I Need You

I Need You
Tanggung Jawab



Happy reading 😍


Hilya menghilangkan wajahnya di balik selimut,


"Kau siapa?!" Hilya memekik ketus.


Danang meletakkan mangkuk berisi sup panas di atas nakas.


"Aku yang seharusnya bertanya,kau siapa." Danang berucap seraya menarik selimut tersebut hingga kepala sang gadis seketika mencuat dari persembunyiannya.


"Jangan mendekat! Aku tidak mengenalmu, pergilah!" bentak Hilya berusaha menyembunyikan bagian tubuh polosnya yang tersingkap akibat ulah Danang.


Melihat tingkah lugu gadis itu seketika membuat Danang sukses tersulut emosi. Awalnya ia sudah mencoba untuk menerima insiden ini sebagai suatu ketidaksengajaan namun dengan adanya sikap gadis yang tiba-tiba uring-uringan dan menolaknya ketus membuatnya berpikir dua kali jika ini hanyalah kebetulan yang memang disengajakan.


Sorot mata elangnya nyalang menyorot tajam,


"Jangan munafik! Kau kan yang menolongku semalam di dapur restoran itu," ucap Danang seraya menyentak selimut yang masih dipertahankan oleh Hilya.


"Ya..., a-aku menolongmu, ta-tapi tidak.."


"Kau mau bilang kalau kau tidak berniat untuk tidur di kasur ini bersamaku, hmm..., lalu siapa yang membuatmu tidur disampingku semalaman hah? Cepat katakan atau aku tidak akan segan-segan menyakitimu," potong Danang menyerang dengan tatapan membunuh.


"Ma-maaf tuan, aku serius dan tidak bermaksud untuk menjebakmu. Aku hanya berniat membantumu saja tapi....," Hilya berusaha mempertahankan alasannya.


Iris indahnya nyaris tidak bisa membalas tatapan elang pemuda yang gelap mata menatapnya penuh amarah. Namun tatapan lembut yang kini mulai berkaca itu dipaksakan juga untuk tetap menantang sorot elang yang ada di depannya demi membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah.


"Jangan memancing iba ku dengan tatapan polos munafikmu itu. Aku sama sekali tidak percaya dengan wanita busuk sepertimu," ucapnya berang, 


"Hei! Katakan sudah berapa banyak pria yang kau jebak dan kau tiduri hah?" serangnya membabi buta.


Plakk!


Refleks jemari lentik gadis itu mendarat ke pipi seorang Danang yang begitu menghina harga dirinya. Serasa dicabik-cabik seakan martabat orangtuanya juga ikut tercabik. Entah kekuatan itu datang dari mana, ia pun tidak mengerti. Yang jelas tindakannya demikian telah membuat si pria seketika meraba pelipisnya yang kesemutan.


"Tuan boleh menghinaku dengan cara apapun, tapi tolong jangan menyinggung harga diriku."


Danang mengernyit penuh sarkas," Di saat seperti ini kau masih membela harga dirimu?Setelah apa yang kau lakukan ke atas diriku hmm...,"


"hei, ini apa hah?" sekali lagi Danang menyentak penuh tenaga selimut yang dipertahankan gadis itu hingga tersingkaplah apa yang seharusnya disembunyikan dan ia benar-benar terlihat polos di area dadanya.


Seketika itu juga pemuda yang amarahnya memuncak itu meramas kasar sepasang payudara gadis yang menyembul keluar membuat yang empunya memekik histeris dan menangis sesenggukan serta berusaha meraih bajunya yang raib entah ke mana.


Air mata luka, air mata harga diri yang tidak bisa dibayar dengan apapun di dunia ini. Meskipun suatu saat takdir membawa Danang untuk berubah dan menerima dirinya maka luka itu tetaplah luka yang akan tertoreh dan membekas di dalam lubuk hatinya yang terdalam.


Danang masih menggengam ujung selimut di tangannya, "Jika kau memang berniat tulus membantuku lalu mengapa kita bisa tidur seranjang hah?"


"Bagaimana mungkin aku bisa tidur di dalam pelukanmu tanpa sehelai pakaian luar jika bukan karena ulahmu, karena kau satu-satunya orang yang menolongku dan..," mata Danang menggerilya menyapu setiap inci tubuh polos gadis itu dengan tatapan mesum, 


"Mengapa kau bisa tidak berbaju seperti ini? Apa kau juga memang ingin kutiduri hmm...?!Jawab!" Danang membentak keras membuat gadis itu terjingkat dalam ketakutan.


"Ba-baik, a..aku minta ma_af tuan. Anggap saja aku bersalah dan menerima ini sebagai hukuman yang pantas," ucapnya ketar-ketir,


Danang membuang pandangan ke sembarang arah dengan amarah yang masih membuncah, "Hhhhh..., tidak semudah itu wanita gila! Dengar baik-baik gadis murahan, kau harus bertanggung jawab atas masalah ini!" ucapnya,


"Karena kau yang sudah memulainya, maka kau yang akan mengakhirinya, paham!" Danang memicingkan matanya seraya menyeringai licik.


Sesaat kemudian pemuda itu beranjak dan kembali lagi membawa sebuah baju dan dalaman bra yang diduga itu milik gadis malang tersebut, melempar ke arahnya dan gadis itu terlihat tersenyum lega di dalam tangisan pilunya seraya memeluk erat dan mencium lembut pakaiannya itu. Dan adegan tersebut tidak luput dari penglihatan mata Danang dan terbaca dengan jelas oleh mata hatinya, membuat pria itu seketika menyapu kasar wajahnya sendiri.


:


Ruang Manager


Siang itu Hilya benar-benar terpojok. Berita insiden semalam kini sudah menjadi perbincangan hangat di area resto DS. Gadis yang semula berniat tulus membantu sesamanya justeru malah menjerumuskan dirinya sendiri ke dalam masalah yang ia sendiri tidak pernah harapkan.


'Tuhan, jika bisa memilih maka aku ingin mengakhiri hidupku saja biar masalah ini menjadi akhir dari bebanku. Ini hal terberat yang pernah aku hadapi," batinnya nelangsa.


Beberapa menit yang lalu Hilya Afiyana baru mengetahui dari penuturan ibu Sherly bahwa pemuda yang ditolongnya semalam itu tidak lain adalah anak pemilik Adhytama Star Group yang mencakup resto dan hotel DS sebagai cabang usaha di mana tempat ia mengadu nasib saat ini.


Ya, Pemuda bernama lengkap Danang Danuarta Setiawan ini adalah tuan muda yang dimaksudkan oleh ibu Sherly dan ditunggu-tunggu oleh dirinya serta tim kokinya semalam suntuk namun tidak juga menampakkan batang hidungnya.


Entah sial apa yang membuat dirinya malah terjebak dalam kamar bersama anak direktur itu.


"Kau sadar apa yang sudah kau lakukan Hilya Afiyana?!" Manager Sherly bernada interogasi.


"Bu, tolong percayalah. Saya tidak menjebak tuan Danang di kamar itu," ucapnya di sela sesenggukan,


"Saya hanya menolongnya bu, dia mabuk berat dan tangannya terluka akibat serpihan gelas yang digenggamnya dengan penuh amarah saat itu." lanjutnya memelas.


Manager Sherly mencerna setiap ucapan gadis yang selama ini menurutnya cukup polos. Kini gadis ini tengah mempertaruhkan harga dirinya demi seorang pemuda kaya raya yang tidak lain adalah majikannya sendiri.


"Bu, tolonglah. Kalau ibu tidak percaya, saya bisa menjelaskan persis kejadiannya seperti apa. Saya bukan pembohong. Saya rela bekerja tanpa digaji asalkan ibu percaya pada saya."


Semunafik itukah gadis yang duduk di hadapannya ini hingga ia menangis sesenggukan hanya sekedar untuk menarik perhatian agar semua orang menaruh simpati kepadanya. Akan tetapi entah kenapa hati kecil ibu dari tiga anak itu seakan menyangkal semua tudingan yang menimpa bawahannya tersebut.


"Maaf..., tidak memihakmu bukan berarti ibu tidak mempercayai kebenaranmu. Tapi ini sudah menjadi perintah atasan yang tidak bisa di bantah. Maka menurutlah."


"Bu.., tolong bebaskan saya. Izinkan saya pergi dari sini. Saya rela dipecat tanpa imbalan apapun asalkan saya bebas dari tudingan dan masalah ini."


"Maaf Hilya, kalau hanya sebatas menjadi pendengar yang baik, maka ibu bisa melakukannya," ucapnya pelan


"Tapi ibu sendiri tidak bisa mengambil keputusan yang bijak untuk hal ini karena ianya berkaitan langsung dengan pimpinan kita," ulasnya lagi,


"Maka menurutlah untuk menghadap pimpinan direktur besok pagi di AS Group. Biarkan mereka yang mengambil keputusan ke atas masalah ini."


Hilya tertunduk lesu. Gadis itu merasakan sesak di dadanya begitu mendalam seakan disayat oleh sembilu yang membuat lukanya kian berdarah.


•••••


Bersambung...


Terima kasih kawan-kawan,semoga suka dengan karya fiktif ke dua ini. Jangan lupa dukung, like, fav, vote, dan juga komen jika berkenan. 🤗