
Suasana pantai kota kecil B...
Bocah kecil Juna masih memandang siaga dari ujung pantai yang diterpa ombak kecil,dan riaknya menyentuh lembut bibir pantai.Kikuk pada suasana di mana ia melihat seorang pria dewasa tiba-tiba saja menghampiri bundanya lalu mengajaknya bicara cukup lama.Juna memutuskan untuk membangun istana pasir untuk mengusir rasa jenuhnya.
'Siapa om itu,apa dia sahabatnya ayah?'gumamnya sembari bermain pasir.Sesekali ia melirik ke arah lelaki yang tidak ia kenali itu dengan tatapan berharap akan mendapatkan informasi tentang sang ayah yang belum pernah ia temui.
"Siapa anak kecil itu?"
"Anakku."
"Aku tanya sekali lagi,anak kecil itu siapa,dan di mana ayahnya?"
"Dia anakku,ayahnya meninggal dunia."
"Hhh...,seberapa liarnya dirimu di masa lalu, sampai punya suami yang pendek umurnya gara-gara makan hati dengan sifatmu?"serang Danang penuh ejekan.
"Aku tidak seperti yang kau kira."
"Lalu bagaimana mungkin kau bisa punya anak yang tidak mengenal ayahnya sendiri?Kalau bukan perempuan binal,lalu apa?"
"Jaga bicaramu!"sela Hilya ketus.
"Kau yang harusnya jaga batasanmu!"bentak Danang keras membuat Hilya berjingkat,
"Aku jadi semakin curiga,jangan-jangan kau sengaja menjebakku,agar bisa mendapatkan nama ayah di akta untuk anakmu itu kan,"
"Kau salah pa_"
"Kau sudah kelewatan memancing amarahku.Seharusnya kau berkaca,sebelum kau menjebakku,"
"Akan kupastikan kau menderita setelah ini."
"Ya,sudah.Kau bisa batalkan hubungan ini,sebelum pernikahan itu benar-benar terjadi."
"Toh,pernikahan ini kan,cuma untuk pemulihan nama baik keluargaku saja.Biarkan aku yang mengurus keluargaku."
"Argh,sialan!..,kau sudah mempermainkanku,lalu seenaknya kau membebaskan dirimu tanpa mau menerima konsekuensinya,hah?"
"Lepaskan,tanganku sakit!"Hilya meronta melepaskan tangannya dari cengkeraman jemari kekar pemuda itu,namun gagal.Danang terlanjur berang dan menyerang gadis itu seperti musuh yang patut dihukum.
"Ini sakit,tau!"pekik Hilya dengan air mata yang tidak sanggup ia bendung.
Danang mendorong Hilya hingga nyaris terhenyak.Sorot mata gelapnya menohok jantung gadis itu.
"Om,jangan sakiti bundaku,apa kau bukan orang baik?"pekik Juna yang tiba-tiba sudah muncul dan memeluk Hilya.Gadis itu masih menangis memegang pergelangan tangannya yang memerah dan tercalar akibat kuku Danang yang panjang.Bukan niatnya untuk melukai namun karena amarah yang mengungkung membuatnya kalap.
"Aahh...,M_maaf."ucap Danang.Gurat penyesalan jelas terbaca di raut wajahnya yang masih tampak kesal.
"Om siapa,sampai menyakiti bunda begini?Om pasti bukan sahabat ayah kan,soalnya ayahku itu orang terbaik di dunia ini."ujar Juna yang memeluk Hilya.Mata elang juniornya ikut menyorot tajam ke arah pemuda dewasa yang telah melukai bundanya.
"Juna sayang,bunda baik-baik saja nak,ayo diteruskan dulu mainnya.Bunda selesaikan bicara dengan om dulu ya."
"Benar,bunda tidak apa-apa?"
"Benar sayang...,lihat ni.Bunda sudah tersenyum kan,"ucap Hilya menipiskan bibirnya yang masih bergetar menahan sakit di tangannya.Sementara Danang mematung.
"Emm....,oke."
Hilya kembali memegang pergelangan tangannya setelah Juna menjauh dari sana.
"Katakan,apa tujuanmu kemari.Akan kupenuhi semuanya sebagai hukuman atas kelancanganku."ucap gadis itu sembari menantang tajam mata pemuda yang mematung di depannya.
Kali ini ia tidak peduli lagi dengan semua perasaan di hatinya.Yang ada hanyalah perasaan kecewa dan pasrah menjalani semuanya tanpa mau mengharapkan balasan santun dari pemuda tersebut.Sudah saatnya Hilya menunjukkan sikap kuat dan tegarnya tanpa mau dikasihani oleh siapapun termasuk pemuda yang sudah sering menyakitinya meski baru beberapa hari bertemu dengannya.
"Ajak anakmu,dan ikut aku."ucap Danang datar.
Hilya menuruti permintaan Danang.Ia mengajak Juna mengekori langkah pemuda itu masuk ke dalam mobil hitam miliknya.
"Bunda,kita mau ke mana?"
"Juna ikut saja ya,nak.Nanti juga kita akan mengetahuinya."
Danang membawa Hilya rumah sakit terdekat.Gadis itu mau tidak mau harus rela membiarkan perawat membalut luka di pergelangan tangannya dengan perban.Sepulang dari sana,Danang mengantar keduanya pulang ke rumah.Acara jalan-jalan hari ini dibatalkan karena semuanya sudah kacau.
Hilya membiarkan Juna bermain pesawat di teras belakang rumah.Sementara bapak dan ibu Hilya tengah berada di warung makan milik mereka.Kini hanya ada mereka berdua di ruang keluarga.Keduanya sama-sama sibuk menggulir sesuatu di ponsel masing-masing.
Sesekali pemuda itu menyesap kopi hitam kesukaannya.Danang bahkan tidak menyangka jika gadis yang menurutnya liar itu bisa menyeduh kopi sesuai dengan keinginannya.
"Katakan,_"ucap keduanya nyaris bersamaan.Danang dan Hilya sama-sama menghentikan ucapan.Keduanya hanya melongo saling beradu tatap.
"Kau duluan berbicara."
"Kau saja."
"Ck,kau!"
"Baiklah."
"Katakan,apa tujuanmu jauh-jauh dari kota datang kemari."
"Untuk menghukummu."jawab Danang sekenanya.
"Katakan,hukuman apa yang sudah kau siapkan untukku,akan kulakukan sekarang juga."
"Batalkan saja,aku pulang sekarang."ucapnya seraya bangkit dan siap beranjak.
"Kau belum mengatakan apa yang ingin kau katakan padaku tadi."
"Hhh...,kau penasaran?Baiklah,akan kukatakan."
Hilya tertunduk malu,merasa terlalu kepo dengan privasi pemuda itu.
"Katakan kepadaku,mahar apa yang kau minta dariku mumpung masih ada waktu.Siapa tahu permintaanmu sesulit mitos gunung tangkuban perahu,maka aku perlu waktu untuk mewujudkannya."
"Appaa?!...,kau kira aku ini ibumu,Dayang Sumbi?"
"Ya,kau ibunya anak-anak...,eh,Juna maksudnya."
"Hhh...,orang aneh,baiklah akan kukatakan apa permintaanku."
"Apa,cepatlah.Aku sudah bosan berlama-lama melihat wajahmu."
Hilya memberengut.
Danang menyeringai penuh kemenangan.
Gadis itu sekali lagi menghela napas pelan,
"Sabar...,berikan aku 'segelas air putih',itu sudah cukup sulit bagi orang seperti dirimu."
"Ck,siapa yang mengajakmu bercanda,hah?!"
"Aku sedang tidak bercanda,aku serius....,dan aku tidak akan mengulangi ucapan sakralku itu untuk yang kedua kalinya."
"Gila!...,jangan sok polos.Apa kau tidak tertarik sama sekali dengan hartaku?"
Hilya menggelang mantap.
"Yakin?"
Hilya mengangguk mantap.
Mendengar keputusan bulat gadis itu,tiba-tiba saja hatinya berdesir.Entah bagaimana perasaan itu tiba-tiba saja menderanya.Padahal bukan ini yang ia inginkan.Akhirnya pemuda itupun berlalu dari sana dalam suasana canggung dan pikiran yang ambigu.
'Hahh,ini benar-benar gila!'gumamnya pelan saat tubuhnya lolos masuk ke dalam mobil dan tidak lama kemudian ia pun melajukan mobilnya menuju ke hotel Puteri Daniah.
Malam itu,Hilya memilih untuk istirahat lebih awal.Gadis itu merasa terlalu lelah akibat hampir seharian berdebat dengan pemuda yang menurutnya sungguh gila.Daripada pikiran juga ikut lelah memikirkannya,lebih baik ia segera terjun ke dunia mimpi agar esok harinya lebih bugar.
•••••
Bersambung....
🤗🤗🤗