I Need You

I Need You
Semua Untukmu



Happy reading 😍📖


"Baiklah,karena kau mulai bertanya,sekarang aku menjawab."Danang tersenyum merasa umpannya berhasil.


Hilya cukup menyimak.


Danang mendengus kecil,"Kau tahu siapa itu Ibnu Haidar?"Masih bertahan diposisi sebelumnya.


Hilya menggeleng,"Aku belum mengenalnya."


"Bukannya di pembukaan acara'Berbagi Seribu Warga',kau tampak akrab dengannya?"Mengerutkan kening.


Hati wanita itu seketika terhenyak,"Bagaimana dia bisa mengetahui itu?"Pikirnya kalut.Bukankah waktu itu Danang terkesan mengabaikan dirinya dan sibuk berhura-hura dengan kerabat yang serba elit dan mewah?


Danang sama sekali tidak peduli kepada dirinya saat itu.Hingga ia memutuskan untuk menghindari kumpulan orang hebat yang jauh dari kata setaraf dengan dirinya.


Bahkan mengingatnya saja hatinya sudah tergugu.Ingin membuangnya jauh,tetap saja tidak berhasil.


"I_iya,tapi....,aku hanya mengenalnya sebagai kekasih Dania"


"Jadi kau sudah mengetahui ini sebelumnya?"


Hilya mengangguk pasrah.


"Kenapa tidak bilang padaku?"


"Maaf.Bagaimana mau bilang,kau saja baru berdamai denganku bulan lalu,bukan?"


Danang mendengus pelan.Ada benarnya ucapan Hilya.Toh selama ini dirinya memang egois dan tenggelam dalam dunianya sendiri.Kalau saja rahasia di VIP room itu tidak terbongkar,mungkin hingga saat inipun hatinya masih meraba-raba alias tidak yakin,bisa menerima Hilya setulus sekarang dan secepat ini.


"Aku malah tidak yakin.Memang ya,dia sepupunya Diego,tapi apa bedanya?"


"Playboy tetaplah playboy....,"


"Keluarga mafia tetaplah keluarga mafia....,"


"Aku tidak suka itu."Jelas Danang mulai membuka celah.


Hilya bungkam,mencoba mencerna ucapan suaminya,"Playboy,keluarga mafia....,jadi Diego si pria serba perfect di matanya waktu itu juga berasal dari keluarga mafia?"


"Aku tidak ingin adikku satu-satunya ini menderita hanya karena menjadi bagian dari keluarga mafia itu."Danang yang tidak rela melepas sang adik kepada keluarga tersebut,mati-matian mempertahankan alasannya.


"Kenapa begitu yakin?....,Ibnu tidak bakal mengecewakan Dania,aku melihat ketulusan di mata anak itu."


"Tulus,ya tulus."


"Tapi tidak menjamin kebahagiaan dan keselamatan adikku."


"Contohnya,Karin....,dia itu sahabat kecil Diego,sekaligus cinta sejatinya.Sepuluh tahun terpisah,tidak membuat mereka berpindah hati."


"Lalu memutuskan untuk menikah.Dia yang katanya bahagia disamping Diego.Ya,itu benar....,"


"Tapi Karin harus membayar mahal dengan menjadi korban kecelakaan tunggal akibat ulah pesaing wanita yang ingin merebut Diego darinya dan nyaris merenggut nyawanya kala itu."


"Lalu hampir menjadi korban penculikan para seteru papa mertuanya,"


"Kemudian Diego,ia malah nyaris menjadi korban ledakan bom bunuh diri di Bruno Palm,setahun yang lalu,"ujarnya berapi-api.


Hilya mematung,'Jadi semuanya ada hubungan dengan wanita itu.'batinnya menerawang.


"Ayolah,dia hanya akan menggadaikan keceriaan seumur hidupnya,demi cinta?,absurd ini."Danang membuyarkan lamunannya,"Dosa apa adikku yang malang,coba."


Meski gagal paham soal keluarga mafia yang dimaksud suaminya itu,namun setidaknya ia bisa menangkap sebentuk kekhawatiran yang serius dalam diri suaminya,"Aku tidak ingin kehilangan lagi."Kira-kira begitu maksud kerlingan dalamnya yang seakan meronta untuk segera melepas belenggu.


Diam-diam Hilya menggulir layar siaga miliknya,lalu menekan tombol membalas pesan kemudian menekan tombol kirim,setelah berhasil mengutak-atik sesuatu tanpa sepengetahuan Danang.


Sebuah kenyataan yang mengingatnya kembali kepada gambaran raut wajah mertuanya,kala kehadiran tamu yang menjatuhkan lamaran kepada puterinya di bulan lalu,redup dan mencekam.


Seakan ingin mengatakan secara lugas dan tegas kepada mereka bahwa,"Lamaran ditolak,"namun tak kuasa demi menjaga nama baik,prinsip dan juga nilai kemanusiaan.


Kini ia hanya bisa mengelus dada suaminya, berharap pria itu mengerti kalau ia tengah memberinya kata penguat,"Tenanglah."


Danang yang merasa mendapat dukungan dan perhatian,kembali melepas beban ceritanya,"Aku bahkan gagal menalar jalan pikiran adikku sendiri....,"


"anak manja yang hidupnya serba bergantung pada kita semua.Lalu demi playboy itu,ia rela menggantung semuanya?"


"Came on,Hilya....,beri dia pengertian.Aku tidak ingin adikku kenapa-kenapa,Dania mungkin bisa mengatasi masalahnya sendiri,tapi tidak bisa menjaga nyawanya yang dalam bahaya."


"Dia bisa saja terjebak dalam dunia mafia yang bahkan keluar rumah saja harus melakukan penyamaran terlebih dahulu,lalu nyawanya menjadi taruhan,hah tidak,"desahnya berat.


"Dan kau tahu satu lagi rahasia yang kupegang selama ini,mendiang Lian....,wanita itu....,"


"Mendiang calon isterimu?"Danang melirik singkat ke wajah isterinya yang tiba-tiba sendu.Sejenak ia mengerjap,"Kau sudah tahu rupanya?"


Hilya mengangguk,"Maaf,aku yang bertanya ke bibi Nunung.Beliau tinggal menjelaskan."


Danang tertawa sumbang,namun akhirnya mengangguk singkat penuh pemakluman,"Lian juga akhirnya mengalami sial lalu meninggal dari perjalanan dinas luar kota....,"ucapnya tecekat.


Hilya menggenggam erat lengan suaminya,seolah ingin memberi kekuatan kepada Danang agar bisa melanjutkan ucapannya.Seakan paham maksud sang isteri,"Dia terjebak dalam urusan pria playboy dan hidung belang,"


"Lian mencintai Diego,tapi tidak mendapat balasan.Dia nekad menghalalkan segala cara demi mendapatkan cintanya,"


"Menjadikan pria bernama Zane sebagai alat untuk mendekati Diego.Namun naas menimpanya....,"


"Se_sebelum kami resmi menikah,dia terlanjur diperkosa oleh pria di masa lalunya itu,sebagai akibat dari tindakan ceroboh yang hampir dilupakannya."lanjutnya dengan nada dan tubuh yang gemetar menahan gejolak amarah.Tampak dari kedua tinjunya yang mengepal dan rahang yang mengokoh.


Hilya memberanikan diri untuk bertanya,"Lalu bagaimana dia bisa meninggal?"


"Lian berhasil membunuh pria bernama Zane yang memperkosa dirinya itu,di kamar hotel saat bertugas di luar kota."


Pantas bibi Nunung pernah bilang kalau calon isterinya itu meninggal tujuh hari sebelum hari pernikahan mereka berlangsung,"Nona Lian sendiri yang melanggar tradisi pingitnya,hingga harus meregang nyawa di perjalanan pulang dinas luar kota."Begitu kata wanita paruh baya itu seraya memasang aksi geleng-geleng kepala.


Lamunannya seketika buyar manakala Danang mulai bersuara lagi,"Lalu Lian bersama sekretarisnya melarikan diri dari sana,kemudian di perjalanan mereka mengalami kecelakaan yang membuat keduanya meninggal."Terangnya sebak.


"Jadi ini alasan mengapa selama ini Danang selalu mengasariku."Pikirnya sendu.


Kini menangkap sebuah celah di masa lalu suaminya itu.Rupanya dua wanita sebelumnya,Karin dan Lian sama-sama memiliki hati yang dipersembahkan kepada orang lain dan bukan dirinya.Bahkan untuk orang yang sama pula.


Mungkin itu juga yang membuat pria itu terkesan sangat hati-hati menerima wanita di masa depannya.Danang bahkan sampai tega menyakiti hati dan fisiknya manakala dirinya tampak begitu dekat dengan Joshua,sedangkan dirinya sudah sah menjadi isterinya.


Ya,memori itu bergelayut kembali di pikirannya.Berawal dari pertemuan dadakan mereka dalam jebakan di VIP room Restoran DS,di mana Danang menganggap Hilya sebagai gadis liar yang berupaya memerangkap dirinya.


Kemudian kilatan amarah di wajah suaminya,di mana Danang menyentak kasar lengannya hingga terjerembab ke lantai,sepulang dari belanja sendirian di daerah rawan perampok.Ketika itu mereka menginap di Dania Hotel.


Masih ada lagi,ketika Danang harus menjadi saksi dirinya berbicara kepada bintang di malam pertama kali mereka mendatangi kota kecil waktu itu.


Lalu di pantai kota kecil saat Danang mengetahui kalau dirinya memiliki Juna,"Siapa anak itu,aku tanya sekali lagi anak itu siapa,di mana ayahnya?"Begitu banyak bentuk kekhawatiran yang ditunjukkan Danang kepadanya,semuanya hanya karena tidak ingin mengulang kesalahan hingga harus kehilangan lagi untuk sepersekian kalinya.


Namun ia tidak pernah menyadari kalau semua itu sebagai bentuk peduli dari seorang suami kepadanya.Yang ia tahu adalah apa yang ia rasakan,sakit dan tersiksa akibat ulah buruk pria yang menjadi suaminya.


Ia bahkan tidak pernah berusaha memandang dari sisi positifnya kalau suaminya memiliki trauma di masa lalu.Ya,karena memang dirinya tidak pernah mengetahui itu.Danang juga tidak pernah terbuka kepadanya,bukan?


Yang ia tahu Danang adalah pria monster yang menyebalkan dan suka menyakiti jiwa dan raganya dengan semua ucapan pedas serta pandangan miring yang ia lontarkan,"Jadi semua penilaianku selama ini,salah?"batinnya menyesal.


Namun satu hal yang patut ia syukuri,Danang bukan pria bejat yang bertindak paksa merebut kehormatannya,"Seharusnya aku paham dari sana."Pikirnya.


Meski sejengkel apapun,Danang masih punya kesadaran yang sempurna hingga suaminya itu tidak pernah menyentuh organ intimnya sebelum ia benar-benar memberi izin,"Dia bahkan sangat sopan untuk hal sepribadi itu,"batinnya berkaca-kaca.


Kali ini Hilya mengeratkan pelukannya,ikut merasakan beban suaminya,"Tenanglah,semuanya akan baik-baik saja,"bisiknya pelan.


Danang membalasnya dengan ikut memeluknya posesif,"Ee....,maaf.Curhatku jadi panjang.Aku hanya....,"


"Tidak ingin kehilangan lagi...."


"Takut kehilangan...."


Baik Hilya maupaun Danang,sama-sama melengkapi kalimat yang terputus di atas secara pelan dan hampir bersamaan dengan senyum kecil.


Hilya sontak menangkup pelan kedua pelipis suaminya,menyatukan wajah mereka,"Ya,aku paham.Tapi kali ini siapa yang akan berani meninggalkanmu lagi,huh?"Hilya mencoba memberi penguat,


"Kau punya orang-orang yang mencintaimu,dan menyayangimu begitu tulus."


"Bukan cuma itu....,"


"Kau bahkan punya isteri dan sebentar lagi punya anak,sebuah keluarga yang komplet bukan?"lanjutnya seraya menepuk pelan kedua pelipisnya,"Semuanya untukmu."


"Hei,lihat,satu saja pertanyaanmu....,"Menatap lurus,membelai pelipis indah sang isteri,"Bisa kujawab dengan sepuluh kalimat beserta sepuluh penjelasannya."


Danang terkekeh dan Hilya ikut tertawa geli mendapati tingkah gerilya suaminya yang begitu gencar namun harus tertahan pada satu area'warning'yaitu,perut datarnya.


"Ya,ya,ya.Papa mengalah sayang....,"Danang bergumam pelan,merubah posisinya demi mencium perut datar sang isteri,"Jaga mama baik-baik ya,nak."Meraba lembut bakal bayi yang kini tengah bersemayam di dalam tubuh isterinya,membuat wanita itu merasa benar-benar dicintai,"Terima kasih suamiku."


"Terima kasih saja tidak cukup."


"La_lalu?"


Danang menarik bibirnya menyeringai,"Seperti biasa,"Menaik turunkan kedua alisnya.Bahkan tanpa memberi aba-aba Danang menancap lembut bibir isterinya,dalam dan lama.


"Sayangh...."Hilya mendesah pelan saat Danang memberinya ruang mengatur napas.


"Jika diizinkan,aku akan memberikan servis terbaik yang paling mengesankan untukmu malam ini.Aku janji tidak akan menyakiti,apalagi melukai."lanjutnya parau dan memelas.


"Aku mencintaimu,Hilya....,"desahnya lebih tepat meracau membuat Hilya yang awalnya sempat kekeh ingin menolak,akhirnya ikut tenggelam ke dalam hasrat dan gelora sang suami yang kian membakar jiwa dan raganya.


Bagaimana tidak,seperti janji suaminya,wanita itu mendapat perlakuan sangat istimewa sepertimana yang pernah ia dapatkan ketika momen tiga hari bersama di Paradise Villa,"Istirahatlah dengan manis,aku yang bekerja."Begitu bisik Danang ke telinganya seraya meniupkan hawa panas yang menjalar ke sekujur raga,mengeksplor setiap inci kulit mulusnya dari ujung rambut hingga ujung kaki jenjangnya tanpa ada yang tertinggal.


"Suamiku yang ahli,"desisnya pelan dan berat,membuat Danang semakin lincah dalam kehati-hatian.


Membiarkan suaminya bergerak maju dan semakin terpacu untuk lebih gencar menyulut ghairah yang kian membakar keduanya,lalu membawa mereka melalang buana bersama.


Menikmati alam indah dan secara bersama-sama merasakan terpaan badai nikmat yang membumbung tinggi,lalu turun bersama ombak pelepasan terindah berkali-kali.


Ya,berkali-kali dengan kekuatan rasa yang mereka miliki,"Aku mencintaimu,"bisiknya lirih ke telinga pria yang sudah terkulai lemas disampingnya.


Begitu samar,antara dengar dan tidak,namun sukses membelalakkan mata prianya yang berkali-kali mencoba mencerna bisikan samar yang paling dinantikannya selama ini,"Ulangi sekali lagi,aku mau dengar."Perintahnya tak terbantahkan.


"Aku mencintaimu,tuan Danang Danuarta Setiawan."Kali ini diperkuat dan diperjelas dengan intonasi serta penekanan yang utuh.


Danang menarik napas yang seolah mencekat tenggorokan,"Aku menunggu ini sejak awal,"bisiknya dengan rasa bergulir antara sebak dan masygul.Tak terasa,sorot elang itu mulai berkaca-kaca kemudian menyambar tubuh polos itu untuk dipeluknya,erat.Seakan ingin berbicara kepadanya,"Tak akan kulepas lagi."Kemudian mengusap lembut wajah dan pipi mulusnya.


Sementara Hilya yang terhitung sejak menekan ungkapan isi hatinya sudah tidak kuasa menahan air mata yang membendung,sudah lolos sejak tadi dan sukses mengguncang tubuhnya yang semakin dipeluk erat,"Terima kasih untuk segalanya,dan maaf karena terlambat mencintaimu,"ucapnya sengau.


Danang memakluminya,jika bukan karena sikapnya yang egois dan ekstra pemarah,mana mungkin Hilya baru bisa berani dan seleluasa ini,"Bukan salahmu,"desahnya lirih.Bibirnya menarik senyum tipis yang melegakan.


..


Di ujung barat,sebuah apartemen,seorang pemuda sedang duduk tercenung memikirkan perjalanan hidupnya yang tengah dilanda kegusaran.Pemuda yang keberadaannya selalu dianggap miring oleh semua orang,"Seburuk itukah diriku?"gumamnya sinis dengan rahang mengeras.


Dialah Ibnu Haidar,si pemuda cap playboy yang selalu menjadi tumpuan perhatian para wanita.Kebiasaan hidupnya yang kurang membatasi pergaulan membuat dirinya kerap dinilai buruk,bergelut di lingkungan mafia dan bebas gonta-ganti wanita....,


"Lalu jodohku sekarat,damn!"umpatnya kesal.


Ting tong


Suara bel berbunyi membuatnya mendadak bangkit untuk membukanya,"Dania?!"gumamnya tertegun.


Namun gadis itu seakan tidak peduli dengan keterkejutannya,malah memilih menerobos masuk ke dalam ruang pribadinya tanpa permisi.Haidar menyusul dari belakang setelah menutup kemali pintunya,"Kemari di jam begini,ini sudah malam."lanjutnya antara senang dan khawatir tingkat tinggi.


Senang karena Dania mulai berani mencarinya,dan khawatir kalau gadis itu keluar malam-malam tanpa diketahui oleh orangtuanya.


"Aku bukan anak kecil lagi,"celetuknya geram.Tampak kilatan sendu di balik sorot mata yang meredup lantaran menahan kegundahan.


"Katakan,ada apa....,hmm sayang."Ibnu Haidar dengan suaranya yang berat dan khas berhasil mengaduk-aduk isi hati gadis tersebut.


"Kakak dan papa sama saja....,"ucapnya menjeda,"Sama-sama mengabaikanku."Kini suaranya kian menggetar menahan tangis.


"Sabarlah,semua butuh proses."Haidar berucap menenangkan.


"Apa kau bilang?"


Haidar mendengus kecil,"Papa dan kakakmu....,"


"Mereka pasti punya alasan untuk itu."lanjutnya kalem,"Pulanglah,biar kuantar,ini sudah larut."


"Tidak mau,aku di sini saja."


Pria berjuluk playboy itu lantas mencengkeram erat lengan empuk gadis itu....


Bersambung....


🤗🤗🤗