I Need You

I Need You
Setuju Menikahi



Happy reading 😍


Hilya melangkah gontai menuju ke arah rumahnya. Memasuki pelataran kos yang ditempatinya sejak beberapa bulan yang lalu. Awalnya Hilya tinggal di rumah kakak laki-laki semata wayangnya Helmi Afindra yang kebetulan juga berada di kota ini. Tepatnya di barat laut kota D di mana perusahaan Jaya Group yang kini menaungi masa depan keluarga kecil si kakak tersebut berdiri dengan megahnya.


Akan tetapi dikarenakan beberapa bulan yang lalu si kakak yang sebelumnya bekerja di salah satu perusahaan swasta X yang terancam pailid maka si kakak terpaksa di PHK atas dasar yang jelas. Hal inilah yang membuat Hilya merasa perlu membantu sang kakak dengan cara mencari pekerjaan dan tentunya tinggal di kos agar tidak memberatkan biaya hidup bapak dua anak itu.


Baru saja ia menginjakkan kaki di depan pintu kos, derit ponsel tiba-tiba mengagetkannya.


Sore dek, sehat? Kakak cuma mau bilang kalau hidup kakak sudah membaik. Maka sebaiknya pulanglah ke rumah. °Kak Helmi


Hilya menghela napas berat. memasuki kamar kos dan melempar sembarangan ponsel miliknya di atas tempat tidur. Rasa kesal dan kecewa merajai hati dan pikirannya yang kian kusut.


Hilya merasa berat dalam mengambil keputusan. Dengan adanya masalh ini secara tidak langsung ia telah mempertaruhkan nasib pekerjaannya. Mana ada perusahaan yamg mau mempertahankan karyawan yang sudah melakukan tindakan asusila apalagi di area perusahaan itu sendiri, ditambah pelakunya adalah anak majikannya sendiri. Lantas bagaimana mau hidup di kota sebesar ini jika dia saja sudah malu untuk meminta uang kepada orantuanya lantaran masalah ini membuat pikirannya benar-benar ruwet.


Lalu jika ia menerima permintaan sang kakak, otomatis masalah yang tidak menyenangkan itu malah akan mencuat di tengah keluarga besarnya. Mana mungkin ia rela membiarkan orangtua dan kakaknya terluka akibat masalah ini apalagi sampai terlibat dalam masalah yang ia sendiri tidak tahu menahu berpunca dari mana.


Entah bagaimana dan dengan cara apa ia akan menjelaskan hal ini kepada keluarganya jika mereka sampai mengetahuinya. Dalam hatinya ia berdoa panjang lebar memohon agar Tuhan memberikan perlindungan kepada dirinya,


'Semoga besok pak direktur memberikan keringanan atas masalah ini. Tapi bagaimana jika pemuda itu malah konsisten dengan ancamannya tadi, maka hancurlah hidupku.' gumamnya sedih,


'Ya Tuhan, aku hanya ingin ketenangan di hati ini. Ringankanlah beban ini. Berikan aku kekuatan untuk menghadapinya,' ucapnya di dalam doa.


••


Kediaman Keluarga Imran.


Danang sedang menuju ke ruang kerja sang papa. Malam ini dia tidak bisa pergi ke mana-mana lantaran pikiran sedang kacau berat. Sejak dari hotel DS tadi baik sang papa, mama, maupun Dania tidak seorangpun di antara mereka yang mau menyapa dirinya.Kali ini ia merasa benar-benar terpojok akibat diacuhkan oleh orang-prang terdekatnya.


Pemuda itu memilih bertemu dengan sang papa untuk meminta maaf atas insiden yang ia sendiri tidak pernah menyangka.


"Malam pa," ucapnya pelan setelah berada di hadapan pria paruh baya yang sedang sibuk menatap laptop miliknya dengan kaki yang sengaja dilipat saling menindih.


"Malam."


"Boleh aku duduk pa?"


"Silakan."


Danang mengambil posisi duduk disamping sang papa yang sedari tadi merespon begitu datar.


"A..aku minta maaf atas kejadian yang tidak menyenangkan ini."


Sang papa diam tanpa jawaban.


"Aku berjanji akan segera menyelesaikan masalah ini asalkan papa dan mama tidak mendiamkanku seperti ini,"


"Aku sangat membutuhkan usul saran dari kaliam semua. Dania juga bungkam,lalu dengan siapa aku akan berbicara pa," lanjutnya memelas.


"Kau sudah tahu letak kesalahanmu kan, sekarang tidak perlu banyak pembahasan. Papa hanya ingin kau temui wanita itu dan keluarganya, lalu lamar dan nikahi dia."


"Kau tidak bisa melakukannya, itu artinya kau tidak perlu repot-repot datang mencari papa karena tidak ada tawaran solusi yang lain selain daripada itu,"


"Dan percuma juga kau bujuk mamamu jika kau menolak hal itu, karena mamamu juga tidak akan memaafkanmu."


Lagi-lagi Danang merasa benar-benar terpojokkan. Kali ini ia perlu mempertimbangkan semua kata-kata sang papa meskipun hatinya sangat sakit dan terluka akibat harus menanggung masalah yang berawal dari mana ia sendiri tidak mengetahuinya.


Sesaat ia menarik napas cukup dalam, "Baiklah pa, jika memang itu yang papa dan mama inginkan maka aku alan menurutinya dan,"


"mulai besok aku akan menyelesaikan masalahku ini secepatnya. Aku pamit pa, selamat malam."


Pemuda itu melangkah keluar dari ruangan sang papa dengan hati yang berat dan pikiran yang masih tidak terarah. Ingin melampiaskan tapi kepada siapa ia pun tidak mengerti.


Tuan Imran menghela napas berat seraya menundukkan wajah ke meja kerjanya dan menangkup kedua pelipisnya.


"Andai saja kau tidak keras kepala puteraku." Tuan Imran segera mematikan laptopnya dan beranjak ke kamar menemui sang isteri.


Di kamar, sang isteri yang sedari tadi tidak henti-hentinya menangis memikirkan nasib putera semata wayangnya. Segera bangkit dari tempat tidur manakala melihat sang suami menghampirinya.


"Papa, kenapa harus seperti ini pa, kasihan anak kita, mama tidak sanggup melihatnya terluka.


"Tenanglah ma, hanya untuk sementara saja. Nanti juga kita pasti baikkan lagi dengannya."


"Tapi trik papa ini telah melukai putera pa, dia butuh dukungan dan kasih sayang, bukan diacuhkan seperti ini."


Nyonya Andin tidak sanggup melihat keadaan sang anak yang terkucilkan akibat masalah ini.


"Apalagi gadis malang itu. Dia bahkan kehilangan segala-galanya, nasibnya, masa depannya, bahkan harga dirinya ikut tergadaikan akibat jebakan yang dibuat oleh asisten papa itu." Nyonya Andin menyerang ketus kepada sang suami.


"Oke kalau begitu besok kita pulihkan nama baik gadis itu, tapi mama mau putera lita menikah atau tidak? Kalau ya, maka mama haruas bersabar sedikit saja lagi dan,"


"Papa janji untuk membawa gadis itu untuk anak kita. Dia calon menantu kita ma, mana mungkin papa sengaja untuk menjelekkan nama baiknya."


Tuan Imran membujuk sang isteri agar tidak terlalu mengkhawatirkan masalah ini, karena ini hanyalah sebuah masalah intern yang terjadi di wilayah kekuasaan Adhytama Star Group.


Di kamar Dania..


Gadis itu terlihat sedang termenung. Ada sesuatu yang tiba-tiba mengganjal di hati dan pikirannya. Baru saja kemarin ia bertemu lagi dengan pemuda absurd yang satu bulan belakangan ini telah mengganggu ketenteraman hidupnya.


Siapa sangka kalau ternyata pemuda itu adalah orang yang pernah diceritakan oleh Karin kepadanya, bahwa akan ada seseorang yang bakal menempati posisi penting di Adhytama Star Hotel untuk mengelola hotel tersebut berhubung Karin yang sedang fokus kepada keluarganya.


'Jadi dia sepupu kak Diego yang dimaksud kak Karin itu' gumamnya seraya menghela napas dalam.


•••


Bersambung..


🀗🀗🀗