I Need You

I Need You
Jangan Mengajarkan Prinsip yang Salah



Dengan sigap, pemuda berjuluk playboy itu sudah mencengkeram lembut lengan gadis itu, "Jangan keras kepala, ini apartemen pria, pulanglah."


Dania menepis kasar jemari kekar Haidar, "Kau mengusirku?" Menatap lekat mata pria yang sedari tadi sibuk menarik lengannya agar segera keluar dari ruang pribadinya, "Kita harus pergi sekarang."


Bukannya tega, akan tetapi hatinya sedang tidak bisa kompromi dengan pesona gadis cantik yang selalu membuat jiwa maskulinnya menjerit-jerit, "I'm fucked up!"


Kecantikan alami yang menguar dari keseluruhan tampilan sang gadis, memaksa aura palyboy-nya wajib tunduk padanya, "Aku mencintaimu."Begitu ucapnya di setiap kesempatan.


Tidak ampun juga sifat manja dan bicara polos Dania yang selalu menoyor meminta dikasihani, "Aku akan melindungimu setiap saat." Begitu janji di hatinya selama ini.


Patut diakui pesona sang gadis memaksa jiwa tualangnya ikut takluk pada kelebihannya, "Maka aku juga harus melindungimu dan keluargamu dari gunjingan masyarakat."


Kini ia bertekad membujuk wanitanya agar segera pergi. Tak ingin menjadi bulan-bulanan papa dan kakak dari gadis tercinta, apalagi sampai menolak dirinya lantaran masalah yang sama sekali tidak ia perbuat, "Sorry my love, but the situation is totally batshit." batin galaunya melambai-lambai.


"Hei, kau kenapa? Aku hanya menginap satu malam, dan kau menolakku?" bentak Dania mulai meninggi. Menyentak cengkeraman tangan kekar itu dari lengan mungilnya, namun gagal.


Haidar mematung, kali ini ia merasa tidak memiliki kekuatan meski hanya sekedar menarik napas dalam. Akhirnya ia memilih melepas lengan Dania lalu mengambil posisi duduk di sofa, "Baiklah, aku izinkan kau menginap di apartemenku, tapi....," ucapnya lesu.


Sementara Dania yang sudah mengambil posisi duduk menempel di sampingnya dengan tatapan memelas, masih sibuk menyimak lanjutan ucapan yang baru saja dijedanya,


"Tapi aku tidak menjamin akan menjadi pria baik-baik malam ini." lanjut pria itu menakuti seraya meramas kuat rambutnya. Berupaya menghindar dari masalah yang sesungguhnya, "Maaf, hanya kalimat itu yang bisa membuatmu pergi malam ini." batinnya resah.


Bisa dipastikan kini ia menjadi pemuja akut pada satu paket lengkap yang dimiliki oleh gadis dan tidak dinafikkan lagi,yakni kesederhanaan sifat dan pola pikir seorang Dania yang hidup dalam lingkungan beradab, "Aku tidak akan sembarangan menyentuhmu, karena kuyakin, kelak kau akan menjadi hartaku paling berharga." gumamnya dalam hati.


Dania menghela napas berat, "Jika kau saja tidak bisa menjadi pria baik-baik," batinnya menerawang, "Lalu untuk apa aku bertahan di sini?" lanjut pikirannya yang kacau.


"Bisa dimaklumi?" tanya Haidar yang masih berusaha menutupi gusarnya, tiba-tiba membuyarkan lamunan gadis itu.


Daniapun mendadak bangkit dari duduknya, "Baiklah, aku akan pergi." Merapikan sweater yang dikenakannya, "Untuk selamanya, dan tidak akan pernah mengganggu hidupmu lagi," ucapnya pelan dan nyaris tidak kedengaran, karena derai air mata yang tiada kompromi sudah lolos berkali-kali.


Haidar sigap menarik tubuh gadis yang sudah siap mengambil langkahnya, "Da_Dania, dengarkan aku," ucapnya gagap.


Sejenak iapun menangkup kedua lengan sang gadis, "Jangan berkata begitu, sayang." Membawa matanya untuk saling beradu, mendalami kekuatan cinta yang mereka miliki, "Aku mencintaimu, sayang."


"Aku mohon. Tolong pahami situasiku saat ini," bisiknya pelan penuh permintaan maaf sembari terus menyoroti mata bening yang selalu membuat hari-harinya bernakna.


"Aku tidak mengusirmu. Aku hanya ingin menyelamatkanmu dari gunjingan. Apa kata orang-orang nanti jika mendapat tahu bahwa kau menginap di kediaman pria berlabel buruk (plyaboy) seperti diriku?"


Dania mendengus kasar, "Peduli apa pada orang-orang?" Menantang mata elang yang sedari tadi tak lepas menyorotinya, "Tahu apa mereka tentangmu, tentangku, dan tentang kita, hah?" serangnya dengan deru napas yang tidak beraturan dan hidung yang kembang kempis.


Keras kepalanya Dania sukses bikin hatinya morat-marit, kali ini ia tidak bisa menolak keinginan gadis yang sangat dicintainya itu, "Oh,for god's sake!" seru jiwa lelakinya kian meronta, lantas menarik tubuh semampai itu ke dalam dekapan eratnya.


..


Haidar menyodorkan bungkusan makanan yang telah dipesannya di atas meja makan, "Makanlah." pintanya setelah Dania mengambil posisi duduk di kursi, "Kau pasti sangat lapar, bukan?"


Dania menyambut pemberian Haidar dengan seulas senyum canggung. Gadis itu makan dengan lahapnya. Ya, memang benar ia sangat lapar. Lantaran satu minggu belakangan ini, ia tidak punya selera makan dan jarang makan. Hingga pola makannya yang tidak terjaga membuat tubuh semampainya tampak lebih kurus dari seharusnya.


"Kau sangat kurus."Haidar sengaja mengusik gadis yang sedang asyik menikmati makan malamnya.


"Oh, ya?" Dania membelalak. Acara makannya terhenti sejenak.


Haidar manggut-manggut seraya mengedikkan bahunya, "Sangat jelek, tidak menarik." Masih dengan gaya sarkasnya, membuat Dania mencebik.


Sejenak Haidar tertawa melihat tingkah gemas Dania, "Kau boleh tidur di kamarku," ucapnya masih memperhatikan gadis itu makan dengan lahapnya, "Aku akan keluar mencari penginapan lain, untuk malam ini."


"Kau tidak perlu keluar rumah, di larut malam begini." lanjutnya seraya meraih gelas berisi air di depannya untuk diteguk isinya.


Haidar menghela napas berat,membuang pandangannya sembarangan,"Dengar sayang, kau gadis beradab, orangtua dan keluargamu terpandang. Mereka sangat dikenal di negeri ini."


"Aku tidak ingin kau terkena masalah hanya karena kau berada di pihakku."


"Tapi aku mencintaimu, Haidar."


"Ya, aku tahu itu. Tapi _"Haidar tidak sanggup melanjutkan ucapannya.


Ingatannya kembali ke beberapa hari lalu ketika dirinya datang memenuhi panggilan pria paling yang bagi dirinya, paling menakutkan seantero jagat raya, ayah dari gadis yang amat dicintainya, tuan Imran.


"Jauhi puteriku." pintanya datar.Tatapan dinginnya mampu membekukan dirinya yang nyaris tidak memiliki kekuatan untuk menantang sorot elang yang diketahuinya baru kali ini secara terang terangan menunjukkan cakarnnya yang susah dilumpuhkan, "Holy shit!" gumamnya dalam hati, lebih kepada mengumpat ketidakberdayaan dirinya sendiri.


Dalam catatan pengabdiannya kepada keluarga Tun Fahmi Electro Group, selama sepuluh tahun, sudah tercatat dua ratus kasus mafia kelas berat tumpas lewat keberanian baja dan juga tangan lihainya, "Enteng, seperti mengunyah remahan kacang goreng." Semua itu, ia lakukan demi menciptakan keamanan dan keselamatan bisnis keluarga Fatah, kakek buyut yang darah bangsawannaya mengalir di tubuh pemuda tangguh itu.


Tapi bagaimana ketika berhadapan dengan pria berprinsip tersebut?


"Puteriku hanya orang biasa yang tidak mampu beradaptasi dengan keluarga bangsawan seperti anda dan keluarga anda." terang pria paruh baya yang sama sekali tidak ingin mengubah nada bicaranya,sungguh tidak aman ini.


"Come on! Can you get the shit out of me?" Lagi -lagi Haidar berupaya menghalau perasaan insecure berlebihan yang menggerogoti jiwa dan raganya.


Belum pernah dirinya merasa sekacau ini, "Rasanya ingin menenggelamkan diri ke palung laut terdalam Mediterania," kira-kira begitu gambaran suasana hatinya saat itu. Ya, karena keberadaan pria paruh baya itu telah mengubah segalanya.


Sikap dingin dan datar yang ditunjukkan oleh seorang pria yang notabene dikenal se jagat raya sebagai sosok super ramah dan penuh senyum, juga super penyayang dan penuh perlindungan, telah berhasil memorat-maritkan seluruh nyali dan juga alur pikiran jernihnya, "Ini berat," pikirnya kalut,


"Lebih sadis daripada mengatasi dua ratus kasus mafia yang pernah ia tangani." lanjutnya nelangsa,


"Oh, no. Haidar. You are a piece of shit." Lagi-lagi mengumpati dirinya dalam hati.


"S_saya bisa buktikan kalau saya mencintai puteri anda, tuan." terangnya gugup.


"Cinta saja tidak cukup menjamin keselamatan puteriku." balas tuan Imran dipertegas dengan sentakan kecil dari mulutnya.


"Tapi, tuan. Anda salah menilaiku." decitnya melayangkan pembelaan diri.


Namun rahang kokoh dan sorot mata yang memerah jelas menampakkan bentuk penolakan yang nyata, "Aku tidak ingin melihat puteriku menderita karena cinta yang salah. Jangan coba-coba mengajarkan puteriku prinsip hidup yang menyesatkan." lanjutnya penuh penekanan seraya bangkit dari duduknya, kemudian berlalu begitu saja.


Bisa dipastikan bahwa sang ayah tidak tanggung-tanggung mempertahankan prinsip damai yang ditanamkan kepada putera puterinya, bahkan dari gaya bicara dan bahasa tubuhnya saja sudah jelas terbaca seakan menjelaskan kepada dunia, "Aku tegak dengan prinsipku."


Pikiran pemuda itu jelas bercabang. Juga masih terngiang pada ucapan ingin tahu yang pernah dilemparkan Dania kepadanya, "Apa kau seorang penjahat?" Begitu bunyi pertanyaannya suatu ketika saat Danang dan tuan Imran mati-matian meminta gadis itu menjauhi dirinya yang dinilai buruk tersebut. Jauh sebelum pria paruh baya itu memanggilnya untuk menghadap.


Haidar tertawa sumbang, "Sebagian orang bilang begitu, terlebih para seteru dan pembangkang tugasku."


"Tapi apa, kau tidak sedang melamunkan?" sentak Dania membuyarkan lamunan akutnya, "Jangan bilang kau pasrah pada penolakan papa dan kakakku." tuding menohok Dania tepat sasaran.


"Tidurlah, ini sudah malam." balas Haidar datar seraya bangkit dari duduk lalu menuju ke ruang tamu. Kini sofa menjadi sasaran empuknya untuk menghempas semua kekacauan hati dan pikirannya yang super lelah.


Sementara Dania, memilih menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri lalu kembali ke kamar untuk mengecek seisi ruang pribadi pria tersebut sebelum akhirnya ia memilih untuk benar-benar terlelap.


Bersambung....


🤗🤗🤗