
Suasana kampus Xx....
"Hei!...,selamat datang,nyonya muda."
Gelegar suara seniman Joshua menyapa lembut ke telinga Hilya yang baru muncul dari pintu gerbang.Gadis itu baru saja di antar oleh sang suami yang juga akan berangkat ke kantor.Danang tidak ingin membiarkan Hilya pergi sendirian mengingat kedua orangtuanya akan memantau pergerakannya.
"Berisik Joe,namaku Hilya bukan nyonyamu."
Datar suara Hilya mematahkan usikan pemuda yang baru saja patah hati gara-gara dirinya.
"Tapi kau isterinya tuan muda kan,"ucapnya mengerucut,"Lalu apa kalau bukan nyonya muda."lanjutnya bergaya sarkas.Sekilas senyum getir ikut menghiasi bibirnya yang mengering.
Hilya melengos,
"Ya,kau benar.Tapi aku jadi malu,digoda seperti itu,"cebiknya sembari memutar kedua bola matanya,
"Apalagi yang menggoda itu kau,wahai tuan seniman."lanjutnya sembari menekan telunjuknya ke dada bidang pemuda tersebut.
"Apa kau bahagia dengannya?"Joshua menerobos bola mata bening milik gadis itu,dengan tatapan menyelidik.Beberapa saat tatapan mereka saling beradu.Dan Hilya memilih lebih dulu mengakhirinya.
Hilya melemparkan sebuah senyuman yang sulit diartikan sembari menghela napas,Joshua membalasnya dengan tatapan mendamba.
Hening...
Sejenak Hilya mendongak,
"Emmh....,jangan dibahas ya,Joe."
Samar-samar gurat sendu itu refleks terbaca oleh Joshua membuatnya menyadari bahwa gadis yang masih belum bisa ia lupakan kini sebenarnya kurang bahagia dengan rumah tangganya.Andai rasa yang menguar itu bukan sesuatu yang terlarang,maka ia akan memilih untuk menjadi penjaga hati gadis itu ketimbang membiarkannya tertatih menanggung beban derita itu sendirian.
"Awas saja kalau kau tidak bahagia,aku pasti akan merebutmu darinya,"ucap Joshua menekan.Kini jemari Hilya sudah didalam genggaman tangannya.Serius.
"Sudah kubilang,jangan dibahas Joe,"tampik Hilya menghindar membawa kaki jenjangnya segera berlalu dari sana.Sorot mata tidak sukanya seakan menggambarkan bahwa ia sedang mengatakan,"Jangan ganggu privasiku."
Joshua mematung,
'Maaf Hilya,tapi aku harus mengetahuinya,dan aku akan mencari tahunya sendiri....,tidak butuh waktu lama untuk itu.'batinnya.
"Mau ikut ke dalam,atau tetap mematung di sana?"ucapan gadis itu membuyarkan lamunannya.
"Emmh...,baiklah,baiklah."Joshua tertawa kecil seraya mengedikkan bahu.Mengekori langkah Hilya dari belakang.
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata dari luar pintu gerbang tengah memperhatikan tingkah mereka.
Hari ini tepat satu minggu,Hilya menjadi isteri Danang,dan merupakan hari pertama bagi Hilya pergi ke kampus setelah tiga minggu tidak bergabung.Alangkah senang rasa hati saat bertemu dengan teman- teman yang juga sangat menantikan kehadirannya.Bagai berada di hamparan taman yang dipenuhi bunga-bunga bermekaran.
"Aaaaaakkk...,Hilaf datang!"pekik Nuha Izz kegirangan.
Hilya menyambut rentangan tangan sahabatnya dengan sangat gembira.Jangan ditanya soal perasaannya saat ini.Untuk beberapa jam saja terlepas dari kungkungan masalah yang berbelit membuatnya serasa berada di tengah hamparan bunga-bunga bermekaran bersamaan dengan cubitan tangan Nuha Izz mendarat di kedua pipi chubbynya yang menirus akibat kurang tidur.
"Jangan keras-keras Izz,nanti lecet."
Hilya merutuki perbuatan sahabatnya yang super jail.Yang dirutuk bukannya berhenti malah melanjutkan aksinya dengan mendaratkan ciuman bertubi-tubi ke pipi Hilya.Gadis itu tampak dongkol namun pasrah dengan perbuatan sahabatnya itu.
Di kampus,Hilya mendapat kejutan dari beberapa teman dekatnya,hanya dalam bentuk traktir makan di kantin.Sesederhana itu,tapi sukses membuat Hilya merasa amat bahagia dan sejenak bisa melupakan masalahnya dengan Danang yang selalu bersikap kasar terhadapnya.
"Selamat ya,Hilya.Tidak disangka,kau dapat jodoh sultan."
"Uih!...,bagai pinang dibelah dua."
"Ternyata diam-diam kau,selama diawaki oleh tuan Drone itu ya."
"Eh,dasar kau'Miss komet',main melesat begitu saja."
Huahuahuaaa...
Beberapa orang teman satu jurusannya ikut mengusik status nikahnya,di sela jam istirahat.Usikan yang membuat gadis itu tertawa miring sembari menahan rasa kikuk.Wajahnya seketika memerah bak tomat dan mengerucut bagaikan jeruk purut.
"Hushy,kalian ini.Pengantin barunya,jangan diusik melulu.Lihat tuh,tampangnya,grogi kan,"serang Nuha yang menyadari perubahan di wajah Hilya.
Dehem seseorang dari belakang,sesaat membuat sejumlah gadis belia yang tengah menikmati camilan di kantin itu ikut menoleh,tidak terkcuali Hilya dan Nuha Izz.Melihat kehadirannya,beberapa teman Hilya yang tengah berkumpul di sana memilih pamit dan bubar duluan.Menurut mereka lebih baik menghindar daripada harus berurusan dengan orang seperti dia.
"Kasihan sekali dirimu,rupanya kau hanya memperalat Joshua untuk mencapai keinginanmu saja kan."
Pemilik suara yang tidak lain adalah Prisil Amanda.Gadis itu tampak menyeringai di tengah suasana yang mencekam.Baik Hilya maupun teman-temannya ikut mengerutkan kening tanda tidak mengerti akan maksud si gadis pemburu tersebut.Ya,pemburu hati seniman Joshua.
"Apa maksudmu?"Nuha Izz yang paling cepat tersulut dengan situasi semacam ini.
"Seharusnya kau tidak merusak kejutan yang diberikan Joshua di galeri seni malam itu,dengan menemui pria itu di pojok toilet."Prisil Amanda memojokkan Hilya dengan tudingan yang tidak dimengertinya sama sekali.
Hilya terkesiap,menatap gadis yang tengah menyeringai sinis di depan matanya.Pikirannya mencoba memutar kembali memori di galeri seni malam itu.Apalagi di toilet saat itu.Rasanya dia tidak pernah bertemu dengan siapa-siapa di sana,apalagi dengan gadis ini.
"Pantas saja kau disebut wanita murahan,"
"Seharusnya kau sadar dengan statusmu dan tidak dekat-dekat lagi dengan Joshua."
Hilya yang lincah dan ramah,kini hanya bisa bungkam tanpa bisa melawan.Toh,apa yang dikatakan Prisil itu ada benarnya.Dirinya yang kini telah berstatus isteri orang,seharusnya tidak boleh dekat-dekat dengan pria lain,meskipun itu adalah sahabatnya sendiri.
Bungkamnya Hilya justeru memicu kemarahan sahabatnya Nuha Izz.Gadis itu serta-merta berdiri dari tempat duduknya lantas mendorong tubuh Prisil hingga terhuyung.
"Jangan pernah mengancam sahabatku."
"Kau!"
"Mau dia dekat dengan siapapun,itu bukan urusanmu."
Ketus suara Nuha Izz menggema di ruang kantin.
"Kenapa kau lebih membela perempuan liar yang baru kau kenal,ketimbang aku yang menjadi sahabat kecilmu?"Prisil menggerutu tidak terima.
"Itu kesalahanmu,kau terlalu gampang menyepelekan orang lain,dan aku tidak menyukai sifatmu itu,"tandas Nuha sembari menekan telunjuknya ke dada gadis yang beradu urat dengannya.
"Sudah,sudah Izz.Kita cabut yuk!"Hilya menarik lengan sahabatnya agar segera beranjak dari sana.
"Kau tenanglah,Hil.Jika dia masih saja mengganggumu,aku yang akan membalasnya."Nuha membalas rangkulan Hilya setelah mereka keluar dari kantin.Gadis itu tampak menghela napas berat.
•
•
Malam itu di ambang balkon...
Hari berganti,minggu berlalu,bulan bertandang.Kini sudah dua bulan perjalanan rumah tangga Danang dan Hilya.Semuanya berjalan tidak biasa-biasa saja.Sebagai manusia normal,tentunya ada keinginan untuk membina hubungan baik sebagai suami isteri,layaknya pasangan pada umumnya.
Akan tetapi,Danang yang sudah terlanjur tidak suka dengan kehadiran Hilya membuatnya kerap mengurungkan hasratnya untuk mendekati isterinya itu dengan cara yang seharusnya.Hal ini sempat menimbulkan tanya di benak sang mama yang selalu memantau hubungan anak dan menantunya itu.Kini Danang terpaksa harus memenuhi panggilan sang mama di ujung balkon.
"Mama ingin punya cucu,"ucap sang mama suatu ketika,membuat Danang seketika tertegun.Sorot matanya yang nyaris tidak bisa menutupi kekacauan hatinya,dan bibirnya memilih untuk tersenyum agar bisa menyembunyikan suatu kebohongan yang tidak bisa ia ungkapkan kepada sang mama.
"Kalau sudah saatnya,pasti Allah akan memberikan,ma."Danang berniat menghibur hati sang mama.
"Apa tidak sebaiknya kau dan Hilya memeriksakan diri ke dokter dulu nak?"saran sang mama yang tengah menyoroti mata sang anak dengan tatapan menyelidik.
Satu permintaan yang jelas memberatkan dirinya dan Hilya.Namun demi menjaga perasaan sang mama,Danang terpaksa mengiakan permintaan wanita yang telah melahirkan dirinya itu.
"Baiklah ma.Kami akan melakukan secepatnya,"ucapan dengan maksud yang berbeda keluar begitu saja dari mulut pemuda itu sembari membawa sang mama kedalam pelukannya,
"demi mama."lanjutnya penuh penekanan.Sorot matanya yang nyalang menerobos gelapnya langit malam penuh bintang.
•••••
Bersambung....
Teman-teman sekalian,terima kasih atas dukungan yang baik.Semoga kita semua diberi nikmat kesehatan dan rezeki yang melimpah..Salam saling dukung.
🤗🤗🤗