I Need You

I Need You
Tindak Lanjut



Selamat membaca 🙏😍


Dania masih termenung di kamarnya,tidak disangka jika keberadaan pemuda yang bernama lengkap Ibnu Haidar di ASH secara tidak langsung telah mengganggu ketenangan hatinya.


'Sudahlah absurd,sombong lagi.Hanya karena kak Karin memberikan kepercayaan kepadanya lalu dia melunjak.' gumamnya pelan.


Bukannya tanpa alasan gadis itu menggerutu panjang pendek karena memang pada saat pelantikan kepemimpinan baru Adhytama Star Hotel kemarin pemuda itu terlihat sinis.


Bukan cuma itu dia juga sengaja membuat mata gadis itu panas dengan taktik gombalnya.Dania sangat tidak suka dengan sikap pria baru berjumpa tapi sudah sok kenal sok dekat kepadanya.


'Akh,dia membuatku terus-terus memikirkannya.'geram Dania,menghela napas panjang seraya menempelkan telapak tangan di kedua pipinya.


Drrrrrrrtttttt


Derit benda pipih itu membuyarkan lamunan si gadis semampai, itu menandakan pesan whatssapp yang masuk.Dania meraih ke dalam genggamannya sembari melirik siapa pengirim pesan tersebut di detik menit selarut ini,


'Kak Karin!'gumamnya.


Isi pesan wa,


Malam Nia,nanti ikut daftarkan diri ke promosi pencalonan sekretaris General Manager Adhytama Star Hotel,boleh ya!


Emm....,kenapa harus aku kak?


Karena aku yakin kau yang lebih cocok membantuku di sana.Jika aku harus menyeleksi orang baru lagi,maka itu adalah kau.


Hmm..,aku pertimbangkan dulu kak.Nanti kukabarkan lagi.


Oke...,semangat Nia!


Dania tertunduk lemas.Gadis itu tidak percaya jika Karin sangat mengharapkan bantuannya dalam hal mengelola hotel miliknya.Menolak permintaan Karin berarti sama saja dengan menyia-nyia kesempatan kerja yang selama ini ia lirik.Memang ASH telah menjadi incarannya semenjak ia masih di bangku kuliah mengingat hotel tersebut sangat berarti dalqm hidupnya.Selain menembusi peringkat satu dunia,ia juga menyimpan banyak kenangan bagi keluarga besar Imran di sana.Hotel itulah yang telah mengangkat nama sang ayah di mata publim sebagai sosok bertangan dingin dan amanah dalam memegang kendali yang menjadi hak otang lain.


Akan tetapi jika ia menerima permintaan Karin,itu berarti ia akan berdampingan kerja dengan pemuda absurd itu.Sosok yang telah membuat darahnya berdesir berulang kali.Meskipun ia sendiri belum memahami persis perasaan apa yang tengah dialaminya,namun yang jelas ia telah membuang banyak waktu dan tidur malamnya hanya untuk mengumpat kesal pemuda yang bernama Haidar itu.


..


Sementara Danang,malam itu ia tidak bisa memejamkan matanya.Ingin menghabiskan malam di luar rumah rasanya tiada mood untuk keluar dalam keadaan beban yang menumpuk di kepala.Seakan mematahkan kedua tungkainya yang tidak sanggup lagi menjadi tumpuan.


Dalam hatinya tidak habis mengumpat panjang pendek.Baru kali ini merasa menemui seorang wanita rendah yang nekad seperti gadis itu,'nekad untuk mendapatkan dirinya'.


'Awas saja tu wanita murahan,kalau sampai besok dia berulah di depan papa,dia akan tahu sendiri akibatnya nanti.'Danang bergumam kecil.


Hatinya benar-benar menyesal,andai saja malam itu ia tidak menghabiskan berbotol-botol minuman beralkohol maka kemungkinan masalahnya juga tidak serumit ini.


Dirinya saja yang tidak bisa menahan gejolak kecewa akan masa lalunya membuat pemuda itu terpaksa melampiaskan kekecewaannya melalui minuman keras agar hatinya sedikit tenang.Namum sayangnya ia telah melampaui batas minumnya sehingga ia mabuk berat dan lupa akan segalanya.



.


Serunai pagi menyambangi kota D.Rintik embun masih membasahi kelopak kuntuman mekar yang membentang di taman perumahan mewah keluarga Imran.Pemuda itu kelihatan menuruni tangga dan berlari kecil menuju ke garasi meraih mobil kemudian berlalu dari sana.


Beberapa menit kemudian,di meja makan terlihat tuan Imran dan juga nyonya Andin sedang menikmati sarapan pagi.


"Di mana dia ma?"


"Sudah pergi pa,baru saja pamit."


"Ke mana?"


"Ada urusan katanya."


Sementara itu di Permata Kos,seorang gadis yang baru usai menjalani ritual mandi, tengah rebahan di atas kasur bersama seorang temannya.


"Kau yakin,akan pergi ke tempat itu Hil?"


Gadis yang tidak lain adalah Hilya terlihat berpikir sejenak,


"Ya,Izz.Mana mungkin aku menghindar dari masalah ini.Bisa-bisa aku malah dijerat pasal berlapis lagi oleh pemuda gila itu."


Nuha Izz adalah satu-satunya sahabat terbaik yang menjadi tempat curhatan pertama Hilya.Semalaman suntuk akitivitas Hilya hanya menangis dan menangis.Gadis malang itu tidak bisa tidur dan terpaksa menelpon Izz untuk datang menemaninya.


Dari kronologi yang diceritakan oleh Hilya, maka gadis bernama lengkap Nuha Izz Atmajaya anak dari pemilik Jaya Group itu beropini bahwa ada kemungkinan Hilya masuk ke dalam perangkap seseorang.Akan tetapi siapa dalang di balik itu dan apa tujuannya telah menjadi kendala bagi mereka untuk melacak karena memang tidak ada siapapun di tempat kejadian terkecuali Hilya dan pemuda yang bernama Danang itu.


Nuha Izz menarik napas dalam dan membuangnya begitu saja,


"Jika kau tidak keberatan aku juga ingin ikut ke sana."


"Ja_jangan Izz.Aku tidak ingin memperkeruh keadaan lagi.Biarkan aku sendiri yang mengatasi masalah ini."


"Tapi Hil,_"


"Please Izz,aku mohon.Jangan ikut ke sana,tu cowok beneran gila.Aku takut dia akan menyakitimu juga,"ulas Hilya menautkan kedua telapak tangannya seraya memohon,


"aku khawatir dia akan menuduh kalau kita berdua sekongkol untuk menjebaknya."


"Benaran nggak tau diri ya tu cowok,sudah bagus dibantuin.Kalau nggak malah mungkin sudah game over gara-gara kehabisan darah."rutuk Izz gemas.


Tok tok tok


Pembicaraan kedua sahabat itu terhenti oleh ketukan pintu dari luar.Nuha Izz bergegas membuka pintu lantaran Hilya tengah berganti pakaian.


ceklek


Pemuda itu acuh,"Panggil penyewa kosnya keluar."seraya membuang pandangan.


"Heh,apa kau tidak punya sopan santun sama sekali?Kalau ditanya ya jawab,bukan malah main titah."amarah Izz tersulut melihat tingkah acuh tak acuh pemuda tersebut.


Pemuda yang awalnya hanya acuh kini ikut terpancing suasana,amarahnya juga ikut membuncah,"Panggil sekarang,atau aku gusur juga kos ini bersama dengan penghuninya sekalian."


"Pagi-pagi datang sudah bikin keributan saja di tempat orang,"gerutu Izz,


"Sahabatku tidak punya utang kepada rentenir manapun,jadi pergilah sebelum kami memanggil sat_,umpptt"


Seketika itu juga Hilya yang muncul dari belakang membungkam mulut sahabatnya dengan telapak tangan lantas menariknya ke dalam ruangan kos.


"Psst,sudah kuperingatkan jangan buka mulut di depannya atau kau hanya akan menimbulkan masalah baru bagiku."tukas Hilya kesal.


"M_aaf Hil,memangnya dia siapa,apa dia pria itu?"


"Hmm..,jadi kau pulanglah.Aku akan berangkat sekarang.Jangan bocorkan masalah ini ke siapa-siapa ya."


"Baik,kau hati-hati di sana dan jaga dirimu baik-baik.Ada apa-apa cepat hubungi aku."ucap Izz dengan tatapan berkaca-kaca.


Hilya membuang pandangan karena khawatir jika ia terus menerus memandang sahabatnya itu maka tidak menutup kemungkinan ia juga akan hilang ketegaran maka sudah pasti akan menangis bersama dengannya.


Hilya berjalan mendekati pria yang tampak acuh itu,


"Maafkan teman sa_"


"Lekaslah,aku tidak punya banyak waktu untuk mengurus hal yang tidak penting." potongnya cepat seraya melirik arloji di tangannya.


Hilya pasrah.Ia pun terpaksa menuruti ucapan pria tersebut seraya mengekorinya dari belakang bak kerbau dicocok hidung.


Namun sejenak langkah pemuda itu tiba-tiba terhenti dan berbalik melangkah menuju ke arah Izz yang berdiri mematung,


"Dengar baik-baik nona,aku sama sekali tidak punya urusan denganmu.Jadi jangan coba-coba cari hal denganku,"menjeda ucapan seraya melotot tajam dengan iris elangnya yang kian gelap,


"atau aku tidak akan segan-segan untuk menyakitimu sama seperti temanmu yang hina itu."lanjutnya mengancam penuh penekanan.


Gemuruh rasa hati Izz mendengar kata terakhir yang ditujukan kepada Hilya sahabatnya.Amarahnya yang membuncah tergambar jelas di hidungnya yang mulai kembang kempis namun ia terpaksa mengurungkan semua cercaan dan juga makiannya lantaran mengingat nasib sahabatnya yang kini berada di ujung tanduk.Ia hanya bisa mengertakkan gigi dan mengepalkan jemari mungilnya saja.


'Dasar gila!' batinnya.Sorot matanya mengikuti arah punggung pemuda itu dengan tatapan amarah yang tiada penghujung.


Sesaat setelah gadis malang itu mulai masuk ke dalam mobil gelap,Izz berteriak sendu,


"Aku akan tetap mendoakanmu Hil..."pekik gadis bernama Izz.


Disambut oleh tatapan sendu berkaca-kaca dari Hilya namun gadis itu mencoba tegar dan tidak ingin menampakkan air matanya di depan pria asing yang tidak ia kenal sama sekali.


Selama di perjalanan Hilya hanya bisa memandang keluar jendela seraya menggegam erat jemarinya yang terasa membeku.


Tidak ada pembicaraan di dalam mobil gelap itu.Hilya memilih duduk di belakang dan Danang yang menyetirpun bungkam.Mereka berdua kini laksana om sopir dengan penumpangnya.


Sesekali ia mencoba melirik pemuda asing itu namun yang dilirik seakan tidak peduli dengan keadaan sekitar.Bahkan tidak menganggap ada orang lain sedang bersama dengannya.Ia benar-benar menikmati dunianya sendiri.


Di lantai tertinggi gedung Ahytama Star Group,seorang pria dengan balutan jas hitam sedang berdiri mematung memandang langit pagi yang terlihat cerah.Hembusan angin sepoi yang bertiup menerpa wajah dan rambut memutihnya yang rapi.Sesekali jemarinya naik memijit ujung hidungnya yang terasa gatal diterpa sang bayu seraya menghela napas dalam.


Tok tok tok


Ketukan pintu memaksanya untuk menoleh ke belakang dan membiarkan seseorang lain yang membuka pintu untuk tamu yang datang.


"Silahkan duduk nona."ucap sekretaris Sani lemah lembut.


Gadis yang menjadi tamu itu tidak lain adalah Hilya Afiyana si terpidana yang teperangkap dalam permainan pria paruh baya ini namun tidak disadari oleh siapapun termasuk Danang sendiri.Hilya mengambil posisi duduk seraya menundukkan kepalanya,sangat dalam selayaknya seorang pesalah dengan tubuh dan tangan yang mulai gemetaran.


"Bisa tinggalkan kami berdua Sani," ucapnya tegas kepada sekretaris Sani.


"Baik tuan."


Hilya yang mendengar suara yang menggelegar itu merasa semakin ciut,jangankan mendongak,bergeser membetulkan posisi duduk saja ia tidak sanggup melakukannya.


Pria paruh baya yang tidak lain adalah tuan Imran lalu mengambil posisi duduk saling berhadapan dengan gadis itu.


Hening...


"Siapa namamu nak?"pelan suaranya menyapa,bahkan sangat lembut di pendengaran gadis itu.Sangat bertolak belakang dengan intersaksinya dengan sekretaris yang baru saja keluar tadi.


Hal ini membuat Hilya berusaha mengangkat wajahnya yang kian berkaca namun sekuat mungkin ia membentuk pertahanan agar tidak goyah.Hal yang tidak luput dari penglihatan pria paruh baya itu.


"Na_nama saya Hilya..Hilya Afiyana. Pa_panggil saya Hilya." jawaban yang separuhnya tercekat di tenggorokan dan terpaksa ia ulangi kembali.


"Baiklah Hilya,berhubung kejadian kemarin maka anda terpaksa kami lepas dari pekerjaan dan akan menjalani beberapa peraturan yang sudah ditetapkan sebagai konsekuensi dari tindakan anda."


"Ma_maaf jika saya lancang tuan,saya sangat yakin tidak melakukan kesalahan apapun akan tetapi semua bukti telah memberatkan saya,"ucapannya terjeda seraya mengatur napas,


"maka saya terima kesalahan itu dengan ikhlas dan bersedia menerima konsekuensi tersebut."lanjutnya mulai tenang.


Tuan Imran memandang intens wajah gadis yang menurutnya sangat polos dan tegar itu.Ada perasaan bersalah yang hinggap begitu saja menghantam dadanya. Jantungnya tiba-tiba menjadi tidak karuan manakala mendapati sosok seorang gadis yang sangat sabar kini berada dalam perangkapnya dan kini perangkap yang ia buat itu seakan menjerat dirinya sendiri untuk hanyut dalam ketidakberdayaan dan perasaan berdosa yang berkepanjangan.


Hentikan atau lanjutkan rencana ini menjadi dilema terbesar di dalam hatinya.Namun keinginan terbesarnya adalah membuat puteranya itu menikah maka dengan sangat terpaksa ia mengetepikan rasa iba dan bersalahnya terhadap gadis itu.


••••


Bersambung...