
Happy reading 😍
Danang menyatakan ketidaksetujuannya kepada sang papa soal promosi jabatan sekretris General Manager Adhytama Star Hotel kepada adiknya Dania.
Pemuda yang semulanya sudah mulai menunjukkan respon lunak kepada anggota keluarganya setelah semua masalah besar yang telah ia lewati,kini tiba-tiba runyam kembali dengan masalah baru yang membuatnya lagi-lagi kecewa.
Hening...
"Tapi kenapa nak,papa rasa sudah saatnya untuk adikmu ini mengembangkan kemampuannya."tukas sang papa,
"Lagian Karin sendiri yang meminta izin kepada papa agar adikmu ikut di pencalonan jabatan itu."lanjutnya meluruskan.
Danang menggeleng,
"Tidak pa,Nia bisa belajar di kantor papa sebelum ia benar-benar mendapatkan posisi yang cocok di sana,"ucapnya,
"karena Adhytama Star Hotel sekarang tidak lagi diurus oleh papa."lanjutnya menjelaskan.
Dania yang tengah menikmati sarapannya mulai terpancing,
"Tapi ada kak Karin di sana kan,kakak." Dania membela diri.
Danang menatap intens wajah adiknya, sesaat kemudian ia pun menghela napas dalam,
"Baik Karin,maupun Diego sama-sama tidak ada di sana.Mereka menyerahkan mandat kepada General Manager baru itu dan," ulasnya,
"dan mereka hanya akan kemari dalam tempoh seminggu,dua minggu sekali,atau bahkan sebulan sekali. Sedangkan Nia akan bekerja di sana setiap hari." lanjut Danang menyangkal.
Dania mendengus kecil,
"Kakak meremehkanku lagi,"cebik gadis manja itu memandang sendu wajah sang kakak,"Apa kakak pikir aku tidak bisa menjaga diriku sendiri?" lanjutnya tidak suka.
Danang bungkam.
"Kalian selesaikan baik-baik dulu masalah ini,setelah itu kita pikirkan lagi bagaimana solusinya."ucap sang papa yang siap-siap beranjak mengingat jam kerja yang sudah mepet.
"Adikmu berkata benar nak,berikan dia kesempatan untuk mandiri.Maka Nia akan mengukur batas kemampuannya sendiri bukan,nak."timpal mama Andin meluruskan.
Danang menegak kembali air minumnya,
"Mama,tolong pikirkan lagi.Aku tidak mau Nia bekerja di sana karena aku memiliki alasan yang kuat."ucapnya memberi pandangan,
"Pokoknya kakak tidak setuju,kau belajar saja di kantor papa."cetusnya lagi sembari bangkit dan berlalu meninggalkan Dania dan mama Andin yang saling pandang.
Di dalam mobil yang dikemudi oleh Danang, sang adik Dania hanya bisa cemberut sepanjang jalan memandang kaca spion tanpa celoteh panjang pendek seperti biasanya.Jemarinya asyik memainkan tali sling bag dipangkuannya.
Sesekali Danang melirikan iris elang nya ke arah gadis mungil nan manja disampingnya itu.Ada rasa bersalah yang hinggap di benaknya lantaran telah bersikap kasar terhadap sang adik yang tidak pernah ia bentak walau sekalipun.
"Mau kakak antarkan ke cafe langganan dulu,seperti biasa?"tanya Danang membelah hening.
Danang sengaja menawarkan sesuatu mengingat kebiasaan sang adik yang suka memaksa kehendak untuk berhenti di mana saja sekedar untuk mencari stok camilan agar bisa dinikmati di kantor ketika turun minum nanti.
"Enggak usah,langsung ke kantor saja." balasnya datar.
Danang sengaja menghentikan mobil di depan salah satu cafe langganan mereka, jemarinya meraih dagu runcing sang adik yang sedari tadi memandang lurus ke depan dan membalikkan wajah itu ke arahnya,
"Yakin nggak mau?"ucapnya seraya menaik turunkan alisnya.
"Iiihhh..,kakak menyebalkan sekali."balas Dania mencebik dengan tatapan berkaca-kaca siap mengucurkan senjata terampuh dari kelopak beningnya itu.
"Kakak hanya ingin melihat wajah adikku ini tetap tersenyum tanpa ada beban yang merayap di hati dan pikiranmu,kelak kau akan memahaminya."menjeda lagi membuat sang adik yang mencerna ikut luruh,kini ia pun ikut beradu pandang dengan sang kakak yang terlihat lunak,
"dan kenapa kakak tidak setuju kau bekerja di sana,itu karena kakak tidak ingin kau bekerja di bawah pimpinan pria asing yang belum kita kenal sama sekali."lanjutnya menekan ucapan di kalimat akhirnya.
"Kakak,dia bukan orang asing,tapi dia itu sepupunya kak Diego."Dania meluruskan.
Jemari kekar itu naik membelai poni sang adik yang menjulur,
"Justeru karena dia sepupunya Diego itu maka kakak tidak setuju kau bekerja dengannya."ucap sang kakak sigap.
"Why?Kak Diego orang baik,maka dia juga pasti baik."Dania menyangkal tidak mau kalah.
"Sebaik apapun mereka,tetap saja kakak tidak setuju jika kau berhubungan dengan mereka."balas Danang datar sembari bersedekap.
"Kakak harus kasih alasan yang tepat dulu,baru aku pertimbangkan sama ada mau lanjut ikut dalam pencalonan itu ataukah mundur sesuai permintaan kakak."
"Heh..,Enggak ada alasan,pokoknya sifat pemuda itu tidak jauh beda dengan Diego, tapi dia itu playboy.Awas kalau dia sampai membuatmu naksir padanya."serang Danang dengan bibir menyeringai tipis.
"Oh,jadi itu alasan kakak melarangku?" ucapnya dengan bola mata yang super membulat.
Danang mengangguk sarkas.
"Enggak profesional banget sih kakak,masa cuma itu alasannya lalu kakak melarangku jangan bekerja di sana."cebik Dania semakin cemberut.
Danang menyeringai dengan ekspresi yang dibuat-buat menjadi takut.Membuat Dania semakin kesal.
"Setuju atau tidak intinya kakak sudah mengingatkanmu dek,awas kalau sampai beneran jatuh cinta sama dia."ucap Danang dipertegas.
Dania terjingkat,"Heum..,terserah kakak saja.Aku ikut."balas Dania melunak.
Gadis itu segera turun dari mobil dan menuju ke cafe langganan untuk membeli stok minuman sesuai keinginannya. Sedangkan sang kakak malah setia menunggu dirinya di dalam mobil seraya melirik manis ke para gadis yang lalu lalang di sekitar area cafe dengan wajah semringah.Namun sesaat pikirannya menerawang dan wajahnya berubah datar,
"Aku benci wanita."gumamnya sinis seraya mengalihkan pandangan lantas sigap mengenakan kacamata hitam sekedar untuk mengaburkan penglihatannya.
Dania yang masih penasaran mengapa sang kakak melarang dirinya untuk berhubungan dengan keluarga Diego membuatnya semakin yakin untuk mencari tahu sendiri. Dalam hatinya tidak habis pikir mengapa sang kakak begitu tidak menyukai mereka padahal selama di negara tetangga cuma Diegolah yang menjadi sahabat karibnya.
Gadis itu cepat-cepat menyangkal,
'Kenapa aku harus memikirkan pria gila itu?Bahkan di pagi hari begini dia pula yang menjadi topik pembicaraan kakak dan aku. Dia sungguh menyebalkan!' gumamnya kesal.
Sesaat ia pun membuang pandangan ke arah meja paling sudut,dan alangkah mengejutkan ketika ia mendapati sosok yang bergelayut di pikirannya itu kini ada di pelupuk matanya juga.Sontak pemuda itu membuat kontak mata yang memukau menembus isi jantung dan hatinya dan menimbulkan desiran aneh.Seaneh dirinya saat ini.
'Sial!' batinnya geram seraya mengakhiri kontak mata dengan pemuda yang menurutnya gila karena setiap kali ia terpikirkan dirinya maka setiap itu pula ia hadir di depannya.
Kini hari-hari otaknya hanya dipenuhi oleh pemuda asing yang bernama Haidar itu. Tiba-tiba ingatannya lari kepada ancaman sang kakak yang mewanti-wanti dirinya untuk jangan berhubungan dengan pria itu.
Sang kakak yang memproklamirkan Haidar dengan julukan playboy membuat nyalinya seketika menciut.Bahkan pada saat ia membayangkannya saja gadis itu tiba-tiba bergidik ngilu.
Buru-buru ia membayar minuman yang dipesannya lantas meraih kantong bungkusan tersebut dan segera berlalu dari sana tanpa mau memandang pria yang duduk di pojok cafe dan tengah berharap agar gadis itu menoleh sesaat kepadanya.
Akan tetapi gadis itu tidak melakukannya sama sekali.Ada raut kecewa yang jelas terpampang di wajah pemuda yang memiliki rahang kokoh itu.
•••••
Bersambung...
🤗🤗🤗