
Happy reading.. š
Sinar mentari pagi menerpa lantai gedung tertinggi Adhytama Star Group. Suasana ruang owner usaiĀ briefingĀ pagi.
Tuan Imran yang duduk berselonjor di sofa sedang menikmati secangkir teh manis,
"Danang, hari ini ada jadwal temu janji dengan klien dari Jaya Group," ucapnya sembari menyeruput teh hangat,
"Berhubung papa harus ke luar kota, maka tolong kau temani adikmu di pertemuan itu." lanjutnya menatap mata puteranya yang hanya diam memandang layar laptop.
"Paman Sani saja ikut ke sana, boleh ya pa, kan ada Dania," balas Danang sekenanya.
"Tidak boleh, jangan biarkan Dania sendirian di sana. Adikmu itu baru belajar dan kau harus mendampinginya." Papa masih saja tersenyum dan bernada tenang.
Danang menghela napas berat, "Baiklah pa."
Tuan Imran mengangguk kecil, "Setelah dari sana tolong lanjutkan agenda kunjungan ke cabang untuk restoran DS. Perusahaan Jaya Group yang sebentar lagi akan menjalin kerja sama dengan kita ini, sebelumya telah berhasil melebarkan sayap di bidang kuliner untuk wilayah pantai utara. Kita harus sigap melakukan pencerahan kepada restoran DS agar tidak gentar dengan sepak terjang anak cabang perusahaan baru itu." Imran menjelaskan dan Danang lagi-lagi mengerucutkan bibirnya.
"Pa, aku ikut cukup diĀ meeting-nya saja ya, selanjutnya Dania," pintanya memelas.
Tuan Imran menggeleng, "Tidak nak, justeru kaulah yang akan melakukan kunjungan ke cabangnya."
"Dania akan pergi ke Adhytama Star Hotel dalam rangka memenuhi undangan Karin mengukuti acara pelantikan general manager baru di sana oke," jelas papa Imran mendetil.
"Papa, tolong! Aku sibuk, dan tidak mau diganggu," balas Danang mulai kesal.
Tuan Imran sedikitmengkerutkan kening namun nadanya tetap terkontrol, "Apa yang lebih sibuk selain daripada pekerjaanmu ini nak, hmm?..., mau sampai kapan kau harus terpuruk dalam tragedi masa la..."
"Oke, oke pa! Aku berangkat sekarang juga," potong Danang cepat seraya menutup laptopnya dan langsung beranjak meninggalkan ruangan.
"Ingat jangan lupa kunjungan ke restoran DS," pekik sang papa memandang punggung sang anak yang sedikit lagi menghilang di balik pintu.
Tangan pria paruh baya itu terlihat sedang mengutak-atik layar ponsel. Sesaat kemudian terdengar seseorang menyambungkan suara dari seberang.
Hallo tuan.
Ikuti dia dan jangan cegat dia. Biarkan dia melakukan apapun untuk hari ini.
Baik tuan.
Pastikan dia terhindar dari perilaku negatif.
Baik tuan, perintah dilaksanakan.
Tuan Imran menarik napas dalam kemudian menghembusnya pelan. Menatap kosong, menerawang nasib sang anak yang kian hari kian tertutup dan mulai melawan perintahnya.
'Dengan cara apalagi aku membujuknya,' gumamnya pelan.
Adhytama Group Hotel.
Danang memasuki ruang meeting di mana dirinya sudah ditunggu oleh utusan dari klien Jaya Group. Tanpa basa-basi ia pun membuka forum.
Tiba giliran klien utusan Jaya Group yang memperkenalkan diri, "Terima kasih atas kesempatan yang diberikan, perkenalkan nama saya Helmi Afindra menjabat sebagai manag..."
"Stop!" seru Danang tiba-tiba.
Pemuda itu canggung dan tiba-tiba menghentikan ucapannya, meski bingung namun ia tetap tersenyum.
Hening...
"Lanjut." titah Danang.
Pemuda itu kembali melakukan bow, "baik pak. Perkenalkan nama say..."
"Hentikan! Kami tidak membutuhkan perkenalan diri ataupun jabatan anda." Danang menyeru ketus.
"Baik, maafkan kami pak," ucap pemuda yang bernama Helmi Afindra dengan sopan, meskipun dalam hatinya merutuk panjang pendek akan sikap Danang yang tidak tahu menghargai sesama.
'Sombongnya..., kata pak Jayahadi tuan pemilik ASG itu sangat santun, lalu siapa orang ini?' batin Helmi sang manager utusan Jaya Group.
"Lanjut, to the point."
"Baik pak. Adapun maksud kehadiran kami di sini adalah untuk menawarkan beberapa keuntungan dan kelebihan produk kami jika bapak mempercayakan perusahaan kami untuk bekerja sama dengan pihak bapak."
Presentasi yang dilakukan oleh pihak klien berjalan mulus hingga akhirnya Danang memutuskan untuk menerima jalinan kerja sama dengan pihak Jaya Group.
Usai memproses berkas kerja sama dengan pihak Jaya Group, Danang melanjutkan agenda ke pantai utara kota D sesuai permintaan sang ayah. Namun dia memilih pergi seorang diri.
"Paman Sani pulanglah bersama Dania. Aku akan menyelesaikan tugasku sendiri di pantai utara." Danang memerintah kepada sekretaris utama sang ayah setelah mobil yang membawa Dania bergerak menuju ke Adhytama Star Hotel.
Apalagi yang bisa dilakukan oleh pria berusia tiga puluh itu selain daripada menuruti ucap anak majikannya yang sekarang terkenal pemaksa dan keras kepala.
"Geserkan juga jadwal kunjungan ke restoran tersebut. Aku akan ke sana diĀ siftĀ malam." Danang kembali menitahkan.
"Baik tuan muda." Paman Sani kembali menuruti seraya melaksanakan tugas tambahan yang diberikan oleh Danang.
Danang segera berlalu dari sana setelah mengucapkan terima kasih kepada sekreraris Sani. Pria itu hanya bisa menyambut dengan sebuah gelengan kepala tanda pasrah.
Ya, Danang memang menuju ke pantai utara kota D. Akan tetapi ia tidak menuju ke restoran DS yang dimaksudkan oleh papa Imran melainkan ia menuju ke sebuah cafe yang letaknya tidak jauh dari restoran DS. Tujuannya tidak lain untuk menenangkan diri dengan menikmati secangkir kopi hitam kesukaannya.
Di sinilah untuk sesaat semua kekalutan pikirannya terasa menghilang begitu saja. Ia menikmati harinya dengan penuh sukacita. Hingga menjelang sore, pemuda itu baru terlihat beranjak dari posisinya. Bergerak lagi ke sebuah taman wisata pemerintah setempat. Entah apalagi yang ia lakukan di sana yang jelas hanya sekedar untuk menunggu waktu malam tiba.
Adhytama Star Hotel...
Beberapa jam yang lalu,
Dania tiba di hotel tersebut tepat waktu. Gadis itu disambut sangat ramah oleh pihak hotel, apalagi di sana ada sepupunya Karin dan kakak iparnya Diego yang baru datang dari tanah Tun Mat Saleh untuk melantik general manager mereka yang baru. Ibnu Haidar. Ya, pemuda yang selama ini sukses membuatnya jengkel dan marah-marah akibat ulahnya yang suka mengganggu zona privasi gadis itu.
Di sela acara selingan pelantikan general manager ASH yang baru, Dania tengah asyik bercanda ria dengan Karin si ibu satu anak yang terlihat semakin cantik dan menawan.
"Kak Karin, kau semakin cantik saja, dan kak Diego juga semakin sempurna pula," usik Dania tertawa riang.
"Ah, terima kasih sayang, semua ini berkat keponakanmu yang lucu ini kan," balas Karin tertawa kecil seraya mencium gemas pipi balita yang berumur dua bulan di dalam gendongannya.
"Uelleh, uelleh, ponakan tante Nia yang cuakep," usik Dania seraya mencium gemas pipi balita berusia dua bulan itu,
"Sini tante Nia timang mau ya." lanjutnya semringah lantas mencoba meraih balita itu ke dalam dekapannya.
Belum sempat ia meraih balita itu, tiba-tiba pergerakan tangannya terhenti. Untuk sesaat pembicaraan mereka ikut terhenti dengan kehadiran Haidar yang berjalan kian mendekat. Pemuda itu terlihat memuji kuntuman bunga mawar putih segar yang diberikan oleh Karin kepadanya,
"Terima kasih kakak ipar, bunga yang sangat cantik dan durinya sangat menusuk." Haidar berdecit seraya melirik tajam ke arah Dania.
"Ya, adik ipar! Bukan cantik namanya jika durinya tidak menusuk sampai ke hatimu," balas Karin sekenanya.
Haidar membenarkan ucapan Karin,
"Aku pasti akan menumpulkan duri tersebut dan membuatnya menjadi lunak," ucapnya membuat gerakan licik mencium kuntuman buket mawar yang digenggamnya sembari menyeringai sinis ke arah Dania.
Gadis yang sedang menahan dongkol di hati, jadi membuang pandangan sinisnya namun berusaha menutupi hal tersebut dari Karin, sepupunya. Ditandai dengan pergerakan hidungnya yang kembang kempis. Akan tetapi ia tidak bisa membalas pemuda itu dengan cercaan karena mengingat sepupunya itu tidak mengerti akan permasalahan yang terjadi di antara mereka.
Apalagi di saat ini wanita satu anak itu tidak menunjukkan kecurigaan apa-apa terhadap ocehan pemuda gila tersebut. Akhirnya Dania memilih untuk meraih bayi mungil itu ke dalam gendongannya.
"Wah,adik ipar Nia. Aku rasa sudah saatnya untuk kau harus segera menikah." sapa Diego yang baru ikut bergabung seraya tersenyum ramah dan menggoyang-goyang jempolnya.
Karin dan Haidar serempak memandang wajah Dania yang tengah tertawa renyah mendengar candaan kakak ipar Diego. Di hati pemuda gagah itu membenarkan ucapan kakak supupunya karena saat Dania menggendong bayi Dieka seperti ini aura keibuannya langsung menguar.
"Kakak iparmu benar Nia sayang, bahkan aku baru saja ingin mengatakan hal yang sama sebelumnya," timpal Karin seraya tertawa kecil dan mengangguk setuju.
"Ahahaha, kakak berdua ini, terima kasih karena telah memuji kekuranganku." Dania membalas merendah dan tersenyum riang nan canggung.
"Ah ya, jangan lupa perkenalkan kepada kami siapa calon pendamping yang beruntung itu," goda Diego seraya menjentik jemarinya tepat di depan hidung bangir gadis itu.
"Ah, kak Diego bisa saja, pacar saja belum punya, malah bahas soal pendamping, hehe." Dania menyangkal dengan wajah memerah dan perasaan yang campur aduk.
Diego tertawa renyah melihat gelagat Dania yang bersemu merah saat disinggung soal pendamping hidup.
"Oh ya, Dania, ini sepupu kakak, namanya Haidar. Dia orang baru di kota ini," ujarnya mengarahkan jemarinya ke arah Haidar.
Diego memperkenalkan Haidar kepada Dania dan berharap agar gadis itu bersedia membantu sepupunya itu jika sewaktu-waktu ia menemukan kesulitan di kota yang baru ia tempati ini.
"Hehehmm.., baiklah kakak iparr.., dengan senang hati aku pasti akan mengajaknya berkeliling kota ini," Dania menyungging senyum kecut seraya menatap ke arah pemuda yang juga sedang melirik tajam ke arahnya namun berpura-pura tersenyum manis di hadapan kakak sepupunya.
Karin mengangguk setuju, membenarkan permintaan sang suami tercintanya, "Haidar, jangan segan-segan meminta bantuan kepada adikku ya," ujarnya seraya memeluk Dania dan memberikan kode kepada Haidar.
"Ah, ya. Dengan senang hati kakak ipar," balas Haidar mengulum senyum.
Acara serah terima jabatan general managar berlangsung khidmat. Kini Haidar resmi menjadi pemimpin hotel yang baru. Pemuda itu memperlihatkan senyum indahnya berkali-kali kepada para undangan termasuk melemparkan senyum tulusnya kepada Dania namun gadis itu sigap mengalihkan matanya ke sisi yang lain, "Huh!"
Tujuannya memang untuk menghindari tatapan maut pemuda yang diam-diam membuat hatinya tidak karu-karuan, "Menyebalkan."
Usai acara pelantikan, Dania dengan penuh semangat melangkah menuju ke lapak favoritnya.
ā¢ā¢ā¢ā¢ā¢
Bersambung...