
"Apaaaa?", pekik Rose begitu keras.
Baik Paman Alex maupun Victor menutup telinga dengan kedua tangannya sambil sedikit meringis. Sedangkan Ben, pria itu hanya mengorek telinga dengan satu jari kelingkingnya tapi tetap mempertahankan ekspresi datarnya.
"Berisik!", Ben menyentil kening Rose sebagai hukuman karena telah merusak gendang telinga semua orang.
"Auuww! Sakit", wanita itu mengelus keningnya yang terasa nyeri. Meskipun terlihat ringan Ben menyentilnya, namun cukup pedas ia rasa di sana. Lalu ia mengerucutkan bibirnya tanda protes dengan sikap semena-mena yang dilakukan oleh Ben untuknya.
"Belum apa-apa saja Tuan ini sudah membuat keningku sakit. Besok-besok apalagi, mungkin hatiku yang sakit!", gerutunya sambil tak henti membuat kerucut dengan bibirnya.
"Hati?", tanya Ben dingin sambil menautkan kedua alisnya dalam-dalam. Ucapan macam apa itu, pikir Ben. Lagipula apa urusannya dengan hati, pria itu menatap sengit ke arah Rose.
"Sepertinya itu ide yang bagus!", Victor menambah bumbu di antara keduanya. Ia sangat yakin bahwa ekspresi Ben menunjukkan bahwa pria itu tidak paham dengan maksud ucapan Rose. Sedangkan adiknya yang sedang melotot ke arahnya, pasti sangat kesal karena kakaknya ini telah mengamini apa yang baru saja ia ucapkan dengan asal.
"Sudah-sudah, lebih baik kita masuk dulu sambil menunggu makan siang disiapkan. Paman Alex, tolong antarkan Rose ke kamarnya supaya ia bisa meletakkan barang-barangnya di sana", perintah Victoria langsung diiyakan oleh Paman Alex.
"Silahkan, Nona!", kemudian pria paruh baya itu dengan sopan menghela tangannya mempersilahkan wanita itu untuk berjalan mendahului dirinya.
"Aku kan baru datang, Paman. Bagaimana jika kita berjalan bersama. Jangan terlalu sopan dan kaku seperti itu! Aku jadi merasa aneh, Paman", tutur Rose tak ingin Paman Alex menjadi sungkan dengan dirinya. Maka sejak awal Rose sudah memperingatkannya untuk bersikap santai saja.
"Dan itu,, tolong aku bisakah?", dengan wajah imutnya Rose memainkan jemarinya di depan sambil menunduk malu.
"Katakan saja, Nona! Saya pasti akan membantu Anda", Paman Alex tersenyum ramah. Sangat damai dan tenang saat melihat ke arah wajah pria itu.
"Tolong bawakan aku tas itu ya, Paman. Itu lumayan berat", pinta Rose dengan sopan namun Ben merasa itu seperti sikap manja yang dibuat-buat.
"Ceh! Bakar saja jika kau tidak bisa membawanya. Merepotkan!", umpat Ben sambil mengalihkan pandangan.
"Hey, kau!", Rose bersungut-sungut sambil menunjuk ke arah Ben.
"Apa!", Ben melotot ke arah wanita itu mencoba meladeni provokasi yang telah ia buat sebelumnya.
"Sepertinya ide yang kau berikan boleh juga,,, Ben", sebentar Rose akan senang dengan apa yang diucapkan kakaknya. Namun setelah tau ucapan itu ditujukan kepada siapa, maka ia jadi membulatkan matanya besar-besar ke arah kakaknya itu.
"Ya, bakar saja!", Victor ikut menggoda adiknya. Sedangkan Paman Alex di samping hanya berusaha menahan tawanya.
"Kakak!", seru Rose tak terima. Bagaimana mungkin kakaknya malahan membela orang lain ketimbang adiknya sendiri. Dan lebih kesalnya lagi, pria dengan topi koboi itu tengah melirik angkuh ke arahnya.
"Kalau begitu biar Ben membantumu membawa tas itu!", senyum jahil Victor terkembang.
"TIDAK!", keduanya menyahut dengan bersamaan. Bahkan suara itu lumayan melengking di telinganya.
Ben kembali melotot ke arah Rose dengan aura dinginnya. Menekan nyali wanita itu yang kini tengah menatap penuh permusuhan ke arah dirinya. Dan seketika wanita itu langsung menundukkan kepalanya dan terlihat jelas seperti kucing kecil yang sedang ketakutan.
Victor benar-benar terhibur dengan pemandangan yang ada. Entah sejak kapan pula, rekan lamanya itu suka banyak bicara. Apalagi saat ini yang dapat diladeni adalah seorang wanita. Sungguh melenceng dari sikap Ben yang ia tau. Pria itu berhati dingin bahkan kepada seorang wanita pun. Tak berbelas kasihan tanpa memandang genre. Tapi apa yang dilihatnya saat ini ,sungguh luar biasa. Keputusannya tidak salah dengan meminta kehadiran Rose di sisinya saat ini, terutama mengenai penyakitnya dimana umurnya sudah tak lama lagi.
Keputusan akhir adalah Paman Alex menengahi masalah. Ia berjalan lebih dulu lalu membawa tas yang ditinggal Rose di dekat pintu yang menuju ke dalam rumah. Lalu mereka pun mulai menghilang melesat ke dalam kediaman.
"Benar bukan yang kukatakan?! Dengan kehadiran Rose di sini, kehidupan akan lebih berwarna", ucap Victor penuh makna. Namun ia juga tengah menahan diri untuk tidak tertawa saat melihat ekspresi Ben yang sedikit terkejut dengan ucapannya.
"Apa maksudmu?", tanya Ben dingin.
"Jelas, bukan?! Apa aku harus menjelaskannya panjang lebar?! Kau yang tau sendiri bahwa tadi itu bukanlah dirimu yang seperti biasanya. Bagaimana bisa seorang Benny Callary terprovokasi oleh seorang wanita?! Haha,,, bagaimana wajah bawahan-bawahan mu itu jika melihat pemandangan langka ini", Victor larut dalam khayalnya membayangkan wajah pucat pasi semua bekas rekannya yang sedang memandangi bosnya yang terkenal bengis itu tengah adu mulut dengan seorang wanita.
"Baiklah, baiklah! Kita akhiri ini! Aku tau kau sudah kalah!", sambil tertawa ringan Victor masih berusaha mengakhirinya godaannya.
Ben begitu malas mendebat pria itu lagi. Maka ia hanya bisa memasang wajah garang andalannya plus tatapan mata sedingin es yang membulat sempurna.
"Kau pikir aku akan takut? Aku lebih takut kematian,, yang akan datang tiba-tiba untuk menjemputku dalam waktu dekat ini", kali ini Victor telah benar-benar berhenti tertawa. Ia memandang lurus ke depan, menerawang entah kemana.
"Kau masih bisa melakukan operasi. Sekarang sudah ada adikmu di sini. Pencangkokan tulang sumsum mungkin akan berhasil", balas Ben tak kalah seriusnya. Ia mengikuti arah pandangan Victor ke depan.
"Meskipun dia adik kandungku, tapi tingkat kecocokannya belum tentu akan sebesar itu!", ucap Victor sendu.
"Aku tidak terlalu berharap tentang diriku, Ben! Aku hanya mengharapkan banyak kebahagiaan untuk adikku. Aku tau seberapa menderitanya dia saat tinggal di sana. Meski tidak begitu jelas, tapi dengan perangai ibu tiri dan saudara tiriku itu, jelas Rose menjadi budak mereka selama ini. Tangan Rose kasar tidak selembut tangan gadis lainnya, banyak kapalan di sekitar jarinya. Itu sangat jelas bahwa selama ini dia selalu melakukan pekerjaan kasar di rumah. Oh Tuan Benneth, ingin rasanya aku menghukummu untuk semua ini!", berawal dengan kesedihan saat dia mengingat bagaimana tadi saat ia menyentuh telapak tangan adiknya. Lalu berakhir dengan kemarahan kepada orang-orang yang tak punya hati itu apalagi ayahnya, Tuan Benneth itu sendiri.
"Maka dari itu, berusahalah untuk optimis! Dan segera lakukan proses penyembuhanmu, aku yakin Rose akan setuju. Dia sangat menyayangimu, itu sangat jelas di matanya", ucap Ben serius berusaha menyemangati teman lamanya itu.
"Waahh,, sejak kapan kau lebih tau tentang kasih sayang?!", lagi Victor menggoda rekannya lagi dan lagi.
"Jika kau tidak sakit, sudah ku ajak bertarung kau di sini!", Ben mengumpat kesal sambil berlalu meninggalkan temannya di belakang. Ia berjalan menuju ke dalam rumah.
"Hey, apa kau tidak kasihan dengan temanmu yang sakit ini?!", teriak Victor sambil berusaha menahan senyumnya.
"Hah! Sejak kapan aku jadi kalah dengan kakak beradik ini!", desah Ben pasrah. Kemudian ia berbalik dan membantu mendorong kursi roda yang Victor naiki.
"Ahh senangnya, jika memiliki adik ipar!", ucap Victor sembarang sambil tersenyum menang karena pada akhirnya Ben tetap mau mendorongnya.
"Siapa yang kau bilang adik ipar?!", tanya Ben tajam sambil terus mendorongnya ke dalam.
"Tidak ada! Aku hanya bicara sembarangan saja. Tapi jika kau mau mendaftar, kurasa aku tak perlu menyeleksinya lagi. Kau lulus!", hahaha Victor rasanya ingin tertawa sekeras mungkin karena menang besar sejak tadi. Ia yakin pria koboi ini wajahnya sedang memerah, bukan karena malu tapi karena marah. Mungkin jika Victor dalam kondisi baik-baik saja, ia sudah ditendang kuat hingga tersungkur beberapa meter ke tanah. Ada untungnya juga menjadi orang sakit, pikirnya.
-
-
-
-
-
jangan lupa ya teman-teman buat kasih like, vote sama komentar kalian ๐
baca juga ya novel perdana aku yang judulnya
๐นwanita pertama presdir ๐น
karena dari sana kisahnya Ben dan Rose dimulai. Dan lagi ada beberapa part yang berhubungan antara cerita yang di sana dengan ceritanya Ben dan Rose di sini
oke kalau begitu terimakasih teman-teman buat dukungannya selama ini, yuk follow instagram aku biar kita bisa nambah temen di @adeekasuryani,, nanti kalian aku folback pasti ๐
love u teman-teman ๐
keep strong and healthy ya ๐ฅฐ