
Happy reading 😍📖
Hilya mengekori Nuha menerobos ke ruang tamu.Dalam pikirannya berkecamuk,siapa yang berani mengajak tuan Jayahadi bertengkar di dalam rumahnya sendiri di sore-sore begini.Mengapa tiba-tiba ada pertengkaran,lalu ke mana Juna saat mereka bertengkar.Semakin dekat,suara yang berasal dari pertengkaran itu semakin jelas.
Hilya bisa mendengar suara tersebut dan merasa bahwa suara tersebut sangat tidak asing baginya.
"Ke mana anda selama lima tahun?"Gelegar suara seorang pria yang sangat ia kenal,"Sekarang baru merasa bahwa Juna cucu anda?"lanjutnya geram.Wajahnya terpapar amarah yang kian membuncah.
"Hei,jaga bicaramu di depan orangtua,"Nyonya Amanda menimpali,"Dan memang benar,Juna anak Arjuna Wijaya,puteraku kan,"lanjutnya menyentak.
"Dan itu tidak bisa dipungkiri,aku akan bertindak lewat jalur hukum."Tuan Jayahadi ikut menambahkan.
"Woah!....,jadi anda mengancam saya?"mencakak pinggangnya,"Saya tidak takut,mulai detik ini saya akan berhenti dari pekerjaan saya di perusahaan milik anda,"tambahnya berang mengertakkan rahang kokohnya,"Serahkan Juna,atau saya tidak segan-segan menyerang anda sekarang juga!"
Kira-kira ia akan melanjutkan maksud yang ada di pikirannya itu,bahwa harta boleh dicari tapi keluarga dan harga diri sungguh susah diperoleh jika sudah bercerai berai.Helmy tampak meraih lengan Juna yang masih dirangkul oleh tuan Jayahadi.Mereka kini saling tarik menarik.Kasihan posisi Juna yang mulai terisak.
Hilya bergegas mencapainya,dan sisa langkahnya ia percepat,dan semakin cepat,
"Hentikan!....,kakak aku bilang hentikan."pekiknya kepada pria yang tidak lain adalah sang kakak Helmy Afindra.Pemuda itu tampak terperangah saat mendapati sang adik ada di rumah itu.
"Hilya,k_kau di sini dek?"tanya Helmy gagap.
Hilya mengangguk mantap,
"Aku yang mengajak Juna kemari untuk bermain bersama Nuha."terang Hilya sembari mengerutkan kening,"Apa kak,aku tidak salah dengarkan?"lanjutnya memicingkan mata.
Helmy mengangguk pelan.Menyugar rambutnya yang rapi."Tidak salah,dek."
Hilya kalap,gadis itu berbalik menatap wajah kedua orang tua yang selama ini sudah ia anggap sebagai orangtuanya sendiri,
"Jadi om dan tante adalah mertuanya Aluna Handani?"tanyanya memastikan.
Hening....
Nuha bergegas mencapai posisi Helmy,"Kakak...., kemarikan,Juna akan aman bersamaku."bisik Nuha kepada Helmy yang terlanjur membawa Juna ke pelukannya.
Setelah mendapatkan persetujuan Helmy,gadis itu segera membopong Juna melewati sosok Danang yang juga berdiri tidak jauh dari sana.Pemuda jangkung itu tampak diam terpaku menatap ke depan.Nuha sengaja membawa Juna menuju ke halaman rumah yang dipenuhi dengan wangian bunga segar,
"Coba lihat sayang,tempat ini bahkan sangat cocok untuk jadi tempat bermain pesawat tempur,"ucapnya berbelit.
Bahkan jika saat itu Juna memahaminyapun,bocah itu pasti akan balik bertanya,"apa hubungannya taman bunga dengan pesawat tempur,tante Izz?"Namun sayangnya Juna hanya bungkam.Mungkin ia masih syok saat menyaksikan perdebatan yang terjadi didalam rumah tadi.
Sementara Hilya yang masih menunggu jawaban dari pasangan suami isteri Jayahadi,
"Jawab om,tante....,kumohon...."
Tuan Jayahadi menghela napas berat,
"Ya."
Hilya mengerutkan kening,menarik seringai tidak percaya,
"Apa om dan tante tahu betapa menderitanya menantu kalian selama lima bulan ditinggal mediang suaminya?Lalu apa om dan tante juga tahu betapa menderitanya Aluna saat berjuang sendirian melahirkan bayinya dalam keadaan sebatang kara....Sementara dipihak suami dan juga kerabat dekatnya bertengkar hanya karena tidak ingin menerima kehadiran Juna di tengah Arjuna dan Aluna."menjeda ucapannya yang sempat tercekat,
"Om....,tante....,Aluna sangat menderita.Dia meninggal karena selama kehamilannya yang kurang terkawa.Ia sudah mengalami depresi semenjak mengetahui kalau suaminya juga telah meninggal dunia.Sementara Aluna hanya bisa pasrah dengan nyawa yang tersisa hingga akhirnya bayi Juna terlahir dengan selamat.Namun gadis yang memiliki cinta suci itu tidak berhasil mempertahankan nyawanya sendiri."
"Aluna hanya sempat berpesan kepadaku agar menjadikan Juna sebagai anakku.Bahkan selama ini aku rela dianggap sebagai janda beranak satu oleh siapapun demi menyelamatkan Juna dari hinaan teman-teman sebayanya..."
"lalu sekarang kalian ingin merebut Juna dariku?Jangan....,kumohon om....,tante....,karena sejak saat itu,Juna adalah puteraku.Dia milikku....,"Hilya terjerembab dalam ketidakberdayaan.
Namun Danang yang berdiri tidak jauh dari sana sigap menangkap isterinya kedalam pelukan.Gadis itu sempat mendongak ke atas memandangi wajah pria yang sigap menangkap dirinya itu sembari menangis sesenggukan hingga akhirnya ia merasakan dunianya seketika menjadi gelap.
"Hilya,Hilya!"pekik Danang dan Helmy secara bersamaan.
Nyonya Amanda beranjak mengambil kotak P3K lalu memerintahkan bibi Sinta agar segera menyeduhkan teh hangat untuk gadis yang terlanjur pingsan.
Tuan Jayahadi mencegat langkah Helmy yang mengekori langkah Danang membopong isterinya,ikut ke kamar tamu,
"Nak Helmy,maafkan saya.Apa bisa kita bicarakan hal ini secara baik-baik?"Tuan Jayahadi meminta kesediaan Helmy Afindra untuk berdamai.Helmy hanya mengangguk menuruti langkah pria paruh baya itu menuju ke ruang keluarga.
Masih di kediaman Jayahadi....,di kamar tamu.
Danang membopong isterinya ke dalam dan hati-hati membaringkan sang isteri di kasur,yang sebelumnya sudah ditunjukkan oleh bibi Sinta saat hendak ke dapur menyeduhkan teh.Beberapa menit kemudian,nyonya Amanda masuk dengan membawa kotak P3K di tangannya,disusul oleh bibi Nunung yang membawa nampan berisi teh hangat untuk Hilya lalu diletakkan diatas nakas.
"Nak,maafkan atas kesalahpahaman ini,"ujar nyonya Andin kepada Danang yang tampak masih ada rona panik di wajahnya.
"Tidak apa-apa tante,maafkan kelancangan isteri saya juga."balas Danang yang duduk di berhadapan dengannya,santun.
Nyonya Amanda menggelengkan kepalanya.Raut wajahnya tampak sendu.Tangannya lihai menggosokan wangian aroma terapi di kening,pelipis dan hidung gadis itu,turun ke dada dan juga perutnya yang rata,
"Dia tidak salah nak,kamilah yang sudah bersalah kepadanya.Gadis polos ini sudah rela mengorbankan statusnya demi janjinya kepada mendiang menantuku agar bisa menyelamatkan cucuku....,"ucapnya pelan,"dan aku sangat kagum kepadanya."lanjutnya sebak.Nyonya Amanda tampak mengucurkan air mata.Sesaat kemudian ia memilih keluar kamar karena dipanggil oleh suaminya.
Danang menghela napas berat,memandang intens wajah gadis yang kini terbaring dalam diamnya,
'Unik.'batinnya sembari merapikan sulur rambut yang membingkai wajah tirusnya.
Beberapa menit kemudian,Hilya sadar.Gadis itu mengerjapkan matanya menyesuaikan pandangan.Mendongak memandang sosok yang tengah tertunduk menyapu wajahnya yang tampak kusut.Jemarinya naik memegang kepalanya yang terasa pusing,
"Ah,kau sudah sadar."Danang meraih tubuh itu lalu membuatnya duduk bersandar.Pemuda itu meraih cangkir teh hangat lalu disodorkan kepadanya,
"Diminum dulu,kau harus kuat."
Hilya menyambut cangkir tersebut namun Danang mencegatnya.Pemuda itu meminta agar Hilya membiarkan ia yang menempelkan cangkir teh tersebut ke bibirnya.Hilya terpaksa menuruti permintaan suaminya.Seteguk teh berhasil melesat masuk kedalam mulut menerobos rongga-rongga kosong di tenggorokan,kemudian menembus ke dinding ususnya,hangat.
Danang meletakkan cangkir ke atas nakas,
"Kenapa tidak mengabariku?"menatap intens ke mata gadis yang sudah lebih dulu siap membuang pandangan ke sisi yang berbeda,"Hari ini aku pulang awal,dan kau tidak ada di rumah."lanjutnya pelan sembari menggenggam erat jemari lentiknya.
"Aku sibuk."memberengut kesal.
"Ya,aku tahu."mencium lembut jemari lentik tersebut,"Itu sebabnya aku menyusulmu kemari."lanjutnya lirih.
"Pulanglah sana,aku mau istirahat."Hilya mengambil ancang-ancang membaringkan tubuhnya ke kasur namun seketika itu juga Danang mencegatnya.
Pria itu menangkup kedua bahu isterinya seraya berucap,"Kita akan pulang bersama-sama."
Hilya menggeleng keras,"Aku tidak mau pulang ke rumah angker itu,"mendorong tubuh Danang yang tidak berhasil membuatnya bergeser,"Aku mau di sini saja."lanjutnya datar.
"Ayolah,Hilya.Kita punya rumah.Kenapa harus menginap di rumah orang?"keluhnya pasrah.
"Kau saja yang punya rumah,aku tidak."lanjutnya murung.
Danang menyeringai bingung,"Lalu untuk apa aku membeli rumah sebesar itu kalau bukan untukmu?"
Hilya berbalik tertawa sinis,dan Danang hanya menatap kosong ke arahnya.
"Tidak,rumah itu ibarat sebuah kastil yang kau siapkan hanya untuk menyiksaku,membuatku jatuh cinta dan bertekuk lutut kepadamu,lalu kau berpaling mencintai wanita lain,bukan."cetus Hilya tidak terima.
Danang menyapu kasar wajahnya,kemudian mengerutkan keningnya,bingung.Pikirannya saat ini sedang gagal mencerna ucapan isterinya,
"Kau ini bicara apa,memangnya aku pernah bilang begitu?"
Hilya memandang lurus ke arah Danang yang menatapnya seakan tidak percaya,"Menurutmu?"
"Tidak."Danang menggeleng-geleng pelan,"Ayolah,kita pulang sekarang ya....,aku lelah dan ingin memelukmu sepanjang hari."
"Hahh....,iigghh..."Hilya bergidik ngilu.
Danang tertawa kecil,"Kau itu sudah jadi isteriku,tapi perilakumu masih saja seperti ABG yang baru kenal cinta,"menangkup dagu runcingnya,"Suka menghindar dan juga menjauh,"ledek Danang yang memang sengaja ingin mengusik isterinya.
"Ya,kalau saja kau tidak kasar dan menyebalkan,mana mungkin aku menghindar....,apalagi sampai menjauh."sentak Hilya memberengut.
"Jadi kau ingin aku selalu dekat denganmu?"Danang masih mengusik gadis itu hingga membuat wajahnya menjadi kian merona bak tomat segar dan bibirnya mengerucut bak jeruk purut.
"Coba,senyum sekali saja,"mencubit kedua belah pipi isterinya,"untukku."lanjutnya menipiskan bibir miring membuat Hilya tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum.
"Tuh,cantikkan kalau lagi tersenyum."tambahnya sembari meraih Hilya kepelukannya.
Ia baru mengamati wajah isterinya dengan saksama.Gadis itu tampak kurus dan kurang tidur.Terbukti dari kantung hitam yang melingkar di bagian bawah kelopak matanya.Ternyata dalam beberapa hari ini akibat ulahnya itu membuat isterinya sangat terpukul.
•••••
Bersambung...
🤗🤗🤗