
Danang masih merenungkan ucapan sepupunya,Jefry.Bungkamnya saat itu seakan membenarkan ucapan pemuda itu.Untuk apa dia membenci gadis itu,padahal ketika mendiang Lian saja sampai mabuk-mabukan di tempat ini,dia tidak pernah mempermasalahkannya.
Bahkan Lian yang ketika itu sangat tergila-gila kepada Diego saja dia tidak pernah marah-marah seperti itu.Lalu mengapa ia harus marah pada wanita yang kini telah sah menjadi isterinya itu.
Lian
Lian
Lian!
'Hahhh....,Lian....,Kenapa?....,kau bahkan tega menjebak perasaanku!'batinnya sembari membuang kasar pandangannya.Tatapan yang berkabut itu kian basah dan sebutir bening ikut lolos begitu saja tanpa diinginkan.
Drrrrrttttttt
Hallo
Hallo
Nak,apa kau bersama Hilya?
Aku lagi di luar rumah bu,sebentar lagi juga pulang.Apa ada pesan yang ingin ibu tinggalkan?
Tolong suruh dia aktifkan ponsel.Ibu mau bicara hal penting.Tentang Juna.
Deg
'Kenapa dengan bocah itu,ibu sampai menghubunginya selarut ini?'
Danang bangkit meninggalkan night club setelah membayar minuman cocktail yang tidak ia sentuh sedikitpun.Lalu bergegas menuju ke mobil.Beberapa saat kemudian ia pun melesat di balik gelapnya malam kota D.
Di kamar Danang mendapati isterinya sedang tertidur pulas.Rasanya tidak tega jika harus memanggilnya bangun setelah apa yang baru mereka alami.
'Apa harus menunggu besok pagi,tapi ibu bilang sangat penting.Tentang Juna.'
Ah,daripada nanti disalahkan,lebih baik kejutkan saja.Ibu sampai menghubunginya jam begini,itu berarti urusannya sangat penting.Hati-hati Danang mendekati isterinya,lalu mengambil posisi duduk disampingnya.Ia menatap intens wajah gadis yang tengah terlelap.Ada sisa air mata yang mengalir di pelupuk matanya.Dia masih menangis,bahkan hingga di dalam tidurpun,sorot sendu itu masih terpampang nyata di wajah yang semakin menirus.
Perlahan tangan itu turun merapikan sulur rambut yang membingkai wajah isterinya.Ya,dia akui memang baru kali ini ia melakukannya, meskipun untuk hal sekecil itu.Lalu ke mana Danang yang nota benenya seorang yang penuh kharismatik, profesional,penyayang terhadap kaum wanita,dan tidak pernah membiarkan wanita manapun menangis.
Namun Danang berusaha menepis gejolak di dadanya.Karena tujuan utamanya hanyalah membangunkan isterinya dan menyampaikan amanah dari ibu,itu saja.
Tangannya kembali bergerilya meraba kening gadis itu.Hawa panas yang menjalar dari sana membuatnya semakin memberanikan diri untuk menyentuh wajah dan pelipisnya...,panas.Pemuda itu akhirnya membuat panggilan darurat kepada bibi Nunung untuk segera membawakan air hangat dan handuk untuk mengompres.
Danang meraih wangian aroma terapi untuk digosokkan ke bagian dada dan perutnya.Ini bukan pertama kali ia melakukannya.Sewaktu di Permata kos,ia sudah pernah melakukan hal serupa.Bahkan waktu itu sampai menggantikan pakaian kerja dengan piyama.Maka itu,tidak membuatnya kikuk.
'Apa aku terlalu kasar kepadanya?' Danang membatin resah.
Beberapa menit kemudian bibi Nunung muncul membawa handuk dan air hangat yang diminta oleh majikannya itu.
"Apa perlu bibi yang melakukannya,nak?"
"Tidak perlu bi,biar aku saja."
Bibi Nunung mengangguk sopan,
"Maaf tuan muda,bibi hanya ingin menyampaikan kalau nona Hilya belum makan sejak siang tadi,"ucapannya berhasil menimbulkan kerut di kening Danang,
'Pantas saja.'batinnya.
"Apa perlu bibi siapkan bubur untuk nona?"lanjutnya menawarkan bantuan.
Danang mengangguk,
"Biarkan saja bi,besok saja."
Sementara menunggu bibi Nunung menyediakan bubur,Danang sengaja menuju ke balkon untuk menghubungi ibu mertuanya.Ada rasa khawatir di hatinya jika sampai sang ibu menunggu.Danang menyambungkan dan ibunda Iza menyambutnya,
Hallo
Ibu,aku sudah di rumah,tapi Hilyanya masih demam.Kira-kira ada hal penting yang ingin ibu sampaikan,boleh titipkan saja kepadaku bu.
Baiklah nak,tolong kau katakan kepada Hilya kalau Juna terkena asma dan sekarang sedang dirawat di rumah sakit terdekat.
Baiklah ibu,akan kusampaikan kepadanya dengan hati-hati.
Keesokan harinya,Hilya bangun dari tidur.Panasnya sudah mereda,namun rasa pusingnya masih terasa.Hilya mendapati Danang masih tertidur disampingnya.Waktu sudah menunjukkan pukul enam pagi.Hilya bangun dan bersiap untuk berangkat kuliah.
Tanpa pikir panjang dan seakan melupakan kejadian semalam,Hilya langsung saja membangunkan Danang.Beberapa kali ia menggoyang-goyang tubuh suaminya.Gadis itu sampai berlutut disamping ranjang.Butuh perjuangan yang cukup,bahkan sangat lama hingga akhirnya pemuda itupun mengerjapkan matanya.
"Sudah jam setengah delapan."Menopangkan tangannya ke ranjang,"Kau tidak kerja?"berusaha bangkit dan beranjak menjauh.
"Emmph...,tidak."sambil menggeliat,"kau sudah siap?" Ikut bangkit,namun terhenyak sembari menangkap tubuh isterinya yang sudah siap beranjak.Hilya jatuh kepelukan sang suami.
Danang menyatukan bibir dengan isterinya yang masih mematung dengan teknik-teknik yang mahir.Ciuman yang sangat lembut dan berghairah,membawa isterinya ke dalam kubang kenikmatan yang tiada tara.Hilya merasakan adanya ketulusan yang terpancar dari perbuatan suaminya itu.Maka ia pun membiar semuanya berjalan begitu saja.
"Kita akan ke kota kecil,menjemput Juna."
"Apa?!"
"Tidak baik memisahkan seorang balita dari ibunya sendiri."
Hilya nyaris tidak percaya dengan rentetan kejadian pagi ini.Gadis itu seketika memicingkan matanya.Sedang bermimpikah dia.Sesaat ia mencoba menggigit bibirnya yang lembab dan memerah akibat ulah suaminya.Sakit.Berarti bukan mimpi.Danang tersenyum samar memperhatikan tingkah konyol isterinya sembari memberikan isyarat agar segera bersiap untuk perjalanan jauh.
"Cepatlah bersiap,atau masih mau kulumatkan lagi?"
Hilya buru-buru bangkit dengan rona wajah memerah yang tidak bisa ia sembunyikan.Gadis itu beranjak berganti pakaian dengan membawa sebuah rasa yang berbeda di hatinya.Bahkan tidak pernah ia rasakan meski ketika berkontak fisik dengan seniman Joshua.
•
•
Rumah Minimalis Kota Kecil...
Hilya memadang sedih tiada henti melihat pemandangan di depan sana.Juna tertidur pulas setelah beberapa hari mengalami gangguan pernapasan akut.Sang kakek dan nenek baru saja membawanya pulang setelah mendapat persetujuan rawat jalan dari dokter.
"Dia kelelahan,"ucap ibunda Iza membelai punggungnya,"Sejak kau pergi dia selalu saja murung."lanjut ibu meneteskan air mata.
"Kenapa tidak pernah mengabariku,bu?"
"Ibu hanya tidak ingin menggangu aktivitasmu."
"Tidak sama sekali bu,aku bahkan selalu berharap ibu bisa mengabariku tentang Juna."
"Dia akan baik-baik saja."Elmiza menepuk punggung puterinya seraya beranjak meninggalkan kamar tersebut dan mempersilahkan menantunya yang sedari tadi berdiri mematung di depan pintu untuk ikut masuk le dalam kamar.
Danang mengangguk sopan,ia menatap kosong ke arah gadis yang tidak menyadari kehadirannya di sana.Karena memang sedang sibuk meratapi nasib buah hatinya.Ada perasaan bersalah karena merasa pernah mengabaikan permintaan Hilya untuk mengajak Juna ikut tinggal bersamanya.Sesaat ia melihat bocah itu mengerjapkan mata.Menggeliat dan menyesuaikan pandangan.
"Bundaaa...,jangan tinggalkan Juna..."
Lemah suara sang Juna yang belum sepenuhnya sadar dari tidurnya,bocah ini tampak mengigau,
"Nenek,bawa bunda kembali...Om itu...,hiks hiks hiks...,membawa bunda pergi."ucapnya meracau.
Pilu suara tangisan sang bocah membuat siapapun saat itu tidak tega melihatnya.
"Om itu sudah merebut bunda dari Juna...hiks hiks hiks.."pekiknya masih larut dalam igauan.Bocah itu meronta-ronta seakan sedang ingin merebut kembali miliknya yang dibawa oleh seseorang.Danang membuang pandangan ke sembarang arah.Hatinya porak poranda bagai dihantam badai tak kasat mata.
"Juna,sayang.Ini ada bunda di sini,"ucap Hilya terisak sembari membelai kepalanya,"Bunda tidak pergi ke mana-mana,nak."lanjutnya ikut mencium pipi sang bocah.
Juna tersadar..,sesaat setelah nyawanya terkumpul sepenuhnya,
"Bundaa.."pekik Juna di sela isak tangisnya.
Hilya menyambut pelukan Juna dengan isak tangis yang tertahan.Disamping tidak ingin membuat Juna semakin bersedih,Hilya juga tidak ingin terlihat rapuh di mata suaminya.Kini si bunda ini merasa telah mengabaikan kasih sayang untuk seorang balita yatim piatu seperti Juna hanya karena permasalahan rumah tangganya yang belum terarah.Rasa berdosa mengalir menerpa rasa yang kian tergugu.
Gadis itu menghela napas dalam,
"Ya,sayang.Bunda ada di sini untuk Juna."
Suara sendu yang berusaha melawan gejolak di dada.Ingin rasanya ia berteriak sekeras mungkin di depan suaminya sendiri dan mengatakan kepadanya,"Jangan pisahkan Juna dariku."namun apa daya hal ini tak kuasa ia lakukan di depan putera tercintanya itu.
"Ikut bunda ke kota,mau ya?"
Gelegar suara maskulin milik Danang yang tiba-tiba muncul dari belakang,membuat ibu dan anak itu ikut mendongakkan wajah ke arahnya.
•••••
Bersambung...
🤗🤗🤗