I Need You

I Need You
Membuncah



Happy reading 😍📖


Pria paruh baya itu tersenyum getir,merutuki dirinya sendiri mengenang peristiwa lima tahun lalu.Saat di mana Arjuna Wijaya,putera semata wayangnya datang kepadanya dengan wajah polos.Mengumpulkan segenap kekuatan di balik ketakutannya,ia mengatakan kalau dia telah melakukan hubungan terlarang dengan salah seorang adik kelasnya.


Flashback on.


PLAKK


Tamparan telak mengenai wajahnya yang tertunduk.


"Anak kurang ajar!"seru sang papa geram.


Arjuna berlutut di hadapnnya,


"Pa..,maafkan Arjuna sudah mengecewakan papa."Arjuna memegang sudut bibirnya yang lebam,perih.


Meski dalam ketakutan,dirinya mengaku sangat mencintai gadis belia itu.


"Namanya,Aluna Handani.Anak yatim piatu dari kota kecil."


PLAKK


Satu tamparan keras kembali mendarat mengenai pelipisnya yang tirus.Arjuna Wijaya yang masih belia sangat memahami apa itu cinta hingga ia menolak saat sang papa memintanya untuk menjauhi gadis bernama Aluna.


"Aku tidak bisa meninggalkannya papa,dia sedang mengandung anakku,"desahnya lirih.


Meski marah dan kesal,orangtua mana yang tega membiarkan anaknya terjerat dalam duri yang menyiksa.Maka dengan sangat menyesal,mau tidak mau sang papa terpaksa mengurus status pernikahan dini ke atas dua anak muda yang mengaku sudah melakukan perbuatan terlarang dan telah menghasilkan benih yang tidak berdosa di rahim gadis usia dini itu.


Dua hari setelah menikah,tuan Jayahadi memisahkan Arjuna dengan Luna.Mereka tidak diperbolehkan tinggal serumah.Aluna terpaksa diberhentikan dari sekolahnya.Untuk sementara Aluna dibiarkan tinggal bersama paman pengasuhnya di kota ini yang bernama Ferdi.Sedangkan Arjuna sengaja akan dikirim ke luar negeri agar bisa menjalani pendidikan lanjutan di sana.


Arjuna masih memperjuangkan nasib isterinya itu.Namun karena sikap sang papa yang diktator dan terkesan memaksa,membuatnya kehilangan kesabaran.Saat Arjuna pergi ke rumah pak Ferdi untuk menjenguk isterinya,ia malah mendapati bahwa gadis itu telah dikirim oleh sang paman ke kota Kecil karena dianggap telah mencoreng nama baik keluarga.


Mendengarnya,Arjuna Wijaya berang dan pulang ke rumah lalu mengajak sang papa beradu urat.


"Jika saja papa tidak menolak Aluna tinggal bersamaku,maka paman Ferdi tidak akan mengirim Luna kembali ke kampung."


"Biarkan saja nak,bersiaplah untuk keberangkatanmu ke Belanda,"mengatup kedua bibirnya,"Soal Luna biar papa yang menjemputnya,dan mengurusnya tinggal di sini."Tuan Jayahadi mulai melunak.


"Tidak,pa.Cabut semua hak yang papa berikan untukku.Aku tidak membutuhkannya."Arjuna berbicara lantang,


"Aku akan pergi ke kota kecil dan memulai hidup baru di sana bersama isteri dan calon anakku."lanjutnya sembari beranjak pergi dalam keadaan hati yang penuh lara.Sayangnya,Arjuna pergi dan tidak pernah kembali lagi kepadanya.Niat awal memisahkan keduanya demi memberikan hak pendidikan untuk mereka,malah akhirnya berbuah malapetaka bagi puteranya.


Lantaran terlalu kecewa akhirnya ia memutuskan untuk membiarkan Aluna sendirian tinggal di kampung tanpa memikirkan resiko dari status yatim piatu yang pernah dijelaskan oleh puteranya sebelum ia meninggal dunia.Hingga di saat menjelang kelahiran cucunya,barulah ia berangkat ke kota kecil untuk mencari tahu keberadaan menantu dan cucunya.


Namun sayang di sana ia malah mendapatkan infromasi yang mengejutkan kalau menantunya juga telah meninggal dunia saat melahirkan bayinya,dan sang cucu malah ikut tidak tertolong.Hal ini membuatnya harus menanggung duka yang mendalam selamanya akibat dari perbuatannya sendiri.


Flashback off.


Tuan Jayahadi kini menangis sejadi-jadinya.Rasa bersalah menggerogoti dirinya.Kini ia hanya bisa pasrah dan merutuki dirinya atas kesalahan yang pernah ia lakukan terhadap putera dan menantunya.Ditambah kehadiran si kecil Juna yang tumbuh dan berkembang di tangan orang lain,membuatnya semakin terpuruk dan merasa dirinya tidak berhasil menjadi ayah dan opa bagi anak dan cucunya.


'Ah,bagaimana caranya melakukan pendekatan kepada mereka?'


'Aku hanya ingin cucuku kembali kepadaku.'


gumamnya terisak.




Malam menyambangi langit kota D...


Ketika itu Hilya pulang dari menyelesaikan tugas kelompok bersama Nuha dan yang lainnya.Berhubung hatinya sedang tidak bersahabat ia memutuskan untuk jalan-jalan ke tengah kota.Beberapa hari belakangan ini dirinya memang sering bertengkar dengan Danang.


Semenjak kejadian di Adhytama Star Hotel waktu itu,Hilya berubah menjadi pembangkang.Lelah rasanya menjadi penurut kalau suaminya saja tidak pernah berusaha untuk menciptakan kedekatan di antara mereka.Yang ada juga sifat menyebalkan dan suka menyulut api kemarahan.


Gadis itu akhirnya memilih untuk singgah di sebuah pusat perbelanjaan.Tujuannya adalah untuk membeli perlengkapan wanita.Diperjalanan,langkahnya dicegat oleh Joshua.


"Hilya,dengarkan aku dulu,"ucap Joshua menangkup lengan Hilya yang berusaha menhindar.


"Aku sudah bilang jangan mencariku lagi."Hilya menyentak tangan pemuda itu dengan langkah yang dipercepat.Namun Joshua tidak menyerah.


Seperti dulu-dulunya,pemuda itu malah semakin gencar mengejarnya,


"Tidak semudah itu,Hilya."mensejajarkan langkah kakinya,"Kau cinta pertamaku,"pungkasnya penuh penekanan.


Hilya semakin mempercepat langkahnya,


"Tapi aku sudah bersuami,Joshua!"


Joshua menarik paksa lengan Hilya membuat langkah gadis itu seketika terhenti,


"Peduli apa kepadanya,pria sekasar dia tidak pantas menjadi suamimu.Sadar,Hilya."Sengaja meracuni pikiran Hilya,


"Danang tidak mencintaimu!...,Kau disakiti berkali-kali olehnya,"lanjutnya menggenggam erat jemari Hilya namun dilepas paksa oleh gadis itu.


Seperti kata Joshua,Danang pria yang tidak berperasaan.Tangannya,kakinya,tubuhnya,tindakan dan perilakunya bahkan hati dan jiwanya.Semuanya tercipta hanya untuk menyakiti gadis itu.Hilya terdiam,mungkin kali ini ia harus membenarkan ucapan Joshua.


Hening....


"Dia bahkan tidak pernah memberimu nafkah batin yang seharusnya kau dap_"


PLAKK


"Diam kau!"potong Hilya cepat,


"Fitnah!...,tahu apa kau tentang semua itu,hah?"Hilya menggertak.Di balik itu,hatinya bagai tercabik-cabik.Tangan dan tubuhnya gemetar.Ingin rasanya ia berteriak sekeras mungkin,"Pergi kalian semua!"


"Dari sorot matamu!"sentak Joshua tidak kalah kerasnya.Berusaha menarik pergelangan gadis itu lalu membawanya pergi,namun tiba-tiba,


Bak Buk Bak Buk


Tinju keras mendarat di wajah pemuda itu berkali-kali membuatnya terpental.Tampak seorang pemuda yang sangat ia kenal sedang menghantam wajah Joshua dengan pukulan tinju dan tendangan yang membabi buta.Membuat Joshua menjadi tidak berdaya.


"Hentikan!...,kenapa kau menyakitinya?"hardik Hilya sembari menghunus tatapan tajam ke arah penyerang yang tidak lain adalah suaminya sendiri.Tubuhnya limbung saat berusaha meleraikan serangan suaminya,hingga pukulan terakhirnya mengenai wajah Hilya hingga ia terjatuh mengenai Joshua yang sudah lebih dulu tersungkur.Tangannya gemetaran,sigap memeluk Joshua yang babak belur.


Danang mematung.


"Kau memukul orang yang tidak berdaya,kau jahat!"pekik Hilya sembari terisak.Tangannya tidak lepas memeluk tubuh pemuda yang tengah mengerang kesakitan,


"Pergi kau!"bentak Hilya geram.Isakannya semakin terdengar jelas dan memilukan.


Danang berjongkok dan mengulurkan tangannya kepada Hilya.Meminta agar gadis itu segera melepas pelukannya lalu bangkit.Namun Hilya menolak.Ia sengaja menepis tangan suaminya yang tampak semakin kesal dan berang.


"Berdiri sekarang juga,"menarik kasar tubuh Hilya,lebih tepatnya memisahkan pelukan isterinya dengan Joshua,"atau kubuat dia semakin babak belur!"lanjutnya sembari melayangkan tinjunke arah laki-laki itu.


"Oke,oke!Aku berdiri sekarang juga,"menahan pukulan suaminya hingga dirinya ikut terjerembab,"Tapi janji untuk tidak menyakitinya lagi."lanjutnya sembari meringis kesakitan.


Danang meraih lengan Hilya dan membantunya berdiri,


"Kalau kau tidak mencampurinya,"memapah gadis itu menepi,"mana mungkin bisa terluka begini."lanjutnya sembari berbalik menuju ke arah Joshua.


Arghh!


Danang berjongkok dan memaksanya untuk berdiri,


"Dengar baik-baik pecundang,ini peringatan terakhir,"Menarik kerah bajunya,"jangan pernah mendekati isteriku lagi."


"Lepaskan!"bentak Joshua menepis kasar tangan Danang.Namun Danang yang masih tersulut amarah,lagi-lagi beringas menyerangnya.


"Kau bilang apa tadi,soal nafkah batin?"Kembali mencekik lehernya,"kusarankan kau lekas menikah biar bisa kau salurkan kepadanya,dan pastinya wanita itu bukan isteriku."lanjutnya penuh penekanan di ujung kalimatnya.


Danang mendorong keras laki-laki itu hingga terhuyung beberapa langkah ke belakang,lalu berbalik menggendong tubuh isterinya yang sudah terlanjur pingsan akibat benturan keras yang tidak sengaja mengenai wajah dan punggungnya.Danang memukul Joshua,dan Hilya berusaha meleraiakan.Akibatnya dua pukulan mendarat tepat ke arahnya.


Joshua memandangi punggung Danang yang semakin menjauh.Pria itu melangkah pasti sembari menggendong isterinya yang pingsan ala bridal style.


Sial!


Pekik Joshua sembari mengepalkan tinjunya.Ya,ini adalah peringatan ke tiga yan diberikan oleh Danang kepada Joshua.


Flashback on


Pertama kali setelah hari pertama Danang mengantar Hilya ke kampus.Ia mendapat laporan dari anak buahnya yang diberi tugas untuk memantau keselamatan isterinya.Anak buah tersebut mengirim foto dan video pendek tentang percakapan Joshua dengan Hilya.


Kemudian Danang bersama anak buahnya sengaja membuntuti Joshua ketika pulang dari kampus.Laju mobilnya sengaja dibuat ugal-ugalan menghalangi laju mobil Joshua.Ya memang disengajai oleh Danang untuk memancing amarah pemuda itu.


"Kau!"pekik Joshua setelah mengetahui yang keluar dari mobil tersebut adalah Danang.Kacamata hitam bertengger manis di ujung hidungnya yang bangir.


"Aku tidak suka berurusan dengan bocah sepertimu,tapi tindakan yang berusaha menggoda isteri orang,otomatis menjadi urusan suaminya,"melepas kacamata hitamnya lalu tangan yang lain menepuk-nepuk pelan dada Joshua,


"Kuperingatkan kau,jangan coba-coba mencari perhatian kepada isteriku atau kau akan tahu akibatnya."lanjutnya sembari mengenakan kembali kacamatanya,lalu menyapu telapak tangan yang sudah menyentuh dada Joshua.Kemudian berlalu,namun berbalik lagi menghadapnya,


"Satu lagi,hapus wajah isteriku yang sudah kau lukis itu."mengacungkan telunjuknya memberi peringatan.


"Songongnya tuh orang!"decit Joshua setelah Danang dan anak buah benar-benar meninggalkannya,


"Cih!...,dia pikir dia siapa main tantang sembarangan."gerutunya sembari menendang dan meninju angin.


Peringatan ke dua,setelah kembali dari kota kecil saat menjemput Juna.Di area parkiran galeri seni milik Joshua.Danang nekad mendatangi Joshua saat pemuda itu baru keluar dari mobil mewah miliknya,


"Jauhi dia."


Datar suara Danang menggelegar di ujung pelataran dengan dua tangan merogoh saku celananya.


"Hhhh...,apa maksudmu?"Joshua tertawa sarkas.


"Jangan pernah hubungi dia lagi,"serunya tetap datar,"atau kau akan menerima akibat dari perlakuan burukmu itu."lanjutnya geram tanpa memandang wajah pemuda itu.


"Isterimu kah?...,dia juga mau menerima uluran tanganku."menutup pintu mobil,"Hhhh...Kenapa?"mengenakan kacamata hitamnya,berjalan mendekati Danang,"karena kau tidak pernah memberikan kepuasan kepadanya."lanjutnya penuh penekanan,seakan membalas hinaan Danang saat di jalanan sepi beberapa waktu yang lalu,


"Pergilah,jangan membuat kekacauan di areaku."Joshua dengan bangganya menyenggol bahu Danang yang membuat dirinya bergeser selangkah.


Peringatan ke tiganya,ketika di Adhytama Star Hotel.Saat di mana pembicaraan di antara Joshua dan juga Hilya,lalu saat di mana Hilya pergi dengan kesal meninggalkan Joshua sendirian di tempat sepi itu,Danang yang sedari tadi tengah mengawasi pergerakan isterinya,lantas menghampiri Joshua yang sudah ingin pergi karrna Hilya menolak untuk menerimanya.


"Jangan coba-coba memasuki wilayahku,"menarik kasar kerah baju kemeja yang dikenakan Joshua,"apalagi hanya untuk menggoda ratu dari pemilik wilayah ini."lanjutnya menantang tajam bola mata yang juga menatapanya gelap.


Joshua menggeser tubuhnya dan melepaskan cengkeraman Danang,


"Santai bro!...,masa sama seorang bocah saja kau pakai urat.Hhhh..."mengejek Danang yang pernah menyatakan dirinya bocah,


"Buktinya kau tidak berhasil menghalangi perjalananku."lanjutnya bangga dan tersenyum licik.


Danang melengos,


"Pergi,atau kuhajar kau sekarang juga."


"Hooo...,silahkan.Lakukan."Joshua menayeringai licik,"Kau akan dituduh memukuli seorang tamu undangan dan dalam waktu lima menit nama baik papamu yang santun sejagat juga akan rusak."menghunus tubuhnya kepada Danang sembari mengejek ketidakberdayaannya kini.


Dan malam ini,amarah Danang sudah memuncak.Dirinya sudah tidak sanggup mengontrol emosi mengubun.Saat mendapat informasi dari Nuha kalau Hilya sudah pulang dari tadi,Danang memutuskan untuk mencari keberadaanya.Maka pusat perbelanjaan langganan isterinyalah menjadi tujuan utama pencariannya.Hingga akhirnya terjadilah aksi hajar menghajar itu.


Flasback off.


Argh,Sial!


Tampak amarah membuncah dari wajah muda yang babak belur itu...


'Awas Kau Danang!'gumamnya geram.


•••••


Bersambung...


🤗🤗🤗