I Need You

I Need You
Kenapa Membawaku Kembali?



Happy reading๐Ÿ˜๐Ÿ“–


Hilya memandang wajah yang masih saja tertegun menatapnya,"Selamat pagi,"sapanya ramah di pendengaran.


Sebuah kedipan mata ringan dari sana,sebagai pertanda bahwa sapaannya terbalas oleh pria tersebut.


"Sudah sarapan?"Lagi-lagi kedipan mata ringan itu refleks dilakukan sebagai pertanda orang itu merespon pertanyaannya.


Hilya melirik singkat ke arah nakas.Di sana masih terdapat bungkusan kotak bubur ayam yang dibawanya dari rumah,"Belum sarapan?"Tanyanya pelan.Muncul keinginan untuk mengecek sendiri,apakah buburnya sudah dicicip atau belum.


"Mau coba buburnya?Aku suap....,kamu pasti suka."Hilya dengan gaya bahasa apik laksana membujuk putera kesayangannya,Juna di rumah.


Dimas tampak merespon baik apa yang diucapkan Hilya kepadanya.Satu suapan berhasil melesat kedalam mulut pemuda itu.


"Kau tahu,ini bubur buatan bibiku,"ucapnya sembari mengambil posisi duduk berseberangan dengan kursi roda tersebut,"Kapan-kapan akan kuajak bertemu dengan bibiku,kalau kau tidak keberatan."Persis seperti menperkenalkan seseorang kepada Juna.


"Wih,Hilya anak tante sudah di sini rupanya."Tante Mira yang baru saja keluar dari kamar mandi,menyapa antusias.


"Eh,iya tante.Baru juga masuk,"jelasnya tersenyum.


"Kebetulan Dimasnya butuh teman bicara,tolong kamu lanjutkan,tante mau ke ruangan om dulu."


"Baiklah,tante.Aman itu."Sejenak terjadi pembicaraan singkat lalu saling melempar senyumpun terjadi di antara kedua wanita beda fase itu hingga akhirnya nyonya Mira melesat keluar dari kamar tersebut.


Sementara Hilya dengan gayanya yang khas selalu ceria meski setiap ucapan dan candaannya hanya direspon seadanya oleh Dimas.Katakanlah saat itu Hilya tengah mendongeng kepada anak seusia Juna.


Sedangkan di balik sorot redup itu hanya memperhatikan gerak-gerik Hilya dengan suasana hati yang beragam.


Antara bingung menerka siapa sebenarnya gadis bernama Hilya itu,kenapa bisa masuk dalam kehidupannya dan membuatnya merasa hidup kembali,takjub akan sifat natural yang dimilikinya tanpa topeng yang menutupi seperti wanita yang pernah ada di masa lalunya.


Ingat benar saat pertama kali ia sadar dari koma,wajah cantik itulah yang dilihatnya.Perlahan namun pasti,ia merasa bahwa dialah penyebab dirinya hidup kembali,"Siapa dia?"Pikiran yang muncul pertama kali di kepalanya.


Kelincahannya berinteraksi dengan seorang pasien tak berdaya seperti dirinya,membuatnya beropini bahwa gadis itu pasti seorang dokter.Namun ia salah,karena dokter yang saat ini tengah merawatnya tidak lain si Maulana,dokter spesialis keluarganya dari garis keturunan sang mama.


"Kamu Dimas ya,perkenalkan aku Hilya."Sapaan ramah yang keluar dari mulut gadis yang tiada pernah berhenti tersenyum,sesaat setelah sang dokter bersama timnya meninggalkan mereka.


Berbagai upaya yang dilakukan si gadis demi mengajaknya bicara.Perjuangan yang cukup tulus menurutnya.Namun sayangnya ia seakan keberatan menanggapi semua ocehan ringan sang gadis meski hanya dengan sebuah deheman kecil.


Separah itukah ia membenci seorang Vania sehingga kehadiran wanita lain di depannya malah ikut berimbas pada aksi diamnya.Bukan,lebih tepatnya ia merasa nyaman mendengar ocehan gadis itu tanpa mau memotongnya karena akan lebih bagus dan seru,"Benar begitu kan Dimas,"pikirnya.


Hari pertama....,hari kedua....,hari ke tiga....,ia masih setia mengamati gerak-gerik wanita yang tidak pernah menyerah mengajaknya berinteraksi hingga kepada usahanya memberikan rangsangan berupa kontak fisik.Meski hanya dengan menggenggam jemarinya,malah berhasil membuat tangannya bergerak perlahan,"Menarik,"batinnya.


"Mau makan apa?"Beberapa kali gadis itu mencoba menawarkan berbagai jenis makanan kepadanya,termasuk bubur dan buah,namun tak satupun yang ingin dicicipnya.Bukan menolak,melainkan respon indera perasanya masih belum berfungsi secara normal.


Tingkahnya lucu nan menggemaskan,bahkan terkadang gadis itu sampai tidak sengaja merebahkan kepalanya,terlelap di samping ranjang miliknya dalam jangka waktu bermenit-menit lamanya,saking kelelahan akibat aktivitas padat mengajaknya bercengkerama walau berat sebelah dan bertualang seru.Bahkan terkadang ia sanggup membacakan dongeng demi membuat motoriknya kembali bekerja,juga berhasil,"Unik,"batinnya.


Hingga di hari ke lima.Saat ia terjaga dari tidur lelapnya,dirinya tidak lagi mendapati wajah cantik yang tengah tersenyum menatapnya,lalu menyapanya ramah,kemudian mengajaknya bergerilya menyambungkan urat-urat nadinya yang sempat terputus kontak dengan kehidupan nyata,"Di mana dia?"Pikirnya.


Hanya ada alunan musik lembut yang berasal dari denting piano 'Walking in The Rain' jelas mengalun merdu menyapa gendang.Jemari lemahnya yang kian bergerak-gerak seakan memberi pertanda bahwa ia ingin segera bangkit dari tempat ia berbaring.


"Kau sudah bangun,nak?"Suara wanita paruh baya itu menyapa lembut ke telinga sembari melangkah mendekati.


Bukan itu yang ia cari.Masih mengedarkan pelan pandangannya mengeliling,mencari-cari sesuatu di sana.Alunan musik itu,"Kenapa bisa diputar di sini?"Pikirnya lagi.


"Kau mencari sumber suara itu,nak?"Lagi-lagi suara itu yang menyapanya.Tidak lain adalah bibi Riska,sang asisten rumah tangga yang telah merawat dirinya sejak usia dini.Gerakan tangan bibi Riska menunjukkan arah speaker aktif yang sudah tidak pernah aktif lagi setelah dirinya mengalami koma.


Dimas tampak mengangguk lemah.


"Kau merindukan aktivitas mingguanmu,nak?"


Dimas tak bergeming.


"Apa kau ingin sesuatu?Katakan,bibi akan mengambilkan untukmu."


"Siapa dia?"Kini ia mulai kehilangan kesabaran dan siap melayangkan satu pertanyaan sederhana,seketika membuat wanita paruh baya itu tampak tersenyum haru.Mungkin lidahnya ingin berkata,"Kau sudah kembali,nak."namun kata-kata itu tidak jadi dilontarkannya,lantaran tercekat di tenggorokan.


"Gadis itu kah?"Bibi Riska memberanikan diri bertanya dan Dimas mengangguk lemah.


"Namanya Hilya,dia baru saja pergi."


"Ke mana?"Benar-benar pertanyaan tidak sabarnya membuat sang bibi menangkap sesuatu yang membuatnya langsung tersenyum penuh arti,seketika membuatnya kikuk.


Kini sudah bisa dipastikan,benar gadis itulah penyebab dirinya hidup kembali.


"Masih ingin makan?"Suara merdu Hilya membuyarkan lamunanya,seketika membuatnya ingin tertawa lantaran tiba-tiba memikirkan seseorang,padahal ada di depan matanya,"Sepertinya kau harus banyak makan,biar cepat sembuh."Lagi-lagi membuatnya hampir tertawa karena gadis itu seakan sudah tidak sabar melihat kesembuhan dirinya.


"Kenapa kau ingin aku segera sembuh?"Sebuah pertanyaan standar yang tentunya membuat Hilya sukses terperangah.


"Kau bisa bicara?"Hilya menatap tidak percaya.


Tatapan yang berhasil membuat mata redup itu seketika dialihkan ke lain sisi,"Memangnya aku bisu?"Menyeringai sinis,sembari membalikkan pertanyaan kepadanya,rada ketus.


Hilya tampak tersenyum ramah menanggapi pertanyaannya,"Karena aku peduli pada sesama."


"Memangnya kau siapa?"


"Aku tidak pernah melihatmu di masa laluku,kenapa bisa berada di hidupku sekarang?"


"Aku,hanya tenaga sukarela yang tengah berjuang menolong sesama."


"Mengapa menyelamatkanku,sedangkan aku tidak ingin hidup kembali."


Hilya menghela napas pelan,lagi-lagi ia tersenyum menanggapi pertanyaan membidiknya.


"Emm....,bisa bantu aku menjawabkannya?"Hilya menatap lekat wajah pucat yang kini juga tengah menatapnya tajam,"Apa kau juga punya alasan mengapa baru bisa sadar setelah berniat untuk tidak ingin hidup kembali?"


Selain itu ia juga cukup mendengar banyak upaya terapi bicara yang dilakukan oleh kedua orangtuanya,bibi Riska,paman Fendy atau bahkan suara-suara asing yang sejenis dengan suara gadis itu.


Namun ia sendiri tidak memiliki kekuatan sama sekali untuk segera merespon sinyal yang diberikan oleh orang-orang tersebut.Ia baru mendapat kekuatan setelah gadis itu masuk kedalam hidupnya,"Hei,bangun.Kau harus membayarku dengan kesembuhanmu."


Ya,ia ingat sekarang,gadis itu pernah memaksa dirinya untuk segera sembuh karena papanya berhutang keadilan kepadanya,dan memintanya membayar ganti rugi.Sesimpel itukah alasannya?


Dimas tersenyum samar,"Tulus....,kata itu yang tepat untuk disandingkan kepada gadis itu."


Ketulusan gadis itu telah membawanya kembali.Sifat yang tidak pernah dimiliki oleh seorang gadis di masa lalunya.Sifat yang dicari dan selalu dirinduinya selama ini.Kini gadis ini membawakan untuknya.Lalu pantaskah ia meminta gadis itu lebih dari sekedar tulus merawat dirinya?Bagaimana jika ia meminta hati gadis itu untuknya?Ah,pertanyaan macam apa itu.Jangankan meminta,mengharap saja belum tentu tergapai.


Kini seharian penuh,Hilya menemani Dimas yang tampak mulai terbiasa menerima respon baik darinya.Bisa menanggapi semua ocehan ringannya dengan gimik yang tepat.Bahkan demi tugasnya,ia nyaris melupakan suami dan anaknya di rumah.


Ya,jika tidak ada pesan masuk ke ponsel miliknya.


"Ada kendala?"


Pertanyaan singkat dari sang suami mampu membuat hatinya bergetar.


"Sedikit.Ommu yang pemaksa memintaku harus tetap bertahan di sini sampai Dimas sembuh."


Hilya menekan tombol kirim setelah merangkai kalimat yang menurutnya wajib diketahui suaminya.


Lima menit kemudian,pesan baru di baca,namun tidak segera dibalas.Kali ini Hilya yang memberanikan diri bertanya sesuatu yang bersifat privasi.


"Apa Dimas punya masalah dengan wanita di masa lalunya?"


"Mungkin."Jawaban Danang dari seberang melesat begitu saja tanpa menunggu peralihan detik.


"Whatt?Jadi dia sedang menunggu keterangan lanjutan,"batinnya,lalu segera menyusun kembali kalimat dan siap untum dikirim.


"Lalu aku harus bagaimana,ommu memintaku untuk mengembalikan rasa percaya diri Dimas kepada wanita."


Kali ini pesan langsung terbaca,namun tidak dibalas.Hilya menutup pembicaraan jarak jauh mereka,"Aku akan segera kembali."


"Paman Madi akan menjemputmu."


"Baiklah."


Usai berpamitan dengan Dimas yang awalnya ditolak oleh pemuda itu,"Kenapa pergi,kau tersinggung dengan ucapanku?"


Hilya menggeleng,"Aku hanya pulang hari ini dan besok kembali lagi."


"Kenapa tidak menginap di sini saja?"


"Aku punya masyarakat sekampung yang tengah menanti kepulanganku di sana."Penjelasan yang membuatnya mau tidak mau harus menerima kenyataan,"Besok kita bicara lagi,ya."Lalu untuk apa ia bersusah payah menahan gadis itu menginap di rumahnya.Toh bukan siapa-siapanya juga.


Di perjalanan,Hilya tercenung memikirkan apa yang dialaminya seharian.Kali ini ia merasa perlu melibatkan suaminya demi mengatasi masalah baru muncul yang ditimbulkan oleh tuan Amran.


"Sayang,aku pulang."Hilya menyapa ke ruang kerja sang suami setelah membersihkan diri dan berganti baju.Rembang petang yang teduh,disebabkan sinar mentari yang tertutup awan putih tebal menambah kesan bugar di tubuhnya.Meski sebenarnya ia lelah dan kurang istirahat.


Tidak ada jawaban dari dalam ruangan.Hilya menerobos hati-hati mencari keberadaan suaminya.Kini bisa dipastikan tubuh jangkung kesayangannya itu tengah berbaring menelungkup di sofa.


"Sesibuk inikah suamiku,sampaikan lupa istirahat,huh?"Hilya bergumam cemberut,"Hah,badanmu panas."Sentaknya kaget sekaligus mengagetkan yang masih terlelap.


"Kau sudah pulang?"


"Heeum,kenapa bisa sakit?"


"Jangan khawatir,aku hanya kelelahan."


"Ayo kita ke kamar."Sembari berupaya memapah tubuh suaminya yang sangat berat.


"Maaf tidak bisa menjemputmu."Danang mengikuti pergerakan isterinya namun tidak memberi kesempatan untuk Hilya memapahnya,melainkan dirinya sigap memeluk sang isteri sembari menggandengnya beriringan.


"Kenapa tidak ingin dipapah?"Protes Hilya.


"Sudah kubilang,jangan mengkhawatirkanku."Mengacak pelan rambut wanitanya penuh dambaan.


"Lalu untuk apa jantungku ini berdetak kencang huh,jika bukan untuk mengkhawatirkan keadaanmu yang sedang sakit ini?"Mengatur posisi lalu membiarkan sang suami berbaring di atas kasur sementara dirinya memilih duduk di sisi ranjang.Gurat cemas masih jelas terlihat di wajahnya yang memucat.


"Sejak kapan hmm....,isteriku ini pandai merayu?"Danang mengerling saat dirinya sudah saling beradu tatap tanpa jarak dengan sang isteri.Ada senyum kecil yang melengkung di bibir seksi miliknya.Hawa panas menjalar begitu saja.Rasa sakit dan tidak enak badannya seketika memudar.


Menyadari sang suami tengah menggodanya,Hilya memutarkan bola mata,"Sejak saat ini tuan Danang Danuarta Setiawan,"ucapnya pelan namun penuh penekanan saat menyebut nama lengkap suaminya.Sejenak kemudian diiringi dengan sebuah kikikan geli.


Kali ini giliran Danang mulai berniat menjahili sang isteri dengan menyembunyikan senyumnya,"Benarkah,perlu pembuktian ini?"Mengerling dengan tatapan mesum.


Hilya yang belum menyadari tingkah suaminya,masih berupaya menggoda,"Katakan,bukti apa yang membuatmu percaya?"


"Rayu aku,seperti yang biasa kulakukan padamu tiap malamnya ada kesempatan."


"Whattt?!"Hilya sontak berjingkat,namun Danang sigap menarik kedua tangannya agar tidak menjauh.


Berkali-kali pemuda itu sengaja mengangguk manja sembari memasang wajah menuntut,"Badanku kurang fit,kau tahu kan."Hilya mengangguk,namun bukan itu yang ia maksud dengan merayu.


Tampil sebagai pemain yang memimpin pertandingan,bukankah itu suatu tantangan yang berat,mengingat dirinya bukanlah ahli dalam hal merayu,memuaskan hasrat,ataupun sejenisnya demi memenuhi hasrat suami yang pasrah menerima perlakuan aktif sang isteri dengan perasaan yang menggebu,"No,no,no. I can't do it."Wajahnya mulai memerah menahan malu tiada berkesudahan.


"Kau bisa sayang,bahkan lebih dari itu."Danang membisik meyakinkan isterinya.Suara paraunya kian menuntut hingga Hilya merasa tidak lagi memiliki kesempatan untuk menolak,"Hmm."


.....


Bersambung.....


๐Ÿค—๐Ÿค—๐Ÿค—