I Need You

I Need You
Wanita Oh Wanita



Happy reading..😍


Dapur restoran DS...


Hilya dan teman-teman sift malamnya agak kewalahan menghadapi begitu banyak pesanan pengunjung yang datang. Namun berkat kecerdasan dan kepiawaiannya membuat pekerjaannya menjadi terasa lebih ringan.


Kinerja gadis ini memang tidak bisa dipandang sebelah mata. Setiap hasil kerjanya tidak pernah berbuah penolakan baik dari pihak pelanggan, teman kerjanya maupun atasannya. Ia dan teman kokinya yang lain dengan mudah melayani pesanan yang membludak. Hal ini juga membuat Hilya berhasil mencuri perhatian para pelanggan tak terkecuali atasan yang sudah menerima dirinya bekerja di sana.


Di restoran ini si gadis yang semulanya hanya ingin melamar sebagai koki biasa, namun dalam hitungan waktu sebulan gadis itu mendapat keberuntungan yang tak disangka-sangka.


Karena pribadinya yang bertanggung jawab dan pintar dalam memasak membuatnya langsung diangkat oleh sang manager menjadi kepala koki yang menangani sift malam. Dan kini telah masuk di bulan yang ke tiga seorang Hilya menjadi kepala pelayan.


Niat hati ingin menolak namun apa daya hidup di kota besar yang jauh dari orangtua ini membuat biaya hidup jadi membengkak. Gadis ini terpaksa menerima posisi tersebut dengan tanggung jawab yang semakin meningkat.


Namun bukan Hilya namanya jika tidak pandai mengatur waktunya sebaik mungkin hingga tidak mempengaruhi prestasi kuliahnya di kampus.


"Ada masalah apa kau dipanggil bu Sherly Lya?" tanya Sifa teman yang paling kepo.


"Ah, ya. Hal biasa Fa. di suruh memasak sesuatu untuk putera pemilik restoran yang mau berkunjung." terangnya sopan.


"Oh ya? Si ganteng itu mau kemari, wah! Kejutan keberuntungan Lya." seru Sifa jingkrak-jingkrak penuh semangat.


Hilya menggeleng-geleng kepala melihat kelakuan teman shift nya yang histeria manakala melihat sesuatu yang menurutnya istimewa terutama hal yang berhubungan dengan pria tampan.


"Memangnya kau pernah bertemu dengannya?" Hilya bertanya penasaran.


"Ya Hilya, aku sudah dua kali bertemu dengannya. Dia keren dan sangat mempesona. Sifatnya yang ramah dan santun membuat siapapun akan terpikat kepadanya," jelas Sifa menerawang.


Ya, Hal tentang Danang yang diketahui oleh Sifa itu adalah sifat di mana sebelum ia mulai terpuruk dengan masa lalunya.


Malam semakin larut...


Waktu menunjukkan pukul 22.45 waktu setempat.Orang yang dimaksudkan oleh ibu Sherly belum juga muncul di depan mata.


Hilya yang baik hati justeru mempunyai banyak teman baik di kampus maupun di restoran tempat ia bekerja.


Tidak butuh waktu lama untuk ia mendapatkan teman baik seperti Sifa dan Alfin serta manager Sherly yang sebenarnya adalah seorang yang ramah.


"Hilya, bagaimana dengan kedatangan tuan muda, jadi kan?" tanya Sifa kepo.


"Kurang tahu Fa, ditunggu saja. Siapa tahu sebentar lagi muncul," ucap Hilya menenangkan.


"Yah,jam kerja kita sebentar lagi berakhir Lya. Batal deh niat bertemu pangeran tamvan," gerutu Sifa mengerucutkan bibir.


"Kalau kau ingin bertemu dengannya cari saja alamatnya di google. Siapa tahu jumpa kan," Hilya memberikan saran.


"Yie, jangan mimpi ketemu sama orang kaya Sifa. Yang ada juga pasti kau diusir oleh keluarganya," timpal Alfin yang dari tadi ikut menyimak. Pemuda itu tertawa usil menatap miring ke arah Sifa.


"Akh! Alfin sirik," pekik Sifa tidak mau kalah.


"Kau yang aneh.Mimpimu ketinggian nona Sifa. Ayo, pacaran denganku saja! Biar lebih nyata kan," serang Alfin sembari menggoda membuat wajah Sifa ikut memerah.


"Sudah-sudah, apa yang kalian ributkan hah? Tiada gunanya juga akh!" lerai Hilya lemas.


Pukul 01.45 waktu setempat.


Restoran telah ditutup sekitar setengah jam yang lalu. Semua pekerja satu persatu pulang ke rumahnya masing-masing termasuk Alfin dan juga Sifa yang pulang bersama-sama karena jalur rumah mereka yang searah.


Tinggal Hilya yang masih belum pulang lantaran harus membereskan semua pekerjaannya yang masih setumpuk kecil. Hilya tidak pernah meninggalkan pekerjaan yang belum tuntas.Hal inilah yang membuat ia makin disayang oleh ibu Sherly selaku manager restoran tersebut.


Manakala Hilya bersiap hendak pulang tiba-tiba seseorang yang mengenakan kemeja putih menenteng jas hitam di tangannya mendobrak pintu belakang restoran yang separuh tertutup.


Hilya tersentak melihat seorang pemuda dengan langkah terhuyung mendekati pantri. Meja bar yang memanjang di ujung ruangan dan menjadi pembatas antara dirinya dengan pemuda itu.


"Air!" pekik pemuda itu keras seraya menunjukkan jemari telunjuknya ke arah gadis itu.


Hilya yang mulai ketar-ketir mencoba memberanikan diri untuk mendekat pelan ke arahnya seraya membawakan segelas air lalu menyodorkan kepada pemuda yang tidak lain adalah anak dari pemilik restoran tersebut. Tuan Danang Danuarta Setiawan.


Gluk


Gluk


Gluk


Danang menyambutnya dan langsung menegaknya hingga tandas. Seketika pemuda itu terkulai lemas di meja bar dengan deru napas tidak teratur serta tangan yang masih menggenggam gelas kosong.


Hening...


Sesaat ia mendongak menatap Hilya yang mematung di hadapannya,


"Ada wanita di sini? Oh tidak, aku benci wanita!" Danang menyadari di sela tatapan nanar.


Hilya yang berdiri hanya berjarak beberapa senti di depan menghidu aroma alkohol yang menyeruak tajam dari tubuh maskulin pemuda tersebut.


'Ya ampun, dia mabuk!' batin Hilya seraya menutup hidungnya agar terhindar dari sengatan bau alkohol.


"Wuah, jangan munafik! Kau suka bau alkohol kan, kau juga suka pria sepertiku kan," serangnya sembari mengangkat jemari telunjuknya mengenai kening Hilya, lalu mengunci kepala gadis itu dengan telapak tangannya, "Ayo! Miliki aku sekarang juga." Danang semakin lirih namun menantang.


"Ma_maaf anda siapa?" Hilya gagap berusaha mundur selangkah namun tertahan oleh tangan kekar pemuda itu.


"Huaa! Kau tidak mengenalku?! Jangan bohong, mana ada wanita licik yang tidak mengenal seorang Danang!" balasnya  sinis sembari melintasi pantri untuk mendekati Hilya yang kian ketakutan.


"Maaf anda salah orang tuan," tukas Hilya tegas.


"Benar kau tidak mengenalku? Kalau begitu aku juga tidak mengenalmu...., jadi ayo kita berkenalan.. Hahah." lanjutnya lantas mencubit dagu runcing gadis itu lalu menarik tangannya untuk disandingkan dengan tangannya kekarnya seraya membentuk posisi jabat tangan. Kian erat dan menyakiti Hilya.


"Tuan lepaskan. Anda sudah menyakiti tanganku ini," pintanya kembali tegas.


"Prangg!!"


Bunyi pecahan gelas yang digenggamnya hingga remuk. Pemuda itu tidak kuasa menahan amarahnya.


"Hei! Gadis sombong. Kau pikir kau siapa yang berani menolakku hah? Tapi tenanglah, aku juga tidak akan tertarik kepada wanita seperti dirimu," melepas tangannya dari mengunci kepala gadis itu,


"karena sebenarnya aku telah membenci wanita," ucapnya tersenyum getir, "hik hik hik," sesaat kemudian terdengar isakan yang mengucurkan air mata kian deras membasahi pipi dan wajah oriental pemuda yang tengah mabuk berat itu.


Melihat pemandangan tersebut, Hilya yang awalnya ketakutan sekarang berubah iba. Perlahan ia mendekati wajah Danang dan refleks menyapu air mata pemuda itu dengan sapu tangan miliknya.


"Maaf tuan, apa anda terluka? Kemarilah akan kuobati."


Sikap ramah dan iba yang ia tunjukkan oleh Hilya justeru semakin membangkitkan amarah di mata seorang Danang. Seringai tipis sontak menghias di bibir seksinya. Cukup satu kata mewakili gambaran menyebalkan di wajah tipikal Asianya itu, Sinis.


Sigap ia menepis kasar tangan gadis yang sudah bersusah payah menyapu air matanya yang mengalir begitu saja.


"Jauhkan tanganmu, dan jangan sok perhatian!Dasar wanita kejam, aku benci wanita!" ketusnya seraya menepuk dada, sebak.


"argh!"


"Wanita, oh wanita...., aku benci wanita!" Danang yang kesakitan malah menyerang kasar tubuh Hilya membuat gadis itu seketika terjerembab.


•••••


Bersambung...


Happy reading 😍🤗 Salam lanjut. Jangan lupa tinggalkan jejak jika berkenan..