I Need You

I Need You
Pangeran Tampan dan Sang Guru Pertapa



Sepasang ibu dan anak itu serempak mendongakkan wajah mereka memandang Danang yang tiba-tiba mengajak Juna untuk tinggal bersama sang bundanya.


"Ikut bunda ke kota,mau.ya?"


Juna tampak mengangkat alisnya yang simetris saat menyadari kehadiran bunda Hilya tidak sendirian,melainkan bersama pemuda yang pernah berlaku kasar terhadap sang bunda di depan mata kepalanya sendiri.Antara sadar dan tidak,bocah malang itu bergumam pelan,


'Jadi om Danang orang baik,bisa bawa bunda pulang?'


"Sayang dengar kan,apa kata om Danang?"Hilya membuyarkan lamunan putera angkatnya.


Juna mengangguk pelan.Memeluk,namun tidak ada ucapan yang mengikuti pelukannya kepada bunda Hilya.Matanya masih terus mengawasi sosok maskulin yang tampak sejak beberapa detik lalu mulai ramah dengannya.


"Ah,ya.Juna ngobrol sama om,bunda ke dapur ambilkan bubur dulu ya,"ucap Hilya sembari beranjak tanpa menunggu jawaban dari Juna dan membiarkan Danang yang menjaganya.


"Boleh om duduk di sini?"Danang meminta sambil mengambil posisi duduk disamping Juna.


Juna mengangguk.namun was-was masih menghantui perasaannya.Bocah itu perlahan mendongakkan kepala,memberanikan diri untuk memandangnya lekat.Danang ikut menatapnya intens dan membelai lembut kepalanya.


"Om,untuk apa bawa bunda kemari?"


"Untuk Juna."


"Apa om kembalikan bunda ke Juna?"


"Bukan,lebih tepatnya mengantar bunda untuk Juna,"terangnya.Lalu Danangpun membawakan sebuah cerita kepada Juna,


"Mau dengar cerita?"


Juna mengangguk pelan,beberapa kali.


"Baiklah."


"Dahulu kala,ada seorang pangeran tampan yang tersesat di tengah hutan belantara.Dia terluka karena dipatuk oleh seekor ular berbisa.Lalu seorang guru pertapa yang sangat baik hati, datang menyelamatkan sang pangeran dari serangan bisa ular,yang sudah menjalar ke sekujur tubuh sang pangeran.Lalu sang guru membawa sang pangeran menghadap permaisurinya di kayangan.Ternyata sang guru pertapa itu adalah seorang raja dari negeri kayangan.Kemudian sang rajapun memutuskan untuk menjadikan sang pangeran itu sebagai puteranya,dan sang pangeran tampan hidup bahagia bersama ayah dan ibu barunya."


Hanya sebuah dongeng...,namun berhasil membuat Juna larut menyimaknya.Sinar matanya mendadak sendu.


"Jadi pangeran itu bahagia karena dapat ayah dan ibu om?"


"He,euh!...,Juna ingin seperti pangeran itu?"


Juna tampak cemberut,wajahnya berubah menjadi murung.Hanya satu anggukan kecil yang mewakili keinginannya yang menggebu.Juna kecil yang tidak paham akan kerasnya kehidupan dunia,namun ditakdirkan tidak memiliki orangtua sejak lahir.


Entah,mengapa saat menatap intens wajah bocah ini,Danang merasa menemukan sebuah jawaban bahwa Hilya bukanlah ibu kandungnya.Tapi benarkah kenyataannya demikian,pikirnya.Tanpa berharap yang muluk-muluk,Danangpun memutuskan untuk ikut memiliki bocah ini.


"Juna mau hidup bahagia punya ayah dan bunda?"


Lagi-lagi Juna mengangguk kecil.Kali ini dia tampak bersuara,


"Mau tapi bagaimana Juna bisa sampai ke sana?Bunda bilang ayah ada di antara bintang itu."


"Kalau om bilang ayah mengutuskan om untuk menjadi ayah buat Juna percaya,tidak?"


Juna mendongak,"Memangnya bisa?"


Wajahnya kembali murung.


Danang berlagak seorang badut yang mengibuli anak-anak,


"Ooohh!...,sangat bisa sayang.Kalau Juna mau,"


"Sebentar malam kita bersama bunda,akan memintanya kepada ayah,"lanjut Danang seraya menyatukan tinjunya ke tinju kecil milik sang bocah yang tampak matanya mulai berbinar-binar.


"Apa yang sedang kalian bicarakan?"


"Ada lah..,rahasia."Juna menjawab sekenanya tanpa menoleh ke arah sang bunda.


"Emmph....,Juna,"memainkan telunjuknya kepada sang bocah,"Sudah pandai menyembunyikan sesuatu dari bunda ya?"lanjutnya sembari meletakkan mangkuk bubur di atas nakas.


"Bunda akan mengetahuinya juga,tapi nanti malam."jawabnya datar.


Hilya memicingkan matanya ke arah Danang.Sorot matanya melesat tajam seakan sedang mengatakan kepada sang suami bahwa,"Kau telah mencuci pikiran puteraku!"


Danang mengedikkan bahu sembari menggeleng-gelengkan kepala untuk berkelit.


Hilya menarik napas dalam dan membuangnya pelan,


"Baiklah,tapi Juna ma'am dulu ya.Biar kuat nanti malam."


'Tapi bukankah ini sudah malam?'batinnya bingung.


"Oke,siap bunda."


Lenting suara yang masih lemah menyeruak seisi kamar.Hilya memandang bingung akan perubahan yang terjadi kepada puteranya itu.Baru beberapa menit ia tinggalkan dalam keadaan yang masih lemah dan tak bertenaga,kini ia kembali dan mendapati bocah itu sudah bisa tersenyum dan bermain bersama pria disampingnya.Saat Hilya menyuapkan bubur ke mulutnya,Danang sengaja membawa Juna kepangkuannya dan membiarkan dirinya untuk menyuapkan bubur tersebut.


Usai memberi memberi minum obat kepada puteranya,dan memastikan Juna sudah benar-benar terlelap.Hilya menghujamkan tatapan tidak percaya kepada Danang,


"Bagaimana bisa secepat ini,kau apakan dia?"Hilya bertanya ingin tahu.


"Hhh...,kepo.Anggap saja kau dan Juna sedang beruntung."balas Danang menyeringai.


Hilya terdiam.Sepertinya ia salah menilai Danang.Buktinya mulut pedas suaminya itu kembali dan melesat begitu saja.Baru saja ia merasa bahwa suaminya itu telah menunjukkan kasih sayang yang sebenarnya kepada dirinya dan juga Juna.Namun kenyataannya adalah,Danang melakukannya hanya sekedar membuat Juna melupakan kesedihannya.Ah,sudahlah.Dinikmati saja.Lebih baik dia melakukan kebaikan itu demi sebuah alasan daripada tidak sama sekali.


Sementara Danang..,pemuda itu hanya tersenyum samar sembari berlalu meninggalkan gadis itu sendirian di sana.Sedangkan gadis tersebut kembali menatap lekat punggung suaminya yang menghilang di balik pintu.Entah harus bahagiakah atau sedihkah dia sekarang,yang jelas ia merasa hatinya sedang dipermainkan.


Menjelang makan malam....,


Bapak Yadi dan ibunda Iza bersama puteri dan menantu mereka menikmati makan malam.Sederhana tapi nikmat.Apalagi ditambah dengan cerita-cerita santai dari sang bapak mertua membuat suasana menjadi ramah,penuh kekeluargaan.


Tidak henti-hentinya pria paruh baya itu mengajak Danang bercengkerama di sela makan mereka,


"Kau tahu nak,sejak dulu bapak pernah berharap bisa bertemu dengan tuan Imran yang namanya selalu digadang-gadangkan oleh penduduk negeri ini."Bapak Yadi melanjutkan kunyahan yang sekilas dipandang,membuat selera makan menjadi ikut bertambah.Meski mulutnya penuh dengan makanan namun bibirnya tetap kering dan cara gigitannya mantap seakan berirama,


"Semua kebaikan yang dipamerkan oleh para awak media itu ternyata bukan kicauan semata.Beliau membuktikannya dengan tindakannya di mata masyarakat umum."lanjutnya menyeringai.


"Berarti bapak ini,penggemar beratnya papa Imran juga ya,"ucap Danang cengar-cengir melihat tingkah sang bapak mertua.


"Tepat sekali.Pernah berdoa dan berharap untuk bertemu fans.Pas ketemu,ehh...,malah jadi besanan pula,hehe."terang bapak Yadi ikut cengar-cengir tidak percaya.


"Jadi,bagaimana perasaan bapak,pas awal-awal tahu kalau ternyata calon besan bapak itu papa Imran sendiri?"


"Ya,bagai mendapat durian runtuh,yang runtuhnya pas di kepala.Diterima sakitnya,tidak diterima juga sudah terlanjur sakit."jelas sang bapak membolak-balikkan kalimatnya.


Danang yang sudah beberapa kali bercengkerama dengan sang mertua,sudah sangat paham dengan kharakter pria paruh baya itu.Ia justeru merasa senang dengan bawaan sang bapak yang menurutnya lucu dan blak-blakkan.Hal ini membuatnya lagi-lagi tertawa renyah.


Sementara ibunda Iz menyimak sepenuhnya tanpa komentar.Ia menggeleng-gelengkan kepala sebagai tanda tidak suka mendengar guyonan sang suami.Sedangkan Hilya..,gadis yang masih terngiang-ngiang dengan ucapan suaminya di kamar tadi,lalu ditambah dengan guyonan sang bapak,membuat dirinya merasa semakin terpojok.


Gadis itu hanya tertunduk malu sambil menguar makanan di piring yang baru disentuhnya beberapa suap.Danang tertegun.Ia baru menyadari sikap isterinya itu berubah sejak mereka keluar dari kamar tadi.Seketika ia pun menghela napas berat,


'Dia tersinggung?!...,Apa ucapanku tadi dianggap serius olehnya?'


•••••


Bersambung...


🤗🤗🤗