
Tangan Bella yang kini saling bertautan pun terlihat gemetar. Ben dapat melihatnya dengan jelas karena saat ini posisi duduknya tepat berada di hadapan Bella. Perasaan wanita itu campur aduk tak karuan. Gelisah, gugup, canggung dan bingung. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan pertama kali ketika masanya sudah tiba seperti ini. Ketika sudah saatnya bagi dirinya bertatap muka secara langsung dengan orang itu. Orang yang selama ini tak pernah ditemuinya, orang yang selama ini selalu ia simpan namanya di dalam hati.
Bervan nampak sangat nyaman duduk di pangkuan Victor. Ada Rose yang mendorong kursi rodanya di belakang. Wajah Rose terlihat senang, sama seperti Bervan yang sangat antusias duduk di pangkuan ayah yang selama ini tidak pernah dijumpainya. Sesekali anak kecil itu menatap ke arah Victor dengan pandangan mata yang begitu senang. Euforia yang Bervan rasakan, menyambar kepada Victor, sehingga pria itu pun membalasnya dengan senyuman ketika anak kecil itu terus menatap ke arahnya. Ia juga mengelus puncak kepala anak itu dengan tatapan penuh kasih sayang.
Sayangnya ketika hal itu terjadi, Bella tidak sempat melihatnya. Wanita itu sudah membalikkan tubuhnya untuk bangkit berdiri di tempatnya. Walau setelah itu ia memposisikan tubuhnya ke rombongan orang yang sedang berjalan ke arahnya itu, matanya tidak sempat menangkap pemandangan yang akan mengobati semua rasa di hatinya saat ini.
"Aku menemukannya di kamar!", ucap Rose santai pada semua orang yang merajuk pada kakaknya itu. Ia menghentikan laju kursi roda itu setelah mereka berada di tengah-tengah ruangan itu.
Tadi, Rose dan juga Bervan berkeliling rumah sebentar sambil mencari keberadaan kakaknya itu. Karena tak kunjung menemukan orang itu, akhirnya Rose memutuskan untuk mengajak Bervan ke kamar kakaknya. Mungkin saja kakaknya itu sedang berada di kamar untuk beristirahat. Karena bagaimana pun juga, kakaknya itu sedang dalam kondisi sakit dan membutuhkan banyak waktu untuk beristirahat.
Benar saja, ketika membuka pintu kamar, ia langsung mendapati kakaknya itu sedang berbaring di atas tempat tidurnya. Kakaknya itu terlihat sedang memejamkan matanya, tapi Rose tahu bahwa lelaki itu tidak sedang benar-benar tertidur. Maka dari itu Rose langsung membangunkannya untuk memberitahukan kedatangan Bella dan Bervan.
Ada raut wajah yang tak terbaca ketika pertama kali ia melihat sosok anak kecil yang sangat mirip parasnya dengan dirinya ketika masih seumur itu dulu. Meskipun begitu, Victor tetap tersenyum kepada Bervan. Dan ia menawari anak kecil itu untuk naik ke pangkuannya selagi Rose mendorong kursi rodanya itu.
Sebagai adik, Rose sendiri tidak dapat membaca pikiran kakaknya itu sama sekali. Entah bagaimana perasaan kakaknya itu saat ini. Kakaknya itu terlalu pintar menyembunyikan perasaannya di hadapan orang lain, termasuk adiknya sendiri. Jadi, Rose hanya berharap ada akhir yang bahagia untuk keluarga kecil yang sudah lama terpisah itu.
Kembali ke masa sekarang dimana ruangan itu menjadi begitu canggung. Semua orang terdiam termasuk Rose yang baru saja menguarkan kata-kata dari mulutnya. Ia bingung lagi harus berkata apa ketika tak mendapat respon dari satu orang pun di sana.
"Ayo, Bervan turun! Kaki Paman Victor nanti akan sakit karena Bervan terlalu berat!", Bella sudah tidak tahu lagi harus berkata apa di tengah kecanggungan itu. Akhirnya dengan senyum kaku di bibir yang ia bisa kembangkan, wanita itu meminta anaknya turun dari pangkuan Victor.
"Paman?!", gumam Victor pelan dengan nada agak kecewa bersamaan dengan Bervan yang turun dari pangkuannya.
"Paman?! Mama bilang dia adalah Papa Bervan?", anak kecil itu lantas bertanya dengan wajah super polos yang ia miliki. Matanya berkedip-kedip kebingungan sambil menanti jawaban dari ibunya itu.
Sejujurnya Bella melihat dan mendengar ucapan pelan yang tadi keluar dari mulut Victor. Lantas ia harus bagaimana sebenarnya?! Pria itu tidak memiliki ekspresi yang antusias atau bagaimana ketika ia dan putranya datang. Sehingga Bella hanya dapat berpikir jika Victor belum bisa menerima kehadiran mereka berdua.
Sehingga saat ini ketika putranya itu bertanya, ia semakin bingung harus bagaimana menjelaskan kepada Bervan yang menatapnya dengan penuh harap. Tentu saja ia tidak mau membuat hati anaknya itu kecewa. Tapi bagaimana pula ia harus menghadapi situasi dimana pria itu bahkan hanya menelan kediamannya sendiri.
"Tentu saja Paman ini adalah Papanya Bervan! Bukan begitu, Kakak!", Rose yang menjadi tidak sabar melihat situasi aneh ini. Sesaat ia menampilkan wajah tak sabarnya kepada Victor. Namun sedetik kemudian, ia tersenyum ceria kepada Bervan. Rose berlutut menyamakan tingginya dengan anak kecil itu, ia mengusap kepalanya dengan sayang.
Rose kesal, terserah dengan urusan mereka para orang dewasa. Tapi jangan sampai urusan mereka itu menyakiti hati seorang anak kecil yang tidak mengetahui apa-apa. Jangan buat hati Bervan terluka dan kecewa. Karena akan lebih sulit mengobatinya, ketimbang hati para orang dewasa yang terluka.
"I,, iya!", mau tidak mau Victor menjawabnya dengan suara pelan. Dan Bella hanya bisa menundukkan kepalanya.
"Hey, anak kecil!", seru Ben tiba-tiba seraya menghampiri Bervan.
"Ayo kita bermain di luar! Aku punya permainan yang sangat mengasyikkan!", tak mau menunggu jawaban dari siapa pun, pria bertopi koboi itu langsung mengangkat Bervan dan mendudukknnya di atas bahunya.
"Nanti kau keberatan, Tuan!", Bella juga ikut menjaga agar putranya itu tidak terjatuh sambil tidak enak hati.
"Yeay! Aku sekarang tinggi!", sorak Bervan kegirangan di atas bahu pria itu.
"Pegang tanganku agar kau tidak jatuh!", Ben mengulurkan satu tangannya ke atas untuk Bervan genggam.
"Ayo kita bermain!", ajak pria itu kemudian lalu melangkah, seperti tidak mempedulikan siapa pun lagi di sana. Sorak sorai gembira keluar dari mulut Bervan saking bahagianya. Anak kecil itu juga seperti lupa dengan pertanyaan yang tadi ia ajukan. Bahkan ia juga sampai lupa dengan keberadaan ibunya yang menatapnya dengan tatapan khawatir.
"Kau!", tiba-tiba Ben berbalik. Dengan gerakan kaku karena tubuhnya sedang membawa beban di pundaknya. Ia menatap ke arah Rose dengan tatapan tajam.
Bibirnya bergerak-gerak berbicara tanpa suara memerintahkan Rose untuk ikut dengannya. Biarkan kakaknya itu dan juga Bella memiliki waktu untuk bicara. Tapi sayangnya Rose tidak menangkap maksud Ben sama sekali. Ia malahan menatap Ben dengan kebingungan saat ini. Wajahnya jadi jelek saking bingungnya, alisnya bahkan sudah saling menyatu saking Rose mengerutkannya.
"Kau kemari!", bisik Ben begitu pelan, namun wjah acuh yang sudah seperti robot itu yang membuat Rose selalu gagal paham.
"Paman, sepertinya Bibi Rose agak tuli, ya!", tapi suara Bervan terdengar cukup jelas di telinga wanita itu, sehingga membuat Rose tidak tahana untuk menghampirinya.
"Kau benar! Dia memang tuli!", ujar Ben kesal sambil memandangi langkah Rose yang semakin mendekat.
"Bervan Sayang, tadi Bibi mendengar kau mengatakan apa? Coba ulangi sekali lagi, Bibi ingin mendengarnya!", dengan wajah sabar yang dibuat-buat Rose menanyai anak kecil yang sekarang posisinya jauh di atas kepalanya itu. Karena pada dasarnya Tuan seramnya itu sudah tinggi, jadi Bervan yang duduk di atas pundaknya itu pun menjadi semakin tinggi saja.
Meskipun Rose bisa memaklumi jika Bervan itu masih seorang anak kecil. Tapi batinnya tidak bisa dibohongi jika dia agak kesal mendengar dirinya diejek seperti itu. Rose berpikir pasti Tuan seramnya yang sudah mengajari Bervan untuk berkata yang tidak-tidak!
"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya! Bibi,,, agak tuli! Karena Paman sudah bicara berulang kali, tapi Bibi tidak mendengar juga!", ujar Bervan membela diri. Wajah polos anak kecil itu sungguh tidak bisa disalahkan.
"Kau,, kau bilang apa barusan?!", merasa tidak percaya diejek oleh seorang anak kecil, Rose meminta Bervan mengulanginya. Takutnya memang dia yang salah dengar. Tidak mungkin kan, Bervan mengejek bibinya yang baik hati ini!
"Kau,, tu-li!", merasa tidak sabar, akhirnya Ben yang menjawab tepat di telinga Rose. Dengan suara yang jelas dan perlahan, agar wanita itu dapat benar-benar mendengarnya dengan jelas.
"Tuan!", Rose berseru tidak terima.
Baru saja akan melawan, nyatanya Ben sudah menarik kerahnya dari belakang terlebih dahulu. Jadilah ia terseret begitu saja di belakang Tuan seramnya itu.
Di belakang punggung Ben, Rose melipat tanganya di depan dada sambil menampilkan wajah kesalnya. Sambil terseret langkah Ben yang panjang, ia terus-terusan berdecak kesal. Selalu saja seperti ini! Sebenarnya dia ini kekasihnya atau bukan, sih! Kenapa pria itu selalu saja bertindak kejam kepada dirinya!