I Need You

I Need You
Bukan di antara Bintang



Happy reading 😍📖


Di ruang keluarga,Danang masih memikirkan sikap isterinya saat makan malam tadi.Entah tersinggungkah dia,yang jelas usai percakapan di kamar Juna tadi,Hilya tampak lebih banyak diam dan tidak terlalu menggubris guyonan sang bapak maupun ucapan sang ibu.


'Apa sebaiknya aku minta maaf saja ya?'


Sementara di kamar,Hilya memilih berbaring disamping putera angkatnya.Dia membiarkan Danang tidur sendirian di kamar miliknya.Danang yang baru usai membersihkan diri masuk ke kamar Hilya,namun tidak mendapatkan isterinya di sana.


'Apa dia bersama Juna?'gumamnya.


Danang memutuskan pergi ke kamar Juna untuk memastikan keberadaan Hilya di sana. Tepat di depan pintu kamar,tiba-tiba langkahnya terhenti saat mendengar suara cekikikan dari dalam kamar.Begitu samar namun masih bisa ditangkap oleh pendengarannya.Ah,suara Hilya kah itu,pikirnya.


Hati-hati Danang mendekati pintu kamar.Iapun mencoba mempertajamkan pendengarannya.Semakin dekat,semakin tajam.Didukung oleh pintu kamar yang setengah terbuka,maka suara dari dalam menjadi sangat jelas terdengar.


Danang sukses mematung di balik pintu.Niatnya untuk masuk kedalam kamar,diurungkan begitu saja.Ia memilih untuk kembali ke kamar Hilya dengan perasaan tak menentu.Kemudian mengambil posisi berbaring terlentang di sana,sembari menatap langit-langit kamar.


'Hilya Afiyana Abimanyu.'gumamnya datar.


Begitu banyak teka-teki pada dirinya.Siapa dirinya di depan orangtuanya,siapa pula dirinya di luar sana.Terkadang ada niat untuk mulai mempercayai kebaikan dan ketulusannya.Namun di sisi lain,ia merasa bahwa Hilya itu masih sama.Dia masih tetap bertopeng di balik kepolosannya.Berpura-pura lugu di depan suami sendiri namun liar di mata pria lain.


Lantas bagaimana ia bisa mempercayai gadis itu,padahal baru saja ia melihat sendiri kalau dia bercengkerama ria di ponsel dengan seorang pria di malam-malam begini.Dia harus mempertanggungjawabkan semua ini.


Sementara itu,di kamar Juna,Hilya yang baru saja usai berbicara dengan Joshua,memutuskan untuk mencari tahu keberadaan Danang di kamarnya.Gadis itu melangkah tanpa dosa dan mendapati sang suami sudah memejamkan mata.Iapun menyelimuti tubuh sang suami yang separuh terbuka.


"Sudah puas bertukar tawa dengan pria itu?"


Hilya terperangah,mendapati Danang masih terjaga dan mengetahui kalau ia baru saja usai berbicara dengan Joshua.


'Dia ke sana tadi?'batin Hilya grogi.


"Ya,aku ke sana,"ucapnya seakan mendengar suara hati gadis itu,"dan kau asyik tertawa riang bersama pecundang itu."


Lagi-lagi Hilya terkesiap.Bukankah ia sudah mendapat peringatan bahwa jangan mencoba untuk melanggar batasan sebagai seorang isteri.Melihat dirinya digandeng Joshua di kampus kemarin saja sudah membuat suaminya ini marah besar.Lalu malam ini sang suami malah memergoki sendiri kalau dirinya tengah berbicara dengan seniman itu.


"Maaf,kami hanya_"


"Hanya apa?"potong Danang cepat,


"Saling mengobati luka satu sama lain,begitu?"


'Kau pikir aku tidak terluka Hilya?'batinnya.


"Maafkan aku."ucap Hilya pelan dan gugup.


"Kau berlagak murung di dalam rumah karena sebenarnya kau ingin segera keluar agar leluasa melakukan apa saja dengan dia kan."


"Kau salah paham lagi."


"Sudah cukup kau sembunyikan kebusukanmu itu,"menangkup rahang gadis yang tengah berupaya menjelaskan sesuatu,"karena tidak lama lagi semua perbuatanmu itu akan terbongkar."lanjutnya sembari membawa tubuh gadis itu ke pintu lalu mendorongnya keluar begitu saja.Hilya tampak terhenyak beberapa langkah ke belakang.


Untung saja bapak dan ibu sudah terlelap dan tidak mendengar perdebatan yang terjadi di antara mereka berdua.Ah,andai sebelumnya dia tahu bakal seperti ini,maka mana mungkin ia memilih untuk berbicara panjang lebar dengan Joshua.Toh,hanya akan memicu perdebatan saja.Kali ini Hilya pasrah dengan keadaan.Baru juga mau diajak baikan,sudah bertengkar lagi.


Keesokan harinya,sepasang suami isteri itu memilih saling bungkam.Akan tetapi Hilya menyadari kalau saat itu mereka sedang berada di rumah orangtuanya.Maka dengan berbesar hati ia mengalah untuk menyapa manja kepada suaminya agar tidak menimbulkan tanya di hati bapak dan ibu.Selain itu,ia juga sangat menjaga harga diri suaminya di depan kedua orangtuanya.Dia tidak ingin suaminya mendapat penilaian yang bukan-bukan dari orang-oran tercintanya.


Dari balik jendela kamar,Juna memandang langit penuh bintang.....Bocah itu duduk dalam pangkuan Danang yang sedia menemaninya.Sesuai kesepakatan di antara keduanya maka mereka juga mengundang bunda Hilya untuk menjadi saksi permohonan sang Juna terhadap ayahnya.


Jika seseorang memilih untuk pergi dari kehidupanmu,maka ceritanya bersamamu juga ikut berakhir.Namun tidak dengan kenanganmu bersamanya.Baik buruk kenangannya akan selalu membekas di dalam hati bersama kisah barumu yang terus berjalan tanpanya.Cinta terlalu payah dalam membagi kebahagiaan itu secara cuma-cuma kepada hati,melainkan harus melewati beberapa proses tempaan rasa yang membuat hati menjadi lebih matang dan dewasa dalam mengambil sebuah keputusan hidup.Hingga akhirnya cintapun kembali memilih hati yang layak untuk bersemayam.


Sama halnya dengan cerita kedua orangtua Juna.Bocah malang yang ditinggal pergi,sejak sebelum dan setelah kelahirannya.Hanya bisa mengukir cerita bersama mereka sebelum ia sempat mengenal siapa sebenarnya sosok yang telah membuatnya ada di muka bumi.


"Juna,lihat bintang itu,nak."


Juna mengangguk mantap.


"Ayo,lakukan sebelum ketinggalan kereta,"ucapan mengusik membuatvsang bocah tersenyum imut.


"Baiklah,baiklah."mengangguk sembari menoleh ke arah bundanya,


"Bunda,bunda....,jangan lupa saksikan,like,vote dan komen ya,"ucapnya cengar-cengir diikuti oleh tatapan menerobos Danang dengan ekspresi menahan tawa.


Hilya hanya melotot dan memilih untuk menyimak apa yang akan dilakukan oleh kedua orang yang sangat penting bagi kehidupannya.


Danang menyugesti pikiran sang bocah dengan menyentuh dada mungil itu menggunakan telapak tangannya.


Hening.....


Ayah sayang....,andai bisa sekali saja yah,datang kemari dan menemani Juna walau sedetik.Jika di saat Juna sakit dan terluka seperti ini,ayah bisa ikut merawat Juna,memberi kasih sayang kepada Juna,dan lebih pentingnya Juna ingin punya sosok ayah yang menemani di setiap kesempatan.Maka titipkan hatimu kepada om Danang agar Juna bisa melihat sosok ayah yang sebenarnya....,dan mulai detik ini Juna akan menggantikan sosok om Danang sebagai.....,ayah!....,dan Juna akan memanggilnya papa..


Hening.....


Terima kasih karena telah menitipkan papa Danang buat Juna wahai ayah Arjuna Wijaya...


Danang terbelalak mendengar ucapan terakhir Juna.Bocah itu menyebut nama ayah kandungnya dengan sangat jelas.


"Coba,coba nak...,diulangi sekali lagi."


"Siapa nama ayahnya?"


"AWE!ARJUNA WIJAYA"


"Nah,mulai saat ini,ayah sudah tidak ada lagi di antara bintang itu,"menggerakan tangannya menggapai bintang dari kejauhan,"tapi ayah sudah tinggal di dalam hati Juna."lanjutnya seraya menempelkan telapak tangannya ke dada bocah itu.


Juna mengangguk mantap.


"Baiklah,coba panggil aku papa sekarang."


•••••


Bersambung....


Teman-teman sekalian..terima kasih sudah mendukung karyaku ini..semoga kita semua diberikan nikmat kesehatan dan rezeki yang berlimpah..Salam saling dukung dan ikuti terus ceritanya jika berkenan..


🤗🤗🤗