
Happy Reading 😍📖
Sore yang indah, kediaman Tuan Imran...
Usai acara doa bersama, keluarga Setiawan sempat melewati sesi makan siang bersama para tetamu yang hadir, kini saatnya keluarga besar tersebut menikmati suasana ramah tamah bersama keluarga Abimanyu, Tun Fatah-Fatih sebagai keluarga besan dan juga Jayahadi sebagai tamu istimewa dari cucu angkat, Arjuna Wijaya yang merupakan anak angkat dari Danang dan Hilya.
"Ayo, silakan dinikmati hidangan penutupnya," ujar Tuan Imran kepada Tuan Fatah, sang calon besan.
"Baiklah, terima kasih. Ini sangat nikmat." Tun Fatah berkomentar.
"Imran, kurasa sudah saatnya anak-anak diberi kelonggaran untuk saling berkunjung agar bisa mengenal lebih jauh keluarga masing-masing," ujar seorang pria yang sedari tadi hanya diam dan menyimak setiap pembicaraan antara Tuan Imran bersama keluarga Tun lainya. Di antaranya ada Tun Fahmi, si pemilik perusahaan raksasa TF. Group dan juga 'Diego Spirit' sebagai pusat misi yang belakangan menjadi masalah terberat bagi Tuan Imran untuk menerima kehadiran Haidar di kehidupan puteri semata wayangnya.
"Ya, kau benar, kak Haikal." Tuan Imran membalas ragu ucapan sang pria yang tidak lain adalah ayah kandung dari Karin sang keponakan yang dahulu sempat dijodohkan kepada puteranya, namun tidak berjodoh.
"Puterimu, adalah puteriku juga. Jika terjadi sesuatu padanya, akulah pembela di barisan terdepan, kuharap kau percaya itu." tambah Tuan Haikal.
"Kakak, ketakutanmu itu sungguh berlebihan, apa kau pikir aku juga bakal membiarkan semua itu terjadi kepada Puteri kita, huh?" timpal Tuan Amran yang tidak mau kalah. Baginya, Dania adalah satu-satunya puteri Setiawan yang berhasil menjawab doa mereka, kehadirannya memberi cahaya cinta bagi keluarga Setiawan yang kala itu sangat menginginkan anak perempuan, mengingat Danang dan Dimas sama-sama anak laki-laki.
Tuan Imran terkekeh pelan, "Melihatmu dan Amran yang lebih bersemangat dariku, membuatku semakin yakin kalau Puteri kita akan baik-baik saja," ujarnya merendahkan kalimatnya, khawatir didengar oleh Tun Fahmi yang duduk menyilang di sofa sebelah tidak jauh dari posisi duduknya, "Ya, setidaknya kalian lebih mengenal latar belakang keluarga Tun daripada diriku sendiri." jelasnya panjang lebar.
"Tenanglah, Dania tidak ada bedanya dengan Karin. Mereka juga sangat akrab, bukan?" Tuan Haikal menenangkan, "Lagi pula Haidar itu anak baik. Tidak bermasalah selama aku bergabung dalam pusat misi mereka. Jadi kuyakin semuanya akan aman." tambahnya meyakinkan.
"Menurutku, Karin dan Diego juga pasti akan melindungi Dania dengan baik." Tuan Amran menambahkan. Sementara Tuan Imran hanya bisa memandang sendu puterinya yang tengah bercengkrama ria bersama anggota keluarga Tun Fatah-Fatih yang tampak tertarik dengan kecantikan dan kelembutan sang gadis. Sepertinya mereka ingin mengenalnya lebih dekat.
Sementara Hilya yang merasa kelelahan akibat serentetan acara yang baru saja dilaluinya, membuat ia mengambil waktu untuk mengistirahatkan diri sejenak di kamarnya.
"Sayang, hati-hati jalannya. Kondisimu tampak tidak baik-baik saja," ujar mama Andin penuh khawatir.
"Ya, nak. Kau sangat pucat," timpal ibunda Iza dengan mimik serupa sang mertua.
"Tidak apa-apa, Bu, Mama, aku baik-baik saja dan bisa jalan sendiri." balas Hilya tak ingin menyusahkan kedua orangtuanya tersebut. Perlahan kakinya melangkah menuju ke arah tangga naik ke lantai dua.
Melihat kondisi sang isteri yang tidak baik-baik saja, Danang yang sedari tadi siap siaga memantau keberadaan sang isteri, tidak membiarkan wanita itu berjalan sendirian.
"Jangan keras kepala, sayang!" serunya mantap membuat semua mata tertuju ke arah mereka berdua.
Danang bahkan memilih berlari kecil demi menyamakan posisi jalan Hilya yang telah lebih dulu berjalan di depan sana.
"Bagaimana kalau terjadi apa-apa sama isteriku yang cantik ini, hmm? Calon anakku juga pasti akan terluka kalau mamanya kenapa-kenapa." komentarnya sewot. Tangannya sigap meraih pinggang ramping isterinya ke dalam ramasannya lalu mendaratkan ciuman bertubi-tubi ke kening dan pipi wanitanya yang kini sudah tak sanggup menyembunyikan rona merah di wajahnya.
"Aku baik-baik saja, sayang. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan." sanggah Hilya cepat menutupi rasa risih akibat tatapan semua mata di sekelilingnya, namun tak urung juga sang isteri yang sedari tadi menahan rasa pusing tiba-tiba oleng tapi tidak membuatnya terjerembab.Namun Danang sigap membawa wanita itu ke dalam gendongan ala bridal, "Sudah kubilang jangan keras kepala, masih juga melawan." lanjutnya kali ini tidak ingin dibantah.
Tadinya pria itu tanpa sungkan dan sigap melangkah lebar meski di telinganya masih terdengar guyonan kecil dari Dania, Diego, Dimas dan juga Nuha Izz yang kini ditinggal sendirian sejak awal acara. Semuanya kompak menganggap ia kini berubah drastis menjadi bucin akut. Entahlah, yang jelas, kini rasa khawatir terhadap keadaan sang isteri dan juga keselamatan calon buah hatinya lebih mendominasi ketimbang rasa-rasa yang lainnya.
"Ciee! Kakak sudah berani buka-bukaan soal perasaannya di depan umum nie?" sewot Dania yang awalnya sempat melongo akibat tindakan agresif sang kakak. Kini ia baru menyadari kalau sang kakak yang dulu telahpun kembali entah sejak kapan. Membuat Haidar yang duduk di sampingnya tertawa kecil sembari menepuk ringan pundak gadis kesayangannya itu.
"Wih! Iya, kau benar dek. Hari ini kakak bikin sejarah baru ini." Dimas tidak ketinggalan memberi komentar. Pandangannya menyapu sekeliling, dan tanpa sengaja matanya bertembung pada gadis yang kini lagi-lagi menatap baper ke arah kakak dan iparnya yang tengah bermesraan, dialah Nuha Izz.
"Terima kasih ya, Allah. Sahabatku kini telah menemukan cinta sejatinya, Hilya sangat beruntung mendapatkan Mas Danang yang baik." gumam Nuha pelan namun masih terdengar jelas oleh Dimas yang duduk di sampingnya.
"Apa kau bilang? Cinta sejati? Lalu kau kapan? Kalau kerjanya cuma menjadi pengintip kemesraan orang lain?" Dimas menimpali sinis membuat Nuha mendadak menoleh dengan wajah yang memerah menahan amarah, atau lebih kepada menahan malu lantaran dipergoki Dimas berkali-kali. Hal ini mengingatkan dirinya kepada pertemuan pertama mereka di mana Dimas pernah menganggap dirinya pengintip ketika pria itu tengah berpacaran dengan mantan tunangannya, Vania, "Huh, apes!" Padahal bukan ia sengaja.
"Huft!" Nuha hanya menarik napas kesal seraya memutar kedua bola matanya.
"Kenapa? Kehabisan kata-kata pembelaan? Makanya cepat menikah," bisik Dimas jahil, "Eh, tunggu dulu. Aku lupa kalau kau bahkan tidak punya pacar sama sekali, hhhh." tambahnya melirik nakal, "Makanya tuh senyum diramahkan dikit, biar ada yang naksir. Keburu jadi perawan tua lo, baru tau rasa." lagi-lagi Dimas merecokinya membuat ia semakin kukuh menahan dongkol di wajah. Tampak dari hidungnya yang kembang kempis.
Tak tahan dengan sikap absurd pemuda yang baru sembuh dari koma tersebut, Nuha memilih pergi menjauh daripada harus merespon ucapannya yang memancing emosi.
"Hei, tunggu dulu, mau ke mana? Jangan lupa kabari aku kalau sudah punya pacar." Dimas sempat membisikkan kalimat pancingan tersebut sebelum akhirnya Nuha memilih untuk benar-benar pergi daripada lama-lama berada di sana lalu kesabarannya hilang dan dia khilaf merespon ucapan pemuda sombong tersebut hingga ketahuan oleh semua orang kalau mereka sedang cekcok.
Seperti yang diucapkan Dania, Dimas dan juga Nuha, begitu pula dengan pasangan muda Diego dan Karin yang merespon keberadaan pasangan yang lagi naik daun tersebut,
"Aku seperti melihat dirinya saat memandang senja di kaki langit Tanjung Aru Beach kala itu, beberapa tahun yang lalu. Saat ia lagi gencar mendekati seorang gadis istimewa," gumam Diego pelan namun masih terdengar oleh Karin yang berada dalam rangkulannya, "Dia telah kembali seperti dulu," lanjutnya lirih, membuat wanita muda itu seketika membulatkan matanya. Sebersit kenangan itu kembali muncul di peraduan hatinya. Lebih tepatnya bukan dia, melainkan sang suamilah yang telah membantu menghadirkannya kembali.
Wanita itu kini menerawang tajam. Masih ingat betul pertanyaan konyol yang sempat dilontarkannya kepada Danang kala itu, "Apa kau pernah jatuh cinta?"
Danang si pria profesional menganggap itu sebagai pertanyaan istimewa yang tidak bakal terulang kembali. Iapun terkekeh seraya menjawab, "Setiap saat," jawabnya mantap. Namun satu kebodohan yang membuat ia sama sekali tidak peka terhadap perasaan sahabatnya sendiri, di mana kala itu hatinya benar-benar dikabuti awan London. Ya, dalam arti kenangan masa kecilnya bersama Diego yang menjadi suaminya kini lebih mendominasi dari segala hal yang terjadi kala itu.
Pemuda malang itu menengadahkan wajahnya ke arah lautan lepas nan membentang luas, "Seperti kehadiran senja yang begitu dinantikan, seperti itu pula keberadaan cinta yang sangat diharapkan kemunculannya di sisi."
"Ayo, Karin. Kemarilah! Akan kubidik dirimu dengan kamera terbaikku ini."
Setelah sekian tahun berlalu ia mengarungi bahtera rumah tangga bersama Diego, dan setelah kehadiran nona pendatang baru bernama Hilya yang lebih istimewa di dalam kehidupan Danang, barulah kini ia mengerti satu hal bahwa sebenarnya Danang ingin mengungkapkan perasaan cintanya yang tulus lewat makna kiasan yang ia sendiri bahkan tidak menyadarinya kala itu, apalagi sampai peka menanggapinya.
"Ya, dia pantas mendapatkan kebahagiaan yang pernah tertunda sekian lama," gumamnya lirih, "Danang pantas mendapatkannya," lagi-lagi bibir ranumnya bergetar dengan tatapan berkaca, lalu dibalas dengan senyuman manis penuh pengertian dari sang suami yang begitu memahami dirinya dari sisi apapun.
Setidaknya ia yang seharusnya bisa menjadi teman berbagi yang baik di saat sahabatnya mengalami kesulitan, malah bergeming membiarkan semuanya berlalu tanpa ada sebarang dukungan darinya. Terbesit rasa aneh di lubuk hatinya yang terdalam. "Andai waktu bisa terulang kembali, aku pasti tidak akan membiarkan sahabatku terluka hingga bertahun-tahun lamanya," batinnya sendu.
"Aku seharusnya dihukum lebih berat lagi," ucapnya lirih namun segera dibungkam oleh sang suami dengan sebuah kecupan hangat nan menggoda.
"Kau tidak sepenuhnya bersalah, sayang. Keadaanlah yang membuat kalian harus merasakan sakit ini, demi mendewasakan hati masing-masing," ujarnya tidak tanggung-tanggung, membuat wanita itu tak sadar menitikkan air mata.
"Siapa lagi yang bisa memahamiku selain dirimu, sayang?" desahnya histeris.
••
Sepanjang perjalanan menuju kamar dan menaiki tangga, pria muda itu tidak lupa mendaratkan beberapa ciuman ringan ke kening dan pipi isterinya, membuat sang pemilik merasa risih dengan tingkahnya di depan banyak orang. Danang dengan telaten membawa tubuh sang isteri ke dalam kamar yang telah dihiasi berbagai macam aksesoris berbau erotis dan, itu sangat mendukung suasana hatinya, bukan?
"Sayang, maaf sudah mengabaikanmu beberapa hari ini,"ujar Danang pelan namun maskulin. Hilya mengangguk sembari tersenyum lirih.
"Aku hanya sedang mempersiapkan kejutan manis ini untukmu, kuharap kau menyukainya." lanjutnya penuh harap.
"Aku maklum sayang, apa yang tidak untukmu, hmm?" ucap Hilya penuh pemakluman. Wanita itu tampak masih nyaman dalam rangkulan suaminya.
"Terima kasih, sayang. Siapa lagi yang akan memahamiku selain dirimu, hmm?" balas Danang dengan tatapan berbinar, penuh suka cita. Hingga akhirnya ia membanting pintu kamar yang Aru saja ia buka dengan kakinya lalu maju dan perlahan mendudukkan sang isteri tepat di kursi rias. Sementara Hilya sudah tidak sabar lagi membebaskan dirinya dari carut-marut paket riasan di tubuh dan juga rambutnya yang legam.
"Ini melelahkan," ujar Hilya lirih lebih tepatnya bersungut lantaran kesulitan melepas aksesoris yang melekat di kepala dan tubuhnya. Wanita cantik itu tertunduk lesu di depan kaca rias. Tampak mimik di wajahnya yang hampir saja menangis.
Mendapati itu, Danang tertawa menampakkan deretan giginya yang putih, "Sayang, acara ini sangat penting bagi keluarga kita, ini juga untuk kebaikan kita dan calon bayi kita, kan." ucapnya sembari membungkam mulut sang isteri dengan bibir seksi miliknya, "Sini biar kubantu," lalu dengan sabar membantu melepas riasan mahkota yang menempel di rambut wanitanya. Tidak lupa ikut melucuti baju kebesaran adat budaya nenek moyangnya.
Hilya hanya menarik bibirnya tipis, "Tapi aku tidak suka riasan yang berlebihan, apalagi aksesoris ini," protes gadis itu masih dengan tampang memelasnya.
Danang segera memeluknya dari belakang usai menggantikan baju sang isteri dengan kimono mandi. Sengaja mendekatkan hidung dan bibirnya ke ceruk leher jenjang itu, mengendus pelan aroma harum yang menguar lembut dari tubuh wanitanya, menggesek lembut kulit yang saling bersentuhan, mendadak membuat darah sang gadis berdesir. Adegan di depan cermin saat ini, membuat suasana kamar tiba-tiba menghangat,
"Ya, sudah. Kalau nanti ada acara semacam ini lagi, aku bakal bilang ke tukang riasnya untuk tidak menambahkan riasan berlebihan ke tubuhmu, dan akan kupastikan isteriku yang cantik ini tampil alami tanpa aksesori apapun." bujuk Danang kepada sang isteri yang diyakini sedang bad mood lantaran kelelahan dan sepertinya juga efek dari bawaan janin di dalam perutnya itu.
Perlahan ia membalik lalu turun mendekatkan wajahnya ke perut Hilya yang masih datar, lalu mencium lembut seraya berucap, "Baik-baik di sana ya, nak. Jaga kondisi Mama juga, jangan bikin Mama menderita, biar aman kalau kapan-kapan papa jenguk, oke, mau ya?" bisiknya mengedipkan mata sembari mengintip ekspresi wajah Hilya yang melotot, mulai memerah menahan rasa yang tidak karuan di hati.
"Nak, bilang ke papa, jangan keseringan kalau menjenguknya, nanti merepotkan mama." Hilya menyoroti mata elang suaminya dengan wajah gemas.
Bukannya merasa bersalah, pria itu malah terkikik geli sembari terus menggoda isterinya, "Dukung papa ya, nak. Sering-sering minta dijenguk sama papa, biar mama tidak punya alasan untuk menolak." lanjutnya dengan tatapan super nakal membuat Hilya terlolong.
Kali ini, Danang tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan baiknya. Sebelum sang isteri melayangkan protes lebih banyak, pria itu lantas membungkam mulut isterinya dengan menautkan kedua bibir mereka dengan permainan panas. Kemudian sigap meraih tubuh langsing tersebut ke dalam gendongan lalu membawanya ke pembaringan tanpa melepas tautan yang sengaja dibuat olehnya. Tindakan yang membuat sang isteri terpaksa ikut melingkarkan erat kedua lengannya ke leher sang suami.
Suami yang pintar membawa suasana, suami yang lihai membaca situasi. Dalam sekejap ia berhasil menyulap bisikan-bisikan lembutnya menjadi ghairah yang meluap-luap di antara keduanya. Membuat wanitanya pasrah dalam ketidakberdayaan laksana sugesti akut. Bukankah baru saja pria sempurnanya berkata kepada sang calon bayi agar sering meminta untuk dijenguk sang papa? Lalu kini sedikit saja sentuhan birahi darinya berhasil membuat ia seakan membeo dan meminta sentuhan lebih dari pria tersebut. Tidak seperti biasanya saat dirinya begitu gampang berkelit dan menolak permintaan suaminya ini. Kali ini dirinya pula yang memberi respon dan mendamba tubuh prianya.
Mengetahuinya, Danang menarik bibir senang, "Sayang, nikmatilah sentuhanku ini," bisiknya lembut menambah ghairah kian melambung.
"Sentuhlah aku, sayang. Nikmati tubuhku." balasnya penuh damba. Kali ini sang isteri mendadak agresif dan sedikit mendominasi. Tidak ingin pasrah begitu saja, namun lebih kepada menyerang area maskulinnya yang sensitif. Lengkaplah, ilmu yang ia turunkan selama ini nyatanya terekam begitu jelas oleh isterinya hingga tak tanggung-tanggung wanita ini mempraktekkan begitu lihai kepadanya.
Yang membuatnya rada bahagia ketika ia mendapati rasa sungkan isterinya pergi entah ke mana. Kini isterinya malah sigap mencumbui dirinya. Ya, meski tidak semahir orang berpengalaman, namun cukup mengejutkan dirinya hingga membawa jiwa tualangnya ikut melanglang buana dan melambung tinggi lalu nyaris membuat ia mati kutu akibat kewalahan sendiri. Namun bukan Danang namanya kalau ia sampai jatuh begitu saja lalu menyerah segampang itu.
Saat hasratnya belum separuh jalan, gengsi prianya malah melambai-lambai bak mengejek kelemahannya. "Bukankah ini yang kau inginkan selama ini, bro! Mengharapkan sentuhan balasan dari wanita yang satu ini, sehangat unggun cintamu, lalu siap membawanya bersama merajut asa itu di dalam kubangan arus kasih yang membuai rasa?"
Saat ghairahnya baru bersemi, sang isteri malah sudah menggebu-gebu hasratnya. Kerlingan mata dan suara-suara mendayunya memaksa raganya meminta untuk segera dijamah. Jiwa rapuhnya kian melemas memohon agar segera ditolong. Bukankah ia harus lebih bersyukur untuk menghadapi yang satu ini? Toh efek dari perkataannya yang mengandung doa itu kini terijabah. Maka dengan penuh sabar dan bangga ia merespon balik serangan isterinya.
Dan tanpa menyia-nyiakan kesempatan, Danang lantas membuai calon ibu dari anaknya ini dengan perlahan-lahan menyusuri indahnya lahan dewata yang lengkap dengan lekuk landai dan lembah, begitu puas hingga enyah lapar dahaga, lalu dengan sabar mengajak cintanya ini untuk berlayar memakai biduk kecil seukuran berdua, dan siap tenggelam ke dalam pusaran gelombang yang kian menerpa. Saling berdesakkan, berkali-kali lalu sama-sama menghempas ke tepian pantai syurga dunia nan indah saat dirinya meledakkan sesuatu yang lumer dan hangat ke dalam tubuh isterinya. Sungguh pelabuhan yang sempurna dengan rasa yang tak terungkapkan.
"Sayang, terima kasih banyak," bisiknya lembut ke telinga sang isteri yang sudah tampak lemas dalam pelukan hangatnya, "Servisnya sangat memuaskan, aku suka," tambahnya mendesah lirih. Tangan kekarnya memeluk posesif tubuh polos yang bergelung di balik selimut yang membungkus tubuh mereka, seakan enggan mengurai lantaran khawatir akan terlepas lalu pergi dan menghilang.
"Emh, sama-sama cintaku," balasnya lirih.
Baru saja keduanya akan memejamkan mata lelah, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamar mereka dari luar.
Tok
Tok
Tok
••••
Bersambung....
Terima kasih masih mau mendukung karya recehku ini... 🤗🤗🤗