir,matanya yang bertembung dengan ayah mertua,memaksa bibirnya untuk melemparkan senyum manis.
Oleh karena sifatnya yang pandai membawa diri dalam pergaulan,membuatnya cepat menyesuaikan diri di mana saja,termasuk dengan keluarga mertuanya.Pria paruh baya itu tengah duduk santai di sofa ruang keluarga dengan gaya khas melipat kedua kakinya menyilang.Tampak ia melambaikan tangan sebagai isyarat agar Hilya mendatanginya,
"Duduklah sebentar nak.Papa ingin bicara sesuatu."suara khasnya yang ramah dan penyayang.
•••••
Bersambung...
Teman-teman sekalian,jumpa lagi di karya sequel Cintai Aku Sahabat Kecilku ini.Semoga terhibur ya..Jangan lupa saling beri like, komen,rate dan favoritkan jika berkenan.Semoga kita semua diberi nikmat kesehatan dan rezeki yang berlimpah..aamiin.
🤗🤗🤗