I Need You

I Need You
Curhat



Happy reading 😍📖


Sore itu,sehabis menemani Juna bermain di tempat hiburan,Hilya mengajak puteranya untuk bertandang ke rumah sahabatnya Nuha Izz.Hilya sengaja mampir ke sana sekedar untuk melepas semua beban derita yang sedang dialaminya.


"Mampir ke rumah tante Izz,yuk."


Juna yang senang ikut jalan-jalan bersama sang bunda,terlonjak girang mendengar nama Izz yang disebut sang bunda.


"Horee....,ada opa Hadi juga berarti."


"Ya,sayang.Semoga ya."


Sementara itu,di kediaman tuan Jayahadi sedang ada pertemuan keluarga yang membahas tentang keberadaan Juna di kota ini.Tuan Jayahadi yang mengklaim Juna sebagai anak dari almarhum puteranya,berencana akan membuat perhitungan kepada bapak Ferdi,paman dari mendiang menantunya.Tuan Jayahadi telah menganggap bapak Ferdilah penyebab dari semua kesalahpahaman itu terjadi.


"Aku sudah dua kali melakukan pendekatan ke bapak Haryadi,"ucap tuan Jayahadi dengan wajah yang mencekam,"Tapi sayang,dia menolak pengajuanku tentang Juna."lanjutnya sedih.


"Yang sabar,pa."Nyonya Amanda ikut terisak,"bukan gampang membesarkan seorang bayi yatim piatu,lalu tiba-tiba ketika ia besar,seseorang muncul dan mengklaim anak itu miliknya."lanjutnya mencoba memposisikan diri sebagai bapak Haryadi yang mempertahankan Juna.Ia bahkan tidak pernah menyangka kalau cucu kandungnya masih hidup.


Sedangkan di Pemukiman Premium....,Danang baru saja memasuki pekarangan rumah megahnya.Tatapan elangnya terpana saat menatap mobil yang khusus ia tugaskan untuk mengantar jemput Hilya dan Juna,sedang tidak berada di tempat.Pertanyaan membingungkan muncul begitu saja.


"Bibi,di mana mereka?"Danang yang baru saja menginjakkan kakinya ke ruang keluarga dan mendapati bibi Nunung tengah sibuk membersihkan seluruh ruangan.Aroma wewangian bunga lavender yang berasal dari pewangi yang baru saja disemprot wanita paruh baya itu menguar seisi ruangan.Menambah segar suasana hati.Danang celingak-celinguk mencari keberadaan isteri dan anaknya.


"Belum pulang,nak."


Mereka belum pulang sejak mengantarkan makan siang untuk Danang ke kantor.Begitu penjelasan rinci yang diberikan oleh bibi Nunung.Sedangkan selanjutnya agenda apa yang dijalani oleh isteri dan putera angkatnya,sang asisten rumah tangga yang telah membesarkan dirinya itu tidak mengetahuinya sama sekali.


"Apa dia tidak meninggalkan pesan apapun untukku,bi?"Danang melemparkan pertanyaan penuh harapnya.Sang bibi yang bisa membaca raut wajah sang majikan yang serasa anak kandungnya itu hanya bisa menggeleng pasrah.Ada rasa iba yang hinggap begitu saja saat mendapati wajah majikannya tiba-tiba murung.


"Apa tidak sebaiknya dihubungi saja,nak."Bibi Nunung menyarankan.


Danang mengangguk pasrah,


"Akan kucoba,bi."


Kepulangan Danang yang jauh sebelum jam pulang kerja sempat menimbulkan tanya di kening bibi Nunung.Ia bahkan sempat terpikirkan di dalam hatinya bahwa jangan-jangan nona Hilya telah berhasil meluruhkan hati majikannya itu hingga membuatnya pulang lebih awal dari seharusnya.Namun dengan adanya keadaan seperti ini,ia jadi meragukan dugaannya sendiri.


Kembali lagi di kediaman tuan Jayahadi,nyonya Amanda yang dari tadi sedang terisak masih belum puas menggali informasi dari suaminya.


"Lakukan sesuatu agar bapak Haryadi mau berdamai dengan kita,pa."Nyonya Amanda mengutarakan niatnya.


"Sudah papa pikirkan,hanya waktu saja yang belum tepat,"balas tuan Jayahadi.


Ting tong


Dentang bell rumah tiba-tiba berbunyi dan seorang pembantu bergegas membukanya.Beberapa detik kemudian,muncul sang pembantu dari balik ruang tamu sembari menggiring Hilya dan Juna menuju ke kamar Nuha Izz,sesuai permintaan dari puteri majikannya yang telah berpesan sebelumnya.


Saatnya melewati ruang keluarga yang tengah diisi oleh tuan Jayahadi,nyonya Amanda dan beberapa asisten yang bertugas memantau perkembangan cucu mereka.Nyonya Amanda dan tuan Jayahadi sukses mematung saat melihat kehadiran darah daging yang tidak pernah terpikirkan sama sekali.


"Sore,om dan tante."


"Sore juga nak Hilya." balas tuan dan nyonya Jayahadi bersamaan.Mata mereka hanya terfokus kepada Juna.


Tanpa mereka duga sebelumnya,Arjuna Wijaya yang telah lama pergi begitu saja dan kini tiba-tiba muncul di depan mereka,berwajah seorang bocah mungil.Takdir terlalu indah dan amat rugi jika tidak diperjuangkan.


"Juna,kemari sayang."pinta tuan Jayahadi.


Juna yang sudah terbiasa dengannya,dengan berani maju dan mendekat seraya menjabat tangan dan mencium punggung tangan sang opa yang ia kenal sebagai opa pemberi hadiah.Kemudian berbalik melakukan hal yang sama kepada oma yang sudah sering ia temui ketika ikut oma Andin ke mana-mana pertemuan.


Lalu selanjutnya kepada beberapa orang asisten yang juga ikut terpana saat melihat bocah tersebut dari dekat.


Hilya yang tidak mengetahui kebenarannya,dengan ramah menitipkan Juna kepada sepasang suami isteri tersebut lalu kemudian beranjak menuju ke kamar Hilya.


"Juna,bunda tinggal kedalam ya,nak."beranjak meninggalkan.


"Baik,bunda."Juna menjawab dengan lantang mengikuti punggung sang bunda yang menjauh.


Juna yang lincah dan tidak pernah kikuk dengan siapapun,segera membuka cerita awal di depan kedua orangtua yang rasanya sedikit canggung,


"Opa tahu,Juna habis main tentara-tentaraan."Juna dengan ekspresi ala komandannya.Membuat opa Hadi ikut tertawa lirih.


Pria paruh baya itu bagai menemukan kembali kekuatan yang selama ini terkubur dalam hingga ke dasar bumi.


Pria itu membelalakkan mata seakan ikut terbawa ekspresi,


"Wah,asyik.Kapan-kapan opa boleh ikut kan,nak?"


Juna mengiakan,


"Boleh,opa.Nanti Juna ajak kita main bajak laut seperti yanh pernah diajak papa."jelas Juna berapi-api.


"Papa?"Tuan Jayahadi sedang mencernakan maksud sang cucu.


Juna mengangguk,


"Ya,pa pa....,papa Danang."jelasnya antusias.


"Oo...."Tuan Jayahadi barulah manggut-manggut.Kini ia mengerti,sepertinya Juna sangat betah bersama Danang.Pria itu bahkan merasa bahwa Juna telah mendapat keluarga yang paling pantas dibandingkan dengan dirinya.Hal ini membuat rasa di hatinya tiba-tiba menciut.


Andai dia mengakui dirinya sebagai opa kandung lalu Juna tiba-tiba memilih untuk menjauhinya,itu adalah hal terberat yang tidak sanggup ia hadapi.Lalu bagaimana jika ia membiarkan Juna hidup dengan orang lain sementara dirinya masih kuat berpijak di bumi padahal dirinyalah yang seharusnya bertanggung jawab atas semua kenyataan pahit di lima tahun lalu.


Nyonya Amanda yang memperhatikan keseluruhan sifat dan gaya bicara sang cucu,tiba-tiba sorot sendu itu mengucurkan


"Juna,sayang.sini sama oma,nak."pintanya lembut.


Juna yang pemberani,menuruti saja tanpa sungkan.


Di kamar,Nuha Izz menyambut kedatangan Hilya dengan perasaan sedih.Gadis itu ikut menangis sebagai tanda kesetiakawanannya.Nuha mencoba menenangkan Hilya yang sesenggukan,


"Tenanglah,"membawa sahabatnya dari pelukan menuju ku sofa,"setelah itu ceritakan kepadaku."lanjutnya lembut.


Hilya mengangguk pasrah.Mata sendunya lagi-lagi mengucurkan air mata mengingat suaminya berpelukan dengan wanita lain.Meski bukan yang pertama,namun hatinya tetap sakit bagai teriris sembilu beracun yang racunnya menebar ke seluruh urat sarafnya.


"Dia berpelukan mesra lagi dengan wanita yang lain,"ucapnya di sela tangis.


Nuha mengerti perasaan seorang isteri meski tidak dianggap sedikitpun,karena bagaimanapun dirinya juga seorang wanita yang memiliki hati lembut seperti sahabatnya itu.


Sementara itu di jalanan sepi,Danang baru menyadari kalau mobilnya saat ini sedang melaju ke rumah Nuha Izz.Setelah mendapat kabar dari Nuha kalau Hilya ada di rumahnya,Danang langsung melesat begitu saja.


'Hhftt...,dia bahkan membalas semua ucapanku padanya.'gumamnya sembari mengingat kembali peristiwa di kantor siang tadi.


Kemudian Hilya yang baru habis menangis,kini tampak termenung.Nuha,sahabat yang paling mengerti akan penderitaan gadis itu.Ya,sepertinya Nuha mengabari Danang tanpa sepengetahuan Hilya karena gadis itu mengatakan kalau dia tidak ingin pulang lagi ke rumah baru yang menurutnya hanyalah neraka baginya.


"Aku benci rumah itu."umpatnya keras.


"Tenanglah,Hilaf sayang."Nuha menenangkan sembari merangkul bahunya.Kini mereka berdua duduk berjejeran.


Hilya menghela napas kasar,


"Aku mau pulang ke permata kos saja."


Nuha terbelalak,setahunya Hilya adalah gadis yang pantang menyerah.Tapi kenapa kini ia malah serapuh ini.Gadis itu menggelengkan kepalanya,


"Kau gila,Hilaf."


"Aku benci dia."


Nuha tersenyum tipis,


"Aku merasakan ada aroma cemburu yang menguar dari ucapanmu barusan,"ucapnya sembari melirik usil ke arah sahabatnya yang masih dibaluti emosi.


Hilya terperangah karena Nuha bisa membaca isi hatinya,"I_iya juga sih,"memadang lurus ke sahabatnya dengan wajah yang merona,"Tapi itu yang aku takutkan Izz.Dia bahkan pernah bilang kalau akan membuatku bertekuk lutut mencintainya,lalu dia berpaling mencintai orang lain,"ucapnya dalam derai air mata yang tidak terbendung.Hilya menangis dalam diam.Nuha merasakan sekali penderitaan yang dialami oleh sahabatnya kini.


"Hilya sayang,aku yakin ini cuma salah paham,"ucapnya menghibur,"Entah kenapa perasaanku mengatakan kalau Danang itu sebenarnya juga mencintaimu.Buktinya dia selalu ada dan melindungimu di mana saja."


"Tapi dia suka menyakiti hatiku,Izz.Kalaupun ya,bagiku cintanya terlalu keras untuk orang yang merindukan kelembutan sepertiku."


"Sebentar Hil,aku mau tanya.Kenapa kau menolak saat dia meminta haknya sebagai suami?"Tanyanya menyelidik.


Hilya mengerutkan kening,


"Ya,karena dia suka menghinaku dengan sebutan gadis liar,punya masa lalu yang kelam."


Nuha mencoba mecerna setiap ucapan Hilya yang tengah menceritakan rentetan kejadian yang selalu memicu pertengkaran mereka.Ia menangkap ada Juna di balik pertengkaran mereka.Nuha merasa telah menemukan akar dari permasalahan,


"Apa dia tahu Juna anak angkatmu?"Nuha mencoba memposisikan diri di pihak Danang dan bertanya sesuatu yang menyinggung perasaannya.


Hilya memandang lurus ke arah Nuha,"Untuk apa aku jelaskan,toh semua orang juga tahu kalau Jina adalah putera angkatku,"memeluk kedua kakinya,"mana mungkin dia bisa berpikir kalau Juna anak kandungku."lanjutnya melengos.


"Tapi bagi orang yang mulai jatuh cinta,akan merasa sensitif di segala sisi,Hilya.Bisa jadi dia tidak tahu persis status Juna,lalu menganggapmu seorang janda yang masih terikat dan kapan saja bisa digugat oleh pihak mantan suamimu?"


Hilya bergidik ngilu membayangkan ucapan Nuha.Awas saja kalau Danang sampai berpikiran demikian.Ingin rasanya ia membongkar pasang otak pemuda itu.


Tok tok tok


Bunyi ketukan pintu mengagetkan mereka berdua.Nuha segera membukakan pintu dan tampak seorang asisten rumah tangga yang berdiri di sana.


"Ada apa bi,Sin?"tanya Nuha bermalas-malasan.


Bibi Sinta tampak berdiri dengan napas tersengal,


"Non,cepat ke ruang tamu,ada pertengkaran di sana."Bibi Sinta berucap kalap.


Melihat bibi Sinta yang tampak panik,Hilya menjadi penasaran lalu bangkit menyusul ke depan pintu.


"Hahh?Papa dan mama bertengkarkah?"tanya Nuha belum mengerti.


Bibi Sinta menggeleng,


"Bukan,ada seseorang yang datang mengamuk di pada tuan Jayahadi."


"Appa?"


Nuha menarik tangan Hilya untuk bergegas ke ruang tamu.Keduanya berlari kecil menuruni anak tangga dengan perasaan yang berkecamuk.


'Apa jangan-jangan Danang datang dan bertengkar dengan papa?Kalau ya,kali ini aku tidak akan memaafkannya lagi.'batin Nuha geram.


•••••


Bersambung...


🤗🤗🤗